Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 64


__ADS_3

Malam itu aku dan Albern membawa Bobo pulang. Sesuai kesepakatan Albern dan Axel, malam ini Bobo tidur bersama kami karena Axel dan Raina mau malam pertamaan. Maklum dulu mereka menikah demi status Raina dan anaknya. Namun sekarang Axel sudah benar-benar mencintai Raina.


Malam ini diterangi bulan dan beribu bintang. Seolah mereka menyaksikan kebahagiaan kami.


Setelah sekian lama senyuman ini bisa leluasa terlukis di bibir merahku.


Aku duduk seusai menidurkan Bobo. Ku resapi rasanya hidup bahagia sambil menutup mataku. Berharap ini bukan mimpi tapi kenyataan.


"Sayang kau sedang apa?" tanya Albern menghampiriku. Dia duduk di sampingku memperhatikanku yang menutup mataku.


"Aku sedang membayangkan semua ini nyata bukan mimpi," sahutku.


Albern tersenyum. Dia memelukku erat.


"Semua ini nyata, bukan mimpi sayang," ujar Albern.


Ku buka mataku. Semua ini memang nyata. Ada Albern dan Bobo. Meskipun akhir-akhir ini ada rasa cemas. Entahlah. Mungkin karena aku terlalu bahagia.


Aku membalas pelukan Albern.


"Kau akan terus bersamakukan suamiku," ujarku.


"Aku akan selalu ada di hatimu jika raga ini tak bersamamu," ujar Albern.


Ku lepas pelukan Albern. Terkejut dengan ucapannya. Aku mengira itu hanya candaan Albern saja.


"Suamiku jangan bercanda, emangnya kau mau ke mana?" tanyaku.


Albern mengelus kepalaku dengan penuh rasa sayang.


"Aku tetap di sini bersamamu," ujar Albern.


Aku tersenyum. Langsung ku peluk Albern. Rasanya nyaman. Terkadang aku takut semua ini akan menghilang.


"Nonton drakor yo," usulku.


"Drakor? Aku belum pernah menontonnya, pernah liat di iklan, tapi tak pernah menontonnya," ujar Albern.


"Mumpung Bobo belum minta susu lagi, kita nonton drakor suamiku," usulku.


"Oke," sahut Albern.


Segera kami berpindah ke depan televisi. Menonton drakor bersama. Ku sandarkan kepalaku di bahu Albern sambil melihat cerita drakor yang semakin menyedihkan.


"Suamiku sedih banget, kenapa cowoknya harus mati?" tanyaku.


"Terkadang hidup tak selalu indah seperti yang kita harapkan," jawab Albern.


"Iya ya," sahutku.


Tiba-tiba Albern mengganti ke acara lain saat drakor selesai. Sebuah acara berita. Albern begitu serius melihat berita di layar kaca. Meskipun aku ada di dekatnya.


Aku penasaran. Ikut mendengarkan berita utama di siaran televisi itu.


"Selamat malam saudara. Anda menyaksikan berita Netral News TV. Kami akan menginformasikan terkait gempa yang diprediksi akan melanda Pulau B, pusat gempa itu diperkirakan akan berada di kota D. Di mohon masyarakat tetap waspada," ucap pembawa acara TV.


Aku dan Albern terkejut dengan kabar itu. Sudah lama tak terjadi gempa di negara A. Terakhir 20 tahun lalu, itu pun saat menimpa kota A.


"Sayang, apa kita ngungsi dulu sampai situasi membaik," ujar Abern.


"Mengungsi? Tapi aku sudah betah di sini, lagi pula itu hanya prediksi, bisa benar atau tidak," ujsir ku.


"Oke, terserah kau saja," ucap Albern.


"Suamiku ayo tidur," ucapku.


Albern mengangguk.


Aku dan Albern menuju ranjang. Kami berbaring dan berpelukan. Walaupun sedikit cemas tapi aku berusaha untuk tidak panik.


"Suamiku bukannya 20 tahun lalu ada tsunami yang melanda Pulau A. Hampir seluruh kota A hancur ditelan gelombang tsunami?" tanyaku.


"Iya 20 tahun lalu, banyak sekali korban jiwa bahkan banyak yang mengungsi. Padahal Pulau A sangat tidak memungkinkan untuk tsunami tapi kalau sudah rencana Allah apa yang gak mungkin," ujar Albern.


"Kau benar, Allah Maha Berkuasa, apapun yang mustahil mudah untukNya," ucapku.


