Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 15


__ADS_3

"Bu, ku mohon berhentilah memperlakukanku seperti ini, aku tidak ingin menjadi sapi perahmu terus," tolak Raina.


"Apa? kau sudah mulai berani padaku?" Ibu Ineke marah, dia menarik rambut panjang Raina, layaknya seperti binatang.


"Sakit Bu ... sakit," keluh Raina.


Ibu Ineke tak peduli, dia terus menarik rambut Raina, membawanya ke toilet. Kepala Raina di masukkan ke dalam bak mandi. Raina kesulitan bernafas, wajahnya tenggelam di dalam air.


Melihat Raina sudah lemas, Ibu Ineke menaikkan kepala Raina. Dia kembali memarahinya.


"Dengar, kau harus bekerja seperti dulu, berikan aku uang!" perintah Ibu Ineke.


Raina hanya bisa mengangguk. Ibu tirinya memang kejam dan sadis. Sejak kecil dia dianiya olehnya, Raina dipaksa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan ibu tirinya dan Talita.


Raina berjalan keluar dari rumah ayahnya. Tadinya dia ingin bertemu ayahnya tapi ternyata ayahnya tak ada di rumah. Dia justru bertemu ibu tirinya. Raina teringat kejadian satu tahun lalu.


Flash Back


Tok!tok!tok!


Suara pintu apartemen yang diketuk dengan tangan kanan Raina.


“Assalamualaikum,dari laundry."


Pintu apartemen itu terbuka, seorang lelaki dewasa yang tampan dan gagah itu tiba-tiba menarik lengan Raina masuk ke dalam ruangan apartemen itu.


Lelaki itu membawa Raina ke kamarnya dan menjatuhkanku ke ranjang, satu tangannya mencengkram lengan Raina. Dan tangan lainnya merobek pakaiannya hingga terlepas dari tubuh.


Raina ketakutan dan berteriak sekuat tenaga.


“Tolong ... tolong ... tolong ..."


Tapi karena ruangan apartemen itu kedap suara, percuma Raina berteriak, dia mencoba melawan lelaki itu tapi tenaganya begitu kuat, Raina tidak bisa melawan bahkan dia menguasai tubuhnya.


Raina menangis dan memohon padanya.


“Lepaskan aku ku mohon, jangan lakukan ini padaku, lepaskan kau hik … hik …”


Lelaki itu tak mendengarkan ucapan Raina, dia terus melakukan keinginan dan hasratnya padanya.


“Hentikan ..., lepaskan aku hik … hik …”


Tubuh Raina lemas karena dari tadi berteriak dan melawan, lelaki itu terus dan terus dari satu tahap ke tahan lainnya, dari satu bagian ke bagian lainnya, tak peduli tangisan Raina yang terus mengalir. Hingga pada tahap yang lebih dalam dia akhirnya merenggut kehormatannya. Raina hanya bisa berteriak kesakitan karena dia begitu kasar dan begitu memburu saat melakukan itu padanya.


Raina kesakitan tapi dia tak peduli bahkan melakukannya sampai dia kelelahan dan tertidur di sampingnya. Saat dia tertidur, Raina segera mengenakan pakaian yang ada di ruangan itu karena pakaiannya sudah dirobek oleh lelaki itu. Meskipun rasanya masih sakit, bahkan untuk berjalanpun rasanya semakin sakit, tapi Raina harus segera pergi dari tempat itu, dia takut lelaki akan menyakitiku lagi.


Raina keluar dari apartemen itu, berjalan perlahan menahan rasa sakit, menuju parkiran apartemen di mana dia memarkirkan sepedanya. Padahal awalnya Raina hanya ingin mengantar pakaian dari laundry tempatnya bekerja, tapi justru Raina malah mendapat musibah seperti ini, diperkosa lelaki itu, bahkan dia tak berkata satu katapun saat melakukan itu padanya.

__ADS_1


Raina mengayuh sepedanya menuju ke tempat kerjanya, sampai di LAUNDY CIKA, Raina masuk ke dalam, sang pemilik tempat laundry itu Ibu Cika. Sudah satu tahun Raina bekerja padanya. Dia menatap wajah Raina dengan tatapan tajamnya dan memarahinya.


