Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 16


__ADS_3

Pelajaran jasmani dan rohani memang sangat diidolakan beberapa siswa. Selain tidak harus berada di kelas, kita juga tak perlu berurusan dengan yang namanya buku. Pelajaran yang satu ini menuntut banyak kegiatan fisik. Sebelum melakukan kegiatan fisik yang utama kita harus pemanasan. Biasa trio absrud menjadi contoh di depan, bukan karena gaya kami benar tapi karena cuma kami yang paling bersemangat bersenam.


Lihat saja geng fakboy bukannya senam malah asyik godain cewek tercantik di kelas kami, tapi beda sama Axel yang tetep cool, maklum kulkas tuh dibawa terus supaya tetap dingin, belum lagi geng mukbang yang bersenam seperti orang kesambet. Maklum mereka semua gendut, bersenam cara satu-satunya menghempaskan lemak jahat, ini lagi geng candy, senam atau childers, kompak bener bajunya pakai pita warna warni, awas aja belibet, orang mau lewat aja jadi susah.


"Aara kau semangat banget, emang mau tujuh belasan? biar makan mie ayam gratis ya?" tanya Ami.


"Bukan, tapi biar otakku bangun dari tidur panjangnya, mulai hari ini dia harus kerja, gak boleh bersemedi terus," jawabku.


"Udah minta Pak Dokter kasih obat cacing aja biar top cer tuh otak," saran Dodo.


"Iya ya, bodoh banget aku, minum obat cacing buat otak, obatnya ke bokong terus sambungan bokong ke otaknya pakai apa?" tanyaku.


"Pakai tali rapiah aja, murah gak mahal, ceban juga dapet," ujar Dodo.


"Nah ini orang bego dibodohin ama orang gila, sama-sama gak konek," ujar Ami.


"Emang lo punya solusi Mi?" tanya Dodo.


"Tinggal ngeremdem kaki mak lo seharian sambil terus minta maaf, abis tuh minum air rendamannnya dijamin," jawab Ami.


"Dijamin apa Mi? pinter terus lulus dengan nilai terbaik?" tanyaku antusias dengan saran Ami yang terlihat serius.


"Dijamin muntaber, habis itu lo inget dosa-dosa lo, segera deh lo tobat nasuha biar mati dengan husnul khotimah," jawab Ami.


"Alhamdulillah dapet hidayah sebelum meninggal," jawab Dodo.


"Apa coba kaitannya hidayah dengan otak top cer, solusi kalian ini kok serem ya, padahalkan cuma pengen nih otak pinteran dikit, gak muluk-muluk kok," ujarku.


"Ha ha ha." Ami dan Dodo malah tertawa. Maklum mereka ini sudah biasa memberi ide yang di luar biasa, kadang sampai antariksa dibahas padahal cuma bahas brutu di bokong ayam awalnya, malah berujung alien dan cara membasminya.


Pelajaran jasmani kali ini berat, bukan karena kita harus lari maraton atau lompat tinggi tapi harus saling menggendong. Enak sih bagi yang berat seimbang antara yang digendong dengan yang menggendong tapi masalahnya yang digendong gemuk, aku benar-benar keberatan.


"Aara buruan kalah kita," ujar Ami.


"Gimana mau buruan, beratmu berapa sih Mi? encok nih gendong kamu," jawabku.


"60 kilo, dikit masih seksi kok kata Axel," jawab Ami.


"Seksi? dari sedotan juga buntet tuh body-mu," ucapku.


"Ha ha ha, inikan hanya kiasan, cantik itu gendut, sudah jadi rahasia umum, kalau orang gendut itu penuh kebahagiaan, selalu diuber-uber tukang jualan, femeskan?" ujar Ami.


"Ada-ada kamu Ami," kataku.


Di sampingku Axel lagi gendong Dodo. Kasihan banget si ganteng kebauan mulut Dodo yang jarang gosok gigi, mana sarapannya jengkol lagi.


