
Rafael menghentikan mobil taksinya di dekat masjid. Dia melihat penumpangnya masih tidur di kursi belakang mobil. Rafael berusaha membangunkannya penumpangnya itu.
"Pak....Pak....Pak....maaf"ucap Rafael memanggil penumpang yang tertidur di kursi belakangnya.
Penumpang itu terbangun dari tidurnya mendengar suara Rafael.
"Ada apa? saya masih ngantuk nih, belum sampaikan?"tanya Pak Heri.
"Belum, tapi sudah adzan subuh, bapak seorang muslim atau tidak?"tanya Rafael.
"Iya saya seorang muslim"ucap Pak Heri.
"Kalau begitu bapak sholat dulu saja, kebetulan saya berhenti di depan masjid"ucap Rafael.
"Nanti saja lah, masih ngantuk"ucap Pak Heri.
"Bukannya sholat harus dilakukan tepat waktu, tidak baik ditunda-tunda"ucap Rafael.
"Memangnya kamu ustadz ya, kok nasehatin saya"ucap Pak Heri.
"Bukan, bahkan saya seorang non muslim"ucap Rafael.
"Astagfirullah, aku malu sekali, bahkan dia seorang non muslim mengingatkanku untuk sholat, apa ini teguran darimu Ya Allah"batin Pak Heri.
"Saya sholat dulu ya nak, tidak apa-apakan menunggu saya sholat?"tanya Pak Heri.
"Oh tidak apa-apa Pak, dengan senang hati"ucap Rafael.
Rafael menunggu Pak Heri sampai selesai sholat. Lalu dia kembali mengantar Pak Heri sampai rumahnya. Ketika sampai dirumah Pak Heri, Rafael malah diberi seplastik roti olehnya karena istrinya pengusaha roti rumahan.
"Terimakasih ya Pak"ucap Rafael.
"Saya juga terimakasih sudah diingatkan untuk sholat tepat waktu"Pak Heri.
"Iya Pak, sama-sama"ucap Rafael.
Setelah selesai bekerja Rafael pulang ke kontrakkannya. Dia membawa seplastik roti pemberian Pak Heri untuk diberikan pada adik kecilnya Alina. Baru Rafael mau membuka pintu kontrakkan, Alina sudah membukakan duluan.
"Selamat pagi Kak Rafa"ucap Alina.
"Pagi adik kecil"ucap Rafael.
"Kak Rafa bawa apa, baunya enak"ucap Alina.
"Bawa apa ya?"ucap Rafael menggoda.
"Roti"ucap Alina.
Rafael langsung mengelus kepala Alina.
"Tadi sudah sholat shubuh?"tanya Rafael.
"Sudah dong Bos"ucap Alina.
"Kalau begitu ayo sarapan dan bersiap sekolah" ucap Rafael.
Rafael masuk ke kontrakkan dan sarapan roti bersama Alina. Dia senang sekali melihat Alina makan roti dengan lahap. Setelah itu Rafael mandi ditoilet, saat dia keluar dari toilet dia tak sengaja melihat Alina tidak memakai hijabnya, rambutnya panjang terurai, kulitnya putih bersih, Alina terlihat sangat cantik sampai Rafael malu sendiri dan menundukkan kepalanya. Dia tak berani menatap Aliana lebih lama lagi.
"Kenapa jantungku berdebar kencang melihat Alina, tidak, aku dan Alina kakak beradik dari kecil. Seperti itulah hubunganku dan Alina" batin Rafael.
"Kak Rafa"ucap Alina terkejut melihat Rafael berdiri di depan toilet.
"Kakak baru saja keluar dari toilet, tenang saja kakak menundukkan kepala, segeralah pakai hijabmu"ucap Rafael.
Alina kembali mengenakan hijabnya.
"Kak Rafa, aku sudah mengenakan hijabku"ucap Alina.
__ADS_1
Rafael menaikkan kepalanya, dia melihat Alina sudah mengenakan hijabnya. Lalu dia menghampiri Alina.
"Kau sudah siap, ayo berangkat, kakak akan mengantarmu sekalian ke kampus"ucap Rafael.
"Siap Bos"ucap Alina.
Rafael mengantar Alina sampai ke depan sekolahnya. Dia harus memastikan adiknya selamat sampai sekolahnya.
"Adik kecil, belajar yang rajin dan semangat!"ucap Rafael.
"Siap Bos"ucap Alina.
Rafael tak pernah lupa selalu mengusap kepala Alina sebelum pergi.
"Nanti kalau sempat kakak jemput"ucap Rafael.
"Oke Bos"ucap Alina.
Alina masuk ke dalam sekolah. Rafael terus melihat Alina sampai masuk ke dalam sekolahnya barulah dia berangkat ke kampus.
Alina terus berjalan tetapi teman-teman dikelas 3 mentertawakannya. Mereka juga mengejek Alina.
"Ha....ha....ha....ogil...."ucap Teman-temannya mentertawakan Alina.
"Sampah pantesnya ya di got kaya tikus"ucap Sari.
