
Aku dan teman-teman pergi ke sungai. Di tepi sungai ku baringkan Bobo di bawah pohon. Aku dan teman-teman mencari kecebong. Ternyata banyak sekali kecebongnya di dekat rerumputan di tepi sungai. Kami mulai menangkap kecebong.
"Wah banyak banget kecebongnya," ujarku.
"Kecebongnya warna-warni, gede lagi," ucap Dodo.
"Itu bukan kecebong Do, tapi ikan ******," ujar Axel.
"Kalau yang ini apa? kecebong?" tanya Mimi sambil memegang sesuatu.
"Itu ikan lele, awas dipat ...," ucap Axel memperingatkan Ami.
"Aw ... galak banget ikan lele, gue goreng nih,
" sahut Ami.
"Ami ikan lele ogah ditangkep sama lo, dia tahu pikiran miskin lo mau masak dia buat lauk," ujar Dodo.
Kami terus menangkap kecebong sampai beberapa ekor. Setelah itu kami bermain air di singai. Kami basah-basahan sambil kejar-kejaran. Tanpa kami duga air sungai berubah keruh dan tambah banyak. Saat mata kami melihat ke depan ternyata banjir, karena dadakan kami belum sempat lari ke tepi, hanyut terbawa air sungai. Aku dan Ami tidak bisa berenang, terbawab arus.
"Tolong ... tolong ...," ucapku dan Ami.
Dodo bisa berenang tapi belum mahir. Dia berusaha menyelamatkan diri terlebih dahulu. Axel yang bisa berenang. Berusaha menolongku dan Ami. Dia berenang ke arahku.
"Axel ... Axel ..., selamatkan Ami dulu," ujarku.
Axel tak banyak berpikir karena kondisinya panik. Dia hanya mendengar ucapanku, Axel berenang menghampiri Ami. Dia menangkap Ami lalu berenang, berusaha ke tepi, sedangkan aku masih terbawa arus. Aku mulai tenggelam tergulung air banjir yang deras.
"Ya Allah, aku ikhlas, tolong jaga Bobo," ucapku terakhir sebelum tak ingat apapun.
Aku sudah tak sadarkan diri, terbawa arus. Di saat seperti itu ada sesosok lelaki yang menangkap tubuhku membawaku ke tepi sungai.
Sampai di tepi sungai, dia berusaha mengeluarkan air sungai dari perutku. Dia menekan-nekan perutku hingga air itu keluar dengan sendirinya. Aku masih belum sadar, dia panik. Berusaha memanggilku. Menepuk pipiku.
"Bocah bangunlah, seharusnya aku menjagamu," ucap Albern.
Albern khawatir, dia berusaha memberiku nafas buatan. Rasanya hangat, aku mulai sadarkan diri, mataku terbuka perlahan.
"Tuan," ucapku melihat suamiku di depan mataku. Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Kupikir dia melupakanku. Ternyata dia masih peduli padaku.
"Bocah," ucap Albern.
Aku berusaha bangun, Albern segera membantuku sampai duduk. Aku masih mengatur nafasku dan dan memperhatikan sekitar.
"Aku di mana?" tanyaku yang masih belum ingat apa yang terjadi tadi.
"Kau ada di tepi sungai," jawab Albern. Dia terlihat lega melihat aku sudah mulai sadar.
Aku melihat sungai yang banjir, ingatanku mulai kembali pulih.
"Tadi aku dan Ami terbawa air banjir," ucapku.
Albern memelukku dadakan. Aku terkejut, dia melihatnya memelukku. Aku hanya diam membiarkan semua itu. Mungkin dia panik karena aku hampir saja celaka.
__ADS_1
"Bocah jangan membuatku takut," kata Albern.
"Takut kenapa?" tanyaku. Seharusnya dia senang dengan begitu hidupnya akan terhindar dari ku.
Albern melepas pelukannya, dia memegang kedua pipiku. Menatap mataku.
"Aku takut kehilanganmu," ujar Albern.
"Ha ha ha." Aku tertawa, tak percaya buaya sudah biasa menggombal. Mungkin karena dia kasihan padaku, makanya berkata seperti itu.
"Hei kenapa kau malah tertawa bocah?" tanya Albern.
"Lucu, Tuan pandai menggombal, buaya memang begitukan?" ucapku. Tiba-tiba Albern menarik tubuhku. Menciumku. Oh, terkejut bukan main, ciuman pertamaku, rasanya manis. Aku terbuai, tapi ingatan tentangnya yang buaya dan mesum langsung membuatku sadar. Aku mendorong dadanya melepas ciumannya.
"Tuan jangan seenaknya cium aku," ucapku marah.
"Kenapa? aku suamimu kalau bercinta belum boleh, setidaknya ciuman bolehkan?" tanya Albern.
