
Leo pergi ke rumah sakit dimana Tania dirawat.
Dia berjalan ke ruangan perawatan Tania. Disana Tania tertidur dalam komanya. Leo menghampiri Tania dan duduk disamping ranjangnya. Leo memegang tangan kanan Tania. Dia mulai bicara pada Tania yang sedang koma.
"Tania, ini Kak Leo. Aku datang menjengukmu Tania. Kau ingat dulu kita suka menangkap kupu-kupu, belalang dan capung. Tania maafin Kak Leo ya, saat SMP jadi jarang bertemu Tania. Kak Leo sibuk nongkrong dengan teman-teman sampai lupa sama Tania, pasti Tania kesepian dan merindukan Kak Leo. Tania, Kak Leo selalu sayang padamu. Jangan menyimpan kesedihanmu sendiri Tania, kau bisa menceritakan semuanya pada Kak Leo. Saat kau kecil Kak Leo selalu menyisir rambutmu setelah mandi. Kau paling suka permen lolipop tiap kau menangis Kak Leo selalu memberimu permen lolipop. Kak Leo selalu membacakanmu dongeng setiap malam saat kau mau tidur. Kau ingat dongeng belalang dan ulat. Dulu Kak Leo sering menceritakan itu untukmu"ucap Leo.
Leo diam sesaat melihat kondisi Tania. Tubuhnya begitu kurus dan mukanya pucat. Leo sedih melihat Tania yang berbaring dalam komanya. Dia ingat dulu Tania begitu ceria dan selalu memanggil namanya. Kini Tania berbaring diranjang lemah tak berdaya.
"Tania, bangunlah. Bukannya kau ingin bertemu dengan Kak Leo. Ayo bangun Tania, Kak Leo akan mengajakmu menangkap kupu, belalang dan capung lagi, membacakanmu dongeng, dan membelikanmu permen lolipop"ucap Leo berusaha agar Tania sadar dari komanya.
"Kak Leo tahu Tania pasti mendengarkan dari tadi. Tania cepetlah sadar besok Kak Leo datang lagi kesini"ucap Leo.
Leo melepas tangannya yang tadi memegang tangan Tania. Dia berjalan keluar dari ruangan itu. Tania meneteskan air matanya.Meski dia koma tapi dia masih bisa mendengarkan Leo berbicara padanya.
Sampai dirumah Leo melihat Zara sedang memasak untuk makan malam mereka. Leo langsung memeluk Zara dari belakang dan menyandarkan kepalanya dibahu kanan Zara.
"Leo sudah pulang?"ucap Zara.
"..........."Leo hanya diam.
Zara merasa Leo sedikit berbeda, dia merasa Leo sedang ada masalah.
"Leo ayo kita makan, pasti kau laparkan. Zara masak makanan kesukaanmu"ucap Zara.
Leo hanya mencium pipi Zara dan keluar dari dapur menuju ke ruang tamu untuk menunggu Zara menyajikan makanan. Zara meletakkan makanan dimeja kemudian mengajak Leo makan bersama.
"Leo....Leo...."ucap Zara memanggil Leo yang sedang merenung.
"Iya Zara sayang"ucap Leo.
"Ayo makan"ucap Zara.
Leo hanya mengangguk dengan ucapan Zara. Mereka makan bersama malam itu. Selesai makan Leo pergi tidur tanpa bicara sepatah katapun pada Zara.
"Leo kenapa ya, dia diam saja dari tadi. Besok Zara akan coba bicara padanya"ucap Zara dalam hatinya.
***********
Leo bangun pagi-pagi langsung ke dapur membuat sarapan untuk Zara. Hari ini Leo berencana pergi ke kantornya. Zara yang melihat Leo memasak didapur langsung menghampirinya dan memeluk pinggang Leo.
"Zara sayang sudah bangun, Leo membuat sarapan spesial untukmu loh"ucap Leo.
"Suamiku sayang rajin banget pagi-pagi dah masak"ucap Zara.
"Semua ini untuk istriku tercinta"ucap Leo.
Zara tersenyum, Leo berbalik dan mencium bibir Zara. Mereka berciuman sesaat lalu sarapan berdua. Zara masih penasaran dengan sikap Leo yang berbeda kemarin, dia coba menanyakan pada Leo.