"Axel, hai," sapaku ramah pada Axel yang cemberut menggendong Dodo.


"Lemot sudah ku bilang jangan sok akrab, jangan sampai ada gosip antara aku sama kamu," ujar Axel. Dia takut sekali digosipkan denganku. Tar disangka bapak dari anakku kali ya.


"Sama aku gak papa kan Xel, muah," ucap Ami genit pada Axel. Terus-terusan melancarkan godaan manis pada Axel meskipun dicuekin berkali-kali.


Axel hanya diam. Cemberut. Dia tak suka aku menegurnya, mungkin dia tak ingin ketularan absurd kaya kita bertiga.


Akhirnya sampai finish juga, aku tepar, tiduran di rerumputan. Benar-benar, gendong Ami menguras energiku, aku coba cek kondisi otakku terkini, kali aja tiba-tiba karatnya ilang jadi bersih gak lemot lagi.


"Rumus kimia, air H2O, etanol C2H5OH, glukosa C6H12O6, karbon dioksida CO2, bla ...bla ... bla," ucapku mengingat rumus kimia senyawa.


"Kau mulai hafal lemot," ujar Axel menghampiriku.

__ADS_1


Aku menoleh ke arah Axel yang berdiri di depanku, aku langsung bangun dan duduk.


"Iya dong, tadi pagi menghafal di toilet," jawabku.


Axel tersenyum tipis. Mungkin ucapanku lucu kali ya.


"Nih minum," ucap Axel menyodorkan air mineral untukku. Tak perlu banyak tanya langsung ku ambil. Jarang-jarang si ganteng Axel baik padaku.


"Makasih Xel," ujarku. Baik sekali dia. Apa mungkin karena akhir-akhir ini kami sering bertemu dan bersama.


"Jangan berpikir aku baik sama kamu lemot," ucap Axel. Dia takut aku menganggap kebaikannya kali ini sebagai wujud awal kedekatan di antara kami.


"Iya tahu," sahutku.


Aku segera minum air mineral itu. Tak tersisa semua ku minum sampai habis, dari tadi kepanasan haus banget. Untungnya Axel memberiku minum di saat yang ku butuhkan.


"Tumben lo ngapalin lemot, biasa juga jualan keripik abis olahraga?" tanya Axel.


"Kan kemarin aku dah bilang mau dikeluarin dari sekolah, ab ...." Mulutku langsung di sumpel botol air mineral sama Axel.


"Diem ya, udah gue bilangkan, jangan sampai orang tau itu abang gue," ujar Axel. Dia kembali mengancamku. Kedua adik kakak itu tipe penindas. Benar-benar menyebalkan.


Aku mengangguk. Segera Axel melepas tangannya dari botol air mineral.


"Gue ajarin, setiap pulang sekolah jangan pulang dulu," ujar Axel.


"Alhamdulillah, makasih banget Xel, gak kebayang harus nyewa guru les kan mahal, makan aja masih ditangguhkan, jangankan untuk bayar guru les," sahutku. Lumayanlah, meskipun sering ditindas Axel dibalik semua itu dia baik.


"Tapi inget, jangan kompor atau bawel soal ini, gue gak akan ngajarin lo lagi," ujar Axel.


"Siap Bos," ujarku.


***


Sambil menggendong Bobo aku pulang ke rumah buaya darat. Tak lupa mulutku komat-kamit mengucapkan rumus-rumus yang rumit. Rasanya nih di otak terus berputar dan disetel ulang tuh rumus.


"Kenapa kau pulang telat bocah?" tanya Albern yang sedang duduk di sofa.


"Astagfirullah, ada malaikat maut," jawabku terkejut melihat sang diktaktor sedang duduk melotot padaku.


"Kau bilang apa bocah?" tanya Albern.


