Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 56


__ADS_3

"Di mana martabat kita sebagai guru dan tempat untuk mendidik siswa jika mental kita sendiri mental seorang penyuap," ujar Albern.


Mereka terdiam mendengar ucapan Albern.


"Sekolah tempat siswa belajar dengan aman dan nyaman, orangtua menitipkan anaknya kepada kita sebagai sebuah amanah yang harus kita jaga dan pertanggungjawabkan," ungkap Albern.


Mereka menunduk. Tak berani menyangkal ucapan Albern kali ini. Apa yang Albern katakan itu benar. Sekolah memang harus bisa memberikan keamanan dan kenyamanan untuk siswa selama berada di sekolah.


"Aku akan bicara dengan semua orangtua siswa, tolong sediakan tempatnya," ucap Albern.


"Baik Bos," sahut keduanya.


Albern berpikir dia tak mungkin menghindar dari masalah ini atau cuci tangan seolah semua tak pernah terjadi. Bulliying harus ditindak tegas dan dihentikan. Memang dia tidak bisa menghentikan bulliying di semua sekolah di negaranya tapi setidaknya dia bisa memulai menghentikan bulliying dari sekolahnya dan menjadi pembelajaran dan contoh untuk sekolah lainnya.


Semua orangtua siswa berkumpul di ruang rapat. Mereka menyuarakan kekesalan mereka pada Albern selaku pemilik sekolah dan guru yang mendidik siswa termasuk kepala sekolah yang bertanggungjawab atas kelancaran kegiatan belajar mengajar di sekolah.


"Saya tahu bapak-bapak dan ibu-ibu kecewa, kami selaku pihak sekolah minta maaf atas kelalaian kami menjaga putra-putri kalian semua, tapi perlu bapak-bapak dan ibu-ibu ketahui, siswa bernama Deril Andika adalah korban bulliying dari putra putri bapak ibu di saat mereka masih SMP. Deril hanya siswa seperti putra putri bapak dan ibu. Dia ingin sekolah dengan aman dan nyaman, namun justru dia mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari putra putri ibu bapak, bahkan dia kehilangan sahabat terdekatnya karena menjadi korban bulliying itu juga. Apakah selaku orang tua bapak dan ibu mengetahui hal ini?" tanya Rehan.


Mereka semua terdiam. Peristiwa masa lalu itu memang sangat kelam. Mereka selaku orang tua pelaku bullying sengaja melindungi anak mereka dengan dalih ini itu bahkan menyuap pihak oknum sekolah agar menutup kasus itu. Sehingga Deril dan Anita tak mendapatkan keadilan. Anita yang kehilangan kepercayaan dirinya terpaksa mengakhiri hidupnya.


"Deri atau Anita hanya korban. Mereka tak tahu letak salah mereka namun mendapatkan penghakiman yang melukai mental mereka. Hingga berbuntut dendam yang tependam dan ingin dibalaskan," ujar Albern.


Mereka terdiam. Malu menatap mata Albern. Kejadian itu sengaja dilupakan namun tak disangka akan terkuak kembali bahkan membahayakan nyawa anak mereka sebagai pelaku bulliying.


"Saya selaku pemilik sekolah akan bertanggungjawab atas kejadian kemarin, baik secara fisik maupun psikologis siswa. Agar mereka bersemangat dan kembali menuntut ilmu," ucap Albern.


"Kami juga merasa bersalah Pak, melalaikan tugas kami sebagai orangtua yang seharusnya mendidik anak dan menanamkan rasa cinta dan kasih sayang pada sesamanya," ujar salah seorang orangtua siswa.


"Saya juga terlampau memanjakan anak, hingga anak saya menganggap orang lain lemah dan rendah, seharusnya saya memanjakan mereka atittude supaya jauh lebih menghargai dan menghormati orang lain," ucap yang lainnya.


"Sekolah memang tempat belajar baik sikap maupun ilmu, tapi rumah, keluarga dan orangtua tempat pertama dan pondasi untuk anak belajar banyak hal, yang paling utama adalah attitude. Bagaimana cara bersikap dan memperlakukan orang lain dengan baik," ucap Albern.


Mereka semua mengangguk. Sependapat dengan Albern.


"Saya akan menyerahkan siswa pada bapak dan ibu, apakah akan tetap bersekolah di sini atau pindah?" tanya Rehan.


"Kami ingin sekolah di sini," ujar siswa yang memaksa masuk ruang rapat. Mereka kompak berbicara bersama.


Albern dan yang lainnya tercengang melihat siswa masuk dan menyuarakan pendapat mereka semua.


"Kami salah, apa yang dilakukan Deril itu karena kesalahan kami, apa yang kami tanam dulu kini kami memanen hasilnya, untung saja Allah masih memberi kesempatan untuk merubahnya," ucap salah satu siswa.


"Kejadian ini murni kesalahan kami, seandainya kami tidak sekolah di sini, Deril akan tetap membalas kami," ucap yang lainnya.

__ADS_1


"Biarkan kami tetap sekolah di sini." Pinta semua siswa.


Orangtua siswa melihat ke arah mereka. Memikirkan masa depan anaknya. Apa yang terjadi bukan hanya kesalahan sekolah tapi kesalahan mereka.


Akhirnya orangtua siswa sepakat untuk tetap menyekolahkan anak mereka di sekolah milik Albern. Rapat pun diakhiri dengan ucapan permintaan maaf baik dari siswa, guru, dan orangtua siswa.