"Leo apa kau ada masalah?"tanya Zara.
"Tidak"ucap Leo singkat.
"Kemarin Leo terlihat murung, kalau ada sesuatu yang mengganjal ceritakan pada Zara ya"ucap Zara.
"Iya Zara sayang, Oya hari ini Leo mau ke kantor ada pekerjaan baru"ucap Leo.
"Wah pekerjaan baru, Leo semangat"ucap Zara.
"Semangat"ucap Leo.
Selesai sarapan Leo pergi ke kantor miliknya. Didi, Harun dan Gerald sudah ada dikantor menunggu Leo. Karena hari libur mereka lebih pagi untuk bekerja dikantor.
"Pagi Bos"ucap Harun, Gerald dan Didi.
"Pagi, jangan panggil Bos kesannya kaku banget. Kitakan patner disini"ucap Leo.
"Gak papa, nanti kalau kantor ini sudah jadi perusahaan besar biar gak kaku manggilnya kalau udah dibiasain. Lagian inikan kantor ya harus formal manggilnya, iyakan teman-teman"ucap Harun.
"Iya betul"ucap Didi dan Gerald.
Mereka akhirnya mulai bekerja dengan arahan Leo. Meskipun mereka berteman tapi saat bekerja mereka serius. Leo mulai menggambar dan mengamati gambar milik teman-temannya agar tak melenceng dari yang diinginkan.
Saat jam istirahat Leo hanya duduk merenung dikursi kerjanya. Handphonenya berdering, panggilan dari Om Dirgan untuknya.
"Hallo Om"ucap Leo.
"Hallo Leo"ucap Om Dirgan.
"Bisakah kau ke rumah sakit, ada perkembangan dari Tania"ucap Om Dirgan.
"Bisa, aku akan segera ke rumah sakit"ucap Leo.
Leo menutup telponnya dan bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Tania. Sementara itu Zara pergi ke kantor Leo untuk mengantar makan siang untuk Leo dan teman-temannya. Zara tak melihat ada Leo dikantornya. Zara bertanya pada Harun.
"Harun, Leo kemana kok gak ada?"tanya Zara.
__ADS_1
"Leo tadi pergi keluar, tapi gue gak tahu kemananya Zara, dia kelihatan buru-buru gitu" ucap Harun.
"Oh, oya ini makan siang untuk kalian semua" ucap Zara.
"Terimakasih Zara"ucap Harun, Gerald dan Didi.
"Sama-sama"ucap Zara.
Zara keluar dari kantor Leo, dia tidak tahu Leo kemana. Zara mencoba menelpon Leo tapi belum diangkat juga.
"Leo kemana ya, telponnya kok gak diangkat. Apa dia ada urusan kerjaan atau mungkin?"ucap Zara.
Zara jadi cemas memikirkan Leo. Dia merasa Leo sedang memiliki masalah yang belum diceritakannya.
***********
Leo sampai dirumah sakit langsung menuju ruangan perawatan Tania. Dia masuk ruangan itu, Om Dirgan sudah berada didalam. Leo menghampiri Om Dirgan yang sedang berdiri disamping ranjang Tania.
"Om, ada perkembangan apa tentang Tania?" tanya Leo.
"Perawat tadi bercerita kalau tangan Tania sempat bergerak. Dokter bilang Tania mungkin bisa saja sadar asal diberi rangsangan oleh kita"ucap Om Dirgan.
"Berarti Tania bisa sadar secepatnya Om?" tanya Leo.
"Iya Leo, Om boleh minta tolong Leo?"tanya Om Dirgan balik.
"Boleh, tapi minta tolong apa Om?"tanya Leo.
"Taniakan begitu dekat denganmu, bagi Tania kau orang yang penting dihidupnya. Tolong bicaralah dengannya. Rangsangan darimu akan berarti untuk kesadaran Tania"ucap Om Dirgan.
"Aku akan bicara pada Tania Om tak perlu khawatir, Leo juga ingin Tania sadar kembali" ucap Leo.
