Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Alvan Kau Kenapa? Part 29


__ADS_3

Pagi itu Alina bangun dihari libur. Dia tidak melihat ada kakaknya disampingnya. Seperti ada sesuatu yang kurang. Biasanya Rafael selalu membangunkannya untuk sholat subuh. Alina mengambil foto Rafael didinding. Foto itu diambil saat Rafael mengantar Alina masuk SMA.


"Kak Rafa sebentar lagi Alina lulus SMA, apa Alina akan mengambil jalur bea siswa kuliah keluar negeri tapi Alina tidak ingin terpisahkan dari kakak" ucap Alina memegang foto Rafael dan dirinya.


Alina memajang kembali foto itu didinding. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kontrakkannya.


Tuk....tuk.....tuk......


"Alina....."


Terdengar suara seorang lelaki memanggil perlahan.


"Siapa ya? mungkinkah Kak Rafa" ucap Alina menebak.


Alina berjalan ke pintu kontrakkannya, dia membuka pintu itu. Alvan langsung terjatuh ke tubuh Alina. Tubuhnya penuh luka.


"Alvan kau kenapa?" tanya Alina.


"Bodoh, tolong obati lukaku" ucap Alvan.


"Oke" ucap Alina.


Alina memapah Alvan masuk ke kontrakkannya.


Alvan terlihat kesakitan. Sekujur tubuhnya penuh luka. Alina membantu Alvan duduk.


"Aku ambilkan obat luka" ucap Alina.


"Alina jika aku mati, aku hanya ingin melihatmu untuk yang terakhir" ucap Alvan memandang Alina dengan wajah penuh lebam dan luka.


"Alvan kau bicara apa sih, lukamu harus diobati" ucap Alina.


Alina mengambil obat luka dikotak P3K. Dia membersihkan luka Alvan. Dia mengoleskan obat luka pada luka diwajah, tangan dan kaki Alvan. Bahkan baju dibagian dada Alvan penuh darah.


"Alvan dadamu" ucap Alina menunjuk ke arah dada Alvan.


"Kena goresan benda tajam" ucap Alvan memberitahu Alina.


"Lukanya harus diobati biar tidak infeksi" ucap Alina.


"Berbaliklah, biar aku obati sendiri" ucap Alvan.


"Oke" ucap Alina.


Alina berbalik badan membelakangi Alvan. Dia menunggu Alvan sampai selesai mengobati lukanya.


"Aw......." suara Alvan kesakitan.


"Alvan apa sakit?" tanya Alina yang masih membelakangi Alvan.


Alvan tidak menjawab. Dia menahan rasa sakit pada luka gores didadanya yang cukup lebar.


Alina terdiam menunggu Alvan.


"Alina" ucap Alvan berbisik ditelinga Alina.

__ADS_1


Alina menengok ke samping, kepala Alvan sudah ada disamping kepalanya.


"Alvan kau membuatku kaget tahu" ucap Alina.


"Terimakasih Alina" ucap Alvan.


Alina membalikkan badannya duduk berhadapan dengan Alvan. Dia melihat semua luka ditubuh Alvan sudah diobati.


"Alvan apa yang terjadi? siapa yang sudah melakukan itu padamu?" tanya Alina.


"Anak kecil gak usah tahu" ucap Alvan sambil menarik hijab bagian depan Alina hingga menutup mukanya.


"Hei, kau juga anak kecil Alvan" ucap Alina sambil merapikan hijabnya lagi.


"Alina ayo ikut aku jalan-jalan sebelum aku pergi untuk selamanya" ucap Alvan.


"Kau ini bicara apa sih? seolah kau akan pergi" ucap Alina.


"Sudah, ayo" ucap Alvan.


Alvan menarik lengan Alina membawanya keluar dari kontrakkan. Dia menarik lengan Alina hingga naik bus. Dia mendudukkan Alina dikursi bus dan duduk bersamanya.


"Alvan kita mau kemana?" tanya Alina.


"Suatu tempat yang indah dan seru" ucap Alvan.


Alina masih belum tahu Alvan mau mengajaknya kemana. Dia hanya diam melihat suasana didalam yang ramai.


"Alina lihat pengamen itu, lagunya enak ya" ucap Alvan.


Bus itu melaju ke tempat tujuan. Sepanjang Alvan menunjuk ini itu memperlihatkan ke Alina.


"Alvan kau kenapa? lukamu dan sikapmu? apa yang kau rahasiakan dariku" batin Alina.


