Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 95


__ADS_3

Pagi itu Rangga bersiap berangkat ke panti sosial. Dia mengenakan kan kemeja berwarna putih bergaris, dilapis dengan sweater berwarna hitam. Adelina mengantarkan Rangga sampai ke teras depan. Hari ini Rangga akan meninggalkan rumah besar Keluarga Ariendra.


"Jaga dirinmu baik-baik di sana Kak Rangga," ucap Adelina.


"Iya Del, makasih," ucap Rangga.


Adelina tersenyum berharap Rangga akan baik-baik saja selama di sana. Apa yang menjadi tujuan mereka bisa terwujud dengan baik. Dan kembali berkumpul bersama di rumah Keluarga Ariendra.


"Tunggu aku akan segera kembali," ucap Rangga.


"Aku pasti akan menunggu sampai Kakak kembali," sahut Adelina.


Mata Adelina berkaca-kaca, tak kuasa melihat kepergian Rangga meninggalkan nya. Semua itu demi masa depan mereka berdua.


Rangga berjalan meninggalkan Adelina. Menuju ke dalam mobil miliknya. Dia mengendarai mobilnya sendiri meninggalkan rumah besar itu. Adelina hanya melambaikan membiarkan mobil itu pergi sampai tak terlihat batang hidungnya.


"Aku akan menunggumu di sini Kak Rangga," ucap Adelina.


Mobil Rangga terus melaju di jalanan. Pemecah kepadatan jalan yang dipenuhi mobil roda empat dan roda dua. Perjalanan menuju pantai sosial cukup lumayan cukup jauh. Hanya wajah Adelina yang selalu diingatnya membuat Rangga bersemangat untuk pergi ke tempat itu. Rangga percaya semua yang dia lakukan untuk memperjuangkan cintanya pada adik kecilnya.


Dua jam perjalanan sampai juga di panti sosial. Mobil Rangga masuk ke dalam peraturan panti sosial itu. Parkir di parkiran yang berada di depan panti sosial letaknya di bawah pepohonan yang rindang. Rangga sempat terkejut melihat mandi sosial yang dipenuhi dengan banyak wanita-wanita cantik. Dia merasa seperti datang ke sebuah tempat yang berbeda.


Rangga mengunci mobilnya kemudian berjalan memasuki panti sosial. Kakinya melangkah di antara lorong menuju ruangan ketua pengurus panti sosial itu. Tak sengaja di tengah jalan dia bertemu dengan Albern.


"Rangga," sapa Albern.


"Kak Al," sahut Rangga.


Mereka saling menatap. Senang sekali bisa bertemu dengan iparnya. Saling bersalaman dan menepuk bahu sebagai tanda keakraban di antara keduanya. Tak disangka mereka akan berada di tempat yang sama. Setidaknya bisa saling menguatkan dan menyelesaikan misi secara bersama.


"Kok bisa terdampar di sini?" tanya Albern.


"Dikirim Big Bos ke sini," jawab Rangga.


"Kau terkena ultimatum juga ya?" tanya Albern.


"Tak jauh beda dari nasibmu Kak," sahut Rangga.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu kita bisa bekerja bersama, siapa tahu misinya selesai secara bersamaan," jawab Albern.


Rangga mengangguk.


Tiba-tiba muncul Hindun dari belakang Rangga. Dengan tingkah gemulai nya mencolek Rangga yang terlihat tampan dan keren. Tak menyangka ada cowok tampan selain Albern panti sosial itu.


"Abang sih nih, cucok mehong," ucap Hindun.


"Ini Rangga adik iparku," jawab Albern memperkenalkan Rangga pada Hindun.


Rangga sedikit meringis melihat Hindun yang gemulai padanya dan menggodanya dengan lirikan matanya yang berkedip-kedip.


"Abangnya aja ganteng ternyata adik iparnya juga ganteng," gumam Hindun.


"Kak Al, siapa manusia jadi-jadian ini?" tanya Rangga.


"Apa manusia jadi-jadian? Eke ini manusia kali, cuma lebih cute dari spesies yang lainnya," sanggah Hindun.


"Ha ha ha." Albern tertawa mendengar Rangga dan Hindu saling berbincang.


"Rangga, ini Hindun," ucap Albern memperkenalkan Hindun pada Rangga.


