Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Kembali Ke Titik Nol


__ADS_3

Masih Flash Back


Leo dan Zara kembali ke rumah mereka. Ketika sampai dirumah, Leo langsung mencari Erica. Kebetulan Erica sedang asyik tidur dikamar. Leo langsung membangunkan Erica dan bicara padanya dengan kemarahan yang sudah dipendamnya dari tadi. Dia benar-benar marah pada Erica. kakaknya itu tega sekali melakukan hal yang membuat istrinya dalam bahaya.


"Kak Erica kau keterlaluan, apa salahku padamu sampai kau tega menjadikan istriku pelunas hutang"ucap Leo sambil menggebu-gebu.


"Leo kakak terpaksa, Devan meminta kakak mengantarkan Zara padanya, kalau tidak dia akan menjual kakak pada germo"ucap Erica. Mencari alasan agar Leo tidak menyalahkan dirinya.


"Itu karena kakak berhutang padanya, Kak selama ini Leo sudah memberi uang pegangan untuk kakak, tapi kenapa kakak masih berhutang pada Devan, bahkan hutangnya sangat besar"ucap Leo.


"Leo kau tahu kebutuhan kakak banyak, uang pemberianmu tidak cukup"ucap Erica.


"Tidak cukup? kakak tahu betapa sulitnya mencari uang satu rupiah, Leo harus bekerja keras siang malam untuk mendapatkan uang dan kakak hanya bisa menghabiskannya begitu saja, bahkan bilang tidak cukup. Kak, jika hidupmu seperti ini terus kau takkan pernah bisa hidup diluar sana"ucap Leo. dia tak habis pikir kakaknya tak pernah menghargai pemberiannya dan bersyukur atas apa yang dimilikinya. Dia hanya bermalas-malasan dan menumpang hidup pada Leo dan Zara. Sekarang malah justru menyulitkan kehidupan Leo dan Zara dan memanfaatkan mereka tanpa sepengetahuannya.


"Kau masih kecil saja sombong sekali, mentang-mentang sudah punya pekerjaan. Lihat saja nanti aku akan hidup lebih baik dari kalian" ucap Erica mengancam Leo. Dia tidak terima adiknya memarahi dirinya atas kesalahannya. Rika merasa dirinya benar dan seharusnya Leo mendukungnya, mengerti keadaannya yang sedang dialami olehnya.


"Oya, buktikan. Leo ingin tahu seperti apa hidup kakak jika terus begini"ucap Leo. justru Leo malah menantang balik ucapan kakaknya. Bila ingin tahu seperti apa hidup kakaknya di luar sana tanpa Leo dan Zara. Apakah dia akan bisa hidup dengan baik atau justru malah menjadi gelandangan di luar sana.


"Kau mengusirku Leo?"tanya Erica.


"Aku masih bisa memaafkan kesalahan kakak karena berhutang pada Devan tapi aku tidak bisa memaafkan apa yang sudah kakak lakukan pada Zara"ucap Leo. Apa yang sudah dilakukan Erika pada Zara sudah sangat keterlaluan. kalau hanya masalah uang Leo masih bisa memaafkan tapi apa yang dilakukannya sudah menyangkut Zara orang yang paling dia cintai.


"Benar-benar kau lebih memilih wanita itu daripada kakakmu sendiri"ucap Erica. Dia tidak terima adiknya lebih memilih istrinya daripada kakaknya.


"Bagi Leo, Zara itu hidup Leo, jika ada orang yang akan menyakitinya maka Leo takkan membiarkan itu terjadi. Walaupun kakak adalah kakakku jika kau menyakiti Zara, aku tidak bisa memaafkan perbuatanmu begitu saja"ucap Leo.


"Oh, kau mau membalas perbuatanku, silahkan!" ucap Erica.


"Besok pagi kakak boleh keluar dari rumah ini, ini uang untuk pegangan selama satu bulan. Setelah ini pikirkan sendiri cara untuk memenuhi kebutuhanmu selanjutnya"ucap Leo sambil menyodorkan amplop pada Erica. Mungkin dengan begitu Erika akan bisa lebih mandiri dan memikirkan bagaimana masa depan hidupnya di luar sana. Tidak terus-terusan menjadi benalu dan parasit untuk orang lain.


Erica langsung mengambil amplop yang diberikan Leo. Dia terlihat kesal tak peduli dengan ucapan Leo.