Lama kelamaan aku tertidur. Albern yang masih berjaga mengurusi Bobo saat minta susu dan ganti popok.


***


Di tempat yang berbeda Axel dan Raina sedang menanti saat-saat di mana mereka akan menghabiskan malam pertama. Axel sudah tak sabar menunggu di ranjang. Sedangkan Raina asyik berdandan di depan cermin. Dia terlihat cantik jelita.


"Sayang udah dandannya?" tanya Axel.


"Belum bentar lagi," sahut Raina.


"Sayang bisa cepetan?" tanya Axel.


Raina mengangguk. Segera menyelesaikan polesan yang terakhir. Sambil mengoleskan lipstik merah di bibirnya. Raina memandang wajahnya yang sudah cantik dengan baju tidur yang seksi. Malam ini Raina ingin membuat suaminya jatuh hati padanya dan takkan melupakan malam pertamanya.


Raina berjalan menghampiri Axel. Dari atas rambut sampai kaki, Axel memandangnya. Dia menelan ludahnya berkali-kali.

__ADS_1


"Sayang," panggil Raina manja.


Axel makin tak sabar dengan tingkah manja Raina. Dia berlari kemudian membopong Raina. Kedua netra yang saling bertautan, penuh cinta dan gairah yang membara.


"Sayang, takut jatoh," ucap Raina.


"Aku kuat kok membopongmu, apalagi malam ini," ujar Axel.


Raina menganggguk. Perlahan Axel berjalan langkah demi langkah lalu membaringkan Raina di ranjang.


"Kemarilah sayang," pinta Raina.


Axel tak membuang-buang waktu. Dia datang mendekati tubuh Raina. Mencium bibirnya. Seketika cinta dan nafsu berbaur jadi satu. Tak ada lagi hal yang ditahan. Semua diluapkan. Apa yang dulu dilarang dan belum waktunya, dilakukan sepuasnya. Malam-malam yang begitu panas. Sampai suhu ruangan 25°C yang seharusnya cukup dingin tak terasa dingin. Keringat bercucuran. Axel benar-benar menggila. Dia menunjukkan keperkasaannya dalam lautan cinta yang diarungi bersama Raina.


Meskipun keperawanannya sudah direnggut Albern karena mabuk. Namun rasa sakit tetap ada diawal mereka memadu cinta. Untung saja Axel yang tak berpengalaman mampu membuat Raina lupa akan sakitnya tadi justru hanyut dalam cinta satu malam.


Satu dua jam berlaru Axel masih berpacu dalam indahnya cinta. Begitupun Raina yang masih ingin berada dalam perpaduan dua cinta itu. Hanyut dalam cinta dan nafsu. Tak ada rasa malu lagi kini mereka sudah halal. Bebas menyuarakan rasa cintanya. Suara merdu terus terdengar bagaikan melodi-melodi cinta.


Setelah dirasa lelah Axel menyudahinya. Dia berbaring bersama Raina. Memeluknya erak. Penyatuan cinta itu membuatnya semakin jatuh cinta pada Raina.


"Axel maaf aku sudah tidak perawan," ujar Raina.


"Sayang, rasanya luar biasa, tak peduli apapun," sahut Axel.


"Terimakasih kau sudah menerimaku apa adanya," ujar Raina.


"Iya sayang, aku mencintai," ujar Axel lalu mencium kening Raina.


"Aku juga mencintamu," sahut Raina.


Akhirnya mereka melewati malam bersama begitu romantis dan indah. Cinta mereka berdua semakin bersemi dan tumbuh.


***


Pagi itu aku dan Albern membawa Bobo ke rumah Axel. Sudah saatnya mereka piket gantian. Kami berdua duduk bersama Axel dan Raina yang masih terlihat mengantuk dan lelah. Namun mereka berusaha menyambut kami.


"Sorry Bang gue nguap terus," ujar Axel.


"Gak papa, gue paham," sahut Albern.


"Bisa gak Bang, semalam lagi?" rengek Axel.


"Enak aja, gue dah puasa lama," sahut Albern.


Axel tertawa. Dia merasa ucapan Albern sangat lucu dan memalukan sekali.


"Oke, gue ngasuh Bobo malam ini sama Raina," ujar Axel.


"Nah gitu dong," sahut Albern.


***


Waktu terus berputar. Hari berganti sore. Langit yang kebiruan berubah ke merahan. Suara-suara burung bersiul. Matahari mulai bersembunyi berganti bulai yang sudah mulai mengintip ingin ke luar. Suasana sore yang begitu indah ditambah angin sepoi-sepoi. Aku dan Albern berdiri di balkon sambil menikmati sore yang indah.


