
Mumpung hari minggu aku ingin menjual keripik lebih banyak lagi. Dengan begitu aku lebih cepat mendapatkan uang untuk bayar SPP. Aku keluar dari rumah. Ku langkahkan kaki. Tak sengaja ku lihat tak jauh dari rumah kecil Axel ada rumah di sampingnya yang baru saja pindahan. Sepertinya dia kerepotan. Aku coba menghampirinya untuk menyapa tetangga baruku.
"Assalamu'alaikum," sapaku.
"Wa'alaikumsallam," jawabnya.
Seorang lelaki mengenakan kaca mata, berambut keriting kribo, ada tai lalat di pipi. Culun. Seperti itu aku menilainya.
"Kakak baru pindahan?" tanyaku.
"Iya, kenalkan aku Gerry Renaldi," jawabnya sambil memperkenalkan diri.
"Aku Aara Amelia, senang berkenalan dengan kakak," sahutku.
Gerry terlihat kesulitan mengangkat kardus miliknya, hampir saja kardus itu terjatuh, untung aku segera menahannya. Tanganku tak sengaja memegang tangannya, mata kami bertautan satu sama lain.
"Maaf, aku jadi merepotkanmu," ujar Gerry.
"Eh, iya Kak, gak papa," balasku.
Aku segera menjauhkan tanganku darinya. Dan tetap membantunya memasukkan kardus itu. Sambil menggendong Bobo di belakang, aku membantunya memasukkan barang-barang yang mudah ku masukkan ke dalam.
"Sudah selesai, makasih ya Aara," ucap Gerry.
"Iya, sama-sama," sahutku.
"Apa itu anakmu?" tanya Gerry.
"Iya," jawabku singkat. Pertanyaan ini takkan terelakkan setiap bertemu siapapun. Aku sudah terbiasa. Meski orang akan menghujatku. Yang penting Bobo aman bersamaku. Untung Gerry tak tanya hal lainnya.
"Setelah ini kau mau ke mana?" tanya Gerry.
"Aku mau jualan keripik keliling," ungkapku.
"Jualan keripik? membawa bayi?" tanya Gerry. Dia melihatku kesulitan membawa bayi sambil membawa barang. Apalagi aku terlihat masih remaja.
"Iya, memangnya kenapa?" tanyaku.
"Bolehkah aku membantu?" tanya Gerry. Dia tak tega melihatku membawa semua itu.
"Apa tak merepotkan kakak? aku sudah terbiasa kok jualan sendiri," jawabku.
Aku tidak ingin merepotkan banyak orang hanya karena aku terlihat kerepotan. Sudah biasa hal seperti ini terjadi padaku dan orang menilai seperti itu. Namun aku tetap bersemangat dan tidak ingin dikasihani.
"Tidak, aku bosan di rumah, sekalian ingin tahu daerah sini," ujar Gerry.
Sepertinya diri hanya ingin berjalan-jalan di sekeliling rumah kami. Mungkin sekalian menghafal jalan dan melihat apa saja yang ada di daerah sini.
__ADS_1
"Oke," kataku.
Aku berjalan bersama Gerry di tepi jalan. Pertama mengambil keripik dulu ke rumah Bu Teti. Setelah itu kami mulai berjualan sambil melangkahkan kaki di tepi jalan.
"Aara setiap hari kau jualan seperti ini?" tanya Gerry.
"Iya, pekerjaan ini yang paling mudah ku dapatkan, aku tidak berbakat di pekerjaan lain," jawabku.
"Itu di plastik hitam apa?" tanya Gerry. Dia menanyakan plastik hitam yang ku pegang plastik itu terlihat besar dan berat.
"Kakak yakin ingin tahu?" tanyaku.
"Iya," jawab Gerry.
"Daleman," ucapku.
"Apa? kau jual seperti itu juga?" tanya Gerry terkejut. Ternyata aku tidak hanya menjual keripik tapi menjual barang lainnya.
"Iya, aku membutuhkan uang cepat, dengan begini aku bisa dapat tambahan, sambil jualan keripik bisa jualan daleman sekalian," jawabku.
Gerry terdiam sesaat memikirkan ucapanku. Dia terlihat terharu mendengar semua ucapanku tadi. Mungkin dibenaknya anak seusiaku sudah jadi pekerja keras.
"Jangan kasihan padaku ya Kak, aku baik-baik saja kok," ucapku.
"Apa hidupmu sesulit itu?" tanya Gerry.
"Lalu kenapa jualan seperti ini, biar orang tuamu saja yang mencari uang," sahut Gerry.
"Aku yatim piatu, kalau tak jualan seperti ini, aku harus kerja apa, pantang kalau harus jual diri, nauzubillah mindzalik," jawabku.
"Aara aku bangga padamu, meski hidupmu sulit tapi kau tetap kerja keras untuk mendapatkan uang halal," puji Gerry.
Aku hanya tersenyum. Hidupku memang sulit, tapi aku tak ingin mempersulit kehidupan akhiratku nanti. Biarlah sulit di dunia jangan di akhirat nanti sulit juga.
Satu tempat ke tempat lain aku menawarkan daganganku. Entah dari mana tahu-tahu bermunculan banyak orang yang membeli barang daganganku sampai habis tak tersisa. Senangnya daganganku habis, aku bisa membayar SPP.
