
"Iya Tuan," ucapku.
Aku segera berjalan ke dapur. Mengambil mie instant di atas laci dapur. Aku ingat mie instant kreasi ibuku yang enak. Dulu ibu sering membuatkannya untukku. Rasanya enak, mungkin karena ibu membuatnya penuh cinta.
"Ibu aku rindu, sekarang Aara punya Bobo, tidak sendiri lagi," ucapku mengingat ibuku yang sudah meninggal. Rasanya sudah lama aku hidup seorang diri. Mencukupi kebutuhanku, untung aku anak yang ceria dan pantang menyerah. Satu hal yang membuatku sempat terjatuh, kematian ibuku.
Lamunanku terpecah, saat ku ingat wajah buaya yang tiba-tiba muncul dalam pikiranku. Astaga kenapa buaya sepertinya harus muncul dalam hidupku. Apakah hidupku akan aman-aman saja saat bersamanya? Atau aku akan disantap olehnya?
Sudahlah, lebih baik aku segera membuat mie rebus sebelum penindas itu ngoceh.
Aku segera menyalakan kompor, menaruh panci, berikut air di dalamnya. Tak lupa membuka bungkus mie instant, memasukkan mie ke dalam panci. Imajinasiku travelling kemana-mana.
"Kalau seandainya mie instant ini expired, pasti buaya mati, aku jadi janda kaya. Terus Ami dan Dodo ...," ucapku membayangkan.
Aku masuk ke dalam dunia khayalan. Semuanya sesuai keinginanku. Toh akulah sutradaranya di sini.
"Hik ... hik ... hik ..." Aku menangis. Dodo dan Ami merangkulku, memberiku support karena kematian si buaya.
"Kita turut berduka cita Aara, ku tahu kau sedih," ujar Ami.
"Berat pasti rasanya jadi janda masih muda seperti ini," tambah Dodo.
"Aku hik ... hik ... hik ..." Aku sulit mengatakan sesuatu.
"Kami ngerti kok gak usah diungkapin hik ... hik ... hik ...," ucap Ami ikut bersedih.
"Tenang Aara, air matamu sudah menjelaskan," ujar Dodo.
"Bukan itu," ungkapku.
"Loh memangnya apa?" tanya Ami.
"Aku sedih kenapa buaya gak meninggalkan warisannya untukku, kalau begini aku balik ke kosan lagi, jualan keripik lagi hik ... hik ... hik ...," jawabku.
"Kirain kenapa? soal warisan toh," ucap Dodo.
"Aku pikir kau sedih karena ditinggal mati suamimu, jadi janda gitu," kata Ami.
Aku tertawa membayangkan semua itu. Bisa jadi si buaya setelah mati makan mie instant expired sudah mengamankan hartanya. Menyebalkan, masih hidup pelit setelah mati hartanya dibawa keliang lahat. Memang manusia macam buaya seperti dia kejam, sadis, dan perhitungan.
"Sudah ah, bikin kesel kalau ingat buaya, lebih baik aku masak mie, tar dia menyemburku kalau kelamaan," ujarku.
__ADS_1
Aku memasak mie dengan semua bumbu, ditambah sosis, baso, udang, sayur dan telur. Setelah itu ku tambah bumbu khusus yang ku ulek. Bumbu tambahan ini akan membuatnya tergila-gila mie buatanku.
"Lihat saja, kau akan tunduk pada pawangmu buaya," ucapku pede sambil membawa mangkuk berisi mie yang sudah matang, baunya harum sekali sampai aku ikut lapar, tapi ini buat si buaya biar jinak.
Aku berjalan menaiki tangga menuju kamarku. Ku putar gagang pintu kamarku, saat pintu terbuka, ku lihat buaya sedang berbaring memeluk Bobo. Aku meletakkan mie di meja lalu menghampirinya, berdiri di samping ranjang.
"Kalau dilihat-lihat buaya ini mirip sama Bobo, apalagi kalau lagi tidur gini, posisi tidurnya juga sama, menaruh satu tangannya di atas perut," ujarku mengamati mereka.
Mencium bau harum mie buatanku, buaya bangun dari tidur lelapnya. Aku harus berhati-hati, buaya yang bangun biasanya ganas.
"Hei kau bocah, sudah selesai masaknya?" tanya Albern.
"Siap Tuan Raja, semua sudah ada di meja, silahkan dieksekusi!" ujarku.
Lebih baik cari aman, mana tau aku dicaploknya sebagai hidangan pembuka. Albern bangun, berdiri di depanku.
"Kau tidak memasukkan racun di dalam mie? siapa tahu kau ingin cepat kaya, dengan jadi jandanya Albern," ucap Albern.