"Gila aja mandi dicomberan, lagi bokek kali"ucap Danu.
Alina tidak tahu apa yang dibicarakan teman-temannya dikelas 3. Hingga dia melihat foto-foto miliknya terpajang di mading sekolah.
"Ini fotoku saat kemarin jatuh diselokan, pasti ini perbuatan Alvan"ucap Alina.
"Dia benar-benar menyebalkan"ucap Alina.
Alina berjalan mencari Alvan tapi justru lengannya ditarik Alvan, dia dibawa masuk ke gudang sekolah. Mereka berada di gudang sekolah itu.
"Iya, emang kau mau apa?"tanya Alvan.
"Kenapa kau selalu menggangguku"ucap Alina.
"Kau itu mainanku Alina"ucap Alvan.
"Aku tidak mau jadi mainanmu"ucap Alina.
Alvan mencekik leher Alina dengan kedua tangannya. Alina berusaha melepas cekikan Alvan dengan tangannya.
"Ugh.....ugh.....ugh........"Alina terbatuk.
Alvan melepas tangannya dari leher Alina ketika dia mendengar suara aneh di gudang itu.
"Sayang udah belum keburu masuk nih"ucap Beby.
"Belum, masih pengen"ucap Jodi.
Alvan langsung menarik Alina untuk mencari suara itu, mereka memergoki dua siswa sedang bercumbu di gudang itu.
"Ka......"ucap Aliana terhenti ketika Alvan langsung menutup mulutnya.
"Diamlah, jangan ganggu orang bersenang-senang"ucap Alvan.
Alina langsung menggigit tangan Alvan yang menutup mulutnya. Alvan langsung melepas tangannya.
"Aw..........."ucap Alvan kesakitan.
Kedua siswa yang sedang bercumbu itu melihat ke arah Alina dan Alvan.
"Kalian ngapain disini, pasti kalian....."ucap Alina.
__ADS_1
"Hei Alina, ganggu aja, suka-suka gue mau apa juga"ucap Beby.
"Apa yang kau lakukan itu dosa, pikirkan masa depanmu. Kau masih sekolahkan, bukannya orangtua kita susah payah menyekolahkan kita untuk sekolah dengan benar"ucap Alina.
Beby mendekati Alina dan meludahinya.
Cuuuh............
"Sok suci seperti biasanya"ucap Beby.
"Sekolah itu penting, jangan sampai kau kehilangan sekolahmu karena kebodohanmu, jangan melakukan perbuatan dosa yang akan kau sesali dikemudian hari"ucap Aliba.
"Udah yuk sayang, dilanjut nanti aja, udah gak sreg ada ustadzah ini"ucap Jodi.
"Yuk"ucap Beby.
Beby dan Joni meninggalkan tempat itu.
"Astagfirullah, berilah hamba kesabaran dan keteguhan hati untuk tetap mengingatkan pada kebenaran"batin Alina sambil menundukkan kepalanya.
Alvan langsung menarik tas milik Alina. Dia membawa tas milik Alina keluar dari gudang sekolah.
"Alvan kau mau apa dengan tasku, kemarikan" ucap Alina.
Alina mengikuti Alvan, dia melempar tas milik Alina ke atas genting gudang sekolah itu.
Pluuuuuk..............
Tas Alina berada di atas genting gudang sekolah itu.
"Alvan kau menyebalkan sekali sih"ucap Alina.
"Naiklah dan ambil tas mu"ucap Alvan.
Alina mengambil tangga lalu naik ke atas genting dengan menaiki tangga itu. Sampai diatas genting dia mengambil tas miliknya tapi Alvan malah mengambil tangga yang digunakan untuk naik ke atas genting.
"Semoga kau betah diatas sana ya"ucap Alvan.
"Alvan kembalikan tangganya"ucap Alina.
Alvan tidak menggubris ucapan Alina, dia tetap membawa tangga itu pergi dari tempat itu.
"Gimana caranya aku turun"ucap Alina.
Alina melihat ke bawah genting.
"Lumayan tinggi, kalau aku melompat apa aman ya"ucap Alina.
Alina menjatuhkan tasnya terlebih dahulu lalu dia melompat dari atas genting.
"Aaaaaaa............"ucap Alina berteriak.
Alina menutup matanya karena takut ketinggian.
Saat dia membuka matanya dia melihat Alvan sudah menggendongnya.
"Bodoh, kau mau mati"ucap Alvan.
"Apa? kau malah memarahiku, kaulah yang membuatku naik ke atas genting lalu kau mengambil tangganya"ucap Alina.
Bluuuuug...............
Alvan melepas tangannya hingga Alina jatuh dari gendongannya.
"Aw.............."ucap Alina kesakitan saat terjatuh dari gendongan Alvan.
"Itu pantas untuk si bodoh seperti mu"ucap Alvan lalu meninggalkan Alina dari tempat itu.
__ADS_1
Alina bangun dan mengambil tas miliknya, dia berjalan menuju ke kelasnya.