Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Menikah Part 69


__ADS_3

Alina menangis dan menjerit ketika preman-preman itu hendak menyentuhnya.


Bruuuug....


Bunyi pintu yang terbuka secara paksa. Seorang lelaki masuk ke dalam bangunan tak terpakai itu.


Dia menghajar kedua preman itu tanpa ampun. Sampai mereka berdua babak belur.


"Kalian berani menyentuh Alinaku, aku tidak akan mengampuni kalian" ucap Farel.


"Ampun"


"Iya, ampun"


Farel kembali menghajar kedua preman itu sampai mereka lari terbirit-birit dari tempat itu. Lalu dia menghampiri Alina yang sedang menangis. Farel memegang kedua lengan Alina yang menangis, tapi tiba-tiba sekelompok warga datang ke bangun tak terpakai itu. Mereka mengira Farel memperkosa Alina.


"Udah bawa aja mereka ke Pak RT, biar si eneng ditanggungjawab, lelaki kurang ajar ini harus tanggungjawab"


"Iya kasihan si eneng kalau hamil gimana?"


"Iya betul"


"Maaf Pak, ini salah paham" ucap Farel.


"Dimana-mana maling mana mau ngaku"


"Pokoknya bawa aja"


Alina hanya menangis, dia masih ketakutan dengan kejadian tadi. Farel melepas kemejanya, dia memakaikannya pada Alina. Sedangkan dirinya sendiri tak mengenakan pakaian. Mereka berdua dibawa ke rumah Pak RT. Warga menjelaskan duduk perkaranya.


"Udah Pak RT nikahin aja, kalau nanti takut kabur"


"Iya Pak RT, kalau cowoknya orang deket mau tanggungjawab, kalau orang jauh, kabur deh"


"Habis manis sepah dibuang nanti Pak RT"


"Si eneng jadi korban nantinya Pak RT"


Pak RT menimbang-nimbang keputusannya. Alina hanya menangis. Sedangkan Farel yang berusaha menjelaskan tak didengar warga. Akhirnya terjadi kesepakatan setelah proses panjang. Farel mau menikahi Alina. Pak RT menelpon Rehan. Biarbagaimana pun keluarga Alona harus tahu dan ayahnya menjadi wali nikah Alina. Saat mendengar kabar itu, Rehan dan Cinta langsung pergi ke kota C naik pesawat. Mereka tiba dirumah Pak RT. Rehan langsung memonjok Farel.


Dug...


Satu tonjokkan mendarat dipipi Farel. Untung warga langsung menenangkan Rehan kalau tidak dia bisa meluapkan emosinya pada Farel.


"Sudah Pak, sebaiknya segera dinikahkan"


"Iya Pak, jangan biarkan cowoknya mau enaknya saja"


"Udah Pak, penghulu sudah menunggu dari tadi"


Cinta memeluk Alina yang dari tadi menangis ketakutan. Dia berusaha menenangkan Alina yang masih trauma dengan kejadian tadi. Farel dan Rehan duduk bersama penghulu untuk melakukan akad nikah.

__ADS_1


"Bisa dimulai ya" ucap Penghulu.


"Iya" ucap Semua orang.


Setelah semuanya siap. Akad nikah itu dimulai.


"Saya nikahkan dan kawinkan Ananda Muhammad Farel Ibrahim dengan putri saya Alina Clemira dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai" ucap Rehan.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Alina Clemira dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" ucap Farel.


"Gimana para saksi?" tanya Penghulu.


"Syah"


Semua mengucapkan kata syah. Lalu penghulu membacakan doa dan semuanya mengaminkan. Farel dan Alina kini resmi jadi suami istri. Warga pun bubar. Rehan dan Cinta pamitan pada Pak RT. Kemudian Rehan dan Cinta mengantar Farel dan Cinta ke rumah besar milik Farel.