"Itu pelajaran agama, lagi membahas malaikat maut, katanya kalau playboy atau suka mainin cewek, kematiannya ngenes terus disiksa di alam kubur, terakhir masuk neraka," jawabku.


"Kau bilang apa?" tanyanya kesal.


"Ampun Bos," ucapku lalu kabur sambil menggendong Bobo. Albern tak terima, dia mengejarku. Aku segera naik ke lantai atas, masuk ke kamarku dan menguncinya. Ku letakkan Bobo di ranjang. Nafasku masih tersengal-sengal.


"Mati aku, buaya darat pasti marah banget tadi tuh," ujarku.


"Tapi aku laper jadinya, tadi belum makan," ucapku.


Tiba-tiba bau harum makanan tercium dari kamarku. Perutku semakin keroncongan.


"Enak banget baunya, laper," ucapku sambil memegangi perut.


"Aku mau makan, siapa tahu ada makanan, si kejam itu pasti makankan tadi, siapa tahu ada sisa makanan untukku," ujarku.


Aku membuka pintu kamarku. Ternyata buaya darat sengaja menaruh ayam panggang di depan pintuku supaya aku keluar. Benar saja dia menangkapku.

__ADS_1


"Ampun Tuanku," ujarku.


"Kena kau bocah, seenaknya kalau bicara ya," ujar Albern.


"Kita damai ya?" tanyaku.


"Kau mau menawarkan apa?" tanya Albern.


"Gimana kalau aku masak?" tanyaku.


"Gadis lemot sepertimu pasti masakannya gak enak," ujar Albern.


"Benar juga, gimana caranya kabur dari buaya darat ini," batinku.


Aku coba memikirkan apa yang mungkin disukai mahluk buaya ini.


"Gimana kalau kalau kita lomba makan pedas? aku jago masak mie instan pakai cabe banyak," ujarku.


"Kau ingin mengerjaiku lagi?" tanya Albern.


"Gak, murni sebuah perlombaan makan," jawabku.


Lumayan paling gak aku makan. Perutku sudah lapar.


"Oke," jawab Albern.


Aku dan buaya darat duduk di kursi bersiap berlomba makan mie pedas, jurinya Bi Tuti.


"Haah pedes banget," keluh Albern.


"Sepertinya buaya darat tak terbiasa berkubang ditumpukan cabai, rasain," batinku.


"Bocah kau gak kepedesan, jangan-jangan kau curang?" ujar Albern.


"Mau tuker?" tanyaku.


Albern langsung menarik mangkuk mieku, dia menukar dengan mangkuk mie miliknya. Dia mulai memakan mie milikku.


"Haaaah, pedes sekali, parah," ujar Albern semakin kepedasan. Dia sampaj memegang bibirnya yang kepanasan.


"Ingat, gak boleh minum sebelum habis," ujarku.


"Sial," pekik Albern.


Albern sampai aduk-adukkan kepedesan, sampai menyebut nama-nama cewek yang begitu banyak.


"Dasar buaya lagi kepedesan inget cewek-ceweknya," celetukku.


"Kau bilang apa bocah?" tanya Albern.


"Gak, mienya pedes iyakan?" jawabku sambil meringis.


Akhirnya aku memenangkan perlombaan ini, jangan tanya Albern ada di mana, dia sudah bersemedi di toilet belum keluar juga. Baguslah ku hempaskan dia dari hidupku hari ini. Mumpung Albern gak ada, aku makan apa saja sepuasnya. Kue, roti, buah, camilan, masakan yang ada di atas meja makan, dan es krim. Semuanya enak, bikin kalap. Untung Bi Tuti baik, dia CS-an sama aku.


"Non ini semua yang Tuan beli, biasanya Tuan gak pernah belanja, kali ini dia belanja semua ini, mungkin karena ada Non di rumah ini, biasanya dia nyuruh Bibi," ujar Bi Tuti.


"Yang benar? makhluk kejam itu?" batinku.


"

__ADS_1


__ADS_2