Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Dibawa Ke Markas Part 10


__ADS_3

"Tak tembus oleh peluru maksudmu?". Jaxson bertanya kembali pada anak buahnya. Dia tidak percaya ada orang yang tidak bisa ditembak dengan peluru. Seperti film super hero dalam televisi. Aneh menurutnya, tapi dia penasaran.


"Iya Bos". Colis menjawab.


Jaxson memikirkan Raynor yang diceritakan anak buahnya. Dia yang tadi duduk disinggasananya langsung berdiri. Dia berjalan bolak balik didekat kursi singgasananya.


"Pergilah ke Markas Raja Senjata". Jaxson memerintah. Dia tahu Raja Senjata pasti punya solusi untuk permasalahannya. Raja Senjata menjual berbagai senjata tajam yang bermacam-macam. Dia pasti punya senjata untuk melukai Raynor.


"Siap Bos"Colis menjawab. Dia tahu apa yang harus dilakukannya saat bertemu Raja Senjata. Bosnya sudah biasa memesan senjata dari Raja Senjata.


Colis dan semua temannya keluar dari ruangan itu.


*************


Haura terkejut saat masuk ke dalam rumah yang sangat besar. Rumah itu begitu megah, lantainya terbuat dari marmer kualitas terbaik. Tiang-tiang tinggi menjulang, rumah yang terlihat bak istana raja membuat yang melihatnya seperti berada didunia dongeng. Warna putih bersih mendominasi tembok diruangan itu membuat kesan luas dan bersih tampak jelas terlihat oleh mata. Tangga berada tepat ditengah ruangan tengah berderet keatas dan membelah dua bagian ke kanan dan ke kiri. Ditangga itu terdapat karpet merah yang melapisinya hingga ke ujung tangga. Ruang tamu yang sangat luas, terdiri dari sofa terbaik dan meja kaca yang mengkilap, foto yang terpajang di dinding terlihat sang penghuni hanya memiliki dua anggota keluarga saja.


Haura berjalan perlahan dibelakang lelaki tampan itu. Dia malu untuk bertanya dan takut untuk mengucapkan sesuatu. Siapa tahu lelaki itu punya niat buruk batinnya. Dia terus berjalan hingga masuk ke ruangan yang cukup luas, bisa dibilang itu ruang keluarga karena terdapat televisi dan karpet dilantainya. Ruangan itu juga lebih family dari pada ruangan sebelumnya. Ada beberapa bunga, guci dan lemari kaca yang dipenuhi action figur menjadi milik si empunya rumah.


"Duduk". Lelaki itu memerintah. Tanpa basa basi Haura langsung duduk di sofa yang empuk dan lembut itu. "Siapa yang menyuruhmu duduk disitu". Lelaki itu marah dan melotot.


"Baik, aku turun". Haura turun ke karpet dibawah sofa sambil melihat ke arah lelaki itu dengan perasaan takut. Lelaki tampan itu duduk di sofa tepat diatas Haura duduk. Dia terlihat sombong dan angkuh. Kakinya menyilang seakan dialah penguasa di rumah itu. Anak buahnya berdiri di samping kirinya. "Tuangkan aku anggur". Lelaki itu memerintah anak buahnya. "Baik Bos". Anak buahnya langsung menuangkan botol anggur itu ke gelas yang dipegang lelaki tampan itu.


Haura hanya duduk dengan menundudukkan kepalanya. Dia tak tahu lelaki itu mau mengapakannya. Sesekali Haura melihat ke arah lelaki yang minum anggur di gelasnya.


"Mulai sekarang kau budakku". Lelaki itu berkata dengan lantang. "Apa?". Haura terkejut. Budak seperti dijaman penjajahan yang masih menerapkan sistem perbudakkan. Mimpi buruk menghantui Haura di malam itu. Dia tak berani menolak lelaki itu. Anak buahnya begitu banyak dan tempat itu begitu menakutkan untuknya dengan keamanan bersenjata.

