
Sore itu Cinta sudah bersiap mengenakan dress cantik untuk makan malam ke rumah Leo. Tapi Rehan masih asyik berbaring diranjang. Cinta menghampiri Rehan yang sedang berbaring menutupi dirinya dengan selimut. Dia membuka selimut yang menutupi tubuh Rehan.
"Da.........."ucap Rehan mengagetkan Cinta.
"Zombi....."ucap Cinta kaget melihat Rehan berdandan seperti Zombi, dia langsung berdiri menjauhi Rehan.
"Haa.....haaaaa......haaa......"suara Rehan meniru Zombi sambil berjalan mendekati Cinta.
"Kak Rehan...geli ah....Kak Rehan...."ucap Cinta mundur-mundur saat Rehan mendekati Cinta.
"Makan otak....makan otak....."ucap Rehan semakin mendekati Cinta.
"Kak Rehan....jangan iseng.....Kak Rehan"ucap Cinta.
"Cium dulu.....cium dulu....."ucap Rehan.
"Gak mau, Kak Rehan mukanya serem"ucap Cinta.
"Harus cium....harus cium....."ucap Rehan terus mendekati Cinta.
Cinta terpojok disudut dinding, Rehan mendekatinya. Kedua tangannya diletakkan didinding. Sementara wajahnya mendekati wajah Cinta.
"Gak mau dicium, serem"ucap Cinta.
"Gadis kecil zombi ini, zombi paling tampan"ucap Rehan.
"Zombi tetep aja serem meskipun tampan"ucap Cinta.
"Gadis kecil pangeran zombi ingin memakan bibirmu bolehkah?"tanya Rehan.
"Pangeran zombi aku tidak mau jadi msngsamu" ucap Cinta.
Rehan hendak mencium bibir Cinta tapi seekor cicak jatuh ke punggungnya.
"Ih...ih...ih....geli gadis kecil, ada yang merayap dipunggungku"ucap Rehan terus meraba punggungnya.
"Pangeran zombi sini ku bantu"ucap Cinta.
Cinta mengambil cicak dipunggung Rehan.
"Nih cicak ternyata, oh....cicak sumber makanan yang cocok untuk zombi"ucap Cinta sambil memegang cicak itu.
"Tidak...., kau pasti memintaku memakannya"
ucap Rehan.
"Ini enak pangeran zombi, aaaaak....."ucap Cinta.
"Gak...gak...gak mau...."ucap Rehan kabur.
"Tunggu pangeran zombi ini enak, atau ditumis dulu sama saus tiram ya"ucap Cinta nengejar Rehan.
"Ampun gadis kecil, geli bayanginnya juga"ucap Rehan berlari disekitar kamar mereka.
"Enak loh, zombi biasanya suka"ucap Cinta masih mengejar Rehan.
Rehan berbalik langsung memeluk Cinta.
"Kena, haaaaa....."ucap Rehan.
"Kak Rehan ampun serem...."ucap Cinta.
"Buang cicaknya baru ku ampuni"ucap Rehan.
"Oke-oke"ucap Cinta.
Cinta melempar cicak itu ke samping.
"Udah...."ucap Cinta.
"Sekarang kena, haaaaa ......."ucap Rehan menerkam Cinta.
"Kak Rehan aku udah rapi"ucap Cinta.
"Biarin, nanti mandi lagi"ucap Rehan.
"Tapi muka Kak Rehan zombi, takut"ucap Cinta.
"Kali-kali bermesraan sama zombi"ucap Rehan.
"Ampun gak mau"ucap Cinta.
"Jangan harap aku melepasmu"ucap Rehan.
Rehan menerkam Cinta tanpa ampun. Mereka memadu kasih berbeda dari biasanya karena Rehan kali ini bermuka zombi. Tapi cinta tertawa terus sepajang mereka memadu kasih. Ini akan jadi kenangan termanis disepanjang kisah cinta mereka.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Rehan dan Cinta pergi ke rumah Leo mengajak Kirana bersama mereka. Sampai dirumah besar Leo, mereka masuk ke dalam rumah. Leo, Zara, Raka dan Marwa sudah menunggu mereka diruang keluarga.