"Alhamdulillah," ucapku bersyukur.
"Wah daganganmu habis," kata Gerry.
"Iya Kak, mari ku traktir makan, mumpung aku punya keuntungan yang cukup banyak," ajakku.
"Oke, tapi lain kali saja, hari ini biar ku bayarkan, anggap saja perayaan pindah rumah baruku," ujar Gerry.
Aku mengangguk. Ku kira Gerry mau mengajakku makan di warteg tapi di sebuah restoran besar. Aku mematung di depan restoran itu. Aku tak pernah makan di restoran sebesar itu. hanya melihat di drama-drama Korea atau sinetron.
"Ayo masuk Aara," ajak Gerry.
__ADS_1
"Makan di sini? apa tak kemahalan? kita makan di warteg saja Kak, aku sudah biasa makan di sana," bujukku. Aku tidak ingin merepotkan Kak Gerry. Makan di restoran pasti harga makanannya mahal.
"Kali-kali kita makan di sini," ujar Gerry.
"Tapi ...," ucapku. Tiba-tiba Gerry meraih tanganku, menarikku masuk ke dalam restoran. Baru menginjakkan kaki di dalam restoran elit itu. Beberapa orang melihat penampilanku yang udik. Mengenakan baju usang dan sandal jepit. Belum lagi membawa plastik berisi perlengkapan Bobo. Mereka juga melihat ke arah Gerry yang tak jauh beda dariku penampilannya. Seorang sekuriti menghampiri kami.
"Kalian kalau mau ngemis jangan di sini, salah tempat!" tegur sekuriti. Dia meragukan kemampuan kami karena penampilan kami sederhana. Apalagi aku membawa plastik dan menggendong bobo seakan pengemis.
"Saya bukan pengemis Pak," sahutku. Tega sekali sekuriti itu menyebut ke pengemis meskipun aku miskin Aku tidak mungkin mengemis. Tangan diatas lebih baik daripada di bawah.
"Pak sekuriti anda bosan kerja? saya bisa membuatmu keluar dari restoran ini!" pekik Gerry. Dia terlihat marah dan mengancam sekuriti itu.
"Pengemis saja belagu, buka mata kalian, ini restoran elit, hanya orang kaya yang makan di sini," ungkap sekuriti.
Aku menarik-narik kaos di lengan Gerry. Memintanya menyudahi perdebatan itu dan lebih baik ke luar. Aku tidak ingin sekuriti menghina terus kasihan Gerry.
"Kak kita makan di warteg saja," ucapku.
Gerry memegang tanganku, seperti coba menahanku.
"Jangankan untuk makan, membayar tagihan semua orang di sini saja aku mampu!" tegas Gerry.
Aku terkejut. Gerry berbicara lantang pada sekuriti itu.
"Ha ha ha, lucu. Ada pengemis bermimpi di siang bolong," ujar sekuriti.
Gerry menatap sekuriti itu dengan tatapan dingin. Dia menarik tanganku, berjalan menuju kasir. Sekuriti itu membuntuti kami. Dia berusaha mencegah kami. Gerry berdiri di depan kasir. Meminta kasir menghitung semua tagihan yang makan di jam itu.
"Totalnya 78 juta 9 ratus ribu," ujar kasir itu.
"Apa 78 juta 9 ratus ribu?" Aku terkejut. Banyak sekali. Jangankan 78 juta, satu juta saja aku jarang memegangnya. Setahun sekali saja paling satu kali itupun karena kepepet nunggak bayar SPP.
Gerry mengeluarkan dompetnya, kartu kredit visa infinite, kartu kredit yang biasa dipakai orang kaya. Aku yang tak tahu seperti apa kartu kredit hanya mengira dia membayar pakai KTP. Aku ketar-ketir menyaksikannya. Kasir segera menggesek kartu kredit itu di mesin EDC. Hanya dalam hitungan menit semua terbayar dengan mudah. Aku mengelus dada dengan lemasnya. Hampir jantungku mau copot. Bayangkan 78 juta? 1 juta untuk bayar SPP saja aku tak mampu.
"Ini kartu kreditnya Bos," ucap kasir itu memberikan kartu kredit pada Gerry kembali.
Gerry mengambil kartu kreditnya dan menghampiri sekuriti di belakangnya.
"Kau lihat! aku sudah membuktikan padamu, aku mampu makan di tempat ini, jadi lain kali jangan menganggap orang gembel sepertiku tak pantas masuk restoran ini," ujar Gerry.
Sekuriti hanya menundukkan kepalanya. Dia benar-benar malu dan bersalah.
"Maaf Tuan, saya lancang, sudah menghina dan merendahkan anda," ucap sekuriti. Dia sangat malu dan merasa bersalah sudah merendahkan diri, padahal orang kaya tak perlu berpenampilan seperti orang kaya. Banyak diluar sana orang kaya yang berpenampilan sederhana. Jangan menilai apapun dari luarnya saja.
Gerry tak membalas ucapannya, dia berbalik menghampiriku. Menarik tanganku menuju kursi yang kosong. Kami duduk di kursi itu.
"Aara pesanlah semua makanan yang kau mau," ujar Gerry.
__ADS_1
Aku masih tercengang tidak tahu harus bicara apa. rasanya seperti mimpi. Ternyata Gerry bukan orang yang sembarangan.