
Setelah libur bekerja aku mulai kuliah. Aku menyiapkan semua keperluanku ke dalam tas. Hari ini penting untukku karena hari pertamaku kuliah. Dulu tak pernah bermimpi akan kuliah. Namun karena Albern aku jadi berpikir untuk kulian. Karena semua usahanya aku sampai dititik ini. Dia yang mengajariku dan mengsupportku selama ini. Peristiwa tsunami sudah mengambil segalanya termasuk kenangan.
"Aara kau mau berangkat?" tanya Alina.
"Iya Tante," sahutku.
Tante Alina menghampiriku. Dia merapikan pakaian dan hijabku. Beliau seperti ibuku yang peduli pada anaknya.
"Nah begini cantik," ucap Alina.
"Makasih Tante," jawabku.
"Maaf, ayah dan ibumu meninggal karena tsunami juga?" tanya Alina.
"Bukan Tante, ayah meninggal lebih dulu sebelum ibu saat aku masih duduk di bangku SMP, sejak saat itu aku mandiri membiayai semua kebutuhanku," ungkapku.
"Masya Allah, kau hebat Nak," ucap Alina. Beliau terharu dengan perjuanganku menghidupi kebutuhanku.
"Sebelum berangkat kau harus sarapan dulu, Tante masak sendiri untuk sarapan pagi ini," ucap Alina.
"Makasih Tante, jadi merepotkan," ucapku.
"Sekarang kau kan bagian dari rumah ini, jadi tidak ada kata merepotkan," ujar Alina.
Aku mengangguk dan tersenyum.
Kembali ku bereskan bukuku ke tas dan perlengkapan lainnya. Sementara itu Tante Alina melihat-lihat suruh ruangan kamarku.
"Aara ini bajunya kenapa tidak dimasukkan ke dalam lemari?" tanya Alina melihat satu setel pakaian ku gantung di gagang pintu lemari.
"Biar hari besoknya Aara tak bingung memilih baju kalau sudah disiapkan sebelumnya," jawabku.
"Kau itu mirip sekali seperti Om Farel, dia juga selalu minta satu setel baju di gantung di luar lemari, katanya biar besok gak bingung milih baju," ujar Alina. Dia merasa kebiasaan Farel dan Aara sama.
"Benarkah? Aku pikir hanya aku yang punya kebiasaan seperti itu Tante," sahutku.
"Iya ya, kalian itu punya kebiasaan yang unik," ujar Alina.
Setelah mengobrol beberapa kata, aku dan Tante Alina turun ke lantai satu. Kami masuk ke ruang makan. Semuanya sudah duduk di kursinya masing-masing. Mereka tercengang melihatku dan Tante Alina.
"Ada apa?" tanya Alina melihat orang-orang tercengang.
"Aara mirip sekali denganmu saat seusimu dulu," ujar Cinta.
"Iya mirip, matanya, hidungnya, dan bibirnya," ujar Rehan.
"Iya," sahut yang lainnya.
Tante Alina melirik ke samping memperhatikanku.
"Iya ya, dari tadi kemarin tak begitu memperhatikan," batin Alina.
"Ayo sarapan, keburu telat," ucap Cinta.
"Iya Nek," sahutku.
Aku dan Tante Alina duduk di kursi. Dari sejak dibilang mirip, Tante Alina terlihat memperhatikanku. Hal itu disadari Om Farel yang duduk di sebelahnya.
"Sayang kau kenapa?" bisik Farel.
"Gak kenapa-kenapa," jawab Alina pelan.
Kami semua sarapan bersama pagi itu. Hanya manusia pinky yang makan dedaunan lagi. Hidup ini indah untuk dinikmati kenapa juga dia makan daun.
__ADS_1
"Kak makanlah nasi dan lauk pauknya," ujar Adelina.
"Daun lebih sehat," sahut Rangga.
"Lama-lama kakak kaya kambing makannya cuma rumput," ledek Adelina pelan.
"Kau ini, aku memang sudah terbiasa makan ini," ujar Rangga.
Adelina mengangguk. Dia memperhatikan daun di mangkuk Rangga.
"Kak itu daun pepaya emang gak pahit?" tanya Adelina.
"Ini daun rasberry metik di depan, rasberry paling unik karena pohonnya tinggi gak merambat," ujar Rangga.
"Ya gak merambat, itukan daun pepaya, palal pagi-pagi makan daun pepaya mentah," ujar Adelina.
"Siapa bilang, ini enak, berbagai survei membukti ...," ucap Rangga kemudian mengunyah daun pepaya.
Kreerk ...kreeerk ....
"Pahiiit ...," keluh Rangga.
"Aku tadi bilang apa, itu daun pepaya bukan rasberry, ilmu dari mana sih kak," ujar Adelina sambil tersenyum melihat tingkah lucu kakaknya.
"Nih minum," ucapku sambil memberikan air minum pada Rangga yang kepahitan sehabis mengunyah daun pepaya.
