
Rehan lari pagi ditepi pantai sambil menikmati hangatnya sinar matahari pagi. Sekumpulan nelayan pulang berlayar dari laut, mereka sibuk membereskan hasil tangkapannya. Rehan penasaran lalu menghampiri mereka. Ternyata Nimas juga ada ditepi pantai itu.
"Rehan"ucap Nimas.
"Nimas, apa yang sedang dibicarakan para nelayan itu, sepertinya mereka kebingungan?" tanya Rehan.
"Begini Rehan, nelayan disini selalu bingung harus menjual hasil tangkapan mereka pada siapa, kalau hanya dijual disini tidak terlalu banyak yang membeli karena mayoritas penduduk disini nelayan juga"ucap Nimas.
"Bukannya ikan hasil tangkapannya dibuat ikan asap dan ikan asin ya"ucap Rehan.
"Iya, tapi pembelinya juga tidak banyak. Paling turis, sementara turis hanya datang dihari libur atau karena mereka sengaja berlibur kemari"ucap Nimas.
"Kau benar, kalau terus-terusan begini nelayan akan merugi dan ikan hasil tangkapan mereka akan terbengkalai bahkan mungkin terbuang sia-sia"ucap Rehan.
"Itulah sebabnya mereka kebingungan"ucap Nimas.
"Apa tak ada pengusaha pengolahan ikan datang kemari dan mengajak kerjasama?"tanya Rehan.
"Belum ada, lagi pula ini pulau yang cukup jauh dari kota, rata-rata yang datang kesini hanya untuk menikmati keindahan alam disini "ucap Nimas.
"Begitu ya"ucap Rehan.
"Kalau begitu aku ingin melihat ikan hasil tangkapannya"ucap Rehan.
"Boleh, silahkan"ucap Nimas.
Nimas mengantar Rehan melihat ikan hasil tangkapan para nelayan.
"Selamat pagi Pak"ucap Rehan.
"Pagi nak"ucap Pak Nandang.
"Banyak juga ikan hasil tangkapannya"ucap Rehan.
"Iya nak, laut disini belum tercemar karena kami menangkap dengan cara manual, ikannya beragam dan juga masih banyak"ucap Pak Nandang.
Rehan memegang satu persatu ikan yang terdapat dikeranjang dan ember.
"Ikannya beragam, ada lobster dan kepiting juga, ini kalau dijual ke restoran seafood dan parbrik makanan yang menggunakan ikan sebagai bahan bakunya pasti laku"ucap Rehan.
"Iya nak, tapi kami tidak punya kenalan seperti itu"ucap Pak Nandang.
Rehan berpikir sejenak, dia ingin berusaha membantu para nelayan agar hidup mereka sejahtera.
"Pak boleh saya memfoto hasil tangkapannya?" tanya Rehan.
"Boleh"ucap Pak Nandang.
Rehan memfoto para nelayan beserta ikan hasil tangkapannya. Lalu dia mengunggah dimedia sosial. Rehan juga menghubungi rekan bisnisnya yang bergerak dibidang food and beverage.
"Hallo Bos Derry"ucap Rehan.
"Hallo Presdir Rehan"ucap Derry.
"Beberapa minggu lalu saya sempat mendengar Anda membutuhkan ikan laut, lobster dan kepiting yang baru ditangkap dari laut, betul?"tanya Rehan.
__ADS_1
"Betul Presdir Rehan"ucap Derry.
"Saya ingin menawarkan ikan laut, lobster, dan kepiting yang baru ditangkap nelayan"ucap Rehan.
"Kalau boleh tahu dari daerah mana?"tanya Derry.
"Pulau Labuan"ucap Rehan.
"Cukup jauh dari sini ya"ucap Derry.
"Bos Derry, Anda memiliki beberapa helikopter yang jarang dipakai, kenapa tidak digunakan untuk membawa ikan hasil tangkapan nelayan disini untuk restoran dan pabrik aneka makanan ikan milik Anda"ucap Rehan.
"Anda memang pebisnis sejati, tahu saja solusinya. Padahal saya saja hanya menggunakan hellikopter itu untuk sekedar hobi dan koleksi"ucap Derry.
"Bagaimana tawaran saya? Anda bisa melihat ikan hasil tangkapan nelayannya langsung, saya juga sudah mengirim foto ikan hasil tangkapannya ke nomor Anda"ucap Rehan.
"Baik, saya tidak perlu meragukan penglihatan Anda, pagi ini juga saya kesana"ucap Derry.
"Ok Bos Derry terimakasih"ucap Rehan.
"Sama-sama"ucap Bos Derry.
Selesai menelpon rekan bisnisnya, Rehan memberitahu para nelayan akan ada pengusaha yang akan datang untuk melihat ikan hasil tangkapan mereka. Para nelayan bersiap dan merapikan ikan hasil tangkapannya. Mereka memilah ikan-ikan itu dari ukuran dan jenisnya.
Setelah dua jam kemudian Bos Derry sampai di tepi pantai itu menaiki hellikopter miliknya, dia membawa tiga helikopter ke pulau itu. Bos Derry menghampiri Rehan yang sedang bercengkrama dengan para nelayan itu.
