Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 41


__ADS_3

Pagi itu aku dan Raina sama-sama berangkat sekolah. Untuk mendekati Axel, Raina harus lebih intens. Dia harus punya keberanian yang berbeda dari biasanya. Meluluhkan hati seorang lelaki tak semudah meluluhkan hati wanita. Butuh kerja keras dan pantang menyerah. Tahu sendiri Axel cool banget. Susah didekati sembarang cewek. Terkesan menghindar.


Aku dan Raina sudah memutuskan agar Raina pindah ke sekolah Axel. Semua itu agar Raina lebih mudah mendekati Axel.


Bel berbunyi semua siswa masuk ke dalam kelas. Aku juga masuk ke kelas. Duduk bersama Ami.


"Aara kalau gigi bolong sumpelin bakwan ya biar gak sakit," ujar Ami.


"Bakwan biasa, paling sakit lagi," balasku.


"Terus sumpelin apa? sumpelin cabe setan bakal sembuh gak?" tanya Ami.


"Kurang membuat kumannya menderita dan sengsara," ujarku.


"Terus disumpeklin pakai apa? kata nenek sumpelin aja pakai obat anti nyeri beres," ucap Ami.


"Boleh juga tapi ada cara simple yang gak perlu ke luar duit," ujarku.


"Apa?" tanya Ami.


"Sumpelin aja pakai bratawali, dijamin getir seharian, atau bawang putih," ujarku.


"Pahit dong," ucap Ami.


"Ini hanya sekedar saran," kataku.


Dodo tiba-tiba menoleh ke belakang.


"Sumpelin aja tai kambing beres, dijamin lupa sakit fokus ke tai yang ada di mulut," ujar Dodo.


"Ide cemerlang Do, sakit hilang, jijik iya," ujarku.


"Gitu ya, kalau pakai tai kambing lupa sakit tapi fokus ke jijik gara-gara tai kambing lumer di mulut," kata Ami.


Aku dan Dodo mengangguk. Dasar kita berdua emang konyol. Solusi gigi sakit aja super nyeleneh. Untung gak disuruh disumpelin pakai duit seratus ribu, nangis semalaman Ami lupa kalau lagi sakit, mikirin sayang duit bisa buat beli kepala ikan asin buat satu bulan.


Tak lama guru masuk ke dalam membawa Raina.


Melihat itu Axel terkejut. Ada Raina di dalam kelas.


"Raina," ucap Axel pelan.


"Cantik," ucap Blue, Bruno dan Grey.


"Pacar gue dateng tuh," ucap Blue.


"Enak aja, gebetan gue tahu," timpal Grey.


"Jodoh yang dikirim Allah sudah datang," ujar Bruno.


Axel terdiam. Kesal juga teman-temannya mengakui Raina sebagai pacar mereka, padahal Raina istrinya.

__ADS_1


"Cewe, seandainya bumi dan langit bisa bersatu, aku akan mendekapmu erat, melindungimu dari hantaman batu angkasa dan hujan meteor," ujar Dodo.


"Huh." Sorak teman sekelas.


Ami langsung mencubit Dodo.


"Aw ..., sakit Mi," ujar Dodo.


"Giliran ulangan aja nol, sekarang gaya-gayaan pinter merangkai kata, otak masih waras Bos?" tanya Ami.


"Kalau lihat yang cakep, mulut langsung aktif, gak perlu diarahin apalagi mesti mikir," ujar Dodo.


Aku dan Ami geleng-geleng. Dodo-Dodo bisa aja. Dia belum tahu aja Raina bininya Axel. Patah hati berabad-abad nantinya. Kasihan siapa coba yang ngurusin kambing bapaknya, giginya gak kuning lagi gara-gara rajin gosok gigi.


"Anak-anak kenalkan ini siswa baru di kelas ini, namanya Raina Humaira," ujar Pak Yusuf guru kimia.


"Hai Raina," sapa kami semua.


"Hai, selamat pagi, senang bertemu dengan kalian semua," sapa Raina.


Pak Yusuf meminta Raina memperkenalkan diri lengkap dengan biodatanya. Setelah itu siswa diperbolehkan bertanya.


"Silahkan yang masih penasaran, boleh bertanya," ujar Pak Yusuf.


Satu per satu siswa bertanya dari hobi sampai tagihan listrik di rumah Raina. Ngapain coba tanya tagihan listrik segala. Kenapa gak nanyain pengen punya pacar berapa, dan suami berapa?


"Raina abang siap jadi calon suami idaman dunia akhirat," ujar Grey.


"Huh." Sorak teman-teman.


Grey hanya tersenyum malu. Anak-anak kembali bertanya.


"Luas langit berapa?" tanya Bruno.


"Apa?" Semua siswa di kelas terkejut dengan pertanyaan Bruno.


"Luasnya tak terhingga," jawab Raina.


"Begitulah cintaku yang luasnya tak terhingga," ujar Bruno.


"Huh. Sorak teman-teman.


"Raina berapa kali kau membuang upil sehari?" tanya Blue.


"Upil?" Kami semua terkejut.


"Kurasa si Bruno mengoleksi upil tuh," ujar Dodo.


"Bukan, buat ngepel sama nasi anget di pagi hari, lumayan asin-asin gitu," ujar Ami.


"Kok tahu?" tanyaku.

__ADS_1


"Kadang-kadang kalau ikan asin abis, aku juga gitu," jawab Ami.


"Iiih ...," ucapku dan Dodo jijik mendengar ucapan Ami.


Raina mulai memikirkan pertanyaan Blue. Dia mulai menghitung berapa kali ngupil sehari.


"Kenapa kau tanya hal sekecil itu, malu," ujar Raina.


"Karena sebagai calonmu, aku harus tahu semua tentangmu, termasuk hal sekecil itu," jawab Blue.


"Huh." Sorak teman-teman.


Raina meringis. Tersenyum malu.


"Sudah-sudah, pelajaran akan dimulai, Raina silahkan duduk di bangku kosong ya," saran Pak Yusuf.


"Baik Pak," jawab Raina.


"Yah si Dodo untung gede dong," ujar Blue.


"Dia pasti sudah beramal salih dikehidupan nelangsanya sebelumnya," ucap Grey.


"Pasti pelet mbah dukun udah ke level pedas ke sepuluh," ujar Bruno.


Teman-teman bersorak. Tak terima si cantik Raina duduk dengan Dodo.


"Alhamdulillah rejeki anak sholeh, gak sia-sia gak gosok gigi beberapa purnama ini," ujar Dodo.


Aku dan Ami geleng-geleng.


Segera Raina berjalan menuju bangku Dodo. Dia duduk bersamanya.


"Hai namaku Dodo," ujar Dodo.


"Raina," sahut Raina.


"Raina udah vaksin anti orang gilakan?" tanya Ami.


"Ami jangan turunin levelku di depan calon istri idaman," ujar Dodo.


"Ini realita, aku gak mau Raina ketularan gila," ucap Ami.


Raina hanya tersenyum melihat Dodo dan Ami berdebat.


"Raina selamat datang di kelas kami," ujarku.


"Iya, makasih Aara," sahut Raina.


Di seberang, Axel terlihat kesal. Entah kenapa.


Jam istirahat dimulai. Aku, Dodo, Ami mengajak Raina berkeliling. Melihat semua ruangan di sekolah. Setelah itu Raina pamit ke toilet. Saat dia sedang berjalan, tiba-tiba Axel menarik lengannya. Membawanya ke belakang kelas dua IPA.

__ADS_1


"Raina kenapa kau pindah sekolah ke sini?" tanya Axel.


__ADS_2