
Leo dan Zara berbaring di ranjang pasien di ruang rawat inap. Dikarenakan di ruang rawat inap tidak diperbolehkan banyak orang, jadi hanya Pak Rahman dan Ibu Teti mendampingi mereka di ruangan itu. Pihak sekolah sudah menghubungi keluarga Leo tapi keluarga Zara sulit dihubungi dikarenakan Ayah dan Ibu Zara tidak memiliki hanphone karena dijual saat ayah Zara kecelakaan dan sisanya hanya no handphone kakaknya Zara. Tapi karena dia sedang kuliah, no telpon kakak Zara tidak aktif.
Tak lama Ibu Vivi datang ke rumah sakit, dia datang sendirian berjalan menuju bagian resepsionis rumah sakit itu. Menanyakan kamar pasien atas nama Leo dan Zara. Setelah mengetahui tempatnya nya, dia langsung masuk ke ruang rawat inap itu. Di dalam ada bapak dan ibu guru yang sedang menemani Leo dan Zara.
"Selamat pagi Bapak dan Ibu Guru," sapa Ibu Vivi.
"Pagi Bu," sahut Pak Rahman dan Ibu Teti secara bersamaan.
"Bagaimana kabar anak saya?" tanya Ibu Vivi. Dia mengkhawatirkan kedua anaknya Leo dan Zara.
"Baik, sekarang Leo sedang istirahat, tadi dia sempat pingsan," jawab Pak Rahman.
"Alhamdulillah," ucap Ibu Vivi mengucap syukur. Kekhawatirannya mereda.
"Terimakasih atas perhatiannya pada anak saya, Bapak, Ibu Guru," ucap Ibu Vivi.
"Iya sama-sama Bu," sahut bapak dan ibu guru.
"Baik karena sudah ada dari pihak keluarga yang datang, kami mau kembali ke sekolah dulu," ucap Pak Rahman.
"Oya, silahkan Pak! Terimakasih," ucap Ibu Vivi.
"Sama-sama," sahut bapak ibu guru.
Pak Rahman dan Ibu Eti ke luar dari ruangan itu.
Ibu Vivi langsung melihat Leo dan Zara yang sedang berbaring di ranjang yang bersampingan. Mereka terlihat masih beristirahat. Bu Vivi menghampiri ranjang Leo. Anaknya itu masih memejamkan mata nya.
"Leo ini mama Nak, bangunlah!" ucap Ibu Vivi. Berharap Leo segera bangun dan menyapanya. Ibu Vivi lebih tenang lagi.
Mendengar suara Ibunya, Leo bangun dari tidurnya. menatap ibunya yang ada di depannya. Wanita paruh baya itu terlihat menatapnya dengan penuh kelembutan. Penuh kasih sayang seorang ibu pada anaknya.
"Mama, ada disini?" tanya Leo. Melihat ibunya ada di depannya.
"Ya, tadi pihak sekolah menelpon Mama. Katanya Leo dan Zara jatuh dari atap gedung sekolah,"
jawab Ibu Vivi.
"Tadi Leo dan Zara berusaha membujuk Nunu agar tidak bunuh diri, tapi Zara malah terpeleset dan jatuh lalu Leo ikut menyusul Zara, melompat dari atap gedung itu. Untung saja di bawah sudah ada matras jadi kami jatuh ke matras itu," ungkap Leo menceritakan duduk perkara yang terjadi di sekolah tadi.
"Syukurlah kalau begitu, Mama tadi cemas sekali.
Gimana kondisi Zara, Leo?" tanya Ibu Vivi. Dia juga mencemaskan menantunya.
"Tadi Zara sudah sadar, sekarang dia sedang tidur," jawab Leo.
"Mama senang kalian selalu bersama dalam suka dan duka. Leo kau harus selalu menjaga dan menyayangi Zara. Dia gadis yang baik, kalian harus tetap bersama sampai kalian nanti punya anak dan jadi orangtua seperti Mama dan Papa",
ucap Ibu Vivi memberi nasehat kepada Leo.
"Mama benar, Zara memang gadis yang baik. Karena Zara, Leo sekarang berubah lebih baik, Leo sayang sekali pada Zara, Ma," ucap Leo. Dia mengutarakan hatinya dan perasaannya yang di rasakan sekarang ini pada Zara.
"Oya, gimana Lomba Cerdas Cermatnya?" tanya Ibu Vivi. Dia ingin mengetahui hasil lomba cerdas cermat yang sudah diikuti oleh anak dan menantunya.