"Selamat pagi semuanya"ucap Derry.
"Pagi"ucap Rehan dan para nelayan.
"Silahkan"ucap Pak Nandang.
"Mari Bos Derry saya antar melihatnya"ucap Rehan.
"Baik Presdir Rehan"ucap Derry.
Rehan mengantar Derry melihat ikan hasil tangkapan para nelayan. Derry begitu senang melihat ikan-ikan segar itu. Dia setuju untuk membeli ikan hasil tangkapan para nelayan itu dan menjadi pembeli tetap. Semua ikan hasil tangkapan nelayan dibawa ke helikopter. Setelah membayar, Derry meninggalkan pulau itu.
Para nelayan berterimakasih pada Rehan yang sudah membantu mereka menjual ikan hasil tangkapan mereka. Rehan tersenyum bahagia saat melihat mereka terlihat bahagia.
"Ternyata seperti ini rasanya menolong orang, hatiku rasanya senang juga melihat mereka senang"batin Rehan.
"Gadis kecil kau menjadi penerang jalan dalam hidupku"batin Rehan.
Rehan berjalan menuju penginapannya bersama Nimas.
"Rehan terimakasih ya sudah menolong para nelayan"ucap Nimas.
"Sama-sama"ucap Rehan.
"Pak Nandang mengundangmu makan siang sekarang" ucap Nimas.
"Oke, aku akan menghadiri undangan makan itu" ucap Rehan.
"Kalau begitu mari aku antar"ucap Nimas.
__ADS_1
Nimas mengantar Rehan ke rumah Pak Nandang.
Sampai dirumah Pak Nandang, Rehan duduk bersama Pak Nandang ditikar. Istri dan anak Pak Nandang menyajikan makan siang itu. Pak Nandang memiliki lima anak, yang semuanya perempuan. Istri dan kelima anak perempuan Pak Nandang duduk bersama ditikar itu.
"Nak Rehan, ini istri saya. Dan disampingnya Anin, Anis, Ana, Anti, dan Ani putri kami"ucap Pak Nandang.
Kelima anak perempuan Pak Nandang tersenyum pada Rehan.
"Senang bertemu kalian semua"ucap Rehan.
"Silahkan dimakan nak Rehan"ucap Pak Nandang menawarkan Rehan makan.
"Baik Pak"ucap Rehan.
Rehan dan keluarga Pak Nandang makan bersama. Setelah itu Pak Nandang dan Rehan mengobrol.
"Nak Rehan anak saya semuanya masih gadis dan belum menikah"ucap Pak Nandang.
"Oh begitu ya Pak"ucap Rehan.
"Nak Rehan jika berkenan maukah nak Rehan menikahi kelima anak?"tanya Pak Nandang.
"Apa?....menikahi kelima anak bapak?"ucap Rehan kaget.
"Saya akan senang sekali jika kelima putri saya dinikahi nak Rehan"ucap Pak Nandang.
"..........."Rehan terdiam karena masih kaget.
"Semuanya dijamin masih gadis dan juga cantik-cantik"ucap Pak Nandang.
"Begini Pak, saya sudah menikah"ucap Rehan.
"Gak masalah, anak saya bisa jadi yang kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam"ucap Pak Nandang.
"Maaf Pak, saya sudah cukup dengan satu istri dan saya juga sangat mencintai istri saya"ucap Rehan.
"Laki-laki seperti nak Rehan membutuhkan banyak wanita untuk melayani nak Rehan siang dan malam, kalau hanya satu istri, nanti kalau datang tamu tak diundang gak bisa melayani. Jadi anak saya bisa melayani nak Rehan bergantian"ucap Pak Nandang.
"Maaf Pak, saya menikah bukan hanya karena kebutuhan itu saja, tapi juga karena saya mencintai istri saya yang begitu baik hati"ucap Rehan.
"Nak Rehan, baik saja tidak bisa memberi kepuasan, nak Rehan berpikir seperti itu karena baru menikah, nanti lama-lama bosan, nah maksud saya kalau punya istri banyakkan bisa variasi tiap hari biar gak bosan. Apa sih yang lebih mantap selain penghangat diatas diatas ranjang"ucap Pak Nandang.
"Terimakasih atas tawarannya Pak, tapi saya tetap pada prinsip. Istri saya adalah wanita terakhir yang akan selalu bersama dengan saya"ucap Rehan.
"Baru kali ini ada seorang lelaki yang menolak menikahi kelima putri saya, biasanya mereka datang untuk menikahi putri saya. Tapi nak Rehan malah menolak, sungguh laki-laki setia padahal istri Anda jauh disana"ucap Pak Nandang.
"Semoga kelima putri bapak bisa mendapatkan laki-laki yang baik"ucap Rehan.
"Terimakasih atas doanya nak Rehan"ucap Pak Nandang.
"Sama-sama Pak, kalau begitu saya pulang dulu ke penginapan"ucap Rehan.
"Iya nak Rehan"ucap Pak Nandang.
Rehan meninggalkan Rumah Pak Nandang, dia kembali ke penginapannya.
__ADS_1