Di sekolah aku tak melihat Raina dan Axel, padahal hari itu sangat ramai. Sekolah diliburkan dadakan. Hanya kelas 3 yang masuk, mendapatkan pendidikan konseling dari setiap wali kelas. Guru menjelaskan pentingnya menghargai dan menghormati hak asasi manusia. Dari situ kita belajar bulliying sangat melanggar hak asasi manusia. Yang seharusnya kita junjung tinggi. Dodo dan Ami justru malah nangis sejak guru tadi menerangkan. Mereka berdua sedih mendengar kisah Deril yang akhirnya akan dibuat jadi sebuah novel yang akan dibagikan gratis. Albern sendiri yang mengusulkan rencana itu. Dia ingin orang di luar sana tahu dampak negatif bulliying.


"Sedih ... kenapa kejadian kemarin aku tak tahu apa-apa?" ujar Dodo.


"Aku cuma main batu kertas gunting sama Mimin," tambah Ami.


"Memangnya kenapa?" tanyaku yang duduk bersama mereka.


"Namaku tak ada dalam sejarah, masa ditulis Dodo sedang BAB di novelnya," sahut Dodo.


"Gak keren gitu, kontribusi ku di novel cuma main batu kertas gunting, selebihnya buka kunci aula, itu pun gak bisa-bisa, eh keburu pemadam kebakaran datang," ujar Ami.


"Sin mu dikitan ya, banyak gak gunanya," sahutku.


Ami dan Dodo tambah nangis. Mereka berharap jadi tokoh utama dalam novel Deril Come Back. Justru menjadi tokoh yang entah akan ditulis atau tidak, boro-boro jadi superhero, malah ngedekem di toilet belum cebok.


"Aara bilang sama Albern ceritakan aku ada dalam perkelahian itu, biar kesannya Dodo superhero," ujar Dodo.


"Iya boleh, di bonus chapter aja ya, kalian tokoh utamanya melawan cicak dan kecoak," jawabku.


"Yah, sedih banget," ucap Dodo.


"Tahu gitu, kemarin aku melawan Deril, pakai jurus kecantikan maksimal," uhar Ami.


Aku hanya tertawa mendengar ocehan mereka berdua.


***


Raina dan Axel berdiri ditengah jalan. Axel menjadi manusia milenium penuh cat warna putih. Cat itu aman untuk kulit dan bisa dibilas lagi sedangkan Raina bagian meminta uang. Siang itu mereka kelelahan dan beristirahat di tepi.


"Raina nanti setelah kita dapat bayaran, kita nyari kosan, aku masih punya sedikit uang jajanku yang kemarin," ujar Axel.


"Aku juga punya sedikit tabungan, tak banyak tapi cukup untuk makan kita satu bulan," sahut Raina.


"Maaf, sebagai suami aku belum bisa memberimu tempat dan hidup yang layak," ujar Axel.


"Asal bersamamu, di manapun aku mau," sahut Raina.

__ADS_1


Axel mengelus kepala Raina.


"Aku beruntung memilikimu Raina, mungkin pertemuan kita saat itu memang jalan jodohku bersamamu," ucap Axel.


"Aku juga beruntung, karena memiliki suami yang baik hati sepertimu Axel," sahut Raina.


Axel mencium kening Raina, membelai kedua pipinya.


"Ayo makan! Aku lapar," ucap Axel.


"Pantas dari tadi perutmu keroncongan," sahut Raina.


"Iya, ternyata nyari duit sangat melelahkan," ujar Axel.


Raina tersenyum, bagi Raina bekerja hal yang biasa dia lakukan, sedangkan bagi Axel yang notabennya anak orang kaya, ini hal pertama yang dia lakukan.


***


Sore itu aku dan Albern pergi ke penjara untuk menjenguk Deril. Biar bagaimanapun Albern merasa Deril harus diberi motivasi agar tetap bisa berkarya dan tumbuh layaknya anak remaja seusianya. Sampai di ruang besuk aku dan Albern duduk bersama Deril.


"Terimakasih Om Albern, Aara, sudah menjengukku," ucap Deril.


"Iya," sahutku dan Albern.


"Kedatanganku ke sini, untuk memberitahumu, mulai besok kau bisa tetap bersekolah meski di dalam penjara. Aku sudah menyewa guru bidang studi khusus untukmu, kau bisa tetap bersekolah dan berkarya di dalam sini, aku yakin kau akan jadi orang besar nantinya," ujar Albern.


"Kenapa anda baik padaku? padahal aku sudah merugikan nama baik sekolahmu," ucap Deril.


"Aku ingin anak-anak berbakat sepertimu memajukan bangsa, jadi penemu teknologi yang akan membawa perubahan yang akan membantu umat manusia," sahut Albern.


"Om orang yang peduli pada nasib bangsa, aku kagum, aku janji akan belajar sebaik mungkin di sini, aku tak kan menyia-nyiakan kesempatan yang Om berikan," ujar Deril.


Albern tersenyum begitupun denganku. Deril memang butuh support bukan penghakiman, di sini dia juga korban.


"Aku akan membukukan kisahmu dalam sebuah novel yang akan dibagikan secara gratis, apa kau setuju?" tanya Albern.


"Benarkah? apa orang akan membacanya, aku hanya penjahat," ujar Deril.


"Banyak pembelajaran yang akan dipetik di dalamnya, dunia harus tahu seperti apa bulliying dan dampaknya," ucap Albern.


"Aku mau, tetimakasih Om, semoga kebaikan Om dibalas Allah SWT," sahut Deril.


Albern mengangguk. Aku tersenyum bahagia dan bangga melihat Albern banyak berubah. Kini Albern bukan buaya tapi malaikat tak bersayap.

__ADS_1


__ADS_2