
"Aku dimana?" tanya Marsya.
"Kau ada diapartemenku" jawab Aksa.
Marsya bangun dan duduk. Luka ditangannya sudah diperban. Dia meraba lengannya.
"Aku sudah mengobatinya" ujar Aksa.
Marsya beranjak dari ranjang. Dia berdiri, berjalan menuju pintu apartemen.
"Kau mau kemana?" tanya Aksa.
Langkah kaki Marsya terhenti. Dia menoleh ke belakang.
"Bukan urusanmu" Marsya berjalan keluar dari apartemen Aksa. Dia terus berjalan dilorong apatemen lantai 25 itu, Aksa menyusulnya dan meraih lengannya.
"Aku calon suamimu, jadi kau sudah menjadi urusanku" tegas Aksa.
"Ha ha ha, ternyata ada seorang lelaki yang mau menganggapku calon istrinya. Bukankah kau menyukai gadis yang bernama Kiara?" ujar Marsya.
Aksa tak mampu menyahuti ucapan Marsya. Tidak bisa dibohongi cintanya memang untuk gadis bernama Kiara, kekasih sepupunya sendiri.
Marsya keluar dari apartemen Aksa. Dia tidak peduli Aksa cinta padanya atau tidak karena tujuannya bukan itu. Dia kembali ke markas. Saat sampai markas, Marsya berjalan dilorong markas lantai dua. Tak sengaja dia mendengar percakapan Bosnya dengan seorang wanita yang baru dijemput dari bandara didalam ruang kerjanya.
"Tugasmu membuat hubungan Barra dan Deena hancur berantakan"
"Tak ku sangka sudah beberapa tahun berlalu, kau masih dendam padanya?"
"Aku hanya membalas sesuatu yang menyakitkan"
"Dia dan keluarganya menjadi targetmu. Membawa-bawa anak buahmu dalam dendam pribadimu. Mereka seperti boneka yang mau saja menurutimu"
"Tempat ini sudah jadi tempat untuk mereka hidup dan tumbuh, sudah seharusnya mereka tunduk dan mengikuti semua kemauanku"
"Sungguh, kau licik"
"Aku tidak peduli, aku cuma ingin Rehan Darien dan keluarganya menderita"
Marsya terkejut mendengar percakapan itu. Selama ini dimata Marsya Bosnya sangat menyayanginya dan teman-temannya.
"Dia sengaja mengumpulkan kita hanya untuk kepentingannya" batin Marsya.
Marsya berbalik, dia berjalan ke kamar tamu. Disana Haura disekap Bosnya. Marsya memasuki kamar tamu, Haura duduk dikursi dan diikat tangannya, Marsya berusaha melepas ikatan yang mengikat tangan Haura.
"Siapa kau?" tanya Haura.
"Diam, aku akan membebaskanmu dari sini" tegas Marsya.
"Bagaimana aku percaya, jangan-jangan kau komplotan mereka?" tanya Haura.
Marsya terus membuka ikatan yang mengikat tangan Haura. Tiba-tiba Bosnya sudah ada dibelakangnya. Dia bertepuk tangan.
Proook...prooook...proooook...
__ADS_1
"Jangan bilang kau akan berkhianat?"
Marsya menengok kebelakang. Wanita berwajah cacat itu berdiri dipintu kamar. Marsya tetap tenang, melepas ikatan ditangan Haura.
"Kau benar-benar berkhianat"
"Kaulah yang berkhianat, menjadikan kami alatmu untuk balas dendammu" ucap Marsya.
"Kalian semua sudah ku pungut dari jalanan. Aku yang membuat kalian memiliki harga diri lagi. Jadi sudah seharusnya kalian semua tunduk dan mengikuti semua kemauanku"
"Kau licik" ucap Marsya.
"Aku tidak peduli, tangkap Marsya dan gadis pengantin itu!" wanita cacat itu memerintah anak buahnya.
Beberapa anak buah wanita cacat itu mengepung Marsya dan Haura.
"Kau bisa bela diri?" tanya Marsya pada Haura.
"Tidak" ujar Haura.
"Aku akan melawan mereka semua, kau kaburlah!"
Haura mengangguk. Marsya melawan beberapa temannya. Mereka saling babu hantam diruang kamar. Sementara Haura keluar dari ruang kamar.
Wanita cacat itu mengejar Haura. Dia berusaha menangkap Haura. Tapi Haura berlari secepat mungkin. Dia berlari mencari jalan keluar. Tapi didepan pintu keluar sudah ada anak buah wanita cacat itu. Haura hampir saja tertangkap anak buah wanita cacat itu, untung Marsya segera datang dan melawan anak buah wanita cacat yang ada didepan pintu.