"Tidak masalah aku tidak boleh tinggal disini asalkan kau bayar tunggakan hutang perusahaan kita"ucap Erica.


Erica mengambil surat peringatan dari bank dan memberikannya pada Leo.


"Asal kau tahu hutang perusahaan milik Papa masih 2 Milyar lagi"ucap Erica.


"Apa? hutang perusahaan masih 2 milyar lagi" ucap Leo. Dia terkejut ternyata perusahaan papanya masih memiliki hutang 2 miliar di bank. Erica benar-benar sudah membuat semuanya semakin sulit.


"Sekarang kau bayar tunggakan hutang itu, kakak tidak mau ikut campur lagi"ucap Erica.


Leo hanya diam melihat surat peringatan dari bank itu. Tubuhnya terasa lemas dan lemah. Dia harus memikirkan cara bagaimana melunasi hutang sebanyak 2 Miliar. Yang Leo sendiri sebenarnya tidak ikut memakai uang tersebut. Namun sebagai seorang anak dari pemilik perusahaan Leo harus ikut bertanggung jawab atas hutang yang ada.


"Sepertinya kakak tak perlu pergi besok pagi, malam ini juga kakak akan meninggalkan rumahmu, selamat tinggal Leo"ucap Erica. Dia merasa sudah tidak nyaman lagi tinggal bersama Leo. Lebih baik meninggalkan rumah yang dianggap hanya seperti gubuk reot.


Erica membereskan bajunya kemudian keluar dari kamar itu. Saat dia melihat Zara berada diluar kamar itu, Erica langsung berbicara padanya.


"Oya Zara, kakak memang sengaja mengantarkan mu ke ranjang Devan sebagai pelunas hutang, dan aku tidak akan pernah minta maaf untuk itu" ucap Erica. Dia tidak merasa bersalah atas kesalahannya pada adik iparnya itu. Itu terlihat senang dengan perbuatan yang sudah dilakukan padanya.


"Aku sudah memaafkanmu Kak"ucap Zara.


"Aku tidak peduli, selamat tinggal"ucap Erica.


Erica keluar dari rumah Leo dan Zara dengan senyuman sinisnya. Dia tak peduli dengan hutang yang harus dibayar Leo. Baginya sekarang dia bebas dari jeratan hutang. Biar Leo yang harus pusing memikirkan bagaimana caranya melunasi hutang 2 Miliar itu.


Zara masuk ke dalam kamar, dia melihat Leo sedang duduk diranjang sambil memegang sebuah kertas. Zara menghampirinya dan duduk disamping Leo. Mengusap bahu nya.


"Leo apa yang terjadi?"tanya Zara.


Leo langsung memeluk Zara, saat ini dia butuh kehangatan Zara untuk menenangkan pikirannya. Hanya Zahra tempatnya mengadu dan berkeluh kesah selain Allah SWT. Wanita yang selalu ada di sisi Leo baik suka maupun duka.


"Zara entah apa yang terjadi jika aku tidak memilikimu"ucap Leo sambil menyandarkan kepalanya dibahu Zara. Dikepalanya dipenuhi banyak masalah yang membuat hatinya begitu sesak dan penat.


"Leo kalau ada masalah berbagilah dengan Zara, kitakan selalu berbagi semua hal baik suka ataupun duka, Zara akan selalu ada disamping Leo"ucap Zara.


"Hik....hik......"Leo menangis.


Kali ini Leo benar-benar menangis, hutang yang begitu besar sepertinya akan mengambil semua yang telah dicapai Leo. Hatinya begitu hancur bukan karena takut kehilangan harta tapi karirnya akan hancur, Leo tidak akan bisa lagi berkarir seperti sebelumnya. Semuanya harus hilang hanya demi melunasi hutang yang cukup besar itu.


Leo melepas pelukannya lalu tidur dipangkuan Zara.


"Zara, besok Leo akan menjual kantor kita, rumah kita dan semua yang kita miliki untuk membayar hutang yang ditinggalkan perusahaan milik papa dan hutang Kak Erica pada Devan"ucap Leo.


"Tidak apa-apa Leo, Zara akan selalu mendukung keputusanmu kalau memang itu jalan yang terbaik untuk kita. Zara juga akan menjual kedai kopi kita untuk membantu membayar hutang itu" ucap Zara. dia akan berada di barisan depan untuk mendukung apapun itu. Bagi Zahra punya atau tidak memiliki apapun yang penting bersama Leo, susah senang bersama melewati apapun.