“Kamu dari mana aja, Cuma nganterin baju ke apartemen deket situ aja lama banget, niat kerja gak sih?"


“Maaf bu, tadi sepedaku bermasalah."


Raina terpaksa berbohong pada ibu Cika, tidak mungkin dia cerita padanya kalau dia baru saja diperkosa oleh lelaki di apartemen itu.


“Yaudah, kamu anterin lagi baju itu , dah pada numpuk, pemiliknya dah pada nelpon."


“Bu maaf, boleh gak saya ijin pulang? badan saya kurang sehat."


“Gimana sih kerja kok bentar-bentar minta ijin, mana kerjaan numpuk lagi."


“Maaf ya bu."


“Besok-besok kalau kamu ijin mulu, saya mending cari orang lain yang lebih rajin dari kamu."


“Iya bu."


Padahal ini kali pertamanya Raina ijin, tapi mau gimana lagi, jadi bawahan selalu salah dan salah.


Raina mengayuh sepedanya pulang ke rumah ayahnya, baru meletakkan sepedaku di pekarangan rumah, Ibu Ineke sudah memarahi Raina.


“Jam segini sudah pulang kerumah, memangnya sudah dapet duit?”


“Belum Bu, gajiannya masih besok."


“Iya Bu, besok Raina nyari kerjaan tambahan."


“Awas aja kalau besok pulang gak bawa duit lagi, jangan harap pulang dan makan dirumah!"


“Iya Bu."


Setelah puas memarahi Raina, Ibu Ineke baru pergi meninggalkanku.


Raina tinggal bersama ayah kandungnya, ibu tiri dan saudara perempuan tiri. Semenjak ibunya meninggal saat Raina berusia 7 tahun, ayahnya menikahi adik ibunya. Ibu Ineke itu sebenarnya tantenya tapi dia selalu semena-mena pada Raina, bahkan di depan ayahnya pun dia berani menyakiti Raina. Dia sudah biasa jadi bahan hinaan dan caciannya. Begitupun dengan saudara tirinya, tak ada habisnya dia menyakiti Raina, di rumah maupun di sekolah.


Raina masuk ke dalam kamar dan langsung menutup pintu kamar, dia menjatuhkan diri di ranjang dan menangis sejadi-jadinya. Entah mimpi apa semalam sampai kehormatannya direnggut begitu saja oleh orang yang tidak ku kenal.


“Ya Allah kenapa semua ini terjadi padaku hik ... hik … maafkan aku jika aku mengeluh dengan ujianmu ini Ya Allah hik … hik ... berat ujian ini untukku kuatkan hatiku untuk ikhlas menjalaninya Ya Allah hik … hik …”


Raina menangis sampai tertidur di ranjang. Dalam sebuah mimpi dia berada di sebuah lahan yang luas dipenuhi bunga-bunga yang begitu indah, Raina melihat seorang laki-laki menuntun anak kecil menghampirinya dari jauh. Anak kecil itu memanggilnya Mama.


“Mama … Mama ...”


Dan seorang laki-laki tersenyum pada Raina tapi wajahnya tidak jelas, seketika Raina terbangun dari tidurnya karena rasa dingin dan basah di tubuhnya.

__ADS_1


“Aaa … dingin ...”


“Dari tadi gak bangun-bangun, disiram baru bangun deh, udah sore tahu, masak sana aku dan ibu lapar,” ucap Talita sambil membaw gayung.


“Setelah selesai sholat aku akan masak."


“Buruan jangan lama-lama, jangan bikin aku dan ibu nunggu kelamaan ya."


“Iya."


Talita keluar dari kamar, Raina langsung pergi ke toilet untuk mandi. Dia memandangi seluruh tubuhnya yang tadi sudah dijamah lelaki itu, bahkan meninggalkan tanda yang membuatnya teringat kembali kejadian menyakitkan itu. Raina kembali menangis sambil membersihkan tubuh dari sisa-sisa lelaki itu.