"Marsya kenapa kau berkhianat?"
"Tangkap pengkhinat itu, jangan beri ampun!" perintah wanita cacat itu.
Mereka semua lebih percaya wanita cacat itu dan melawan Marsya. Karena luka ditangannya masih sakit, Marsya tumbang juga. Dia tak mampu melawan lagi. Dia hanya berbaring dilantai.
"Bawa dia, jebloskan ke sel" perintah wanita cacat.
"Baik Bos" mereka semua menuruti perintah wanita cacat.
Marsya dan Haura dibawa ke dalam sel bawah tanah. Mereka diletakkan disel yang berbeda.
Marsya dirantai kedua tangannya. Dia sudah tak memiliki tenaga lagi untuk melawan. Wanita cacat itu masuk ke sel Marsya.
"Bodoh, aku sudah berbaik hati padamu, tapi ini balasannya?"
"Baik? kau hanya memanfaatkan kami seperti seorang pengkinat yang membual dan berkata manis untuk menutupi kelicikanmu" ucap Marsya.
"Ha..ha...ha..." wanita cacat itu tertawa.
"Aku masih berbaik hati, kembalilah padaku dan memohon ampunanku"
"Sampai matipun aku tak akan kembali padamu" tegas Marsya.
"Bodoh" teriak wanita cacat itu dengan menampar Marsya.
Plaaaak...
__ADS_1
"Ini hanya hukuman kecilku, tapi aku akan menghukummu lebih dari ini" ujarnya.
"Lakukan aku tidak takut" tantang Marsya.
Wanita cacat itu mengambil cambuk dan mencambuk Marsya berkali-kali.
Ceter...ceter...ceter...
"Ayo menangis, dan berteriak kesakitan biar aku puas" kata wanita cacat itu.
"Rasanya tidak sakit, mana mungkin aku menangis dan berteriak" ucap Marsya sambil menahan rasa sakitnya.
Wanita cacat itu menambah cambukannya dan lebih kencang.
"Gimana belum sakit juga?"
"Ini hanya gigitan semut" ujar Marsya terus menahan rasa sakitnya.
"Kau kuat juga. Sayang sekali anak buah sekuat dirimu jadi pengkhianat, minta maaflah, aku akan memaafkanmu dan berbelas kasih padamu"
"Aku tidak akan minta maaf, jangan bermimpi" tegas Marsya.
"Kau" teriak wanita cacat itu.
Wanita cacat itu mencambuk Marsya sampai tangannya lelah dan meninggalkan sel bawah tanah. Marsya benar-benar sudah lemas dan kesakitan diseluruh tubuhnya dengan luka cambuk.
***********
Barra, Alvan dan Deena mencari Haura kesana kemari. Tak ada petunjuk tentang keberadaan Haura. Mereka juga mengabari pihak keluarga. Semua anggota keluarga ikut serta mencari Haura. Barra dan Deena berpencar dengan Alvan. Mereka mencari ke tempat yang berbeda. Barra dan Deena mencari ke arah barat sementara Alvan ke arah timur. Sampai malam hari Haura belum juga belum kunjung ditemukan. Barra dan Deena mampir direstoran favorit Barra untuk makan malam.
"Sayang kita makan dulu, dede bayi harus makan" ucap Barra.
"Iya Om, aku juga sudah lapar dari tadi" ucap Deena.
Mereka berdua makan. Baru selesai makan, seorang perempuan berdiri didepan meja mereka.
"Mas, aku kangen"
Barra menoleh ke atas. Seorang wanita yang sangat dikenalnya.
"Dinda" ucap Barra.
"Dinda? siapa Om?" tanya Deena penasaran dengan wanita yang berdiri didepan meja mereka.
Barra masih terdiam melihat wanita didepannya. Seakan masa lalunya kembali datang. Hal yang paling menyakitkan dan penyesalan yang sangat dalam hadir kembali didepan matanya. Seorang yang dulu sangat berharga dihidupnya kembali datang disaat dirinya sudah memiliki Deena.
"Kenapa Mas? kau rindu padaku?
"Rindu? siapa dia Om?" tanya Deena lagi. Dia semakin penasaran dengan wanita itu. Barra sampai terdiam membuat Deena yakin wanita itu bukan orang sembarangan dihidup Barra.
"Dia.." ucap Barra ragu.
Wanita itu hanya tersenyum melihat Barra.
__ADS_1