Sampai dirumah Farel, mereka semua masuk kr rumah itu dan duduk diruang tamu. Alina masih diam saja. Dia masih trauma dengan kejadian yang dialaminya. Sedangkan Farel dan Rehan berbincang.


"Aku titipkan anakku padamu, yang sekarang sudah resmi jadi istrimu. Ingat jangan pernah kau sakiti dia, aku tidak akan memaafkanmu untuk itu" ucap Rehan.


"Baik" ucap Farel singkat.


Tak banyak kata yang keluar dari mulut Farel. Rehan dan Cinta berpamitan dengan Alina karena mereka harus kembali ke kota A.


"Alina sayang, jaga dirimu ya. Semoga kau selalu bahagia dan sehat nak" ucap Cinta.


Alina hanya mengangguk. Rehan juga memeluk Alina sebelum berpisah.


Alina hanya mengangguk. Belum ada kata-kata yang dia bisa ucapkan. Kejadian tadi membuatnya takut. Rehan dan Cinta pun pergi meninggalkan rumah Farel. Tinggal Alina dan Farel yang berdua diruang tamu itu.


"Kamarmu ada diatas" ucap Farel.


Alina hanya diam. Pandangannya menunduk ke bawah. Farel menghampiri Alina dan merangkulnya.


"Alina, mulai sekarang aku suamimu. Jadi menurutlah padaku" ucap Farel.


Farel membawa Alina ke lantai atas. Mereka masuk ke kamar Farel. Dikamar itu sudah dihias begitu indah, seakan kamar pengantin yang begitu indah. Banyak bunga-bunga yang berada didalam kamar itu. Alina duduk diranjang. Dia masih diam, Farel duduk berjongkok didepan Alina.


"Alina kalau kau ingin berganti pakaian ada dilemari yang itu" ucap Farel sambil menunjuk ke lemari yang dimaksud.


Alina tidak menjawab ucapan Farel. Dia tetap diam.


"Aku akan keluar sebentar, kau bisa membersihkan dirimu dan berganti pakaian" ucap Farel.


Farel keluar dari kamar itu. Alina berjalan menuju toilet untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai Alina keluar dari toilet, dia mengenakan handuk menuju lemari yang dimaksud Farel. Alina membuka lemari itu. Begitu banyak pakaian wanita yang tersedia dilemari itu. Alina terkejut melihat semua pakaian itu. Seolah semuanya sudah disiapkan Farel untuknya. Alina mengambil satu pakaian tidur. Dia mengenakan pakaian itu dan menyisir rambut panjang yang terurai. Tiba-tiba Farel masuk ke kamarnya. Dia melihat Alina mengenakan pakaian tidur dan rambut yang terurai panjang. Dia menghampiri Alina, memegang kedua lengannya lalu mencium Alina.


"Alina tidurlah" ucap Farel.


Farel melepas tangannya dari lengan Alina kemudian dia tidur disisi ranjang sebelah kiri dan memejamkan matanya. Alina berjalan ke ranjang itu dan berbaring disisi sebelah kanan. Dia meneteskan air matanya.


"Kak Rafa, aku sekarang sudah menjadi istri orang. Apa kita bisa bersama, Alina rindu" batin Alina.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian Alina tertidur pulas. Farel memeluk Alina dan mencium bibir cantiknya. Karena Alina kelelahan sampai tak sadar Farel mencium bibirnya.


"I Love You Alina" ucap Farel.


Farel memeluk Alina sampai pagi. Saat Alina terbangun, tubuhnya ada salam dekapan Farel. Dia melihat lelaki itu masih tertidur. Lalu dia berusaha melepas tangan Farel dari tubuhnya.


"Kau sudah bangun?" tanya Farel.


"Iya" ucap Alina sedikit canggung.


"Maukah sholat berjamaah denganku?" tanya Farel.


Alina mengangguk dengan ucapan Farel. Mereka pun mandi dan berwudhu. Farel dan Alina sholat berjamaah bersama, seusai sholat Farel mengajak Alina melihat pemandangan dari balkon kamarnya.