Selesai mandi Raina segera wudhu dan kembali ke kamar, dia sholat dan memanjatkan doa pada Allah SWT agar diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi ujian ini.


***


Raina memasak di dapur untuk makan satu keluarga, kebetulan ayahnya baru saja kembali dari luar kota. Pak Santoso hanya pulang ke rumah 2-3 bulan sekali. Raina lebih sering tinggal bersama ibu dan kakak tirinya. Terkadang Raina suka merindukan ibunya, semenjak ibunya meninggal hidupnya penuh air mata. Ibu Ineke dan Talita selalu menyiksa dan menyakitinya. Rasanya ingin menangis, berteriak, dan pergi jauh tapi gimana dengan ayahnya. Raina sangat menyayangi ayahnya, beliau adalah satu-satunya anggota keluarganya.


Raina menyiapkan semua makanan di meja makan. Setelah itu Raina kembali ke kamar. Ibu Ineke melarangnya makan bersama mereka, Raina hanya diperbolehkan makan setelah mereka selesai makan. Ibu Ineke, Talita dan ayah makan di ruang makan itu.


“Bu kemana Raina, kok gak makan bersama kita?” tanya Pak Santoso.


“Biasa Pak anak sekarang, paling lagi main dengerin music atau mikirin pacarnya, kaya bapak gak pernah muda aja," jawab Ibu Ineke.


“Oh gitu, tapi Raina memangnya dah punya pacar?”


“Pak, Raina itu di sekolah pacaran mulu, tiap hari diapelin pacarnya ke rumah, pas ada bapak aja dia sok alim," ujar Talita.


“Kalau begitu nanti biar bapak nasihatin Raina biar gak pacaran mulu."


“Anaknya juga malas banget kalau disuruh bantuin ibu ngerjain pekerjaan rumah," tambah Ibu Ineke.


“Maaf ya Bu, kalau Raina nyusahin kamu, kalau bukan kamu siapa yang bisa merawat dan menjaga Raina, ujar Pak Santoso.


“Tenang Pak gak usah dipikirin, biar nanti ibu yang nasehatin Raina," ujar Ibu Ineke.


Setelah mereka makan barulah Raina keluar untuk makan, di meja makan lauknya sudah habis semua, tinggal nasi dan kuah sayur, hal semacam ini sudah biasa untuknya, hanya kata syukur yang selalu aku panjatkan.


“Alhamdulillah, terimakasih atas rejeki yang kau berikan padaku hari ini."


Raina memakan nasi dan kuah sayur itu. Dia percaya Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya. Bersabar dan tawakal yang selalu ku lakukan hingga hari ini.


Satu Bulan Kemudian


Raina bersiap untuk berangakat sekolah, baru mau mengenakan kaos kaki perutnya terasa sangat mual. Entah kenapa, apa aku sedang tidak enak badan. Rania langsung berlari ke toilet, tak menunggu sampai aku masuk ke dalam toilet, aku sudah muntah di depan pintu toilet itu.


“Hooooeekk … hoooeeekk ... hooooeekk ...." Raina terus muntah.

__ADS_1


"Jangan-jangan aku hamil," ujar Raina.


Sejak saat itu Raina hamil. Dia harus menyimpan aibnya sendirian. Kehamilannya itu sengaja disembunyikan dari keluarganya hanya saja ketika perutnya semakin membesar, akhirnya mereka tahu. Raina dimarahi bahkan dihina, seakan dia gadis murahan. Bukan hanya keluarga tapi teman sekolahnya dan tetangganya. Dia hampir diusir dari keluarganya. Untung Axel yang hanya sebatas kenal dengannya mau tanggungjawab meskipun dia bukan lelaki yang sudah memperkosa Raina. Axel membawa pulang Raina ke rumahnya, meminta restu kedua orangtuanya. Sempat ditentang keras, tapi Axel tidak gentar. Dia tetap memperjuangkan Raina. Sampai Axel pergi dari rumah membawa Raina, karena itulah akhirnya kedua orangtua Axel setuju, dan menikahkan Axel dan Raina setelah Raina melahirkan.


__ADS_2