Alina bukannya senang tapi khawatir dengan Alvan. Dengan ucapannya tadi seolah dia akan pergi jauh membuat Alina merasa Alvan punya masalah.


Bus itu berhenti di halte dekat taman hiburan. Alvan menarik lengan Alina turun dari bus. Dia mengajak Alina masuk ke taman hiburan itu. Tapi karena baru dibuka taman hiburan itu terlihat belum banyak pengunjung.


"Alina ayo kita naik komedi putar" ucap Alvan.


"Tapi itu wahana anak" ucap Alina.


"Aku belum pernah" ucap Alvan.


Alvan menarik lengan Alina naik komedi putar.


Alvan duduk bersampingan dengan Alina naik kuda-kudaan.


"Alina seru ya" ucap Alvan.


Alina menahan tawanya. Dia geli melihat Alvan kesenengan naik kuda-kudaan.


"Alvan kenapa kau belum pernah naik komedi putar seperti ini?" tanya Alina.


"Sewaktu aku kecil ibuku melarangku keluar dari rumah untuk hal apapun" ucap Alvan.

__ADS_1


"Lalu sekolahmu gimana?" tanya Alina.


"Home schooling. Aku hanya boleh bermain didalam rumah. Bahkan jika keluar kami harus menyamar. Itupun jarang sekali keluar dari rumah kalau tidak penting" ucap Alvan.


"Memangnya kenapa harus begitu?" tanya Alina.


"Aku tidak bisa cerita hal ini padamu, aku tidak ingin kau celaka karena aku. Ayo kita naik yang lainnya" ucap Alvan.


Alina merasa Alvan benar-benar punya masalah.


Ada sesuatu yang dirahasiakannya dari Alina.


Alvan mengajakan Alina naik semua wahana ditaman hiburan itu sampai mereka kelelahan dan berbaring dibawah pohon rindang menghirup udara segar.


"Alina sebelum aku bertemu denganmu, ku pikir aku hanya akan melewati hari yang membosankan tapi menjadikanmu mainanku membuat hidupku terasa menyenangkan. Ada sesuatu yang membuatku ingin bertahan hidup" ucap Alvan.


Alina menoleh ke arah Alvan. Dia melihat Alvan tulus mengatakan ucapannya. Matanya terlihat berkaca-kaca.


"Alvan, apa kau punya masalah?" tanya Alina.


Alvan menoleh ke arah Alina yang berbaring disampingnya.


"Alina, ayo beli es krim dan kembang gula" ucap Alvan.


Alina tahu Alvan mengalihkan pembicaraan. Dia menarik lengan Alina untuk membeli es krim dan kembang gula. Mereka makan es krim itu sambil duduk melihat anak-anak menari bersama badut beruang.


"Alvan es krimmu meleleh"ucap Alina.


"Aku sedang merasakan perlahan rasa es krim ini" ucap Alvan.


"Iya tapi keburu cair" ucap Alina.


"Punyamu sudah hampir habis Alina" ucap Alvan melihat es krim Alina yang hampir habis.


"Iya, kau saja yang lelet makannya" ucap Alina.


"Lihat badut beruang itu lucu ya" ucap Alvan.


"Kakakku pernah jadi badut beruang seperti itu" ucap Alina.


"Bisa tidak jangan bicarakan lelaki lain saat bersamaku" ucap Alvan kesal.


"Dia kakakku bukan lelaki lain" ucap Alina.


Alvan cemberut melempar es krim miliknya lalu meninggalkan Alina.


"Alvan" Alina mengejar Alvan yang berjalan meninggalkan Alina.


"Pergilah ke kakakmu sana jangan ikuti aku" ucap Alvan kesal pada Alina yang selalu menyebut kakak laki-lakinya.


"Kau kenapa sih? dari tadi sikapmu aneh" ucap Alina sambil berjalan mengejar Alvan yang berjalan didepannya.


Alvan tak menggubris ucapan Alina. Dia keluar taman bermain, dia berjalan ditepi jalan disusul Alina dibelakangnya. Alvan naik ke dalam bus. Alina coba mengejar bus yang dinaiki Alvan tapi tidak bisa menyusulnya. Alina berdiri ditepi jalan kelelahan mengejar bus itu, tiba-tiba sebuah mobil berhenti didekatnya. Kaca mobil itu diturunkan.


"Alina" ucap Alvan dan Ibu Lesti.

__ADS_1


Alina terkejut melihat Alvan ada dimobil pribadi bersama Ibu Lesti yang sedang menyetir. Matanya tidak mungkin salah.


__ADS_2