"Makasih Aara, ini oase di padang tandus," ujar Rangga.
"Makanya Mama bilang apa, pagi-pagi sarapan nasi jangan daun," ujar Alina.
"Tak masalah, dengan begitu Rangga cepat kaya, gak perlu belanja buat dapur, tinggal nyomot daun di kebon beres," sahut Cinta.
"Rangga-Rangga, udah zaman kapan makanmu masih aja daun, Kakek sampai ngilu melihatmu mengunyah daun mentah," ujar Rehan.
***
Aku masuk ke gerbang kampus ditemani Rangga. Dia sengaja menemaniku di kampus mumpung libur. Namun ya begitu Rangga manusia higenis satu ini.
"Rangga kau gak risi pakai baju APD, memangnya ada virus mematikan?" tanyaku.
"Kau tak ingat kemarin aku di keroyot wanita-wanita zombie," jawab Rangga.
"Iya sih, tapi APD mu itu kok kayang beda ya?" tanyaku.
"Ini baju astronot, aku beli online dari luar negeri," jawab Rangga.
"Gak berat apa? Kok aku cuma melihat aja berat gitu," ujarku.
"Iya berat banget, gerah, dan susah melepasnya kalau pengen ke toilet," ujar Rangga.
"Emang gak ada WC di dalamnya, ku lihat itu besar sekali," ucapku menunjuk baju astronot yang dipakai Rangga.
"Iya ya, seharusnya buat toilet di dalamnya repot juga kalau pengen pipis atau BAB susah ngelepasnya," ucap Rangga.
Rangga-Rangga. Modelan makhluk sepertimu sepertinya cuma satu. Seharus di lestarikan supaya tak punah. Namun di balik konyolan Rangga, dia itu smart.
Kami berjalan tapi tak satu pun orang tertarik memvideokan atau memfoto Rangga. Mungkin karena kampus itu milik keluarganya. Orang-orang sungkan. Atau karena mereka sudah ditingkat lelah, jenuh, dan acuh melihat tingkah konyol Rangga.
Aku dan Rangga bertemu si gendut yang kemarin. Dia berbaring di lantai tak bangun. Kami menghampirinya.
"Kau kenapa?" tanyaku.
"Aku lagi memperagakan tarian India yang ada adegan gulung-gulungnya tapi gak bisa bangun lagi, mana mau pempesku udah penuh," ucapnya.
__ADS_1
"Apa? Ini makhluk aneh lainnya. Selain Rangga.
"Ku bantu bangun ya," ucapku.
"Iya tolongin panggil pemadam kebakaran," ujarnya.
"Kenapa panggil pemadam kebakaran?" tanyaku.
"Tarik aja Aara!" pinta Rangga bersemangat.
"Oke," sahutku.
Kami berdua menarik si gendut. Namun sekuat apapun kami menariknya si gendut tak bisa diangkat. Eh malah nibanin Rangga.
"Aara tolongin, kegencet nih," ujar Rangga.
"Aku bilang apa, panggil pemadam kebakaran," ujarnya.
"Keburu gepeng kalau nunggu pemadam kebakaran," ucap Rangga.
"Aduh narik berdua aja susah, ini narik sendirian," keluhku.
"Aara cepetan pengen pipisnya jadinya," ujar Rangga.
"Tahan dulu, aku tarik dia," ujarku.
"Aduh aku mau kentut lagi," ucapnya.
"Jangan, ampun gendut, tahan," ucap Rangga.
Tuuuut ...
"Legaaaa," ucapnya. Namun Rangga pingsan karena kebauaan.
"Rangga-Rangga," panggilku.
Tak ku sangka pagi itu akan ada tragedi semacam ini, sampai pemadam kebakaran datang untuk membangunkan si gendut dari tubuh Rangga.
***
Malam itu Farel dan Alina duduk di ranjang. Farel fokus pada majalah bisnis di tangannya, sedangkan Alina melihat-lihat foto masa kecilnya di album.
"Ma tumben melihat-lihat foto lama?" tanya Farel.
"Pa emang Aara mirip sama aku ya?" tanya Alina.
"Iya, mirip. Papa baru ngeeh akhir-akhir ini," jawab Farel.
"Mama juga merasa gitu," sahut Alina.
"Coba kau lihat foto saat kau seusianya," saran Farel.
Alina mengangguk. Membuka-buka foto masa kecilnya. Dia memperhatikan wajahnya saat itu dengan wajah Aara sekarang.
"Agak mirip Pa," ucap Alina.
"Semua juga bilang gitu Ma," sahut Farel.
"Oya, dia punya kebiasaan yang sama dengan Papa," ujar Alina mengingat kejadian pagi tadi saat bersama Aara.
"Kebiasaan apa?" tanya Farel.
"Menggantung satu setel baju di depan lemari," jawab Alina.
__ADS_1
Farel terkejut. Kebiasaan seperti itu spesifik. Tak banyak orang melakukan karena setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda-beda.