Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Terjebak Part 55


__ADS_3

Deena berjalan sendirian diantara labirin bunga bougenvile. Sudah lama dia tak sesantai ini. Musuh terbesarnya sudah berakhir, sebentar lagi lulus SMA. Deena masih bingung ingin kuliah diluar negeri bersama kedua saudara kembarnya atau kuliah di dalam negeri.


"Kalau aku kuliah diluar negeri, lalu bagaimana dengan Raynor?" batin Deena.


Tiba-tiba seseorang menutup matanya dari belakang.


"Om cabul" ucap Deena.


"Sayang kau tahu banget kekasihmu ini datang" ucap Barra.


Barra melepas kedua tangannya dari mata Deena. Setangkai mawar merah ada didepan Deena.


"Bunga ini untukku?" tanya Deena.


"Untuk siapa lagi kalau bukan untuk kekasih hatiku" ucap Barra.


Deena mengambil setangkai bunga mawar dari Barra. Dia senang sekali Om cabulnya memberinya bunga.


Barra maju ke depan melihat muka merah Deena yang tersipu menerima bunga darinya.


"I Love You" ucap Barra.


Deena tidak membalas ucapan cinta dari Barra.


"Sayang aku sudah totalitas, katakan sesuatu" ucap Barra.


"Kejar aku dulu" ucap Deena.


Deena berlari diantara labirin, Barra terus mengejarnya. Dia mencari Deena kesana kemari. Deena berlari ke arah wisata bawah tanah. Barra masuk ke dalam wisata bawah tanah mengejar Deena.


**************


Alvan mencari Alina, dia melihat Alina sedang naik perahu bersama Rafael. Alina terlihat bahagia saat bersama Rafael, disitu Alvan melihat pemandangan yang belum pernah dilihatnya, Alina tersenyum lepas saat bersama Rafael.


"Aku tidak bisa membuatmu tersenyum lepas seperti itu Alina, ternyata bukan aku yang ada dihatimu" batin Alvan.


"Tampan kau patah hati ya, tenang masih ada aku" ucap Haura.


Alvan melihat ke samping, Haura sudah ada disampingnya dengan muka yang merah.


"Mukamu kenapa gadis cerewet?" tanya Alvan.


"Oh, ini gatel karena maskeran tai sapi tadi" ucap Haura.


Alvan memegang pipi Haura. Muka Haura mirip tomat merah.


"Kasihan mukamu pasti gatal ya" ucap Alvan.


"Gak sih cuma panas" ucap Haura.


"Biar ku obati pakai salep ya" ucap Alvan.


"Gak usah, kita ke wisata bawah tanah yuk seru kayanya" ucap Haura memberi usul.


"Kau yakin?" tanya Alvan.


Haura mengangguk, Alvan langsung menarik lengan Haura menuju ke wisata bawah tanah.


Rafael dan Alina menikmati indahnya danau dari perahu yang mereka naiki. Alina melihat ke bawah air. Dia melihat ikan dibawah perahu yang cukup banyak dan bunga teratai yang indah.


"Adik kecil lihat ada kura-kura" ucap Rafael menunjukkan kura-kura yang ada diantara teratai.


"Iya kak, kura-kuranya kecil, lucu" ucap Alina.


Alina berjalan ke tepi perahu untuk melihat kura-kura dengan jelas, tapi Alina malah terpeleset, hampir jatuh ke danau tapi Rafael menangkapnya. Dia memeluk Alina.


"Kakak" ucap Alina melihat Rafael.


"Alina, aku..." ucap Rafael.

__ADS_1


"Den, Neng, ada wisata bawah tanah, baru dibuka" ucap pemilik perahu.


Rafael dan Alina langsung melepas pelukan mereka.


"Dimana Pak?" tanya Rafael.


"Itu dibawah bukit yang tinggi" ucap pemilik perahu.


Rafael dan Alina melihat ke arah bukit tinggi yang ditunjukkan pemilik perahu itu.


"Adik kecil kau mau kesana?" tanya Rafael.


Alina mengangguk. Mereka berdua turun dari perahu, berjalan menuju wisata bawah tanah.


************


Wisata bawah tanah baru saja dibuka. Didalamnya banyak lorong, ada berbagai lukisan kuno, batu-batu antik diatap lorong terlihat indah, air mengalir disamping jalan seperti sungai kecil yang terdapat berbagai macam ikan. Barra terus mengejar kekasihnya. Deena berlari menuruni tangga hingga melihat sebuah taman dibawah tanah diatapnya sebuah lubang yang bercahaya dari luar, terdapat tanaman merambat yang berada ditepi-tepi lubang itu. Taman itu seperti taman pada umumnya. Hanya tempat selfinya banyak dan instagramable banget. Deena lebih tertari naik ke dinding yang digunakan untuk tempat panjat tebing, dibawahnya kasur busa yang cukup tebal sehingga bagi yang memanjat aman jika terjatuh.


"Om cabul, kalau mau jawabanku kalahkan aku sampai ke atas" ucap Deena memanjat tebing.


"Sayang lihat saja, aku akan membuatmu tak melupakan hari ini" ucap Barra dari bawah.


Barra menyusul Deena memanjat tebing. Mereka sikut menyikut, tendang menendang. Mereka beradu apapun untuk mengalahkan satu sama lain, bahkan bertarung sambil memanjat. Untung tempat itu masih sepi. Deena menendang Barra hingga terjatuh tapi Barra masih bisa berpegangan baru yang menonjol yang digunakan untuk pijakan.


"Kau hebat juga, tapi aku takkan kalah" ucap Barra.


