
Bluuuuuug ....
"Aw ...."Alina terjatuh dilantai.
"Ha ... ha ... ha ..."tawa teman sekelasnya melihat Alina terjatuh.
Alina berada di tengah kerumunan teman-teman di kelasnya. Dia satu-satunya gadis berhijab di SMA Langit Biru. Di masa itu kebenaran bagai jarum dalam jerami. Dimana kejahatan merajalela, kemaksiatan tumbuh subur, dan menjadi orang yang benar itu sulit.
"Alina ... Alina ... sok alim sih, mau jadi ustadzah jangan disini"ucap Maya yang berdiri diatasnya.
Beberapa siswa melemparinya apa saja. Baik itu pensil, buku tulis, penghapus, spidol dan alat tulis lainnya.
Pluuuuk ... pluuuuuk ... pluuuuk ...
Alina hanya menahan sakit dan menundukkan kepalanya. Sudah biasa baginya jadi bulan-bulanan temannya karena mengingatkan mereka pada hal yang baik.
"Makanya lain kali jangan ikut campur urusan kita"ucap Zoya.
"Udah, hakimin aja dia"ucap Keyla.
"Hakimin....hakimin.......hakimin........"teriak teman sekelasnya.
Maya, Zoya dan Keyla membawa telur, cat warna, dan air comberan. Mereka menghampiri Alina.
"Nih hadiah untukmu sebelum pulang"ucap Maya memecahkan telur tepat di atas kepala Alina.
Pluuuuk.................
Telur itu jatuh di atas hijabnya mengalir ke segala arah.
"Cat warna ini akan menyadarkanmu hidup ini begitu indah, jangan naif"ucap Zoya sambil menuangkan cat warna dalam kaleng berukuran sedang ke atas hijab Alina.
Byuuuuuur..................
Cat warna itu membasahi hijab putih itu hingga berwarna warni.
"Penutup, air comberan ini akan membuatmu gak lagi sok suci"ucap Keyla hendak menuangkan air comberan diatas hijab Alina.
"Stop!!!!!"ucap Alvan berteriak dari pintu ruangan kelas itu.
Seorang lelaki tampan, berkulit putih, hidung mancung, rambut panjang dikuncir sedikit di belakang mengenakan jaket hitam berjalan memasuki kelas itu. Dia melewati kerumunan siswa lalu menghampiri Alina yang duduk ditengah kerumunan. Alvan membantu Alina untuk berdiri.
"Hijabmu kotor, kasihan....., mereka tega sekali. Sini ku bantu bersihkan"ucap Alvan memegang hijab Alina hendak melepasnya.
"Hijab bagi seorang muslim adalah jati dirinya, aku takkan membiarkan satu tanganpun melepas hijabku"ucap Alina menahan tangan Alvan.
Alvin langsung mendorong Alina hingga terjatuh di lantai.
Bluuuuug...............
"Aw...................."ucap Alina kesakitan saat terjatuh.
"Mulai sekarang kau akan jadi mainanku, Alina" ucap Alvan.
Prooook.........prooook......prooook............
Semua siswa bertepuk tangan melihat Alvan mendorong Alina. Mereka merasa melihat sebuah tontonan yang menyenangkan. Alina tidak menyangka lelaki bernama Alvan datang bukan untuk menolongnya tapi menjadikan Alina mainannya. Semua siswa pulang setelah puas membulli Alina. Tinggal Alina sendirian di dalam kelas. Dia duduk di sudut kelas sambil menangis.
"Ya Allah berikan aku kesabaran untuk menghadapi semua ini hik....hik....hik......"ucap Alina menengadahkan tangannya untuk berdoa pada Sang Pencipta Allah SWT.
Sebelum pulang Alina membersihkan diri di toilet.
Dia selalu membawa baju ganti setiap ke sekolah karena hal semacam ini sudah biasa terjadi padanya. Alina sering jadi bahan bulan-bulanan karena mengingatkan teman-temannya untuk melakukan hal yang baik tapi bukannya mereka senang diingatkan justru timbal baliknya Alina jadi bahan bullian mereka semua. Walaupun begitu Alina tak pernah gentar.