"Heeh, aku tak perlu memberi racun, masukkan saja mie instant basi juga kau mati, orang kaya sepertimu, ususnya manja, gak biasa makan sampah," ujarku.
"Ha ha ha, kau unik juga, lumayanlah hiburan malam, dari pada aku menyewa pelawak mahal," ucap Albern.
"Dasar pelit!" ketusku spontan. Dia memang membuatku kesal terus. Tak pernah gitu dermawan padaku.
"Makhluk sepertimu langka, memang pantas tinggal di rumahku sebagai benda antik yang harus dilestarikan," kata Albern.
"Huuuh ...," ucapku.
Albern berjalan menuju meja. Dia duduk di sofa, mulai mencicipi mie buatanku yang sudah ku kreasikan sendiri. Satu suapan pertama yang dikunyahnya, membuat matanya terbuka lebar.
"Enak, baru kali ini aku makan mie instant seenak ini," puji Albern. Dia memakan terburu-buru, seakan mie akan diminta orang.
"Tuan pelan-pelan saja makannya, nanti kau tersedak," saranku.
"Bocah kemarilah, kau tak lapar?" tanya Albern.
"Iya aku laper banget, dari tadi gendong Bobo," jawabku.
Aku segera menghampiri Albern. Duduk di sampingnya dengan senyuman riang.
"Buka mulutmu!" perintah Albern.
__ADS_1
"Oke," sahutku.
Aku membuka mulutku, tak ku sangka Albern memberiku mie dari mulutnya di masukkan ke mulutku.
"Ugh ... ugh ... ugh ...." Aku terbatuk setelah Albern melepas mulutnya dariku.
"Aara, malam ini dingin, temani ku tidur, aku akan memberimu banyak uang," ujar Albern.
Aku langsung menamparnya. Dia mesum. Dia pikir aku wanita murahan.
Plaaak ...
"Kau pikir aku ini wanita murahan, karena aku miskin, bahkan jika kau membayarku mahal atau dengan seluruh hartamu aku tidak mau, kenapa aku harus terjebak pernikahan dengan makhluk buaya sepertimu, tidak menghargai wanita. Kau tidak tahu rasanya jadi wanita," ucapku sambil menangis.
Aku berdiri, berjalan mengambil Bobo. Membereskan semua perlengkapanku dan Bobo. Aku tak ingin tinggal bersama buaya yang hanya memikirkan keinginannya.
"Kau mau ke mana? aku memberi hidup lebih baik untukmu, kenapa kau menolak, lagi pula aku suamimu, aku berhak memintamu melayaniku," ucap Albern.
"Aku memang istrimu, tapi kita menikah bukan karena keinginanku, aku masih sekolah, dan seharusnya kau menghargaiku, aku bukan wanita yang sering bersamamu," ucapku kesal tak berhenti bicara mengeluarkan emosiku.
"Pergilah! lihat hidupmu di luar sana tanpaku," ujar Albern.
"Oke, lagi pula aku sudah terbiasa hidup sulit," ucapku. Dia pikir aku tak bisa hidup tanpanya. Aku sudah biasa hidup sendirian, ini tidak sulit untukku. Dari pada hidup dalam penindasan buaya ini, aku lebih baik pergi.
"Jangan lupa kau harus mendapat nilai 8 di UTS kalau tidak, kau tau kan harus apa?" ujar Albern.
Aku tak peduli dengan ucapan buaya, segera berjalan keluar dari kamar sambil menggendong Bobo dan membawa semua barang milikku. Malam itu aku berjalan di tepi jalan, tak ku sangka Albern sekejam itu. Dia hanya memikirkan orientasinya sendiri, dia lelaki menjijikkan yang pernah ku temui.
"Kenapa aku harus jadi istrinya? kenapa aku harus ditakdirkan bertemu dengannya?" Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dipikiranku.
Aku terus berjalan tak peduli dingin dan gelap.
Di sisi lain, Albern berdiri di depan jendela kaca melihat keluar. Hujan mulai turun cukup deras.
"Sial, kenapa aku mencemaskannya," ujar Albern.
Perasaannya tak tenang saat aku tak ada. Apalagi cuaca buruk. Dia takut terjadi sesuatu padaku di luar sana.
Albern berjalan bolak balik. Membuka dan menutup gorden. Berharap aku kembali dan minta maaf. Namun sudah menunggu. Aku tak kunjung kembali. Hujan juga semakin deras.
"Untuk apa aku peduli, itu salahnya," batin Albern. Dia melupakan pikiran buruknya. Berjalan ke ranjang. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk. Mencoba memejamkan matanya. Namun matanya sulit terpejam. Albern bangun.
__ADS_1
"Aku tidak bisa tidur, bocah itu membuatku ...," batin Albern.