
Aku mendengar suara Nenek Cinta di luar kamarku tapi aku ragu untuk membukanya. Namun tak ada salahnya aku membuka pintu. Mungkin saja ada yang bisa kita bicarakan.
Aku berdiri. Membuka pintu kamar. Nenek Cinta yang melihatku berurai air mata langsung memelukku. Rasanya nyaman. Seperti pelukan nenekku sendiri.
"Nenek tahu apa yang kau rasakan," ucap Cinta.
"Aku ... semua ini terlalu dadakan," jawabku.
"Iya, kita bicara di sana ya, boleh?" tanya Cinta.
"Iya Nek," jawabku.
Aku dan Nenek Cinta duduk di ranjang. Nenek Cinta mulai menceritakan kisah hidupnya yang tak jauh beda denganku. Dari bayi sudah hilang terpisah dari kedua orangtuanya. Dan baru bertemu saat SMA. Begitupun Tante Alina. Terpisah dari bayi. Di buang ke laut. Dianggap sudah tiada namun Allah mempertemukan kembali Tante Alina dengan Nenek Cinta. Ternyata kisahku tak hanya aku yang merasakannya.
"Maafkan kita semua yang terlalu mendadak memberi tahumu, seharusnya kami perlahan-lahan memberi tahumu," ujar Nenek Cinta terlihat menyesal.
Aku terdiam. Memikirkan semua ucapan Nenek Cinta.
"Mamamu sudah kehilanganmu sejak lama, wajar kalau saat dia tahu hasil tes DNA mengatakan Aara putri kandungnya, Mamamu langsung mengadakan penyambutan untukmu," ujar Nenek Cinta.
Aku masih diam.
"Dulu nenek juga begitu saat Mamamu ditemukan. Kakek dan nenek mengadakan acara penyambutan," ucap Cinta.
Benar juga mungkin aku juga akan begitu jika diposisi Tante Alina. Beliau hanya ingin memberitahuku kalau aku putrinya dan bagian dari Keluarga Ariendra.
"Aara, cinta seorang ibu tak pernah putus begitupun dengan harapannya saat kau dunyatakan hilang terbawa arus. Mamamu selalu berdoa agar Allah kembali mempertemukan," ujar Nenek Cinta.
"Maafkan aku Nek, atas sikapku yang belum bisa menerima kenyataan," ucapku.
"Nenek sih tak apa-apa tapi Mamamu?" ujar Nenek Cinta.
Aku paham. Ibu mana yang tak sedih saat anak yang selama ini menghilang sekarang bertemu kembali tapi anak itu tidak bisa menerima kenyataan ini.
"Temui Mamamu, dia pasti ingin sekali memelukmu," ujar Nenek Cinta.
Aku berdiri meninggalkan Nenek Cinta. Membuka pintu. Ternyata Tante Alina ada di depanku. Air mata kami menetes bersamaan. Tanpa kata kami langsung saling memeluk.
"Maafkan Mama ya, tidak seharusnya Mama egois," ujar Alina.
"Tidak Ma, apa yang Mama lakukan karena Mama adalah ibuku," jawabku.
"Mama sayang padamu," ujar Alina.
"Aku juga sayang Mama," sahutku.
Sejak saat itu aku memanggilnya Mama. Beliau memang Mama kandungku. Hasil tes DNA sudah benar kalau aku anak kandung. Terimakasih Ya Allah kau pertemukanku dengan keluargaku kembali. Tak ada lagi keraguan. Ternyata aku anggota keluarga Ariendra.
Acara penyambutan dilanjutkan. Aku meminta maaf pada semua orang. Mereka memaafkanku dan memelukku. Memberiku perhatian dan kasih sayang. Aku beruntung berada di tengah-tengah mereka.
Setelah acara selesai, Adelina menemaniku di kamar. Dia ingin tidur bersamaku. Layaknya seorang adik, Adelina begitu bahagia bisa bertemu denganku yang merupakan kakak kandungnya.
Kami berbaring di ranjang sambil mengobrol santai.
"Tsunami sudah memisahkan kakak dan kita semua dan tsunami juga yang memperpertemukan kakak dan kami semua," ujar Adelina.
"Iya ya, musibah telah mengambil dan mengembalikan semuanya. Apa yang kita pikir tidak baik belum tentu kenyataannya tidak baik untuk kita. Tsunami yang dulu kakak anggap musibah menyakitkan ternyata tersimpan berkah di dalamnya," ujarku.
"Kalau bukan karena tsunami aku takkan pergi ke sana, takkan bertemu kakak. Dan kakak takkan ikut bersamaku ke kota A. Semua sudah rencana Allah," ucap Adelina.
__ADS_1
"Kau benar Adel, dibalik musibah ada hikmah yang tersimpan di dalamnya, Allah Maha Mengetahui yang kita tidak ketahui," kataku.
Adelina memelukku. Dia begitu rindu padaku. Begitupun aku yang senang bisa mengetahui kalau dia adalah adikku.
"Papa dan Mama senang sekali saat tahu kakak adalah anak mereka," ujar Adelina.
"Iya, kakak juga tak menyangka kalau kakak bagian dari Keluarga Ariendra," jawabku.
"Puzzle sudah tesusun kembali, membentuk sebuah gambar yang utuh," kata Adelina.
