
Satu Minggu Kemudian
Alina, Deena dan Haura kembali bersekolah seperti biasa. Hari ini hari spesial untuk Alina karena diantar Rafael ke sekolah. Alina senang sekali Rafael mengantarkan ke sekolah dengan naik sepeda. Sepanjang jalan Alina terus memeluk pinggang kakaknya itu.
"Kak Rafa kalau setiap hari diantar seperti ini, Alina seneng banget" ucap Alina.
"Aku ingin setiap hari mengantarmu, tapi kakak masih kuliah di kota B" ucap Rafael.
"Kak nanti pulang dijemputkan?" tanya Alina.
"Siap adik kecil" ucap Rafael.
"Kakak bilang tadi mau pergi ke perpustakaan negara dengan teman kakak, dia cewek atau cowok kak?" tanya Alina.
"Cewek" ucap Rafael.
Alina langsung terdiam mendengar jawaban Rafael.
"Kenapa kok diem?" tanya Rafael.
"Apa dia cantik kak?" tanya Alina.
"Tidak ada yang cantik selain adik kecil kakak" ucap Rafael.
Alina malu mendengar ucapan Rafael. Dia menahan senyumannya. Seakan hatinya berbunga-bunga mendapatkan pujian dari Rafael.
"Alina mampir dulu beli bubur sumsum itu" ucap Rafael.
"Iya Kak" ucap Alina.
Rafael dan Alina menghampiri penjual bubur sumsum. Mereka sarapan bubur sumsum ditepi jalan. Tiba-tiba Rafael dan Alina mendengar dua orang didepannya sedang berbicara sambil memperhatikan penjual bubur sumsum itu.
"Mir beli bubur sumsum yuk" ucap Nunung.
"Gak ah jorok, lihat tuh gerobaknya aja kotor, dekil, penjualnya aja bajunya kumel, bau keringet lagi, belum lagi lelet nyelayaninya" ucap Mirsa.
"Iya ya, geli. Bikin enek makannya. Heran deh kaya gitu kok jualan" ucap Nunung.
Mendengar itu Rafael merasa harus meluruskan pola pikir kedua gadis itu. Dia menghampiri kedua gadis itu.
"Maaf nona-nona" ucap Rafael.
Melihat lelaki didepan mereka begitu tampan, mereka langsung sok ramah.
"Iya kak" ucap Mirna dan Nunung.
"Tadi saya tak sengaja mendengar nona-nona sekalian membicarakan penjual bubur sumsum itu" ucap Rafael.
"Iya benar kak" ucap Mirna dan Nunung.
"Jika kalian tidak ingin membeli sebaiknya jangan membicarakan hal buruk tentang penjual dan barang dagangannya. Bagaimana jika ucapan kalian mempengaruhi pembeli lainnya hingga mereka mengurungkan niatnya untuk membeli bubur sumsum itu. Secara tidak langsung kalian sudah menutup rejeki bapak itu, yang seharusnya ada yang beli tapi ucapan kalian mempengaruhi pembeli lainnya. Lagi pula jangan menilai sesuatu hanya dari luar, mungkin saja yang kalian pikirkan itu salah. Ingat perkataan kita bisa merugikan orang lain secara tidak langsung" ucap Rafael.
Mereka berdua memikirkan kembali ucapannya. Apa yang dikatakan Rafael benar.
"Maafkan ucapan kami kak" ucap Nunung dan Mirsa.
"Lain kali lebih bijak lagi dalam berkomentar dan memberi kritik, sampaikan dengan baik pada orangnya jika itu tujuannya membangun. Jangan bicara sembarang tempat seperti ini, kasihan penjualnya beliau sudah susah payah berjualan dari pagi mungkin dari subuh ataupun dari malam untuk mempersiapkan semuanya. Jangan sampai ucapan kita mematikan pintu rejeki mereka" ucap Rafael.
"Iya kak, kami mengerti" ucap Mirna dan Nunung.
Rafael meninggalkan kedua gadis itu setelah bicara pada mereka berdua. Kemudian dia membayar bubur sumsumnya dengan uang 50 ribu.
"Nak tidak ada kembaliannya, anak berdua pembeli pertama kakek" ucap Kakek Hadir.
"Kalau begitu kembaliannya untuk kakek saja, saya ikhlas" ucap Rafael.
"Alhamdulillah, terimakasih nak" ucap Kakek Hadir.
"Sama-sama Kek" ucap Rafael.
Alina tersenyum dan matanya berkaca-kaca melihat kakaknya yang selalu baik pada siapapun. Dia sangat mengenal Rafael, kakaknya itu begitu lembut hatinya, mudah tersentuh dan sangat baik.
Rafael memegang tangan Alina mengajaknya berjalan menuju sepeda yang terparkir ditepi jalan. Mereka kembali bersepeda menuju sekolah Alina. Sampai disekolah, Rafael melambai saat Alina memasuki sekolahnya.
Alina berjalan dilorong kelas satu. Haura dan Deena tiba-tiba muncul menghampiri Alina.
"Asyik yang dianter sama kekasih hati" ucap Haura.
"Ah Haura, Kak Rafa itu kakakku" ucap Alina.
"Kakak ja...di kekasih nan..tinya" ucap Deena.
"Deena kamu dihasut Haura ya, jadi ikut-ikutan" ucap Alina.
__ADS_1
"Gak dong, udah jelas kok, tuh pipimu merah dari tadi" ucap Haura.
"Haura, kamu ya" ucap Alina.
"Cinta mah bilang aja jangan nunggu direbut orang" ucap Haura.
"Haura" ucap Alina kesal.
"Kalau gak mau buat aku aja Kak Rafanya, ganteng juga" ucap Haura.
Haura berjalan menjauh dari Alina.