"Abang Rangga udah punya istri?" tanya Hindun.


"Udah punya calon istri, tutup lowongan apalagi untuk yang gak jelas alamnya," ketus Rangga.


"Yah Eke jomblo lagi, padahal baru ada harapan," ujar Hindun.


"Udah, ayo ku antar ke pengurus panti sosial," gumam Albern.


"Iya Kak," sahut Rangga.


"Eke ikut," jawab Hindun.


Mereka bertiga pergi ke ruangan kepala panti sosial itu. Saling memperkenalkan diri. Pak Abdul menceritakan seluk beluk panti sosial. Setelah itu Rangga pergi bersama Albern menuju kamar mereka bertiga.


"Nah Rangga karena kamarnya terbatas, kita akan tidur bertiga," ucap Albern.

__ADS_1


"Bertiga bersama Hindun?" tanya Rangga.


"Iya Abang Rangga," jawab Hindun.


"Astagfirullah," ucap Rangga.


Albern membantu merapikan semua barang yang dibawa Rangga ke lemari. Kini mereka akan tinggal bertiga. Bahu membahu dalam setiap masalah yang ada.


Setelah itu Albern dan Hindun ke luar dari kamar. Sedangkan Rangga masih di dalam kamar. Mereka punya tugas masing-masing merawat Tina dan Sela. Albern menemui Tina yang sedang duduk di teras. Sedangkan Hindun menemui Sela yang ada di taman. Hindun duduk di kursi menemani Sela.


"You, jangan bengong terus, Eke kasihan melihat You begindang, lebih baik kita nonton drakor atau baca novel," ucap Rangga.


Sela tetap diam. Air matanya menetes di pipinya. Tangannya terus mengepal. Ada rasa sakit yang mendalam di hatinya.


"Eke salah ngomong ya?" tanya Hindun.


Sela tetap menangis. Akhirnya Hindun berdiri berjoget sambil menari di depan Sela. Namun wajahnya tetap sendu. Air mata itu terus menetes di pipinya. Padahal sudah satu minggu seperti itu setiap Hindun menemaninya.


Tiba-tiba tai burung merpati jatuh ke muka Hindun sampai menetes ke mulutnya.


"Ya ampun, Eke belum makan siang kenapa dah dikasih makan tai merpati begindang," keluh Hindun sambil mencolek tai merpati di mulutnya.


Sela tersenyum melihat tingkah Hindun. Senyuman itu manis. Terlihat anggun dan cantik.


"Nah gitu dong, Eke suka melihatnya," ujar Hindun. Kemudian dia duduk kembali di samping Sela. Menyisir rambut panjangnya yang kusut. Memasang bando miliknya di kepala Sela.


"Cantik banget," puji Hindun pada Sela yang memang terlihat cantik. Tiba-tiba Sela memeluk Hindun. Menyandarkan kepalanya di dada lelaki waria itu.


"Sela ...," ucap Hindun pelan.


Melihat Sela tenang bersandar di dadanya. Hindun membiarkannya. Dia justru membalas pelukan itu.


"Jantungku kok jadi berdebar gini deket Sela," batin Hindu.


Sela bangun melepas pelukannya. Kemudian memberi ciuman di bibir Hindun. Awalnya Hindun terkejut. Sempat ingin menolak namun ciuman itu manis. Membuatnya menikmati ciuman sesaat itu. Sayangnya Sela melepas ciuman itu. Berdiri meninggalkan Hindun. Berjalan menuju danau di belakang panti sosial. Sela berjalan memasuki danau. Dia ingin mengakhiri hidupnya. Perlahan berjalan tapi Hindun menyusulnya.


"Sela jangan, ku mohon," teriak Hindun.

__ADS_1


Sela tak menggubris. Tetap berjalan ke tengah. Membuat Hindun panik setengah mati. Dia melepas heels miliknya. Berlari ke arah Sella. Menyusul wanita yang baru saja memeluk dan menciumnya tadi. Hindun merasa Sela istimewa untuknya sejak ciuman itu mendarat di bibirnya. Wanita cantik berambut panjang itu sudah membuatnya menikmati ciuman itu meski sesaat. Walaupun mungkin Sela menganggap ciuman itu perpisahan.


__ADS_2