Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 59


__ADS_3

"Aku ingin mengajakmu bekerja di kantorku," jawab Albern.


"Ha ha ha." Axel tertawa.


"Kenapa kau tertawa anak ingusan?" tanya Albern.


"Kau bilang aku anak ingusan?" tanya Axel kesal.


"Masih sekolah, belum bisa nyari duit, sebutan apa yang pantas selain anak ingusan?" tanya Albern.


"Aku bisa nyari duit sepertimu, memang tak banyak. Tapi nanti saat aku dewasa, aku akan mengalahkanmu," ujar Axel.


Albern tersenyum tipis. Adiknya itu memang tak pernah mau kalah darinya. Meskipun dulu mereka akrab.


"Oke, kau boleh mengalahkanku, kalau bisa, sekarang juga kelulusanmu masih belum jelas," ujar Albern.


"Kau sombong sekali Bang, lihat saja nanti!" ujar Axel.


"Aku malas berdebat denganmu, kau mau tidak kerja di kantorku?" tanya Albern.


"Aku masih sekolah mana mungkin kerja di kantormu," jawab Axel. Dia tidak ingin bekerja separuh waktu, rasanya tak enak dengan karyawan lainnya di perusahaan yang dipimpin. albern.


"Kau bisa bekerja pulang sekolah," ujar Albern.


"Aku tidak ingin kerja rodi karena kau akan menyuruhku, lagi pula aku tidak suka kerja kantoran, terlalu ke bapak-bapaaan," ucap Axel. Dia tidak mengatakan alasan sebenarnya.


"Dasar bocah tengil, maunya instant, kau cowok, kau harus bekerja keras," ujar Albern kesal.


"Aku tahu, kau tak perlu menasihatiku Bang," sahut Axel.


"Lalu apa maumu? Yang jelas aku akan membantumu," ujar Albern.


Axel terdiam sesaat. Memikirkan apa yang diinginkannya. Selagi Albern mau membantunya. Dia juga tidak ingin melihat Raina kerja serabutan dengannya. Bahkan mereka sering kepanasan dan kehujanan, belum lagi kelelahan dan telat makan.


"Aku ingin membuka mini market," ujar Axel.

__ADS_1


"Aku akan membuatkan mini market itu," sahut Albern.


"Tapi ingat, aku tidak ingin mendapatkannya gratis darimu. Setelah aku untung, aku akan mengembalikannya padamu," ucap Axel.


"Dasar tengil, kau masih jual mahal," ujar Albern.


"Aku tidak ingin mengemis kasihan darimu Bang, aku masih punya sisa-sisa kehormatanku," sahut Axel.


"Terserah kau, niatku membantumu di sini," ujar Albern.


Akhirnya Axel setuju mendapatkan bantuan dari Albern. Demi Raina, Axel akan melakukan apapun termasuk memberi kehidupan yang lebih nyaman meskipun dia harus menerima bantuan dari Albern. Padahal dia tidak ingin bergantung pada saudaranya itu.


***


Dua minggu berlalu. Aku dan Albern datang ke peresmian mini market milik Axel dan Raina. Begitupun Dodo dan Ami. Kami sama-sama ikut bahagia dengan usaha yang baru dirintis mereka berdua. Beberapa teman sekolah juga hadir. Warga sekitar juga datang dan berbelanja.


Acara lumayan ramai. Apakagi Ami menyumbang lagu di acara itu. Semua orang bukan menikmati justru menutup telinga.


"Spesies dari mana itu, suaranya cempreng banget."


"Mungkin robot second, kasetnya rusak."


Aku dan Raina terawa. Begitupun Dodo yang sampai kencing karena tertawa.


"Do tertawa sih tertawa, tapi tuh celana basah," ucapku sambil menunjuk ke celana Dodo.


"Iya, kamu pipis Do, kualat sama Ami," ujar Raina.


"Makanya satu spesies dilarang menghujat apalagi tertawa jahat," ucap Axel.


"Iya ya, aku kelepasan tertawanya, tapi gak pesingkan?" tanya Dodo.


"Iiih ...," ucapku dan Raina.


"Jangan ikut makan atau masuk ke dalam mini market, najis mugaladoh," ucap Axel.

__ADS_1


"Ya ampun, aku jauh-jauh ke sini buat perbaikan gizi sekalian dapet bonusan payung atau tas cantik," ucap Dodo.


"Tenang Do kebagian, nunggu acara selesai dan mini market ditutup, pasti banyak sisaan di tempat sampah," ujar Axel.


"Parah lo Xel, kita kan sahabat," kata Dodo.


"Emang ya? Setahuku sahabatku cuma Aara, kalian berdua cuma pemanis doang biar gak boring," ucap Axel.


Aku dan Raina tertawa. Lucu melihat Axel terus meledek Dodo. Meskipun begitu kami hanya seru-seruan. Tak ada maksud meledek beneran. Terkadang hidup butuh hiburan apalagi kami masih muda.


"Teman-teman gimana suaraku? Cocok jadi penyanyi terkenal?" tanya Ami.


"Mi, insyaf, jangan nyanyi terus kasihan orang-orang berasa kena gempa dan angin tornado saat mendengar suaramu," sahut Dodo.


"Bener, untung mereka gak nimpukin lo pakai sandal jepit," ujarku.


"Untung aku kalau nimpukin pakai sandal jepit, kebetulan sandal jepitku usang, nih aku aja pakai bakiak nenek moyangku," ujar Ami menunjukkan bakiak yang dipakainya.


"Eh itu bukannya bakiak yang di musemkan gara-gara kapal Ferguso menabrak gunung es," ujar Axel.


"Paling boleh gali kuburan nenek buyutnya," ucap Dodo.


"Ngeri hantu neneknya dateng kemari nyari bakiak yang hilang digondol Ami," ujarku.


"Gak dong, ini udah ada izin lisensinya, jadi aman dari hak cipta," ujar Ami.


Aku dan teman-teman tertawa. Ada aja banyolannya bikin kami happy dan melupakan sejenak kehidupan yang terkadang dia tak selalu indah sesuai yang kita inginkan.


Siang itu acara pemotongan pita dimulai. Axel dan Raina berdiri di depan pita yang akan dipotong. Aku dan Albern bersiap memfoto dan memvideokannya sambil menyemangati mereka.


"Siap, potong!" ujar Albern.


Axel dan Raina memotong pita itu bersamaan. Mereka tersenyum bahagia. Begitupun dengan kami yang menyaksikannya. Ini awal baru untuk mereka.


Tiba-tiba Ibu Jonita datang. Bertepuk tangan sambil berjalan menuju tempat kami beradi di depan mini market. Entah apa yang akan terjadi. Kami hanya terdiam melihatnya dengan senyuman licik menghampiri kami.

__ADS_1


"Hebat kau bisa membuka mini market Axel," ucap Ibu Jonita.


__ADS_2