"Huaraaa tungguuuu" ucap Alina.
"Dah Alina, Kak Rafa aku padamu" ucap Haura meledek Alina.
Alina mengejar Haura, dia mulai kesal. Tapi Haura berlari lebih kencang menjauh dari kejaran Alina. Sampai dia berlari ke kelas dua.
"Alina lelet....Kak Rafa buat aku aja" ucap Haura terus meledek Alina.
Alina tertinggal jauh. Haura terus berlari hingga menabrak seorang lelaki.
Bruuug........
Haura menjatuhi tubuh lelaki itu. Mata Haura menatap mata lelaki itu.
"Alvan" ucap Haura.
"Haura" ucap Alvan.
"Kita bertemu lagi ya, kau masih ganteng aja" ucap Haura.
"Benarkah?" ucap Alvan malu.
Beberapa siswa menyuraki mereka berdua yang masih saja berpelukan dilantai.
"Aaaaaa.....romantis" ucap semua siswa yang ada disitu.
"Ini kok roman-romannya kaya film tarzan mencari emaknya ya" ucap Kino.
"Bukan ini film tuyul mencintai kuntilanak" ucap Cepi.
"Salah, ini film Bu Guru mengajar Matematika" ucap Seno.
"Udah kalian ngarang semua, orang mereka lagi promo seblak Mak Ci" ucap Mimin.
Yang lainnya hanya geleng-geleng, temennya pada ngawur dan ngarang gak jelas dasar dan duduk perkaranya.
"Haura pegel, kamu sampai kapan begini?" tanya Alvan.
"Eh iya, sorry" ucap Haura.
Alvan membantu Haura bangun.
"Alvan" ucap Alina.
Alina dan Deena menghampiri Alvan dan Haura.
"Alina" ucap Alvan langsung menghampiri Alina.
"Kau memakai seragam, apa kau sekolah disini?" tanya Alina.
Alvan tidak menjawab tapi langsung menarik lengan Alina seperti biasa. Dia mengajak Alina mengikuti. Haura dan Deena ditinggalkan mereka berdua.
"Alvan mau kemana?" tanya Alina.
"Jajan dikantin, aku lapar" ucap Alvan.
"Tapi aku sudah sarapan" ucap Alina.
Alvan berhenti melangkah dan mendekati Alina.
"Aku tidak peduli, temani aku makan Alina" bisik Alvan ditelinga Alina.
"Kau sama menyebalkan seperti sebelumnya" ucap Alina.
"Tapi kau rindu tingkah menyebalkanku inikan" ucap Alvan.
"Gak" ucap Alina.
Alvan mendekati wajah Alina. Tapi Alina menundukkan wajahnya.
"Alvan jangan menggoda kakakku, mending sama aku aja ke kantinnya. Aku lapar, traktir aku" ucap Haura tiba-tiba menggandeng tangan Alvan membawanya menjauh dari Alina.
__ADS_1
Alvan ditarik Haura menuju kantin sekolah.
"Haura tunggu" ucap Alvan.
"Kenapa? kau suka saudara kembarku?" tanya Haura.
Alvan terdiam dengan ucapan Haura.
"Lawanmu tak mudah, kakaknya juga menyukainya. Jadi mending mundur aja" ucap Haura.
"Aku takkan menyerah untuk mendapatkan Alina" ucap Alvan.
"Oke, kalau gitu ayo makan aku lapar, cacing-cacing diperutku udah ngantri beras jatah nih" ucap Haura.
Alvan mencubit pipi Haura dengan tangannya.
"Oke gadis cerewet" ucap Alvan.
Alvan dan Haura pergi ke kantin sekolah. Mereka makan bakso berdua. Alvan dan Haura berlomba-lomba makan super pedas.
"Aku sudah teler, ini pedes banget" ucap Haura.
"Kau gak kira-kira, ini benar-benar pedas" ucap Alvan.
"Kau juga sembarangan menuang sambal dimangkukku" ucap Haura.
"Kau duluan yang menaruh sambal dimangkukku" ucap Alvan.
"Alvan beli permen" ucap Haura.
Alvan langsung membeli permen, mereka berdua mengunyah permen jeli bersamaan.
"Enak juga permen ini" ucap Alvan.
"Pasti kau tak pernah makan permen jeli kan?" tanya Haura.
"Belum, ini pertama kalinya aku makan permen jeli" ucap Alvan.
"Besok temani aku beli topi ya" ucap Haura.
"Ada upahnya tidak gadis cerewet?" tanya Alvan.
"Aku traktir baca koran seharian gimana?" tanya Alina.
Alvan kembali mencubit pipi Haura.
"Dasar gadis cerewet" ucap Alvan.
"Sakit tahu Alvan, volume pipiku nanti bertambah" ucap Haura melepas tangan Alvan yang mencubit pipinya.
"Udah tembem tuh dari sebelumnya" ucap Alvan.
"Aku gak tembem cuma imut" ucap Haura.
"Tembem" ucap Alvan.
"Imut" ucap Haura.
Haura langsung membalas Alvan, dia mencubit pipi Alvan.
"Aw....sakit tahu" ucap Alvan.
"Masa? kemarin kau terluka parah saja tidak mengeluh sakit tuh" ucap Haura.
"Itu karena tanganmu beracun" ucap Alvan.
"Huh...." ucap Haura.
Ting.....ting....ting......
Suara bel sekolah berbunyi.
"Bel masuk tuh" ucap Haura.
"Buruan cabut" ucap Alvan.
"Aw....perutku sakit" ucap Haura.
"Aduh....perutku juga sakit" ucap Alvan.
"Toilet I Love You" ucap Haura.
Haura beranjak dari kursi, dia berlari ke toilet begitupun Alvan dia berlari juga menuju toilet bersama Haura.
__ADS_1