"Leo dan Zara memenangkan Lomba Cerdas Cermatnya Ma, dan pekan depan kami berangkat ke kabupaten untuk Lomba Cerdas Cermat tingkat Kabupaten," jawab Leo. Terlihat sumringah saat menceritakan apa yang sudah diraihnya bersama Zara.
"Kau dan Zara memang terbaik, Zara malaikat yang datang dalam hidupmu Leo. Bahkan Mama dan Papa tak bisa membuatmu berubah lebih baik, tapi cinta, kasih sayang, kesetiaan dan kesabaran Zara sudah merubahmu jadi orang yang lebih baik. Kalian harus tetap bersama jangan pernah berpisah kecuali maut memisahkan kalian," ucap Ibu Vivi. Dia tahu Zara istri yang baik untuk Leo.
"Iya Ma, oya, rahasiakan ini dulu dari Papa, Leo tidak mau Papa cemas, Leo belum siap bertemu Papa," ucap Leo. Dia belum siap bertemu dengan papanya sebelum mampu jadi kebanggaannya. Apa yang sudah dilakukannya dulu membuat Leo tidak berani melihat Papanya tanpa menunjukkan apa yang sudah diraihnya.
"Papamu sedang bisnis ke luar negeri nak, pekan depan baru pulang," ucap Ibu Vivi.
Mendengar suara Leo dan Ibu Vivi yang sedang mengobrol, Zara bangun. Dia melihat Ibu Vivi dan Leo sedang berbicara.
"Mama," ucap Zara melihat ke arah Ibu Vivi dan Leo yang sedang berbicara.
Segera Ibu Vivi menghampiri Zara dan mencium keningnya lalu duduk di tengah-tengah ranjang antara Leo dan Zara.
"Zara kamu sudah bangun nak?" tanya Ibu Vivi.
"Iya Ma," sahut Zara. Ibu Vivi memegang tangan Zara. Dia senang menantunya sudah sadar dan terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
"Mama kapan tiba disini?" tanya Zara.
"Baru saja nak, apa kamu dan Leo sudah makan?"
tanya Ibu Vivi.
"Sudah Ma, tadi Bapak dan Ibu Guru memberi kami makan," jawab Zara.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Ibu Vivi.
Beberapa jam Ibu Vivi menemani Zara dan Leo hingga malam hari, setelah itu Leo meminta Ibunya untuk pulang. Kemudian dia ke luar dari rumah sakit. Pulang ke rumahnya.
Setelah Ibu Vivi pulang ke rumahnya, tinggal Leo dan Zara di ruangan itu. Leo turun dari ranjangnya menuju ke ranjang tempat Zara berbaring.
"Zara, Leo boleh tiduran sebentar di samping Zara?" tanya Leo. Dia ingin lebih dekat dengan Zara.
"Boleh, sini Leo," jawab Zara.
Leo berbaring di samping Zara, dia melihat wajah cantik Zara yang memandangnya penuh cinta. Mereka saling menatap. Kedua mata itu saling bertautan.
Leo mendekat dan mencium bibir cantik Zara. Mereka berciuman cukup lama seolah mengutarakan perasaan yang ada di hati mereka.
***
Leo dan Zara sudah kembali ke sekolah setelah satu hari dirawat di rumah sakit. Leo dan Zara berjalan memasuki sekolah menuju ke kelas Zara, Nunu menemui Leo dan Zara yang sedang berjalan menuju ke kelas Zara. Dia ingin berterimakasih sekaligus minta maaf pada Leo dan Zara.
"Leo, Zara," ucap Nunu memanggil mereka dari belakang. Berjalan menghampiri keduanya.
Langkah kaki Leo dan Zara terhenti. Mereka menengok ke belakang. Melihat Nunu yang ada di depan mereka.
"Nunu," ucap Zara dan Leo.
"Leo, Zara, Nunu minta maaf karena kesalahan Nunu, kalian jadi celaka," ucap Nunu. Ekspresi di wajahnya terlihat sangat menyesal. Matanya sampai berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa Nunu, Zara seneng kok bisa bantu Nunu," ucap Zara. Dia memang suka membantu siapa saja yang dalam kesulitan. Apalagi saat itu Nunu membutuhkan dukungannya.
Leo hanya mendengarkan Zara dan Nunu. Membiarkan mereka berbicara satu sama lain.
"Nunu harus berjanji pada Zara tidak akan melakukan hal seperti itu lagi," ucap Zara. Dia tidak ingin Nunuk melakukan hal yang bodoh itu lagi. Hidup itu harus diperjuangkan sesulit apapun yang sedang kita alami saat ini.
