Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Haura Bereksperimen Part 13


__ADS_3

Haura masih tertidur pulas diranjang. Sehabis sholat subuh Haura hanya tertidur diranjang. Dia bermimpi sedang berada disebuah tempat dengan tumpukan makanan enak. Haura memakan semua makanan itu sepuasnya bahkan dia menari-nari bersama makanan Itu. Dia melihat sebuah burger besar berada ditengah taman. Haura menghampiri burger itu lalu memeluknya dan mengigit burger itu.


"Wah rakus sekali, kau sampai mengunyah sepatuku".


Haura mengunyah sepatu yang dipegang lelaki muda itu. Dia merasa burgernya tidak enak, pahit, hambar dan keras. Saat terbangun dia sedang mengigit sepatu yang dipegang seorang lelaki muda yang duduk diranjang.


"Kau sudah bangun".


Haura langsung melepas giginya dari sepatu itu.


"Ha ha ha, bukannya enak. Ayo makan lagi". Lelaki tampan itu tertawa puas melihat Haura melepeh sepatu itu. Dia sepertinya sudah puas dengan permainannya.


"Gila, kau memberiku sepatu dari tadi". Haura kesal pada lelaki muda itu. Dia tak menyangka dari tadi mengunyah sepatu.


"Ayo bangun masak, aku lapar!". Lelaki muda itu memerintah.


"Siapa kau menyuruhku?". Haura tidak mau diperintah lelaki muda itu. Dia mengenakan seragam SMA. Haura berpikir mungkin dia seusia dengannya. Dia tidak takut dengan lelaki itu.


"Omku akan marah saat dia bangun belum ada makanan, kau mau ditembak mati atau dijadikan makanan singa peliharaannya". Lelaki muda itu memberitahu.


"Makanan singa?". Haura bertanya.


"Omku tidak berbelas kasih meskipun kau cantik".


"Apa dia akan mencingcangku atau memasakku untuk makanan singa?". Haura bertanya. Dia sudah membayangkan betapa menakutkannya jika dia dicincang atau dimasak untuk makanan singa.


"Tidak, dia akan langsung memasukkanmu ke kandang singa". Lelaki muda itu memberitahu Haura kemungkinan yang akan dilakukan Omnya pada Haura.


"Kejam".


"Cepatlah masak!". Lelaki muda itu memberi perintah.


"Oke, dari pada mati sia-sia jadi makanan singa lebih baik masak". Haura menegaskan.


"Kau tak mau tanya namaku biasanya semua gadis ingin sekali mengetahui namaku". Lelaki muda itu dengan pede seakan Haura juga ingin tahu namanya.


"Tidak perlu, aku paling tidak suka lelaki tampan belagu sepertimu". Haura menolak. Mana peduli Haura soal lelaki tampan selama sekolah dia lebih suka iseng dari pada lelaki tampan.


"Namaku Dhafi, baguskan". Dhafi bangga dengan namanya sendiri padahal Haura belum memujinya.


"Jelek, paling itu nama nemu ditempat sampah atau koran bekas". Haura bukannya memuji malah meremehkan Dhafi. Dia kesal hampir diperkosa Dhafi semalam kalau saja Omnya tidak datang tepat waktu.

__ADS_1


"Kau dendam padaku ya, harusnya kau bersyukur, banyak wanita ingin bermalam denganku". Dhafi menyombongkan diri. Dia memang jadi cowok tertampan di sekolahnya tapi dia itu playboy, mengumbar cinta pada sembarang gadis.


Haura langsung memasukkan sepatu itu ke mulut Dhafi.


"Nah makanlah, laparkan". Haura dengan santai memegang sepatu dimulut Dhafi.


Dhafi mengambil sepatu dimulutnya, meraih kepala Haura dia hendak mencium gadis nakal itu.


"Bukankah seharusnya kau masak". Lelaki berlabel Om itu berdiri di depan pintu. Dhafi yang tadi hendak mencium Haura tidak jadi.


"Eh, selamat pagi Om". Dhafi pura-pura menyapa.


Dia beranjak dari ranjang berjalan menghampiri Omnya itu.


"Seharusnya kau memasukkannya ke kandang singa sebelum aku datang".


Haura terkejut dengan pernyataan Omnya Dhafi itu. Dia langsung beranjak dari ranjang menghampiri lelaki itu.


"Pagi Om, mau sate singa atau sop kepala singa juga bisa". Haura berlagak sopan dan akrab dari pada dia yang dijadikan makanan singa di pagi hari.


"Om sabar, jangan hakimi pacarku". Dhafi seenaknya mengakui Haura pacarnya tanpa berunding dulu dengan Haura.


"Bukan, pasti kepalanya konslet Om, tadi dia makan sepatu, mungkin keracunan". Haura menyangkal. Mana mau dia jadi pacar Dhafi yang seenaknya main perkosa.


"Tenang Om, otw masak". Haura cari alasan secepatnya dari pada kena masalah yang berbahaya.


Lelaki tampan itu menarik Dhafi keluar dari kamar itu. Haura menghembuskan nafas panjang. Akhirnya kedua lelaki pengganggu itu pergi dari hadapannya. Segera Haura ke dapur untuk memasak. Dia belum pernah memasak. Selama ini dia hanya tahu makan dan iseng. Ini kali pertamanya memasak. Haura mengambil bahan-bahan di dalam kulkas. Semua dikeluarkan dan diambilnya. Tapi perutnya lapar, dia terlebih dahulu memakan apa saja yang ada dikulkas dari susu, kue, biskuit, buah apel dan ketimun. Semua dimakannya sampai kenyang.