"Assalamu'alaikum"ucap Cinta, Rehan.
"Wa'alaikumsallam"ucap Leo, Zara, dan Marwa.
"Pa, Ma aku bawa seseorang"ucap Cinta.
Kirana masuk ke ruang keluarga itu.
"Assalamu'alaikum"ucap Kirana.
"Wa'alaikumsallam"ucap Semua yang diruangan itu.
"Pa, Ma"ucap Kirana.
"Kemarilah nak"ucap Leo dan Zara.
Kirana meneteskan air matanya berlari ke arah Leo dan Zara. Mereka memeluk Kirana dengan erat.
"Aku kangen sama Papa dan Mama"ucap Kirana.
"Papa dan Mama juga kangen sama Kirana"ucap Leo.
"Benar nak, kita selalu kangen sama Kirana"ucap Zara.
"Maafin Kirana ya Pa, Ma"ucap Kirana.
"Iya nak"ucap Leo dan Zara.
"Ayo kita makan bersama, Mama masak masakan kesukaanmu"ucap Zara.
"Iya Ma"ucap Kirana.
Mereka semua makan bersama diruang makan.
Makan malam kali ini terasa istimewa karena semua anggota keluarga berkumpul bersama.
"Alhamdulillah, kita semua bisa berkumpul bersama dan makan bersama diruangan ini"ucap Leo seusai makan malam.
"Tidak ada kebahagiaan yang membuat orangtua bahagia selain bisa berkumpul dengan anak-anaknya"ucap Zara.
"Semoga kita semua selalu diberi kesehatan, kesalamatan dan kebahagiaan oleh Allah SWT, amin"ucap Leo.
"Amin"ucap Semua yang ada diruangan itu.
"Ma ceritain dongeng dong"ucap Marwa.
"Iya Ma"ucap Cinta dan Kirana.
"Baiklah"ucap Zara sambil mengusap rambut ketiga putrinya yang berbaring diranjang.
"Pada suatu hari raja memiliki tiga orang putri yang cantik jelita. Selain cantik mereka juga baik hati..........."ucap Zara menceritakan dongeng pada ketiga putrinya.
Cinta, Marwa dan Kirana akhirnya tidur setelah mendengarkan dongeng yang diceritakan Zara.
Dikamar yang berbeda Leo, Rehan, dan Raka tidur bersama. Rehan tidur disamping kanan Raka sementara Leo disamping kiri Raka.
Bluuuuuug...........
Kaki kanan Raka menindih perut Rehan.
"Aw.........."ucap Rehan kesakitan.
"Ampun deh bocah sialan ini kakinya menindih perutku"ucap Rehan.
Tak lama tangan kanan Raka menjatuhi muka Rehan seakan tertampar.
Plaaaaak...........
"Aw..............."ucap Rehan.
"Babak belur gue kalau tidur disamping bocah sialan ini"ucap Rehan.
Baru Rehan mau bangun dari tidurnya, Raka malah menarik kerah bajunya.
"Gue gak takut sama lo ya orang asing"ucap Raka yang sedang mengigau.
Dalam mimpinya Raka menonjok Rehan.
Dug.....................
"Aw............."ucap Rehan kesakitan ditonjok Raka.
"Gue kabur aja deh, gak yakin masih hidup sampai pagi kalau tidur ma bocah sialan ini" ucap Rehan.
Pelan-pelan Rehan berdiri dari ranjang, saat hendak berjalan kaki Raka tiba-tiba ke bawah lantai sebelah hingga membuat Rehan tersandung sampai terjatuh dilantai.
__ADS_1
Bluuuug...............
"Aw............apes banget gue tidur ma bocah sialan ini"ucap Rehan.
Akhirnya Rehan keluar dari kamar itu dengan muka membiru sana sini. Dia tidur dikursi yang berada balkon lantai atas.
Plaaak ......plaaaak.......plaaaak........