"Iya aku janji tidak akan seperti itu lagi," ucap Nunu.
"Nunu kalau ada masalah cerita sama Zara jangan dipendam sendiri, mungkin Zara bisa membantu," ucap Zara.
Disela-sela percakapan Nunu dan Zara. Leo meminta izin.
"Zara, aku kembali ke kelas, silahkan kalian mengobrol berdua," ucap Leo.
Leo tahu Nunu Ingin mengatakan sesuatu pada Zara. Jadi dia membiarkan Nunu untuk berbicara berdua dengan Zara.
Leo berjalan meninggalkan Zara dan Nunu, pergi ke kelasnya. Tinggal Nunu dan Zara.
"Ayo Nunu kita bicarakan ini di kelas mumpung masih sepi," usul Zara. Dia merasa lebih baik bicara di dalam kelas jadi lebih privasi daripada di lorong kelas. Mungkin Nunu ingin mengatakan sesuatu yang penting.
Nunu mengangguk.
Mereka berdua masuk ke dalam kelas Zara. Duduk di kursi dan mulai berbicara.
"Zara, ayah dan ibuku sudah bercerai sejak aku masih berusia 8 tahun. Aku tinggal bersama ayahku dan ibu tiriku. Tapi Ibu tiriku selalu memarahiku tanpa alasan yang jelas dan ayahku selalu membenarkannya. Dia juga tak segan menghukumku, aku sering tidak makan jika melakukan kesalahan," ungkap Nunu.
"Lalu bagaimana dengan ibumu?" tanya Zara.
"Aku ingin pergi ke tempat ibu kandungku tapi ibuku terlalu sibuk dengan anak-anak dari pernikahannya yang sekarang, bahkan tak jarang jika aku mengunjunginya dia malah marah padaku. Aku tidak tahu harus mengadu pada siapa dan tinggal dimana," jawab Nunu berurai air mata menceritakan semua itu. Dia merasa sendirian dan kesepian. Tidak ada tempat untuk berlindung.
"Sabar ya Nu, Allah tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya," jawab Zara dengan mata berkaca-kaca. Tak tega mendengar kesedihan Nunu.
"Belum lagi teman-teman yang selalu membully ku, teman satu kelas maupun kakak kelas. Aku seperti boneka mainan mereka yang jadi bahan tertawaan dan hinaan. Aku merasa hidupku sudah tidak ada artinya jika orang-orang di sekelilingku sudah tidak peduli dan bahkan sering menyakitiku," ucap Nunu.
Zara tak mampu membendung air matanya lagi, dia langsung meneteskan air matanya mendengar Nunu bercerita seperti itu. Selama ini Zahra dan Leo melewati begitu banyak kesulitan tapi ternyata hidup Nunu jauh lebih sulit dari hidup mereka. ucapan syukur terlontar di dalam hatinya. Allah senantiasa mengasihinya meskipun dalam kesulitan. Memberikan jalan agar bisa melewati kesulitan itu.
"Nunu, aku tahu di posisi Nunu tidak mudah.Tapi Nunu harus tetap sabar dan berusaha. Zara yakin suatu hari nanti Nunu akan bisa bahagia dan memiliki banyak teman. Asal Nunu mau terbuka dan berusaha bergaul dengan mereka sebaik mungkin tanpa harus merubah kepribadian Nunu," saran Zara.
__ADS_1
Nunu mengangguk.
"Jika ada yang membully Nunu, jangan diam saja, Nunu harus bisa membela diri dan jika mereka sudah keterlaluan, Nunu bisa melaporkan pada guru atau Kepala Sekolah agar mereka jera," usul Zara.
Nunu mendengarkan semua nasehat dan saran dari Zara.
"Soal orang tua Nunu, bagaimana kalau Nunu bekerja paruh waktu seperti Zara, nanti Zara bantu Nunu mencari pekerjaan. Jadi Nunu punya penghasilan sendiri," ucap Zara.
"Boleh, Nunu mau," sahut Nunu.
"Nunu bisa beli apa saja dari uang hasil bekerja Nunu sendiri. Jadi Nunu bisa mandiri dan mencukupi kebutuhan Nunu sendir," ucap Zara.
"Zara kamu sangat baik, Nunu beruntung bisa bertemu denganmu. Terimakasih mau membantu Nunu mencari pekerjaan paruh waktu," ucap Nunu.
"Iya Nunu," ucap Zara sambil tersenyum.