"Akhirnya kita bisa berduaan," ujar Albern.


"Iya suamiku," sahutku.


Aku menyandarkan kepalaku ke dada bidang Albern. Dia berdiri di belakangku memelukmu erat.


"Aara terimakasih selama ini kau sudah mendampingiku. Aku minta maaf atas semua kesalahanku," ujar Albern.


"Untuk apa minta maaf, kau tak salah suamiku," ujarku.


"Kau harus jadi wanita yang kuat meskipun kelak aku tak ada di sisimu," ujar Albern.


Seketika aku berbalik memeluk Albern. Entah seperti apa hidupku tanpanya.


"Jangan tinggalkan aku, kita akan terus bersama," ujarku.


Albern mengangguk. Dia menciumku. Membopongku menuju ranjang. Setiap langkah satu ciuman darinya. Sungguh romantis.


Albern membaringkanku di ranjang. Dia mendekatiku hendak mencium bibirku. Namun rumah terasa bergetar. Semakin kuat dan intens. Aku dan Albern merasakan getaran yang semakin kencang hingga barang-barang berjatuhan.


"Sayang gempa," ujar Albern.


"Ayo lari," ajakku.


Albern langsung memegang tanganku berlari ke luar kamar. Semua barang sudah tergeletak di lantai. Rumah terus bergetar semakin keras. Hingga lampu hias dari atas terjatuh ke bawah.


Tuaaar ...


Aku dan Albern terkejut. Hampir saja nenjatuhi kami. Segera kami berlari ke luar. Baru menginjakkan kaki di luar pohon-pohon bertumbangan. Rumah pun juga ambruk.


Bluuug ....


Kami terkejut dan terjatuh ke bawah karena getaran yang sangat kuat. Aku berpegangan tangan Albern. Bukan hanya gempa tapi angin kencang dan hujan yang mulai deras.


Tiba-tiba gelombang air datang menyapu semuanya. Aku dan Albern terbawa arus. Untung saja kami bisa berenang. Hanya saja arus begitu deras dan dalam setinggi rumah dua lantai. Aku terbawa arus terbentur benda-benda yang ikut terbawa arus.


"Aara," panggil Albern..

__ADS_1


"Sayang aku di sini," ucapku lelah. Tak mampu bertahan untuk berenang lagi. Aku hanya berpegangan di tali yang teesangkut.


Albern melihatku. Dia mencari benda yang bisa ditumpangi. Terlihat sebuah gabus berbentuk kotak yang terbawa arus. Albern mengambil gabus itu dan berenang ke arahku. Dia sempat terhantam beberapa benda yang terbawa arus namun tetap gigih menuju ke arahku.


"Aara," panggilnya menghampiriku dengan pelipisnya yang berdarah.


"Suamiku," ucapku dengan berkaca-kaca melihatnya.


"Naiklah!" pinta Albern.


"Tapi kau suamiku?" tanyaku.


"Jangan pedulikan aku, naiklah!" pinta Albern.


Aku mengangguk. Naik ke atas gabus itu. Aku duduk di atasnya. Sedangkan Alberm mendorong gabusnya menuju tempat yang aman untuk kami.


Lima jam kami bertahan di arus yang deras. Albern terlihat kedinginan. Aku masih di atas gabus mengkhawatirkannya. Ku pegang tangannya yang dingin.


"Naiklah!" pintaku.


"Tidak, kau saja," ucap Albern.


Aku tahu pasti karena gabus ini tak muat untuk kami. Dia lebih memilih aku yang di atas gabus. Tak lama gelombang air semakin besar dan deras. Ku lihat banyak orang-orang dan barang ikut terbawa arus. Rasanya ingin menolong namun aku sendiri saja sudah kesulitan. Apalagi Albern yang kedinginan dan terluka.


Tak lama gelombang air itu menghantam kami. Albern berusaha menegang gabus namun tangannya terlepas. Aku berusaha memegang tangannya.


"Lepas Aara! kau bisa terjatuh," ucap Albern.


"Gak-gak akan, kita akan terus bersama kau janji," ucapku sambil msnangis.


Albern hanya tersenyum. Dia melepas tangannku.


"Tidaaak ...," teriakku.