"Tidur disini banyak nyamuk, berkali-kali menampar diri sendiri jadinya"ucap Rehan.
Rehan masuk ke dalam lagi, dia mencari kamar Cinta yang biasanya untuk tidur Cinta saat berada dirumah Leo.
"Nah ini kamar gadis kecilku"ucap Rehan.
Rehan baru mau masuk kamar tapi tak sengaja melihat Cinta berjalan, dia langsung menarik Cinta masuk ke kamar itu.
"Kak Rehan kok ada disini bukannya tidur sama Papa dan Kak Raka"ucap Cinta.
"Gadis kecil lihat nih"ucap Rehan menunjukkan mukanya pada Cinta.
"Kak Rehan kenapa? pasti gak akur lagi sama Kak Raka"ucap Cinta.
"Gak, tadi Raka tidurnya gak bisa diem dan ngigau abis deh aku kena dampar"ucap Rehan.
"Kasihan......"ucap Cinta.
"Aku tidur sini sama kamu ya gadis kecil"ucap Rehan.
"Tapi....."ucap Cinta.
Rehan menunjukkan muka imutnya agar Cinta mau.
"Baiklah, aku ambilkan obat lebam dulu ya"ucap Cinta.
"Oke sayang"ucap Rehan.
Cinta mengambil obat lebam dan mengoleskannya pada bagian yang membiru dipipi Rehan. Kemudian mereka tidur diranjang.
"Gadis kecil kemarilah"ucap Rehan.
Cinta mendekat ke pelukan Rehan yang berbaring disampingnya.
"Senengnya bisa tidur berdua gini"ucap Rehan.
"Kak Rehan masih sakit gak?"tanya Cinta.
"Gak sakit, yang penting ada kamu disini rasa sakitnya menghilang"ucap Rehan.
"Kak Rehan"ucap Cinta.
Rehan dan Cinta tidur berdua dikamar itu. Lain kali Rehan tak akan tidur bersama Raka lagi.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pemakaman Mawar Hitam
Eden berdiri diatas batu nisan ibunya. Dia meneteskan air matanya. Bagi Eden ibunya adalah orang yang paling menyayanginya. Setelah ayahnya meninggalkan Eden begitu saja, dia hanya tinggal bersama ibunya dan kakeknya yang sudah lebih dulu meninggal saat Eden masih kecil.
"Bu semoga kau tenang disana, aku akan selalu mengingat semua kasih sayangmu, I Love You Bu"ucap Eden.
Pak Theo membawa seikat bunga mawar merah itu ke pemakaman itu. Dia berpapasan dengan Eden yang hendak keluar dari tanah pemakaman itu.
"Baru sekarang kau membawa bunga untuk ibuku setelah dia mati"ucap Eden.
"Aku hanya ingin memberikan bunga kesukaannya"ucap Pak Theo.
"Untuk apa? dia sudah mati, bunga itu hanya akan membusuk, kemana saja kau selama dua puluh tahun ini, baru sekarang ingat bunga kesukaannya"ucap Eden.
"Aku tidak peduli, aku kesini untuk mengunjungi Ibumu"ucap Pak Theo.
"Mengunjungi? saat dia masih hidup kau tak pernah pulang ke rumah untuk mengunjunginya, dia seperti putri di menara yang sendirian dan kesepian padahal memiliki suami"ucap Eden.
".........."Pak Theo terdiam.
"Sampai aku tak habis pikir kenapa ibuku mau bertahan menjadi istrimu kalau hanya jadi pajangan"ucap Eden.
"..........."Pak Theo masih terdiam.
"Dia mengakhiri hidupnya karena lelah berharap kau akan mencintainya"ucap Eden.
"Aku tidak memaksanya untuk menunggu cintaku"ucap Pak Theo.
"Kau memang sulit mengakui kesalahanmu, pantas ibuku sampai seperti ini"ucap Eden.
"Lihat saja, aku akan membuatmu merasakan apa yang ibuku rasakan selama ini"ucap Eden.
Eden meninggalkan tanah pemakaman itu setelah berbicara dengan Pak Theo.
__ADS_1