__ADS_1


"Aku tidak mau jadi budakmu". Haura berusaha menolak. Lelaki itu mengeluarkan pistol dari dalam saku dijas yang dikenakannya. "Mati pilihanmu yang kedua". Lelaki tampan itu memberi pilihan padanya dengan menngacungkan pistol ke arah Haura.


"Apa mati?". Batin Haura berkecamuk. Haruskah dia mati, sementara minta maaf saja belum pada orangtuanya. Dia masih ingin berjumpa kedua orangtuanya, saudaranya dan ingin sekolah itu yang ada dipikirannya.


"Ampun, jika aku jadi budakmu apa yang harus ku lakukan?". Haura meminta penjelasan. Lelaki itu tersenyum tipis dan memasukkan kembali pistol yang di acungkan pada Haura.


"Rumah ini tak ada pelayan, kaulah yang akan jadi pelayan rumah ini seumur hidupmu". Lelaki itu berbicara dan sambil menunjuk ke arah Haura.


"Pelayan?". Kata-kata yang muncul didalam hatinya. Dia seorang putri raja yang biasa dilayani dengan nyaman sekarang harus jadi pelayan. Gambaran pekerjaan yang tiada henti muncul dibenak Haura. Masak, mencuci piring, menyapu, mengepel, mencuci baju, dan segudang pekerjaan lain yang biasa dilakukan pelayan muncul dibenaknya.


"Rumah ini sangat besar, apa aku saja pelayannya?". Haura bertanya. Dia tak berani menatap wajah lelaki tampan itu. Meskipun bertanya dia hanya menunduk. Nyalinya ciut padahal disekolah dia terkenal iseng dan nakal, langganan guru BK. Tapi di depan lelaki tampan itu semuanya menghilang tanpa jejak.


"Baik, kau akan punya teman seekor anjing rabies yang akan menemanimu bekerja". Lelaki itu mengatakan hal menakutkan pada Haura. Dia sangat kejam tak memberi pilihan lain yang lebih baik pada Haura.


"Anjing rabies?". Haura bertanya ulang. Mungkin saja dia salah mendengar atau mungkin lelaki tampan itu hanya bercanda. Tapi tatapan dingin itu tidak terlihat bercanda. Bahkan terlihat serius untuk seorang saat bicara. Tangan Haura mulai gemetar dan jantung berdebar. Mungkinkan ini awal penderitaannya.


"Cukup aku saja pelayannya". Haura menjawab secepatnya. Dari pada bersama anjing atau singa lebih baik sendirian. Dia sudah membayangkan jika bersama anjing atau singa hal buruk apa yang akan diterimanya.


"Bagus". Lelaki itu puas dengan jawaban Haura.


"Antar dia ke kamarnya". Perintah lelaki tampan itu pada anak buahnya yang berdiri disampingnya. "Baik Bos". Anak buah lelaki tampan itu menjawab.


Haura dibawa ke kamarnya oleh anak buah itu. Kamar itu berada di lantai bawah tepatnya di dekat dapur. Kamar itu lebih mirip kamar pembantu. Hanya ada satu ranjang sederhana dan satu lemari kayu. Tak ada pajangan apapun dikamar itu. Ukuran kamar itu hanya 4 m × 3 m, cukup sempit. Haura di dorong ke dalam kamar itu lalu pintu kamar itu dikunci oleh anak buah lelaki tampan itu.


Haura tersungkur hingga ke ranjang dikamar itu.

__ADS_1


"Kenapa nasibku jadi begini?". Haura tak percaya hidupnya yang dulu penuh kebebasan bahkan penuh kesenangan hingga keisengannya membuat orang lain jengkel kini berakhir tragis jadi budak.


"Papa, Mama, aku kangen. Haura ingin pulang". Haura menyesal. Seandainya waktu bisa diputar mungkin dia akan lebih baik lagi. Dia akan sekolah dengan benar. Dia tidak akan menjahili siapapun lagi. Dia akan jadi anak yang diinginkan ayah dan ibunya. Tapi itu tinggal angan-angan yang tidak mungkin kembali. Dia harus menerima kenyataan sekarang dia akan jadi budak lelaki tampan itu.