"Nunu ingin bisa bekerja paruh waktu agar bisa mandiri dan mencukupi kebutuhan Nunu sendiri" ucap Nunu semangat dan terlihat lebih ceria. Dia merasa tidak sendirian lagi. Ada Zara sebagai teman baiknya.
"Nah kalau begini kita sama-sama senang bisa membantu Nunu. Nanti sepulang sekolah Zara bantu Nunu mencari pekerjaan paruh waktu ya," ucap Zara.
"Iya, makasih Zara," ucap Nunu.
"Sama-sama, semangat!" ucap Zara menyemangati Nunu. Mereka berdua saling menyemangati.
Zara senang melihat Nunu sudah lebih baik. Dia tersenyum pada Nunu untuk memberinya semangat agar lebih kuat dan mampu menghadapi semua cobaan yang ada dihidupnya.
***
Ruang Kepala Sekolah
Pak Bayu dan Ibu Mita dipanggil oleh Kepala Sekolah karena masalah Nunu yang ingin bunuh diri. Mereka duduk menghadapi Pak Yunus Kepala Sekolah SMA Buana. Mereka tidak tahu kenapa dipanggil ke sekolah dan menghadap Pak Yunus.
Pak Yunus memulai pembicaraannya.
"Pak Bayu dan Ibu Mita, saya selaku Kepala Sekolah sangat miris menyaksikan sendiri anak didik saya mau bunuh diri disekolah ini. Saya tidak tahu pasti permasalahan yang sedang dihadapi Nunu hingga dia ingin mengakhiri hidupnya dengan loncat dari atap gedung sekolah," ucap Pak Yunus menceritakan duduk perkara yang terjadi di sekolah.
"Apa?" ucap Pak Bayu dan Ibu Mita terkejut mendengar penjelasan Kepala Sekolah. Mereka tak menyangka anaknya hendak meloncat dari atap gedung sekolah.
"Saya tidak tahu apa Bapak dan Ibu mengetahui hal ini atau tidak. Tapi kejadian itu terjadi kemarin,"
ucap Pak Yunus.
"Nunu tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu Pak," ucap Pak Bayu.
"Anda tidak percaya, silahkan Anda tanya pada siswa di sini, mereka menyaksikan kejadian itu," ucap Pak Yunus.
"Perasaan Nunu baik-baik saja, pulang pergi sekolah seperti biasa," ucap Pak Bayu.
"Kemarin juga baru saja berkunjung ke rumah saya, biasa saja tidak terlihat ada masalah," ucap Ibu Mita.
Kedua orang tua Nunu mengelak dengan apa yang terjadi pada Nunu yang sebenarnya. Mereka menganggap Nunu baik-baik saja.
"Baik dari pada kita berdebat saya akan memanggil Nunu ke sini," ucap Pak Yunus. Dia mengambil handphonenya kemudian menelpon salah satu guru untuk memanggil Nunu ke ruangannya.
Guru segera memanggil Nunu untuk pergi ke ruang Kepala Sekolah. Tak lama Nunu masuk ke ruangan itu. Dia bertemu dengan kedua orang tuanya sedang di dalam. Nunu duduk di samping kedua orang tuanya. Dia hanya menundukkan kepalanya.
"Nunu tolong ceritakan semua masalah yang membuat kamu sampai nekad ingin mengakhiri hidupmu kemarin biar bisa terselesaikan masalahnya," ucap Pak Yunus.
"Aku hanya seorang anak yang ingin memiliki kedua orang tua yang menyayangiku dan selalu ada untukku. Tapi kalian berpisah, Nunu kesepian, sendirian, tak ada tempat untuk Nunu mengadu dan berbagi," ucap Nunu.
Kedua orang tua Nunu terdiam. Mendengarkan apa yang disampaikan Nunu.
"Kalian sibuk dengan urusan kalian sendiri dan lupa kalau Nunu ini anak kalian juga hik ... hik ..., Nunu rindu ayah dan ibu bisa seperti dulu. Nunu ingin bisa merasakan seperti anak-anak lain diperhatikan kedua orangtuanya," ucap Nunu tersedu-sedu.
Mata kedua orang tua Nunu berkaca-kaca. Mereka merasa bersalah.
"Nunu ingin kecil lagi biar kalian masih ada bersama Nunu hik ... hik ..., Nunu ingin
menghabiskan banyak waktu bersama kalian hik ...
hik ...," ucap Nunu sambil menangis.
__ADS_1
Kepala Sekolah sampai terharu dan matanya memerah hendak menangis. Kedua orang tua Nunu hanya diam dan merasa bersalah atas semua kesalahannya pada Nunu. Mereka sibuk dengan kepentingan mereka masing-masing.