Albern terhantam arus deras. Terbawa gelombang air. Hanyut menghilang. Tinggal aku sendiriaan tak bergeming. Seolah waktu terhenti. Aku hanya bisa terdiam melihat semua rasa sakit yang datang tiba-tiba. Air mataku terus menetes. Namun tak ada suara ke luar dari mulutkku. Hanya kesedihan mendalam. Semua terasa begitu cepat. Aku kehilangan semuanya. Suamiku dan cintaku.


Waktu berganti pagi. Aku masih terduduk di atas gabus yang terbawa arus. Namun arusnya sudah mulai surut. Tim evakuasinya juga sudah datang. Mereka melambai ke arahku. Tapi aku hanya diam. Kejadian semalam membuat kesadaraanku seakan menghilang. Bagai tubuh tanpa jiwa. Aku hanya bengong. Tak ada ekspresi apapun di wajahku.


Tim evakuasi menggunakan perahu menuju ke arahku. Mereka mengangkat tubuhku naik ke atas perahu. Namun aku masih tetap terdiam tanpa kata.


"Sabar ya Kak, kita akan bawa ke tempat aman."


Tak ada respon dariku. Aku terdiam. Air mataku juga sudah tak bersisa. Hanya kesedihan mendalam di mataku yang masih terlukis jelas.


***


Sampai di pengungsian aku duduk di antara ribuan orang yang juga kehilangan anggota keluarganya. Mereka sepertiku bersedih dan depresi karena trauma. Aku hanya diam. Tak melirik ke kanan atau ke kiri. Bayang-bayang Albern masih terasa diingatanku. Rasanya baru kemarin dan sekarang aku kehilangan semuanya.


Suara-suara anak kecil, bapak, ibu dan semua orang menggema. Tangisan-tangisan pilu membuat hatiku getir. Dalam waktu semalam semuanya menghilang. Hanya kesedihan yang ditinggalkan.


"Nona ambilah biar perutmu terisi," ucap seseorang wanita yang berpakaian rapi dan berlabel tim evakuasi memberiku teh hangat dan sebuah kotak makan.


Aku menoleh ke arahnya. Dia begitu cantik dan ramah. Tersenyum padaku. Memberiku semangat.


"Aku memasaknya sendiri, semoga rasanya enak. Namamu Adelina Nafiza Zezan, dari kota A, ujarnya memperkenalkan diri.


Aku hanya milirik wajahnya sesaat lalu menunduk. Makanan di tangannya tak ku ambil.


"Ya udah, aku taruh di sini ya," ucapnya.


Tiba-tiba seorang teman memanggilnya.


"Adelina, Mamamu menelpon," ucap temannya.


"Iya aku ke situ, sebentar ku selesaikan tugasku," sahutnya.


Temannya mengangguk. Kemudian pergi membuatkan Adelina menyelesaikan tugasnya.


Adelina membagikan semua teh dan makanan bersama rekan-rekannya yang lain. Tak jauh dari tempatku duduk ada televisi LED yang cukup besar. Sebuah acara berita terdengar membicarakan seorang pengusaha.


"Adelina Rehan Darien itu bukannya kakekmu ya?" tanya seorang rekannya.


"Iya, itu kakekku," sahutnya.


"Wah hebat kakekmu menyumbang ratusan milyar untuk bencana alam ini," ujar temannya.


"Jangan dibicarakan, nanti gak berkah untuk kakekku," sahutnya.


"Iya deh, aku doakan aja biar kakekmu panjang umur dan dimpahkan rejekinya kaya Leo Ariendra ya, beliau yang menyumbang begitu banyak saat tsunami yang meluluh lantahkan kota A," ujar temannya.


"Amin," sahut Adelina.


"Semoga kakek buyutmu tenang di sana, diringankan siksa kuburnya dan diampuni dosanya," ujar temannya.


"Amin, terimakasih atas doanya," sahut Adelina.


Gadis cantik berhijab itu tersenyum ramah. Aura sholehanya bisa tercermin dari wajahnya yang meneduhkan siapapun yang melihatnya. Benar-benar orang yang baik seperti kakeknya.


Aku hanya terdiam. Memandangi teh hangat dan kotak makan di depanku. Tiba-tiba Adelina memberiku sebuah hijab dan meletakkan di samping makananku.


"Hijabmu rusak, pakailah hijab baru untukmu," ujarnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Aku hanya diam tak menggubris ucapannya. Acuh. Bukan karena aku sombong tapi aku butuh diam. Siapa yang tak sedih kehilangan semua hal dalam satu malam. Khususnya orang yang kita cintai. Dia berkorban untukku. Air mata tak terasa kembali menetes. Adelina langsung memelukku.


"Menangislah!" ucapnya.


__ADS_2