"Apa kau tidak masalah jika kita nanti hidup seperti dulu lagi?"tanya Leo. Dia ingin memastikan bagaimana tanggapan Zara jika seandainya mereka harus hidup seperti dulu lagi.


"Yang terpenting Zara bisa bersama Leo, kesulitan apapun pasti kita bisa melewatinya bersama seperti dulu"ucap Zara. Baik dulu dan sekarang sama saja yang penting mereka bisa bersama melewati semuanya.


"Terimakasih Zara sayang, kau memang matahari dihidupku"ucap Leo.

__ADS_1


Leo bangun dari pangkuan Zara lalu mencium bibir cantiknya. Mereka menumpahkan semua kesedihan itu dengan berbagi kasih sayang dalam indahnya cinta dimalam itu. Heningnya malam dan suasana yang sepi membuat dua penyatuan cinta itu semakin membara. Kerinduan yang terpendam membuat mereka hanyut dalam gelora asmara yang memabukkan. Sesaat semua masalah itu terlupakan hanya tinggal kehangatan dan cinta yang tersisa dimalam yang panjang. Leo tak hentinya menatap wajah cantik Zara yang selalu ingin dilihatnya saat dia membuka mata. Zara hanya tersenyum dan merasakan kehangatan cinta yang diberikan Leo padanya. Indahnya malam itu membuat mereka semakin yakin akan cinta yang tulus dan terus tumbuh dihati mereka. Setelah lelah mereka beristirahat, Leo terus memeluk Zara hingga mereka tertidur pulas.


***


Dua Minggu Kemudian


Leo sudah melunasi semua hutangnya pada bank maupun pada Devan. Dia kini sudah tidak memiliki apapun lagi. Leo juga memberi pesangon pada Harun, Gerald dan Didi walaupun mereka tadinya tak mau menerimanya. Tapi Leo tetap meminta mereka untuk menerimanya untuk modal usaha untuk mereka. Leo dan Zara menyewa sebuah kontrakan tiga petak untuk tempat tinggal mereka.


"Zara mulai hari ini kita akan tinggal disini, tidak apa-apakan sayang?"tanya Leo.


"Bukannya ini malah menyenangkan Leo, kita bisa nostalgiaan kenangan kita dulu saat baru menikah"jawab Zara. dia jadi teringat saat masa-masa dulu bersama Leo tinggal di kosan. masa-masa Indah meskipun sulit. Penuh kenangan dan pelajaran untuk mereka berdua. Di mana cinta dan pernikahan mereka diuji dari hal yang terkecil sekalipun.


"Benar juga ya, ingat dulu kita sampai jarang sarapan, tiap hari mencari kerja menelusuri jalan raya"ucap Leo. Teringat masa-masa sulit bersama Zahra mereka jarang sarapan dan selalu jalan kaki bersama setiap berangkat dan pulang sekolah.


"Kalau begitu ayo kita lakukan lagi, bukannya kita sudah tak punya uangkan"ucap Zara menentang Leo dengan semangatnya. Tidak masalah seperti apa mereka sekarang yang penting mereka bisa melewatinya seperti dulu.


"Kau benar Zara sayang, ayo kita mengulang semuanya dari awal"ucap Leo. dia mulai bersemangat karena Zara memberinya semangat yang utama. hadirnya cara membuat hidup lebih sempurna. Meskipun pun mereka harus hidup sulit kembali.


"Semangat"ucap Zara.


"Semangat"ucap Leo.


Mereka tersenyum meskipun kini harus kembali dari awal lagi. Menelusuri jalan dan menawarkan jasa untuk mencari pekerjaan baru untuk mereka.


Setelah seharian mereka berjalan akhirnya Leo dan Zara istirahat dibawah pohon ditepi jalan.


"Zara, Leo mendapat pekerjaan jadi kuli bangunan disebuah proyek pembangunan perumahan elit"ucap Leo.


"Bukannya jadi kuli bangunan itu pekerjaan yang cukup berat ya Leo?"tanya Zara.


"Iya, tapi tidak ada salahnya mencoba dulu siapa tahu Leo mendapat pengalaman baru dan yang penting ini pekerjaan yang halal"ucap Leo.


"Leo benar, apapun pekerjaannya yang penting halal"ucap Zara.


"Zara sepertinya kuliahnya Leo harus dipindah ke kelas karyawan saja. Pekerjaan Leo sekarang harus bekerja dari pagi sampai sore, belum lagi kalau ada lembur bisa sampai malam. Tapi tadi Leo sudah bilang pada mandornya kalau Leo minta izin Sabtu dan Minggu untuk kuliah"ucap Leo.