*************
__ADS_1
Alina Clemira seorang gadis muslim yang diadopsi keluarga nasrani dari masih bayi. Pak Chirstian dan Ibu Jesica mengadopsi Alina dari Panti Asuhan Buah Hati Bunda. Mereka sengaja memilih Alina karena sudah menyukainya sejak melihat Alina pertama kalinya. Mereka tidak mempermasalahkan agama yang dianut Alina berbeda dengan mereka karena mereka tahu Alina putri seorang ustadz dan ustadzah yang meninggal karena kecelakaan.
Alina memiliki seorang kakak laki-laki yang begitu menyayanginya bernama Rafael Stefanus. Rafael sama seperti Alina dia juga diadopsi Pak Christian dan Ibu Jesica dari masih bayi. Bedanya Rafael menganut agama yang sama dengan Pak Christian dan Ibu Jesica. Meskipun begitu Rafael sangat mengerti aturan dalam beragama islam. Bahkan dia selalu mengingatkan Alina sholat, mengantar Alina mengaji dan membangunkan Alina saat dia ingin berpuasa.
Pak Christian dan Ibu Jesica begitu menyayangi kedua buah hati yang mereka adopsi dari panti asuhan. Mereka juga mencarikan Alina guru mengaji dan selalu memasak masakan halal untuk Alina yang seorang muslim.
Alina keluar dari sekolahnya. Rafael sudah berdiri di depan tugu sekolah melambai ke arah Alina.
"Adik kecil........."ucap Rafael memanggil Alina.
"Kak Rafa........"ucap Alina.
Alina menghampiri kakaknya Rafael yang berdiri di tugu sekolah itu. Rafael memegang sepeda didepannya.
"Ayo naik kamu pasti lapar, kakak masak ayam panggang madu kesukaanmu"ucap Rafael.
"Alhamdulillah, aku laper Kak"ucap Alina manja pada Rafael.
"Yaudah ayo pulang adik kecil"ucap Rafael.
Alina membonceng dibelakang sepeda sementara Rafael mengayuh sepeda menuju ke rumah mereka.
Rumah Pak Chirtian dan Ibu Jesica sederhana. Rumah itu sudah ditempati mereka dari baru menikah hingga sekarang. Pak Chirstian dan Ibu Jesica baru saja meninggal satu minggu lalu setelah kecelakaan di jalan raya. Kini tinggal Alina dan Rafael yang tinggal di rumah itu.
Sampai di depan rumah Alina turun dari sepeda, dia langsung berlari melihat tanaman bunga di teras rumahnya.
"Kak Rafa bunganya mekar ya"ucap Alina.
"Iya adik kecil"ucap Rafael yang menghampiri Alina.
"Kak Rafa tadi kuliah?"tanya Alina.
"Iya dong, sekolah itu penting. Nah sekarang makan dulu ya"ucap Rafael.
"Siap Bos"ucap Alina tersenyum pada Rafael.
"Ayah, ibu, Alina kangen......Alina tidak lupa sholat, mengaji dan puasa. Kalian tak perlu mengingatkan Alina lagi, Alina janji akan melakukannya dengan baik. I Love You Ayah, Ibu"batin Alina.
"Bengong, makan sana nanti ayam panggangnya dimakan si Manis"ucap Rafael.
Si Manis adalah kucing kesayangan Alina hadiah dari Pak Christian dan Ibu Jesica.
"Eh iya Kak, si Manis harus ku beri makan juga"ucap Alina.
Alina berlari ke ruang makan duduk dan mulai makan. Rafael menghampirinya dan duduk disampingnya.
"Berdoa dulu sebelum makan"ucap Rafael.
"Makasih Kak Rafa selalu ngingetin"ucap Alina.
Alina berdoa sebelum makan lalu dia memakan semua makanan yang di masak Rafael.