Barra kembali memanjat. Dia bertarung dengan Deena, dia memeluk Deena lalu melepas ikatan bra miliknya. Deena kaget langsung fokus pada bra miliknya. Barra memanfaatkan situasi ini untuk naik ke atas.


"Om cabul, dasar cabul, otak sengklek, gila, gak ada akhlak, apalagi ya..." ucap Deena mengingat ucapan Rehan.


"Keburu mati" ucap Barra.


"Eh iya itu, keburu mati" ucap Deena kesal gara-gara bra nya lepas.


"Sepertinya akan aku menang, lihat saja aku tidak hanya minta jawaban tapi ciuman memabukkan" ucap Barra dari atas Deena.


"Om cabul...." teriak Deena marah.


"Sayang jangan dong, nanti ketahuan nih" ucap Barra.


"Biarin, biar promo dadakan" ucap Deena.


Deena terus menarik celana Barra terus Barra menjatuhkan dirinya hingga membuat Deena ikut terjatuh ke bawah.


Bluuuuuug..........


Mereka berdua terjatuh ke bawah. Tangan kanan Barra menahan kepala Deena, tangan kirinya memeluk tubuh Deena. Barra berada diatas tubuh Deena.


"Aku mencintaimu, tidak peduli dari mana kau berasal sayang" ucap Barra.


"Aku juga mencintaimu Om cabul" ucap Deena.


Barra mendekati wajah Deena hendak mencium bibirnya.


Tuk....tuk....tuk......


Haura memukul Barra menggunakan sepatunya.


"Dasar cabul, kau mau memperkosa adikku ya" ucap Haura.


"Aw....aw....aw....sakit" ucap Barra.


"Haura, jang...an" ucap Deena.


Barra beranjak dari tubuh Deena. Dia memegang punggungnya yang dipukul Haura, sedangkan Deena menghentikan Haura.


"Biarin, biar ku jadikan rempeyek Om cabul itu, dia cabul, playboy, dan tukang kawin" ucap Haura.


"Haura kau sa...lah faham" ucap Deena.

__ADS_1


Haura melihat dengan jelas lelaki yang tadi dikiranya merkosa Deena.


"Eh...Bos, sorry Bos sepatu saya nakal" ucap Haura terkejut melihat Barra.


"Haura" ucap Barra.


"Deena kau kenal dia?" tanya Haura.


"Eee, tidak. Ta..di aku terjatuh di..tolong Om itu" ucap Deena.


Haura melihat Deena lalu melihat Barra. Dia tahu saudara kembarnya itu polos, tak mungkin kenal Barra.


"Haura aku mencarimu dari tadi" ucap Alvan yang baru datang.


"Deena aku pergi dulu sebentar, berhati-hatilah dengan dia, jangan sampai kau terpedaya dan jadi budaknya" bisik Haura.


Haura menarik Alvan meninggalkan tempat itu turun ke bawah menuruni tangga. Deena menghampiri Barra. Dia mengelus punggung Barra.


"Apa sakit?" tanya Deena.


"Kalau dicium gak sakit sayang" ucap Barra.


Plaaak.........


Deena menampar punggung Barra.


"Sepertinya itu tidak sakit" ucap Deena.


"Aw....double sakit sayang" ucap Barra.


Deena menarik kerah baju Barra membawanya turun ke bawah.


Rafael dan Alina masuk ke dalam wisata bawah tanah itu. Saat masuk seperti masuk ke dalam gua, untung tidak gelap karena penerangan lampu disetiap jarak 10 meter. Semakin masuk hawanya semakin dingin. Rafael melepas jaketnya dan memakaikan ke tubuh Alina.


"Jaketnya harum aroma tubuh Kak Rafa" batin Alina.


"Biar gak dingin" ucap Rafael.


"Makasih kak" ucap Alina.


Rafael mengangguk, dia memegang tangan Alina masuk ke dalam wisata bawah tanah itu. Rafael dan Alina turun ke bawah sampai disebuah ruangan-ruangan berjejer. Ruangan itu terdapat spot foto yang berbeda-beda walpapernya dan hiasan yang terdapat disetiap ruangan. Alina dan Rafael menyempatkan berfoto berdua dibeberapa ruangan. Tak lama terdengan gemuruh dan ruangan didalam wisata bawah tanah itu bergetar. Semua orang yang berada didalam berlarian kesana sini.


"Gempa....gempa...gempa...." ucap semua orang yang berlari.


Rafael memegang tangan Alina membawanya berlari menuju ke tangga. Sampai didepan tangga, ternyata tangganya sudah hancur. Hanya menyisakan reruntuhannya.


"Alina kita tidak bisa keluar lewat tangga, kita harus mencari jalan lain" ucap Rafael.


Alina mengangguk, mereka mencari jalan keluar yang lain.


Ditempat lain Haura dan Alvan terjebak disebuah ruangan yang menampilkan berbagai bebatuan alam. Jalan keluar tertutup bebatuan. Mereka berusaha keluar dengan membuang bebatuan itu tapi belum berhasil karena jumlahnya sangat banyak.


"Aku lelah Alvan" ucap Haura.


Haura duduk dan mengusap keringat diwajahnya.


Melihat Haura kelelahan, Alvan menghampirinya dan duduk disampingnya.


"Kau lelah ya, bersandarlah dibahuku" ucap Alvan.


"Tapi aku keringetan, bau" ucap Haura.


Alvan meletakkan kepala Haura dibahunya.


"Alvan apa kita tidak akan bisa keluar?" tanya Haura.


"Pasti ada cara untuk keluar" ucap Alvan.


Karena kelelahan Haura tertidur dibahu Alvan.

__ADS_1


Sementara Alvan sedang memikirkan cara keluar dari tempat itu.


__ADS_2