Om Dirgan tersenyum mendengar ucapan Leo. Dia keluar dari ruangan itu, membiarkan Leo bicara pada Tania. Leo duduk disamping ranjang dan memegang tangan Tania.
"Tania, Kak Leo tahu Tania bisa mendengar Kak Leo bicara. Tania cepatlah sadar, kita merindukanmu Tania. Om dan Tante juga merindukan Tania. Mereka sudah menganggap Tania seperti anak mereka sendiri. Kak Leo juga sudah menganggap Tania adik Kak Leo sendiri. Kita semua sayang Tania. Oya Tania ingat lagu Kupu-kupu terbang ditaman, dulu Kak Leo sering menyanyikannya untuk Tania"ucap Leo.
Kupu-kupu terbang ditaman
Sayapnya begitu indah
Warna-warni dan bercorak
Terbang diantara bunga-bunga
Kupu-kupu yang indah
Ingin aku melihatnya
Terbang setiap hari
Kupu-kupu ingin rasanya bisa terbang bersamamu
Terbang bebas kesana kemari
Hinggap diantara bunga-bunga
Untuk mengambil madunya
Kupu-kupu yang indah
Ingin aku melihatnya
Terbang setiap hari
Leo bernyanyi untuk Tania. Lagu yang dulu sering dinyanyikan untuk Tania saat menangkap kupu-kupu. Leo berharap Tania akan sadar mendengar lagu yang dinyanyikannya.
"Tania cepetlah sadar, besok Kak Leo akan kesini lagi ya"ucap Leo.
Leo berdiri mulai melepas tangannya dari tangan Tania. Saat hendak berjalan, suara Tania terdengar lemah.
"Kak Le...o"ucap Tania.
Leo berbalik dan melihat Tania yang sudah sadarkan diri.
"Tania kau sudah sadar"ucap Leo.
Leo langsung memanggil Dokter, Om Dirgan langsung masuk ke ruangan itu saat tahu Tania sadar. Dokter memeriksa kondisi Tania. Setelah Dokter selesai memeriksa Tania, dia keluar dari ruangan itu. Om Dirgan keluar juga dari ruangan itu.
"Tania, Kak Leo ada disini sekarang"ucap Leo.
"Kak Leo, Tania seneng bisa melihat Kak Leo lagi"
ucap Tania dengan suara pelan.
"Cepat sembuh, kita akan menangkap kupu-kupu lagi"ucap Leo.
__ADS_1
Tania hanya menangis mendengar ucapan Leo.
"Tania kenapa menangis?"tanya Leo.
"Waktuku tak banyak lagi, mungkin besok akan berakhir. Apa bisa aku menangkap kupu-kupu lagi bersama Kak Leo hik....hik....hik...."ucap Tania sambil menangis pelan.
"Tania siapa bilang tak bisa, umur kita Allah yang menentukan, kita harus tetap bersabar, bertawakal dan berusaha. Kita pasti bisa menangkap kupu-kupu lagi, semangat"ucap Leo.
Tania hanya tersenyum dengan ucapan Leo. Hidupnya yang tak lama lagi terasa berarti saat ada Leo. Dia ingin bersama Leo disisa waktunya.
*********
Leo pulang kerumah, Zara sudah tertidur disofa ruang tamu menunggu Leo. Melihat itu Leo menghampirinya dan mencium keningnya. Leo membopong Zara ke ranjang kamarnya. Dia membaringkan Zara diranjang itu.
"Zara maafkan aku, seharian ini aku pergi menjenguk adikku Tania"ucap Leo melihat Zara yang sudah tertidur pulas.
Leo berganti piyama dan tidur memeluk Zara. Esoknya Leo bangun pagi sekali, dia membuat sarapan untuk Zara. Kemudian pergi lagi ke rumah sakit. Saat Zara bangun Leo sudah tak ada dirumah. Zara bingung akhir-akhir ini Leo sering pergi entah kemana dan dia belum cerita apa-apa.
"Leo kemana ya sebenarnya?"tanya Zara dalam hatinya.
Zara coba menghubungi handphonenya tapi ternyata handphonenya tertinggal dirumah.
