Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari ini hari pernikahan Leo dan Zara. Keluarga Pak Anton sudah bersiap di kediamannya. Leo mengenakan setelan jas hitam terlihat sangat tampan dan gagah. Leo, Pak Anton, dan Ibu Vivi menunggu keluarga Zara di ruang tamu mereka yang sudah di dekorasi. Selain mereka, ada penghulu dan beberapa pelayan. Hanya keluarga inti yang hadir, bahkan Erica tidak diberitahu. Untuk sementara hanya ayah dan ibu Leo yang tahu pernikahan ini.


Keluarga Pak Iwan tiba di kediaman keluarga Pak Anton. Pak Iwan, Ibu Sari dan Zara yang hadir dalam acara pernikahan itu. Acara pun dimulai, kedua keluarga mengikuti upacara pernikahan secara khidmat. Ibu Vivi dan Ibu Sari menangis melihat pernikahan kedua anak mereka. Usia Leo dan Zara masih sangat dini untuk menikah. Mereka berharap keduanya masih bisa bersekolah dan menggapai cita-cita mereka. Leo memakaikan Zara cincin. Sekarang mereka sudah resmi jadi suami istri. Setelah acara selesai Pak Iwan dan Ibu Sari undur diri untuk pulang. Sebelum pulang mereka berpamitan pada Shera dan keluarga Pak Anton. Pak Iwan dan Ibu Sari tidak lupa memberi mereka wejangan. Mereka juga menitipkan Zara pada keluarga Anton.


Setelah ayah dan ibunya pulang, Zara diantarkan Ibu Vivi naik ke kamar Leo.


"Zara ini kamar Leo dan ini juga akan menjadi mu," ucap Ibu Vivi.


"Iya, maaf bagaimana saya harus memanggil Anda?" tanya Zara.


"Panggil Mama saja, Leo biasanya memanggil mama atau mom," ucap Ibu Vivi.


Ibu Vivi memandangi wajah Zara. Dia kagum melihat Zara yang begitu cantik dengan gaun pengantin yang dipakainya.


"Zara bajumu bisa ditata di lempari yang itu," ucap Ibu Vivi sambil menunjuk kearah lemari yang dimaksud.


"Iya Ma," ucap Zara.


Setelah selesai bicara Ibu Vivi meninggalkan Zara di kamar Leo. Zara melihat-lihat kamar Leo. Dia terkesima melihat kamar Leo yang besar dan dipenuhi berbagai fasilitas modern. Kamar Leo hampir sebesar rumah Zara. Desain kamar yang terlihat gentle dan mewah. Setelah puas melihat-lihat Zara langsung membersihkan badan dan berganti pakaian.


Zara duduk di sofa sambil terdiam merenungkan semua hal yang telah terjadi akhir-akhir ini.


Tiba-tiba Leo masuk ke kamar, dia menyapa Zara, "Zara kau sedang apa?".


"Aku sedang istirahat," sahut Zara bingung harus menjawab apa karena masih canggung bicara dengan Leo.


"Kalau kamu lapar turun saja ke bawah di meja makan banyak makanan yang bisa kamu makan," ucap Leo.


"Makasih Leo," ucap Zara.


"Atau kalau malas itu di dalam kulkas ada beberapa snack, minuman, buah dan makanan dingin yang bisa kau makan," ucap Leo sambil menunjuk ke arah kulkas yang ada di dalam kamarnya.


"Iya," ucap Zara.


Selesai bicara dengan Zara, Leo langsung mandi ke toilet.


Zara masih saja duduk di sofa. Suasana terasa canggung, Zara tidak tahu harus berbuat apa. Yang bisa dia lakukan hanya duduk dan diam.


Leo keluar dari toilet hanya mengenakan handuk, Zara melihat dada Leo yang bidang membuatnya malu yang menutup matanya.

__ADS_1


"Zara kau kenapa?"


"Aku malu."


Leo melihat tubuhnya, dia mengerti Zara malu melihatnya hanya mengenakan handuk.


"Oke, kau balik badan saja saat aku ganti baju ya."


"Iya."


Zara berbalik badan sambil menutup matanya, segera Leo menuju lemarinya, mengambil pakaian dan mengenakannya.


"Zara aku sudah selesai."


"Iya."


Zara masih membelakangi Leo meskipun Leo sudah mengenakan pakaian.


"Kau akan diam di situ berapa lama Zara?"


Mendengar ucapan Leo, Zara berbalik dan melihat suaminya sudah rapi mengenakan piyamanya yang berwarna biru tua.