"Kalau itu sudah keputusan Leo, Zara akan selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk Leo"ucap Zara.


"Leo, tadi Zara juga diterima kerja"ucap Zara.


"Kerja apa Zara?"tanya Leo.


"Wah, nanti Zara jadi spesialis pembuat martabak spesial yang paling enak"ucap Leo.


"Benar juga, selain dapat kerja, Zara juga bisa belajar dan mendapat ilmu cara membuat martabak ya"ucap Zara.


Leo langsung mengelus kepala Zara sebagai tanda kasih sayangnya.


"Zara terimakasih, disaat sulit seperti ini kau tetap tersenyum dan optimis untuk terus bersama Leo melewati semuanya"ucap Leo.


"Keadaan sesulit apapun Zara akan tetap bersama Leo, tak peduli banyak air mata ataupun penderitaan, yang penting kita selalu bersama" ucap Zara.


Mereka yakin kesulitan apapun akan bisa dilewati jika terus bersama. Tidak ada yang lebih berharga dari sebuah cinta dan kebersamaan yang tidak bisa mereka dapatkan ditempat lain.


************


Leo mulai bekerja diproyek pembangunan perumahan elit itu. Dia mulai mengangkat batu bata, kerikil, semen, keramik, dan material bangunan lainnya. Beberapa seniornya terus memberikan tugas kepadanya. Leo tetap berusaha mengikuti perintah seniornya.


"Rasanya pekerjaan ini berat sekali, punggung Leo rasanya mau patah, lelah sekali"ucap Leo dalam hatinya.


Leo beristirahat sebentar dengan duduk disamping tumpukan batu bata itu. Dua orang seniornya datang dan memarahi Leo.


"Hei anak baru, bukannya kerja malah enak-enakkan duduk"ucap Totok.


"Mau makan gaji buta Lo"ucap Asep.


"Gak bang, cuma istirahat sebentar ngatur nafas" ucap Leo.


"Lo niat kerja gak sih? kalau masih mau kerja buruan angkat batu batanya kesana"ucap Totok.


"Baik bang"ucap Leo.


"Sekalian keramik dan catnya bawa ke gang belakang yang udah selesai pembangunannya" ucap Asep.


"Maaf bang, itu bukannya bagian Abang, Leo hanya ditugaskan mengangkat batu bata, semen, kerikil dan membantu tukang yang ada digang ini"ucap Leo.


"Lo masih baru sudah berani membantah perintah seniormu"ucap Totok.


"Kalau Leo mengerjakan tugas Abang juga terus kapan istirahatnya"tanya Leo.


"Lo atur sendirilah masa tanya ma gue"ucap Asep.

__ADS_1


"Kalau Lo gak nurut gue laporin ke mandor, kerjaan Lo gak bener, bau tahu rasa"ucap Totok.


Leo hanya diam, dia bukannya tak berani melawan tapi dia baru saja mendapat pekerjaan, dia tak mau mencari masalah. Akhirnya Leo mengerjakan tugas yang diberikan Asep padanya.


"Harusnya aku istirahat, mau gak mau masih kerja. Sabar Leo, semua pasti bisa dilewati"ucap Leo menyemangati dirinya sendiri.


Setelah menyelesaikan setengat pekerjaan milik Asep, Leo pergi ke toilet untuk wudhu. Kemudian dia mencari tempat untuk sholat. Leo tak sengaja mendengar seseorang melantunkan ayat suci Al Qur'an begitu merdu dari ruangan kamar yang belum selesai itu. Leo mengintip dari jendela kamar itu.


"Masya Allah, disaat seperti itu Beliau menyempatkan melantunkan ayat suci Al Qur'an, Leo jadi malu ternyata Leo masih banyak kekurangannya. Mungkin ujian hari ini untuk mengingatkan pada Leo, sebagai manusia kita selalu ingin diperhatikan oleh Allah SWT sementara kita sendiri sering melupakanNya tak jarang sibuk dengan kegiatan sehari-hari"ucap Leo.