Hari berikutnya Zara penasaran kemana Leo pergi, dia membuntutui Leo saat pergi sampai ke sebuah rumah sakit. Zara mengikuti Leo yang masuk ke sebuah ruangan dan keluar mendorong seorang perempuan yang duduk dikursi roda. Leo mengajak Tania jalan-jalan pagi ditaman rumah sakit. Zara melihat Leo dari kejauhan. Dia melihat Leo memegang tangan Tania dan terlihat akrab.
"Siapa perempuan itu, kenapa Leo begitu akrab dengannya. Apa ini yang menyebabkan Leo pergi entah kemana dan sering susah dihubungi. Kenapa Leo begitu dekat dengan perempuan itu"ucap Zara.
Zara langsung meneteskan air matanya dan pergi dari tempat itu. Dia kembali ke rumahnya dan menangis dikamarnya. Dia tidak tahu siapa perempuan yang begitu akrab dan dekat dengan Leo. Apalagi Leo terlihat begitu menyayanginya. Dia tidak tahu kenapa Leo jadi berbeda akhir-akhir ini.
Leo pulang ke rumah larut malam, karena Tania ingin ditemani sampai dia tertidur. Saat masuk ke kamar, Zara sudah menunggunya dikamar itu.
"Siapa dia Leo?"tanya Zara.
"Zara sayang belum tidur"ucap Leo belum sadar kalau Zara marah padanya.
"Zara tadi tanya, siapa perempuan itu Leo?"tanya Zara sekali lagi.
"Perempuan? Zara sayang ada apa?"tanya Leo.
"Leo, apa Zara ini salah ya sama Leo sehingga Leo tidak bercerita apapun pada Zara. Padahal Zara mencemaskan Leo"ucap Zara.
"Zara kau kenapa? apa ada yang salah?"tanya Leo.
"Apa karena dia akhir-akhir ini Leo sering pergi entah kemana dan tidak bisa dihubungi. Apa dia penting untukmu?"tanya Zara.
"Zara sayang dia siapa?"tanya Leo.
"Kenapa Leo gak jujur pada Zara, tentang dia. Zara pikir Leo akan terbuka apa saja pada Zara tetapi ternyata Leo menyimpan ini dari Zara"ucap Zara sambil meneteskan air matanya.
Leo langsung memeluk Zara erat-erat. Dia belum tahu arah pembicaraan Zara.
"Zara sayang, Leo minta maaf ya kalau ada salah"ucap Leo.
"Siapa perempuan itu Leo? yang kau temui dirumah sakit. Leo begitu akrab dan dekat dengannya"ucap Zara.
"Perempuan? rumah sakit?.....(Leo berpikir)... oh Tania"ucap Leo.
"Tania"ucap Zara.
"Tania itu sepupu Leo, dia sakit kanker paru-paru stadium akhir. Leo pergi ke rumah sakit akhir-akhir ini untuk menjenguknya"ucap Leo.
"Oh dia sepupu Leo"ucap Zara.
"Iya Zara sayang. Jangan-jangan tadi Zara marah sama Leo karena cemburu ya. Senengnya dicemburuin berarti Leo penting untuk Zara"ucap Leo.
"Tentu Leo penting untuk Zara"ucap Zara.
"Zara sayang maaf ya belum sempat bercerita padamu, tapi Leo udah ada rencana bercerita padamu hanya saja pikiran Leo sedang kacau akhir-akhir ini, jadi belum sempat bercerita pada Zara"ucap Leo.
"Zara juga minta maaf sudah marah sama Leo tadi"ucap Zara.
"Ayo kita"ucap Leo sambil membopong Zara menuju ranjang.
"Leo kau baru pulang belum mandi"ucap Zara.
"Nanti mandi setelahnya, kita mandi berdua"ucap Leo.
"Gak mau, Leo bau asem"ucap Zara.
"Biarin, tetep gantengkan tapi"ucap Leo.
"Siapa bilang ganteng?"tanya Zara.
"Itu mata Zara dari tadi memandang Leo gak kedip, berarti Leo seganteng itu"ucap Leo.
"Ah Leo"ucap Zara.
__ADS_1
Mereka akhirnya tertawa lagi. Kesalahfahaman diantara mereka terselesaikan. Zara malu sudah cemburu duluan ternyata perempuan yang bersama Leo adalah sepupunya.