"Zara aku capek, aku mau tidur klau kamu mau tidur juga, di sebelah kiri ya, aku di sebelah kanan ranjang," ucap Leo.


Leo segera berbaring di ranjang dan tertidur pulas. Zara masih berdiri di depan ranjang, dia ragu untuk tidur satu ranjang dengan Leo, tapi lama-lama dia lelah berdiri. Zara memutuskan berbaring di ranjang di samping Leo. Dia menaruh guling sebagai pembatas keduanya. Zara berusaha memejamkan matanya tapi tetap tidak bisa tidur. Dia belum terbiasa tidur bersama Leo. Matanya melihat ke samping, Leo terlihat tertidur pulas. Sampai jam 3 malam Zara masih belum bisa tidur, tapi karena lelah akhirnya tertidur juga.


Suara adzan membangunkan Zara. Dia terkejut saat Leo memeluknya. Tangannya ada di depan dadanya. Zara berusaha melepas tangan Leo tapi tangannya begitu kuat memeluknya.


"Leo ... Leo ..., bangun ... bangun ...," ucap Zara sambil menepuk lengan Leo.


Mata Leo mulai terbuka, dia melihat Zara berada di depan mukanya.


"Kamu siapa?"


Leo belum sadar sepenuhnya, dia mulai mengingat semuanya.


"Zara ..., kenapa kau tidur memelukku?"


"Leo kau yang memelukku, coba lihat tanganmu ini."

__ADS_1


Leo menarik tangannya, dia merasa canggung. Dia bergeser, menjauh dari tubuh Zara.


"Maaf, kebiasan kalau tidur susah diem."


"Gak papa."


Zara beranjak dari ranjang. Dia merapikan rambutnya lalu diikat.


"Leo aku mau sholat shubuh, kita jamaah ya?"


"Aku masih ngantuk, duluan aja."


"Oh, ya udah."


Zara berjalan ke toilet. Dia mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat shubuh sedangkan Leo masih tidur di ranjang.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pelayan mengetuk pintu kamar Leo untuk mengajak Leo dan Zara sarapan pagi. Mendengar ketukan itu Zara bangun dan membuka pintu kamarnya. Pelayan memberi tahu agar Leo dan Zara segera sarapan pagi bersama Ibu Vivi. Zara memberi tahu pada pelayan akan segera turun bersama Leo.


Setelah mendapat jawaban itu pelayanpun pergi. Zara menutup pintu kamarnya dan menuju keranjang untuk membangunkan Leo.


"Leo bangun, bangun ...," ucap Zara memanggil Leo.


"Apa sih? masih ngantuk," ucap Leo.


"Tadi pelayan bilang kita harus sarapan dengan Mama."


Mendengar penjelasan Zara, Leo bangun dan turun ke bawah bersama Zara untuk sarapan. Zara sarapan bersama Leo dan Ibu Vivi. Ayah Leo sudah berangkat pagi-pagi ke kantor karena ada meeting. Di meja makan berbagai lauk pauk dihidangkan memenuhi meja. Bagi Zara ini pertama kalinya dia sarapan dengan lauk sebanyak itu, biasanya di rumah hanya sarapan nasi goreng, telur goreng atau sayur kemarin terkadang kalau ada uang ibunya memasak lauk pauk lainnya. Zara sarapan dengan keluarga Leo.


Setelah sarapan Ibu Vivi menyuruh Leo menemani Zara berkeliling rumahnya. Leo mengikuti perintah ibunya dan mengajak Zara berkeliling. Leo mengajak Zara melihat taman di samping kediamannya. Berbagai bunga dan tanaman tumbuh di taman itu. Taman yang indah dan subur. Kediaman Leo besar dan mewah. Halaman rumah sangat luas terdiri dari parkiran mobil,taman bunga, kolam renang, kebun buah dan sayur dan kolam ikan. Ada beberapa gazebo di taman dan di tepi kolam ikan. Udara di halaman rumah Leo sangat sejuk mungkin karena banyaknya tanaman hijau di sana. Zara merasa berkeliling di kediaman Leo seperti sedang study tour.


"Zara, bagaimana? kau suka?"


"Iya, di sini seperti sedang study tour."


Leo melihat Zara yang berdiri di sampingnya. Dia mendekati Zara, semakin dekat hingga Zara gugup.


Deg!

__ADS_1


Jantung Zara berdebar kencang, wajah Leo semakin mendekat.


"Apa Leo mau menciumku?" batin Zara.


__ADS_2