"Hik hik hik ". Isak tangis Haura pecah seiring penyesalannya yang datang. Tempat ternyaman untuknya bersama keluarganya. Disanalah dia bisa tidur pulas, makan kenyang, bebas dan melakukan hal yang menyenangkan. Tapi kini bayangan hitam datang mengekangnya. Menjadikannya tahanan di rumah itu. Mungkin hari esok lebih buruk lagi.


Setan Red mengatakan "sudahlah Haura ambil hikmahnya. Paling tidak kau tinggal dirumah yang mewah bersama lelaki tampan. Bikin ulah saja disini, bakar atau racuni dia".


Setan Bul mengatakan "Haura anak pintar dan kuat. Ini arena belajarmu untuk lebih iseng lagi. Bukannkah seru mengisengi lelaki tampan. Rumahnya besar, mencuri saja disini. Mana tahu ada emas atau berlian he....he...he....".


Haura menangis hingga dia terlelah lalu tertidur karena kelelahan. Tapi entah kenapa tubuhnya terasa berat. Sesak rasanya untuk bernafas bagai tertindih beban berat. "Huh....huh....huh.......". Nafas Haura tersengal-sengal. Dia terbangun, melihat seorang lelaki tampan memeluknya diranjang itu. Dari wajahnya lelaki itu lebih muda dari lelaki tampan yang sebelumnya. Lelaki tampan itu mengenakan piyama berwarna biru tua. Rambutnya bergaya revan bak artis korea yang lagi trend. Dia tersenyum pada Haura.


"Hei, kau siapa?". Haura bertanya. Dia berusaha melepas pelukan lelaki tampan itu. "Tenang aku akan memberimu kehangatan". Ucapan lelaki tampan itu begitu menjijikkan ditelinga Haura.


Seperti bertemu lelaki cabul yang datang tiba-tiba didepannya. Lelaki tampan itu hendak mencium Haura tapi tangan Haura menahan bibir lelaki tampan itu yang semakin mendekati bibirnya.


"Kau mau apa?". Haura kembali bertanya. Lelaki tampan itu melepas tangan Haura dari mulutnya.


"Aku mau kamu". Tegas lelaki tampan itu. Haura merasa semalam ini bertemu dua lelaki aneh yang begitu mendominasinya. Pertama lelaki tampan yang ingin menjadikannya budak. Yang kedua lelaki tampan yang menginginkan dirinya.


Apa didunia ini dipenuhi lelaki tampan yang aneh pikir Haura.


Lelaki itu tetap kekeh, dia memeluk Haura erat bahkan hampir menciumnya tapi lelaki tampan yang satu lagi tiba-tiba berdiri didepan pintu kamar itu. "Sudah bermainnya". Lelaki tampan itu berkata. Lelaki tampan yang memeluk Haura menoleh ke samping. "Om, sorry". Lelaki tampan yang memeluk Haura minta maaf. Dia beranjak berdiri menjauhi Haura.


"Cepatlah tidur". Perintah lelaki tampan yang berdiri di depan pintu. "Oke Om". Lelaki tampan yang memeluk Haura menjawab. Dia tidak berani melawan lelaki tampan yang disebut Om olehnya itu. Berjalan keluar dari kamar itu dengan senyuman tak bersalah pada Omnya. Haura lega lelaki tampan yang memeluknya tak jadi melakukan hal aneh padanya.

__ADS_1


"Kau tidur atau aku menyuruhmu bekerja dari sekarang?". Lelaki tampan itu bertanya. Haura mana sanggup bekerja semalam ini apalagi perutnya lapar sendari tadi. "Tidur". Haura menjawab singkat. Dia langsung tidur membelakangi lelaki tampan itu dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut diranjang itu.


Langkah kaki lelaki tampan itu meninggalkan kamar Haura. Barulah Haura bernafas lega. "Dua lelaki aneh dan mengancamku dalam bahaya". Haura bergumam. Entah ini kutukan atau takdir. Dia tak pernah membayangkan akan bertemu dengan keduanya. Matanya mulai lelah, dia tertidur dengan pulas.


__ADS_2