
Barra dan Deena sampai di depan Markas Gengster Harimau. Mereka berada di atas pohon memantau situasi. Gerbang markas itu menggunakan sidik jari anggota untuk masuk. Mereka sedang berpikir untuk masuk dengan cara yang aman.
"Bila kita masuk memanjat pagar, diatas ada listrik bertegangan tinggi dan kawat berduri" ucap
Deena.
"Ini sangat berbeda dengan markas Gengster Hariamau yang berada dikota. Ini markas yang lebih sulit dimasuki, ada satu jalan masuk lewat saluran pembuangan tapi letaknya ditepi jurang yang mengarah ke laut" ucap Barra.
"Berarti kita harus menyelam barulah memanjat untuk naik ke saluran pembuangan itu" ucap Deena.
"Iya sayang, bagaimana? lewat depan atau lewat bawah kita berduaan dan romantisan? " ucap Barra sambil menggoda Deena.
"Om cabul, setelah semua selesai baru kita romantisannya" ucap Deena.
"Jadi semangat sayang" ucap Barra.
"Kita lewat depan saja sekalian menumpas mereka" ucap Deena.
Barra mendekati Deena yang duduk diatas pohon.
"Sayang lihat ada anggota Gengster Harimau yang masuk, biar aku urus dia" ucap Barra.
Bluuuuug.........
Barra turun menghampiri anggota Gengster Harimau.
"Sepertinya ada harimau kecil yang mau masuk kandang" ucap Barra.
"Siapa kau? berani sekali menantangku"
Barra tak banyak bicara, dia langsung menggunakan sarung tangan berkuku tajam yang runcing miliknya untuk menghajar anggota Gengster Harimau. Sedangkan anggota Gengster Harimau menggunakan knukcle yang berduri tajam. Mereka babu hantam.
Dug....dug....dug......
Barra dengan mudah menumbangkan anggota Gengster Harimau. Dia menyemprotkan gas bius pada anggota Gengter Harimau itu hingga dia pingsan.
Bluuug.........
Deena turun dari atas pohon menghampiri Barra.
"Kau hebat juga" ucap Deena.
"Siapa dulu? kekasihmu sayang" ucap Barra.
"Ayo buka gerbangnya, buktikan kau hebat" ucap Deena.
Barra meletakkan tangan anggota Gengster Harimau itu ditempat pencocokan sidik jari tangannya hingga sensor mengenalinya dan membuka gerbang markas itu.
"Ayo masuk sayang dan bersiap" ucap Barra.
"Oke" ucap Deena.
Baru masuk mereka sudah disambut panah besi yang mengarah ke arah mereka.
"Sayang" ucap Barra mendorong Deena hingga mereka jatuh ke bawah.
"Panah besi" ucap Deena.
"Kita harus berhati-hati, mereka ada diatas pos itu" ucap Barra.
__ADS_1
"Kau alihkan mereka, aku naik ke atas pos menghajarnya" ucap Deena.
Barra mengangguk. Mereka berbagi tugas. Barra berlari zig zag mengalihkan perhatian si pemananah. Sementara Deena mengendap-endap menaiki pos yang berada di atas menara. Dia naik ke menara. Lalu bertarung dengan tiga orang pemanah. Mereka babu hantam, salah satu dari mereka mencekik Deena dari belakang dengan sikunya, sementara kedua orang didepannya melawan Deena. Deena menyikut orang dibelakangnya dengan kencang dan menendang kedua orang didepannya. Deena berhasil bebas dan kembali melawan mereka hingga ketiganya tumbang ditangan Deena lalu Deena turun kembali dan bersama Barra menuju ke pekarangan markas. Disana sudah berjejer pasukan penembak jarum beracun.
"Sayang, berhati-hatilah, tembakan yang keluar dari pistol adalah jarum beracun. Walaupun kostum ini bisa melindungi tapi dalam kapasitas yang banyak, jarum itu bisa melukai kita juga" ucap Barra.
Deena hanya mengangguk. Mereka berlari membentuk angka delapan yang berulang-ulang. Menghindari jarum yang ditembakkan ke arah mereka. Hingga keduanya melompat sampai didepan para penembak jarum beracun. Barra dan Deena babu hantam dengan mereka. Jumlah lawan lebih banyak hingga Barra dan Deena saling bergantian menyerang dan menjaga satu sama lain.
"Sayang I Love You" ucap Barra saat berdiri membelakangi Deena.
"I Love You Too, Om cabul" ucap Deena yang juga berdiri membelakangi Barra.
"Semakin semangat" ucap Barra.
Barra begitu senang disaat dalam bahaya seperti ini, sudah mengatakan cintanya dan dibalas dengan manis oleh Deena. Dia semakin semangat bertarung dan menjaga orang yang dicintainya.
Para penambak jarum beracun itu tumbang. Mereka berjalan kembali, masih ada sebuah pos penjagaan yang harus mereka lewati.