"Masak apa sajakan". Haura tidak mau ambil pusing semua bahan dimasukkan. Ayam, ikan, daging dimasukkan ke panci jadi satu bersama air untuk memasakmya. Dia menambahkan segala jenis bumbu ke dalam panci.


Setan Red mengatakan "Racuni saja mereka Haura pasti seru, lalu kau ambil hartanya he he he"


Setan Bul mengatakan "Masukkan sampah ke dalam masakkanmu biar mereka puas. Orang seperti mereka pantasnya ya makan sampah


"He he he, sepertinya ditambah jangkrik atau belalang menambah selera makan". Bukan masak dia malah bereksperimen suka-suka.


Haura keluar dari dapur meninggalkan rebusan di panci. Dia menangkap belalang, ulat, kepompong,


rumput, dan bunga. Ini tambahan untuk masakannya. Haura memasukkan menu tambahannya ke dalam blender untuk dibuat jus. Lalu dia memasukkan jus itu ke dalam masakannya. Tanpa dirasakan jadilah masakannya.


"Sepertinya ini eksperimen pertamaku, namanya sup alam liar". Haura menamai sup buatannya.

__ADS_1


Dia membawa sup miliknya ke meja makan lalu dia membuat roti bakar.


"Selai pete belum pernah ada boleh ni". Haura membuat selai pete dengan gula dan madu. Dia sengaja membuat inovasi terbaru dalam membuat selai.


"Nah semuanya beres". Haura menghidangnkan semuanya dimeja. Tak lama lelaki tampan dan Dhafi duduk. Mereka mulai menuang sup alam liar itu ke mangkuk. Haura hanya berdiri menunggu mereka selesai makan. Mereka berdua memakan sup dan roti selai pete itu .


"Hei masakanmu enak banget". Dhafi memuji Haura. Dia tidak tahu toping tambahan didalam sup itu. Lelaki tampan itu juga begitu menikmati sup itu. Sementara Haura sendiri sakit perut melihat mereka makan.


"Haura ikutlah makan". Dhafi menawari Haura makan bersama.


"He he he, aku sudah kenyang baru saja sarapan". Haura berbohong. Padahal dia sendiri geli untuk memakan masakannya yang aneh dan gila itu.


"Yang benar saja aku harus makan belalang, ulat dan kepompong tambah rumput dan bunga". Haura membatin.


Mereka makan hingga menghabiskan sup buatan Haura. Bahkan Dhafi membawa roti bakar selai pete itu untuk bekal makan siangnya. Haura hanya menahan tawa, perutnya sampai sakit. Sepertinya makanan aneh buatannya jadi makanan favorit untuk mereka.


"Bersihkan rumah setelah ini, dan beri makan semua binatang peliharaanku". Lelaki tampan itu memerintah.


"Baik Om". Haura tak bisa membantah perintah lelaki tampan yang dingin itu.


Lelaki tampan itu berdiri meninggalkan meja makan, disusul Dhafi juga meninggalkan meja makan. Tinggal Haura yang harus bersih-bersih rumah.


"Rumah ini besar dan binatang peliharaannya menakutkan, Huh". Haura mengeluh, dia tak sanggup melakukan semua pekerjaannya. Tapi dia tak punya pilihan lagi.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Rehan dan Cinta duduk bersantai di ruang keluarga. Mereka sedang menikmati waktu santai mereka. Rehan sengaja mengambil cuti agar bisa menemani Cinta dirumah karena Deena sedang ada lomba cerdas cermat keluar kota selama dua tiga hari.


"Pa, bagaimana dengan Haura? sudah beberapa hari ini dia pergi dari rumah". Cinta mengkhawatirkan Haura.


"Tenang Ma, Papa sudah menyuruh orang untuk mencari Haura". Rehan menenangkan Cinta. Dia tidak ingin istrinya mengkhawatirkan Haura. Walaupun Rehan masih kesal dengan kelakuan nakalnya.


"Semoga Haura cepat ditemukan ya Pa, Mama kangen. Apa dia sudah makan, apa diluar sana dia tidur nyaman, apa tinggal di tempat yang aman. Dan apa dia bahagia?". Banyak hal yang dipikirkan Cinta pada putri kembar keduanya itu. Meskipun Haura nakal tapi dia tetaplah buah hatinya. Dia sangat menyayangi Haura.


"Ma, Papa juga mengkhawatirkan Haura meskipun Papa kecewa dan marah padanya tapi dia tetap anak kita. Jadi Papa tetap sayang Haura, kita pasti menemukannya secepatnya". Rehan menyandarkan kepala Cinta dibahunya.


"Pa, kalau seandainya Alea masih ada apa dia akan seperti Haura atau Deena?". Cinta bertanya. Dia mengingat putri pertamanya yang telah tiada. Kejadian 17 tahun yang lalu begitu mengiris hatinya. Dia harus kehilangan Alea. Bagi Cinta Alea selalu hidup dihatinya. Bahkan dia merasa anaknya masih hidup.


"Dia pasti memiliki keistimewaan tersendiri, seperti Deena yang pandai dan baik hati, Haura yang energik dan usil, mungkin Alea lembut dan penyayang". Rehan menjelaskan keistimewaan ketiga putri kembarnya.


"Pa kapan-kapan kita jalan-jalan ke laut sambil mengenang Alea". Cinta ingin melepas rindunya pada Alea putrinya. Dengan melihat laut mungkin kerinduannya akan berkurang.

__ADS_1


"Oke gadis kecil". Rehan menggoda Cinta dengan nama panggilan lamanya.


"Kak Rehan". Cinta memeluk Rehan.


__ADS_2