"Lihat hamparan sawah yang hijau itu dan burung-burung berterbangan dipagi hari. Suasana pedesaan seperti ada disini" ucap Farel.


Alina menatap ke arah Farel. Lelaki dingin yang kemarin itu terlihat hangat dan ramah.


"Kau suka Alina?" tanya Farel.


"Aku dan Kak Rafa suka melihat pemandangan seperti ini" ucap Alina.


"Kak Rafa, siapa dia?" tanya Farel.


"Kakakku, orang ku cintai" ucap Alina.


Farel mendekati Alina memegang pipinya.


"Alina aku suamimu, lupakan dia" ucap Farel.


Alina meneteskan air matanya. Dia tak mungkin melupakan Rafael dari hidupnya. Rafael orang yang paling berharga dalam hidupnya.


"Aku tidak bisa" ucap Alina.


Farel melepas tangannya dari pipi Alina lalu meninggalkannya begitu saja. Alina hanya menangis. Kini dia terjebak dalam pernikahan yang tidak diinginkannya.


Farel duduk diruang kerjanya sambil mengingat semuanya. Dia ingin Alina mencintainya apa adanya bukan karena Rafael.


"Alina cintailah diriku yang sekarang bukan Rafael yang dulu, karena kau akan terkejut saat tahu semuanya" ucap Farel.


Flash Back On


Tiga tahun lalu Rafael lulus kuliah. Dia mengikuti kegiatan kemanusiaan. Dia menjadi relawan untuk pergi ke sebuah negara diluar negeri yang sedang berperang. Rafael ingin membantu sesama. Dia ikut ke negara P, disana Rafael melihat begitu menderita penduduk disana. Hidup dalam tekanan dan ketakutan. Setiap saat terjadi peperangan dan bom yang diarahkan ke negara tersebut.


Rafael ikut membantu para Dokter, perawat dan tim penyelamat lainnya untuk membantu korban karena peperangan dan terkena dampak dari bom itu. Hampir setiap hari Rafael berkeliling dari satu kota ke kota lain dinegara P. Dia bercengkrama dengan para penduduk disana, berbagi cerita dan menghibur mereka. Dia melihat banyak anak yatim piatu dan penduduk yang kehilangan anggota keluarganya. Rafael ikut prihatin.


Pada suatu ketika dia makan bersama satu keluarga yang dibantunya membetulkan rumahnya, makanan yang tersaji hanya satu potong roti dan 10 biji kurma. Tetapi tuan rumah membagi Rafael dengan bagian yang jauh lebih banyak. Rafael heran kenapa dia diberikan bagian yang lebih banyak, dia coba bertanya pada kepala keluarga disitu kenapa dia mendapatkan bagian lebih banyak. Dia hanya menjawab, dia ingin memuliakan tamunya. Seketika Rafael menangis. Padahal dalam keadaan kekurangan tapi mereka masih ingin memuliakan tamunya. Rafael langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku malu, terkadang aku merasa sudah banyak berbuat kebaikan. Tapi melihat mereka aku merasa belum seberapa" batin Rafael.


Selama dinegara itu Rafael belajar banyak hal, arti bersyukur, ikhlas dan iman. Rafael bahkan bertemu banyak orang yang sudah sangat menderita, tak punya rumah, keluarganya mati semua dan tubuhnya cacat tapi dia tetap bersyukur, ikhlas dan beriman pada Allah. Keyakinannya itu tak pernah tergoyahkan meski hidup dalam penderitaan.

__ADS_1


"Aku siapa? aku merasa seperti secerca debu diangkasa dibandingkan mereka. Aku bahkan tak sekuat mereka melewati hidup yang penuh penderitaan tapi keyakinan pada Allah tak pernah runtuh. Allah apa sehebat itukah kau dihati manusia yang mengimaninya" ucap Rafael sambil menangis.


__ADS_2