Di saat kami sedang asyik mengobrol, Rangga teriak mengetuk kamarku.
"Biarkan saja Kak Rangga, malam ini malam kita Kak," ujar Adelina.
"Iya ya, biarkan dia lelah mengetuk," ujarku.
Tok!tok!tok!
"Aara, Adelina, ...." Rangga memanggil.
Namun dari dalam diacuhkan. Mereka tersenyum mendengar suara Rangga memanggil.
"Kali-kali Kak Rangga dikerjain," ucap Adelina.
"Paling tar tangannya gatel karena memegang pintu yang gak sterill," sahutku.
Kami tertawa. Rangga memang selalu bikin siapa saja tertawa dengan tingkah konyolnya. Tapi gak tega juga. Akhirnya ku buka pintu kamarku.
"Aku ikut tidur di sini bersama kalian ya, pesta bantalkan?" tanya Rangga.
Aku dan Adelina menatap Rangga sambil membawa dua bantal pinky.
"Kak Rangga, ini hanya acara menginap dua cewek cantik," ujar Adelina.
"Iih, siapa juga yang mau ngapa-ngapain Kak Rangga," sahut Adelina.
Aku tersenyum. Ada aja kelakukan Rangga.
"Gak bisa Rangga, kita beda aliran, tidur sana sama Pak Mamat di pos securiti," sahutku.
"Bukannya kita saudara? Gak papakan tidur bareng?" tanya Rangga.
"Gak bisa, kita bukan saudara kandung. Bukan mahrom," ucap Adelina.
"Kalau gitu aku mau jadi mahrom, mesti ngapain?" tanya Rangga.
"Tetep gak bisa, kecuali Kak Rangga nikahin Kak Aara atau a ...," ucap Adelina langsung terhenti. Dia menatap Rangga.
"Aku nikahin kamu dulu Del?" tanya Rangga.
"Gak, aku gak mau jadi istri Kak Rangga, aku gak sanggup," jawab Adelina.
Aku tertawa melihat Adelina angkat tangan. Gak sanggup menjadi istri Rangga yang super higenis.
"Del kakak ganteng. Jangan jaim," ujar Rangga menggoda.
"Gak mau," ujar Adelina.
"Aara kau mau jadi istriku?" tanya Rangga sok imut memasang muka ngenesnya.
__ADS_1
"Gak," jawabku.
"Sedih amat ditolak dua wanita dalam hubungan kekerabatan seperti ini," ujar Rangga.
"Sweety aja, dia mau banget sama kamu Rangga," usulku sambil menahan tawa.
"Iya, seksi loh Kak Rangga, empuk semua dari atas sampai bawah," ujar Adelina.
"Gak perlu pakai kasur," ujarku.
"Jangan dong, gak sanggup gendongnya kalau sama Sweety, sama Adel aja ya," ujar Rangga main tangkep tubuh Adelina.
Tekejut bukan main Adelina dipeluk Rangga.
"Kak Rangga lepas gak?" ujar Adelina.
"Emang kenapa, waktu kecil kakak sering memelukmu, kita mandi bareng lagi," ujar Rangga.
"Kak Rangga lepas," ucap Adelina.
"Rangga, lepasin adikku gak?" ancamku.
"Eh, Adelina juga adikku," jawab Rangga.
Adelina berusaha melepas pelukan Rangga namun semakin kuat tangan Rangga memeluknya.
"Kak Rangga, aku jantungan nih," ucap Adelina.
Adelina berusaha melepas tangan Rangga. Tak sengaja mata mereka bertautan. Adelina grogi padahal selama ini begitu dekat dengan Rangga.
Tiba-tiba Rangga dan Adelina membuang muka bersama. Tangan Rangga juga melepas pelukannya. Mereka terlihat canggung dan menjaga jarak. Saling menjauh dan diam.
"Rangga tidurlah di balkon, mau?" tanyaku.
"Kedinginan dong, siapa yang nemening aku takut hantu," ujar Rangga.
"Kak Rangga cemen," ledek Adelina.
"Adel temenin tidur di balkon ya," pinta Rangga.
Plaaak ...
Tangan Adelina menampar pelan tangan Rangga.
"Aw ..., jangan kaya anjing rabies dong dedek kecil," ujar Rangga.
"Aku gak mau tidur sama Kak Rangga, kita bukan mahrom," jawab Adelina.
Aku tertawa.
"Udah kalian nikah aja biar mahrom. Hubungan kita terus berjalan," ujarku memberi usul.
"Gak-gak, aku gak mau," ujar Adelina.
"Memangnya kakak kurang apa?" tanya Rangga.
"Kurang maco, Adel suka cowok maco," jawab Adel.
"Kalau itu susah," jawab Rangga.
__ADS_1
Malam itu kami tertawa bersama. Akhirnya Rangga ikut ke kamar. Nonton film bersama kami. Hanya saja pandangan matanya memperhatikan Adelina. Walaupun Adelia membuang muka. Adelina tak pernah bermimpi mau menikah dengan Rangga yang super sterill. Dia sudah menganggap Rangga kakaknya bukan pasangannya.
Setelah nonton, Rangga kembali ke kamarnya. Adelina terlihat mengacuhkannya. Gara-gara candaan kami tadi. Mungkin dia memang gak mau sama Rangga. Baginya Rangga kakaknya.