Kemudian Leo meninggalkan tempat itu dan mencari tempat untuk sholat. Selesai sholat, Leo pergi untuk makan. Dia mau mengambil ransel miliknya untuk mengambil bekal makannya yang dibuatkan Zara tadi pagi, ternyata bekalnya hilang. Leo tidak tahu siapa yang mengambil bekal makan miliknya. Dia akhirnya mengikhlaskannya dan minum air putih yang banyak agar perutnya kenyang. Ketika Leo berjalan menuju ke dalam rumah yang sedang dibangun, dia melihat kotak bekalnya sedang dimakan oleh Asep dan Totok.


"Itu bukannya bekal milikku"ucap Leo.


"Heh anak baru, jangan asal nuduh, ini bekal yang dibawakan istriku"ucap Asep.


"Kotak makannya gambar bebek dan berwarna biru, sama seperti kotak makan milikku"ucap Leo.


"Memangnya cuma kamu doang yang punya kotak makan seperti ini"ucap Asep.


"Anak baru, Lo jangan belagu ya, baru juga kerja sehari udah berani sama kita"ucap Karjo.


"Dari tadi pagi anak baru ini nyari masalah, mau kita kasih pelajaran apa"ucap Wawan.


"Ini tempat untuk bekerja, bukan tempat adu mulut, jam istirahat selesai, kembali bekerja" ucap Pak Baron yang berjalan melewati mereka kemudian keluar dari ruangan itu.


Semuanya diam saat Pak Baron melewati mereka. Leo melihat semua orang yang berada diruangan itu takut pada Pak Baron. Lalu dia mendengarkan pembicaraan seniornya.


"Untung dia cuma lewat aja"ucap Asep.


"Baru ngomong aja udah serem ya"ucap Totok.


"Orang bilang dia itu mantan napi, anggota gengster lagi"ucap Karjo.


"Wajahnya sangar, badannya kekar, penuh tato lagi, belum lagi bekas luka sayatannya bikin yang ngeliatnya doang aja udah takut"ucap Juki.


Leo tahu sekarang kenapa mereka takut pada Pak Baron.


"Memang sih kalau dilihat sekilas Pak Baron sangat menakkutkan tapi dia terlihat menyendiri dan dia tadi juga melantunkan ayat suci Al Qur'an saat jam istirahat tadi, benar-benar orang yang misterius"ucap Leo dalam hatinya.


Leo kembali bekerja mengangkat batu bata dan semen bersama rekan kerjanya yang lain. Hari ini menjadi hari yang sangat melelahkan untuk Leo.


Tapi dia tetap semangat menjalani semuanya.


***********


Leo kerja lembur sampai larut malam. Dia benar-benar kelelahan. Tapi wajah Zara selalu terlihat dipikirannya membuat Leo semangat.


Setelah pekerjaannya selesai, Leo pulang ke kontrakkannya. Zara langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan dan ciuman. Leo yang tadinya lelah, rasanya hilang seketika. Berganti kehangatan dan semangat untuk bersama Zara bercanda tawa dan berbagi cerita seharian ini. Leo mandi, berganti pakaian dan berbaring diranjang bersama Zara.


"Zara sayang gimana pekerjaanmu hari ini?"tanya Leo.


"Menyenangkan, Zara jadi bisa belajar membuat martabak. Nanti kapan-kapan kalau libur Zara buatkan martabak untuk Leo ya"ucap Zara.


"Asyik martabak buatan istri tercinta pasti enak" ucap Leo.


"Terus pekerjaan Leo gimana?"tanya Zara.


"Sedikit ada masalah, Leo dikerjain sama senior, biasa pekerjaan jadi bertambah dan bekal yang Zara bawakan tadi pagi diambil mereka"ucap Leo.


"Tega sekali mereka Leo"ucap Zara.


"Gak papa Zara, biar mental Leo semakin matang, jadi nanti Leo bisa jadi pengusaha yang hebat"ucap Leo.


"Amin"ucap Zara.


"A........aduh........"ucap Leo meringis kesakitan.


"Kenapa Leo?"tanya Zara.


"Pundak Leo pegel dan sakit rasanya dari tadi buat ngangkut semen"ucap Leo.


"Coba liat"ucap Zara.


Zara mengecek pundak Leo, dia melihat pundak Leo merah.


"Zara olesin balsem ya?"tanya Zara.


"Boleh, mungkin enakkan kalau yang ngoles balsemnya Zara"ucap Leo.


Zara mengolesi pundak Leo dengan balsem, dia tahu betapa berat pekerjaan Leo yang sekarang. Zara bangga mempunyai Leo, yang selalu bekerja keras dan terus berusaha.

__ADS_1


__ADS_2