"Sayang satu pos lagi" ucap Barra.
"Sepertinya ini bukan pos biasa" ucap Deena.
"Bukan manusia yang menjaga, jadi waspadalah" ucap Barra.
Deena mengangguk. Mereka berdua masuk ke dalam labirin.
"Sayang ini jalan labirin, kita harus tepat memilih jalan yang akan kita lewati" ucap Barra.
"Semangat Om cabul" ucap Deena terlebih dahulu masuk labirin.
"Sayang awas, ku cium habis setelah ini" ucap Barra menyusul Deena.
Mereka melewati labirin yang membingungkan.
"Gunakan ini, oleskan keseluruh kostummu" ucap Barra memberikan obat oles untuk Deena.
"Tidak perlu sayang, sudah saatnya pedangku beraksi" ucap Deena.
Lebah-lebah menghampiri mereka. Deena menebas berkali-kali hingga lebah-lebah itu terjatuh ke bawah, Barra bertepuk tangan melihat keberhasilan Deena membuat lebah-lebah itu berjatuhan.
"Bagus sayang kau hebat" ucap Barra.
Lalu mereka kembali berjalan dilabirin itu.
"Lewat kanan atau kiri?" tanya Deena.
"Aku kanan" ucap Barra.
"Aku kiri" ucap Deena.
Mereka berdua berpencar. Saat Deena berjalan sebuah kubangan lumpur didepannya. Muncul seekor buaya besar yang membuka mulutnya hendak melahap Deena. Deena menahan mulut buaya dengan pedangnya. Sebuah balon terlempar ke mulut buaya dan meletus hingga buaya itu merasa tak nyaman dengan mulutnya lalu pergi kembali ke kubangan lumpur.
"Kau tak apa sayang?" tanya Barra.
"Aku pikir akan jadi santapan buaya" ucap Deena.
"Kekasihmu tidak akan tinggal diam" ucap Barra.
"Tadi itu apa?" tanya Deena.
__ADS_1
"Cabai level seribu" ucap Barra.
"Pantas" ucap Deena.
"Ayo sayang" ucap Barra.
Deena mengangguk. Mereka kembali berjalan hingga bertemu srigala yang lapar. Srigala itu berjumlah lima ekor.
"Biar aku yang menanganinya" ucap Deena.
Srigala itu lari menghampiri Barra dan Deena.
Tangan Deena mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah bubuk yang telah terbungkus.
Bubuk itu disebar, Deena menahan nafas sementara para srigala menghirup udara yang ada disekitarnya. Srigala-srigala itu batuk-batuk dan matanya berurai air mata kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
"Itu bubuk apa?" tanya Barra.
"Bubuk lada dan bawang merah disatukan" ucap Deena.
"Sayangku memang top" ucap Barra.
"Aku belajar darimu Om cabul" ucap Deena.
"Mojok dulu sayang biar semangat" ucap Barra menggoda Deena.
"Oh, Om cabul mau mencoba bubuknya juga?" tanya Deena kesal.
Melihat Deena kelihatan kesal, Barra langsung berjalan menjauh.
"Aku duluan sayang" ucap Barra kabur dari pada kena bubuk itu.
"Om cabul tadi bilang mau mojok" ucap Deena mengejar Barra.
Barra langsung lari, dia takut Deena yang kesal akan menghukumnya beneran.
"Om cabul jangan kabur" ucap Deena.
"Sayang jangan bertanduk, aku gak sanggup" ucap Barra lari duluan.
Deena terus mengejar Barra dibelakangnya. Dia kesal dengan Barra yang gak ada habisnya cabul terus.
************
"Begitulah ceritanya" ucap Alvan.
"Kasihan juga ayah dan ibumu, mereka harus terpisah padahal mereka saling mencintai" ucap Haura.
"Semua sudah takdir, apa yang sudah terjadi tak mungkin kembali" ucap Alvan.
"Alvan aku ngantuk" ucap Haura.
"Yasudah, tidurlah, aku akan menjagamu selama kau tidur" ucap Alvan.
Haura memejamkan matanya. Dia tertidur karena kelelahan. Alvan terus menjaga Haura. Dia tidak mungkin tidur juga, bisa saja binatang buas menghampiri mereka. Baru satu jam Haura tidur, dia mengigil kedinginan. Alvan coba memeriksa tubuh Haura. Dia memegang lengan Haura.
"Dingin sekali, apa dia kena hipotermia gara-gara tadi kedinginan diair?" ucap Alvan.
Alvan melihat bibir Haura sedikit biru karena kedinginan. Dia mendekatkan tubuhnya pada Haura dan memeluknya agar Haura mendapatkan rasa hangat.
__ADS_1
"Maaf, aku memelukmu biar kau tidak kedinginan" ucap Alvan berbisik pelan.
Alvan terus memeluk Haura hingga dia juga ketiduran karena lelah.