Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Lamaran Part 71


__ADS_3

"Kau mau apa?" tanya Alina menahan bibir Farel dengan tangan kanannya.


Farel tak menjawab pertanyaan Alina, matanya hanya fokus pada bibir cantik Alina, dia melepas tangan Alina dan menciumnya.


"Lepas" ucap Alina mendorong Farel.


"Alina aku ini suamimu" ucap Farel.


"Iya, tapi aku...aku mencintai orang lain" ucap Alina sambil menundukkan kepalanya.


"Aku ingin kau mencintaiku" ucap Farel.


Alina hanya diam saja, dia tak berani menjawab apapun karena dia hanya mencintai Rafael.


"Kau lapar?" tanya Farel.


Alina hanya mengangguk. Tiba-tiba Farel kembali mencium Alina. Kali ini Alina pasrah mendapat ciuman tiba-tiba itu.


"Upah untukku memasak" ucap Farel.


Alina hanya menunduk, dia malu lelaki yang menjadi suaminya itu menciumnya tanpa aba-aba.


"Apa kau masih betah dipangkuanku?" tanya Farel.


Alina langsung berdiri. Dia berdiri disamping meja. Farel berdiri disamping Alina. Dia mencium pipi Alina saat melewatinya.


Cup


"Aku menunggumu dibawah sayang" ucap Farel.


Farel berjalan keluar dari ruangan kerjanya. Dia turun ke lantai bawah menuju dapur. Tangannya segera digerakkan untuk memasak sarapan pagi untuk Alina. Dia membuat tempura dan daging teriyaki untuk Alina, ini salah satu makanan favoritnya. Alina menghampirinya ke dapur dan melihat Farel memasak makanan untuknya.


"Ee...." Alina bingung harus memanggil Farel dengan sebutan apa.


"Panggil aku kak juga boleh" ucap Farel.


"Kak, kau pandai memasak?" tanya Alina.


"Untuk menyenangkan hati kekasihku yang pertama aku harus pintar masak" ucap Farel.


Farel menghampiri Alina membawa sepotong tempura dan mengacungkannya ke depan mulut Alina.


"Aaa..." Farel menyuruh Alina membuka mulutnya.


Alina membuka mulutnya kemudian Farel menyuapinya dengan tempura yang dipegangnya.


Dia memakan tempura itu.


"Enak" ucap Alina.


"Rasanya mirip buatan Kak Rafa" batin Alina.


"Apa rasanya mengingatkanmu pada seseorang?" tanya Farel.


"Iya, mirip buatan kakakku" ucap Alina.


"Kalau begitu anggaplah ini buatan kakakmu" ucap Farel.


Alina mengangguk. Farel kembali mencium pipinya, Alina terkejut. Lelaki itu terus menerus menciumnya. Dia terpaku tak tahu harus berbuat apa.


Cup


Farel hanya tersenyum seusai mencium pipi Alina .

__ADS_1


"Akhirnya kau jadi istriku Alina, walaupun perjalanan panjang, dan kau juga tak mengenaliku. Aku akan membuatmu mencintaiku karena diriku yang sekarang" batin Farel.


"Ayo sarapan semuanya sudah beres" ucap Farel.


"Aku bantu membawa ke meja ya" ucap Alina.


Farel mengangguk. Mereka berdua meletakkan makanan yang dimasak Farel ke meja. Alina dan Farel duduk berseberangan. Farel mengambilkan Alina makan untuknya.


"Kak biar Alina saja" ucap Alina.


"Biarkan aku memanjakan istriku" ucap Farel.


Alina langsung malu saat Farel berkata seperti itu. Wajahnya tersenyum tipis pada Farel. Akhirnya mereka berdua sarapan bersama diruang makan itu. Sesekali Farel menyuapi Alina.


**************


Alvan membawa Ibu dan saudara kembarnya pergi ke rumah Rehan. Dia sekeluarga hendak melamar Haura. Mereka duduk diruang tamu bersama Rehan, Cinta dan Haura. Acara lamarannya memang sengaja lebih private karena dadakan. Haura terus merengek pada Alvan harus segera menikah soalnya Deena dan Haura sudah menikah.


"Maksud kedatangan saya kesini untuk melamar Haura putri Om, apa lamaran saya diterima?" tanya Alvan.


"Saya tidak bisa memutuskan, semuanya kembali pada Haura. Gimana nak? apa kau bersedia menerima lamaran Alvan?" tanya Rehan.


"Iya Pa" ucap Haura.


"Alhamdulillah" ucap Semua orang.


Alvan mengenakan cincin dijari manis Haura sebagai tanda pengikat sebelum hari pernikahan. Haura tampak senang saat mengenakan cincin tanda cinta dari Alvan.


"Kalau begitu mari kita makan malam bersama" ucap Rehan.


"Baik" ucap Semuanya.


Semua orang makan malam bersama diruang makan itu. Deena sudah pindah ke rumah Barra. Jadi dirumah itu hanya ada Rehan, Cinta, Aksa dan Haura. Hanya saja Aksa sedang keluar kota untuk urusan bisnis. Jadi hanya Rehan, Cinta dan Haura yang ada diruang makan bersama Alvan dan keluarganya.