"Alhamdulillah kenyang, masakan Kak Rafa memang juara"ucap Alina.
"Iya dong, kakak"ucap Rafael.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu.
Tuk......tuk.......tuk.........
"Selamat siang"ucap Seseorang dari luar.
"Alina kakak lihat dulu ya siapa yang mengetuk pintu"ucap Rafael.
"Iya Kak"ucap Alina.
__ADS_1
Rafael pergi ke ruang tamu, dia membuka pintu rumah itu.
"Selamat siang"ucap Pak Dedi pihak bank.
"Siang"ucap Rafael.
"Ini kediaman Pak Christian?"tanya Pak Dedi.
"Iya Pak"ucap Rafael.
"Ini surat penyitaan rumah dari bank"ucap Pak Dedi memberikan surat itu pada Rafael.
Rafael menerima surat itu dan membacanya.
"Pak maaf, bukannya ada surat peringatan terlebih dahulu?"tanya Rafael.
"Sudah beberapa minggu lalu waktu almarhum masih ada"ucap Pak Dedi.
"Oh begitu ya"ucap Rafael.
"Mohon segera kosongkan rumah ini, paling lambat besok pagi rumah ini sudah harus kosong"ucap Pak Dedi.
"Baik Pak terimakasih"ucap Rafael.
"Iya sama-sama"ucap Pak Dedi.
Pak Dedi pergi setelah menyampaikan surat itu.
Rafael terdiam, dia tahu pinjaman ke bank itu untuk usaha ayahnya bersama temannya. Tapi ternyata temannya berkhinat menipu Pak Christian. Hingga mereka kesulitan membayar hutang. Terpaksa mereka pinjam uang ke bank itupun tanpa di asuransikan.
"Aku harus pergi dari rumah ini bersama adik kecilku"ucap Rafael.
Rafael menghampiri Alina yang sedang duduk di ruang makan sambil mengelus si Manis yang duduk di pangkuannya, dia duduk disamping Alina.
"Alina ada yang kakak ingin bicarakan"ucap Rafael.
"Apa Kak?"tanya Alina.
"Kita harus pergi dari rumah ini"ucap Rafael.
"Baik Kak"ucap Alina.
"Apa kau tidak masalah soal itu?"tanya Rafael.
"Tidak Kak, asal bersama kakak tinggal dimanapun Insya Allah nyaman"ucap Alina.
Rafael langsung mengelus kepala Alina dan tersenyum padanya.
"Kakak akan bekerja keras untuk membahagiakanmu adik kecil"ucap Rafael sambil meneteskan air matanya.
Alina menghapus air mata Rafael yang menetes di pipinya.
"Aku sayang kakak"ucap Alina.
"Kakak lebih menyayangimu adik kecil"ucap Rafael.
Akhirnya sore itu Alina dan Rafael keluar dari rumah itu, mereka berhenti sebentar dihalaman rumah itu.
"Sudah 20 tahun kakak tinggal di rumah ini, banyak kenangan indah yang terukir di rumah ini. Ayah, Ibu, mereka berdua sudah membesarkan kita dengan cinta dan kasih sayang yang tulus"ucap Rafael.
"Iya Kak, Alina masih ingat saat Ayah dan Ibu mengantar Alina masuk TK Islam, mereka mengantar Alina sampai masuk ke dalam kelas karena Alina nangis gak mau di tinggal"ucap Alina.
"Kenangan itu akan selalu kita ingat bersama, ayo Alina kita wujudkan mimpi kita bersama biar Ayah dan Ibu bangga"ucap Rafael.
"Iya Kak, semangat!"ucap Alina.
__ADS_1
Alina memberi senyuman pada Rafael kakaknya. Senyuman yang selalu membuat Rafael semangat menjalani setiap harinya. Bagi Rafael kebahagiaan Alina nomor satu. Dia tidak bisa melihat Alina bersedih. Apapun akan dilakukan untuk membahagiakan Alina adik kecilnya.