Aku menggeleng, merinding dekat-dekat buaya apalagi di zona teritorial nya. Jangan sampai dicaplok.
Tubuhku kedinginan, mengigil, bajuku basah kuyup.
"Mau ku peluk, biar hangat?" tanya Albern.
"Gak," ucapku. Namun Albern tak mendengar. Dis menarikku ke dalam pelukannya. Dia memelukku dari belakang.
"Gimana hangat?" tanya Albern.
"Diamlah bocah, biarkan tubuhmu hangat dulu. Aku tidak akan mesum," ucap Albern.
Aku langsung diam dalam pelukan suamiku yang buaya ini. Rasanya memang hangat dan nyaman. Aku jadi rindu ayah dan ibuku. Ku ingat saat-saat bersama mereka. Lama-lama aku tertidur. Beberapa menit berlalu, saat mataku mulai terbuka, aku sudah berada di gendongan Albern. Dia menggendongku di punggungnya.
"Kita mau kemana?" tanyaku.
"Menemui teman-temanmu dan Bobo," ujar Albern.
"Tuan gak berat menggendongku?" tanyaku.
"Tubuhmu kecil, kurang gizi, cacingan, tentu sangat ringan," jawab Albern.
"Huh ...," ucapku. Tapi dia benar, tubuh kekarnya tentu mampu menggendongku. Ku peluk Albern erat-erat, rasanya aku memiliki seseorang yang peduli padaku.
"Kau harus memberiku upah, di dunia ini tak ada yang gratis bocah," ucap Albern.
"Aku tak punya uang," sahutku.
"Kau fakir miskin, yang kau punya hanya tubuhmu, jadi cium aku," ucap Albern.
Benar-benar buaya, selalu ingin yang enak-enak. Otaknya seputar kemesuman. Kalau saja dia tadi tak baik, sudah ku tendang dia biar sekalian ke planet pluto, di sana buaya bisa mesumin makhluk lainnya.
Cup
Ku cium pipinya. Dia terlihat senang sekali.
__ADS_1
"Nah gitu dong bocah, biasain cium aku, suamimu loh," ucap Albern.
"Kau suami mesum," ucapku.
"Oke, aku akan belajar untuk tidak mesum, perlu waktu untuk casanova sepertimu berubah kalem," ucap Albern.
"Aku tidak percaya buaya berubah jadi kancil," ucapku.
Albern berlari gara-gara aku menyebutnya buaya. Membuatku ketakutan.
"Tuan ... Tuan ... aku takut jatuh, aku takut," ucapku.
"Bilang suamiku dulu, baru berhenti," ujar Albern.
Benar-benar buaya, strategi yang matang, aku tak bisa melawan.
"Suamiku berhenti aku takut," ucapku.
Albern langsung berhenti. Lega rasanya tadi itu kaya naik rollercoaster.
"Turunkan aku!" pintaku. Segera Albern menurunkanku.
Kami berada di bawah pohon besar. Albern mendekatiku, aku grogi, berjalan mundur hingga tersudut di batang pohon.
"Aara sayang panggil aku suamiku ya seterusnya, aku janji akan berubah, ku mohon beri aku kesempatan," ucap Albern.
"Aduh ini kok romantis kaya di drakor, aku takut nih," batinku.
Albern mendekati wajahku, sepertinya dia ingin menciumku. Ku pejamkan mataku. Tinggal dua centimeter, suara teman-teman memanggilku.
"Aara ... Aara ...," panggil Axel, Ami dan Dodo.
Albern langsung menciumku sesaat. Dia menatap wajahku usai menciumku.
"Nanti malam aku nyusul ya, tunggu aku," ucap Albern. Dia pergi usai berkata seperti itu, padahal aku belum jawab iya.
"Aara ...," panggil Ami berlari ke arahku sambil menggendong Bobo. Begitupun dengan Dodo dan Axel. Aku senang sekali melihat mereka.
"Aara hampir saja aku takut, kalau terjadi sesuatu padamu, gimana Bobo?" ujar Ami.
"Bilang aja kau tak mau jadi ibu sambung Bobo, makan aja masih kepala ikan asin, gimana mau beli susu buat Bobo," ucap Dodo.
"Tuh tahu, paling nanti aku menyuruhmu kerja rodi biar susu Bobo ke beli," ucap Ami.
Mereka berdua kembali berdebat sengit. Maklum Ami Dan Dodo memang selalu begitu tak pernah damai tapi saling merindukan.
"Aara kau tidak apa-apa?" tanya Axel.
Aku menggeleng.
"Tapi bagaimana caramu selamat dari gulungan air banjir?" tanya Ami.
Aku bingung harus menjawab apa. Haruskah ku bilang Albern yang menyelamatkanku. Mereka akan merasa aneh kalau tahu Albern yang menyelamatkanku dari air banjir itu.
__ADS_1