Selesai acara lamaran itu, Alvan dan Haura duduk dibalkon ruang keluarga dilantai atas. Mereka berbincang tentang hubungan mereka.


"Senang dong, Alvan?" ucap Haura.


"Kenapa sih sayangku?" tanya Alvan.


"Nikahnya minggu ini ya, Deena dan Haura udah pada nikah. Aku ingin..." ucap Haura.


"Ingin secepatnya, iyakan?" tanya Alvan sambil memandang wajah Haura yang terlihat cemberut.


"Iya" ucap Haura.


Alvan mencubit kedua pipi Haura dengan kedua tangannya.


"Udah kebelet nikah Bu" ucap Alvan.


Haura mengangguk. Alvan gemas melihat tingkah kekasihnya. Dia hendak mencium Haura tapi mulutnya malah kejatuhan tai burung.


Pluuuuk...


"Ciuman dosa...ciuman dosa..." Burung kakak tua diatas mereka berdua ngoceh.


"Apa?" ucap Alvan terkejut. Dia melepas tangannya dari pipi Haura dan melihat burung kakak tua diatasnya..


"Sayang ini..." ucap Alvan.


"Burung kakak tua punya Kaisar, kemarin dia kesini. Katanya kado pernikahan untuk Deena, eh malah nempel sama aku terus" ucap Haura.


"Oh...dia harus disate, mengganggu keromantisan kita" ucap Alvan.

__ADS_1


"Siapa takut....siapa takut..." Burung kakak tua mengoceh lagi.


"Menyebalkan" ucap Alvan merasa diledek burung kakak tua itu.


"Udah lupain burung kakak tuanya" ucap Haura.


Alvan kembali bersemangat mendengar ucapan Haura. Dia hendak mencium Haura kembali.


"Jangan buka bungkus dulu, belum mahrom" ucap Rehan.


"Om..." ucap Alvan malu.


"Papa..." ucap Haura.


"Mulai malam ini kalian tidak boleh bertemu sampai hari H, ini semua untuk mencegah terjadinya nabung duluan sebelum acara pernikahan usai" ucap Rehan.


"Baik komandan" ucap Alvan dan Haura.


"Kasian deh lo" Kakak tua itu mengoceh lagi.


Alvan dan Haura menatap tajam burung kakak tua yang meledek mereka. Tapi burung kakak tua itu pintar langsung terbang ke atas bahu Rehan.


"Dadah..." Burung kakak tua itu mengoceh lagi. Dia ikut keluar dari balkon bersama Rehan.


"Sayang pokoknya tuh burung kakak tua jangan sampai ada dihidup kita, menyebalkan" ucap Alvan.


"Tapi dia itu sudah dekat denganku, meski ku usir dia akan kembali bersamaku" ucap Haura.


"Sangat mengganggu sekali kalau burung kakak tua itu ada saat malam pertama kita" ucap Alvan.


Haura tersenyum melihat tingkah Alvan yang kesal dengan burung kakak tua.


************


Aksa pergi ke sebuah restoran untuk bertemu seorang klien perusahaannya. Dia turun dari mobilnya memasuki restoran itu. Dia mengecek handphone ditangannya tak sengaja dia menubuk seorang wanita yang sedang berdiri membawa es kopi miliknya. Seketika es kopi itu tumpah ke baju wanita itu. Tapi Aksa malah berlalu begitu saja tak minta maaf apalagi berbasa basi.


"Hei bung, kau lihat tidak bajuku basah dan kau seenaknya pergi" ucap Wanita itu marah.


Aksa tak menggubris ucapan wanita itu. Dia tetap berjalan menuju mejanya. Aksa duduk dengan tenangnya. Wanita itu nenghampiri meja Aksa.


"Kau tahu tata krama gak sih, bajuku kotor, kau lihat" ucap wanita itu.


"Bodoh" ucap Aksa singkat.


"Apa? kau sudah membuat bajuku kotor dan sekarang bilang aku bodoh" ucap Wanita itu.


Aksa diam saja tak mau meladeni wanita itu.


"Seumur-umur baru kali ini aku ketemu makhluk tuhan paling menyebalkan sepertimu, ku kutuk jadi batu kamu" ucap Wanita itu kesal.


Aksa tetap diam. Wanita itu makin meradang. Dia membeli es kopi lagi lalu menuangnya diatas kepala Aksa.


Byuuuur...


"Kau..." ucap Aksa kesal.


"Nah kalau kaya gini aku puas" ucap Wanita itu.


Wanita itu meninggalkan Aksa kembali ke tempat duduknya. Dia duduk bersama Bosnya.


"Bos perwakilan dari Perusahaan Galaxy Lion kok belum datang ya" ucap wanita itu.


"Harusnya dia sudah datang" ucap Dion.

__ADS_1


"Mungkin orangnya sedang dijalan" ucap Wanita itu.


"Itu orangnya" ucap Dion menunjuk ke arah Aksa.


__ADS_2