
"Aku sudah berusaha mencari adikku tapi belum juga ditemukan. Mungkin karena adikku hilang 14 tahun yang lalu" ucap Barra.
"Memang berapa usia adikmu saat itu?" tanya Deena.
"Baru 6 bulan. Dia adik bungsuku" ucap Barra.
"Kalau begitu akan sulit menemukan orang yang hilang dari masih bayi" ucap Deena.
Barra setuju dengan ucapan Deena. Memang benar akan sulit menemukan orang hilang saat masih bayi. Seiring berjalan waktu pasti sudah banyak perubahan wajah dan ukuran tubuh.
"Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi. Hanya adikku keluarga kandungku yang tersisa dari peristiwa kelam itu" ucap Barra.
"Semoga kau bisa bertemu adikmu" ucap Deena memberikan supportnya untuk Barra.
Mereka berdua sampai di Markas Orion. Barra membawa masuk Deena ke markasnya. Dia menunjukkan berbagai senjata dan baju tempur yang dia produksi. Bahkan ada beberapa senjata yang masih didesain oleh Barra. Deena berdiri disamping Barra yang sedang memeriksa desain senjata dan baju tempur terbarunya.
"Kau hebat juga bisa mendesain berbagai senjata dan baju bertempur segala" ucap Deena.
"Itu sebabnya kau beruntung bertemu denganku" ucap Barra.
"Kau cabul apa keuntungannya untukku" celetuk Deena.
"Sayang aku bisa mendesain alat dan baju tempurmu lebih kuat dari sebelumnya jadi jadilah kesayanganku" ucap Barra.
"Kau bilang tadi sudah membuat kostumku, mana?" tanya Deena.
Barra menarik lengan Deena. Dia membawa ke sebuah ruangan khusus yang berada diruangan rahasia. Ruangan itu steril. Hanya Barra dan pekerja khususnya yang boleh masuk ke ruangan itu.
"Ini lebih mirip laboratorium" ucap Deena.
"Disinilah aku mengerjakan proyek terbaruku dan proyek rahasiaku. Kau percaya kita sekarang berada dibawah tanah?" ucap Barra.
"Percaya, aku tidak meragukan kemampuanmu" ucap Deena.
Deena melihat berbagai kostum dalam tabung kaca yang posisinya berdiri. Dia yakin Barra bukan orang sembarangan. Dan mungkin ada hubungannya dengan kerajaan bawah. Meskipun dia saat ini mulai mengenal Barra tapi dia harus tetap berhati-hati.
"Kemarilah" ucap Barra.
Deena menghampiri Barra. Lelaki tampan itu membuka tabung kaca. Dia mengambil kostum baru untuk Deena.
"Kostum ini lebih ringan dan ketahanannya lebih kuat dari kostummu sebelumnya" ucap Barra memberikan kostum itu untuk Deena.
"Kau baik seperti ini padahal sebelumnya kau hendak membunuhku, kau tidak punya rencana busukkan?" ucap Deena melirik ke arah Barra.
"Tentu aku punya rencana, menjadikanmu ratu diistanaku" ucap Barra.
"Kata-kata seperti itu pasti sering kau ucapkan pada setiap wanita, iyakan" ucap Deena.
Barra menyudutkan Deena sampai masuk ke dalam tabung kaca itu bersamanya. Barra meraba pipi Deena.
"Aku memang pernah mengatakannya pada seseorang, tapi aku tertarik padamu. Tidak banyak wanita yang sepertimu dan aku ingin jadi pelindungmu" ucap Barra.
__ADS_1
Deena meraih tangan Barra yang bermain-main dipipinya.
"Kalau kau mau jadi pelindungku tinggalkan dunia kerajaan bawah yang rintis. Aku hanya akan bersanding dengan seseorang yang berada dijalan kebenaran" ucap Deena.
"Bagaimana jika aku dipenjara karena bisnisku ini, haruskah aku menyerah?" tanya Barra.
"Aku akan menunggumu sampai kau bebas" ucap Deena.
"Aku sudah tua, apa kau mau pada lelaki tua narapidana sepertiku nanti?" tanya Barra.
"Asal kau mau berubah aku akan menantimu" ucap Deena.
Barra terkejut dengan ucapan Deena. Selama ini tak ada yang mengingatkannya untuk ke jalan yang benar. Bahkan dia menjual senjata yang dibuat perusahaannya ke berbagai penjahat dan negara yang sedang berperang.
"Aku akan berubah dan menjadi pelindungmu" ucap Barra.
"Kalau begitu menjauhlah sedikit dari tubuhku, ini terlalu mepet" ucap Deena.
"Siapa nama aslimu sayangku?" tanya Barra.
"Rahasia, sampai aku yakin kau berubah. Baru aku akan memberi tahu namaku" ucap Deena.
"Baiklah sayang, kau memang pintar" ucap Barra.
Barra dan Deena keluar dari tabung kaca itu.
"Terimakasih untuk kostumnya, aku harus pulang" ucap Deena.
"Tidak perlu lagi pula kita tak seakrab itu" ucap Deena.
"Aku akan menemuimu kembali saat aku rindu padamu" ucap Barra.
"Oke ku tunggu" ucap Deena.
Deena berjalan keluar meninggalkan Barra. Dia keluar dari Markas Orian. Deena naik bus kembali ke kota A.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Haura keluar dari rumah besar Barra. Dia bosan dirumah terus apalagi di hari libur. Haura memutuskan jalan-jalan. Dia jalan kaki ke sebuah tempat jajanan masa kini untuk anak muda. Ditempat itu dijual berbagai makanan masa kini.
Berbagai minuman tea, kopi, susu, buah dengan berbagai toping menarik. Ditambah kemasannya juga unik. Begitupun juga makanan instant yang terbuat dari macam-macam bahan. Khas anak muda yang demen jajan. Haura ingin membeli tea boba. Saat dia mau mengambil dompetnya ditas kecil miliknya ternyata dompetnya ketinggalan.
"Yah dompetku ketinggalan" ucap Haura.
Setan Red mengatakan "Hauskan Haura? udah beli ditempat ramai itu saja terus ambil tuh dompet orang yang ngantri disana. Berdesakan seperti itu pasti gak nyadar kalau kita ambil duitnya he he he."
Setan Bul mengatakan "Mencuri saja, ditempat ramai seperti ini pasti banyak orang yang bawa uang terus mereka lupa hati-hati. Maklum eksis lebih penting dari pada menjaga barang pribadi he he he."
Haura memegang lehernya karena kehausan. Tak sengaja dia melihat uang 50 ribu tergeletak dibawah.
Setan Red mengatakan "Ambil Haura mumpung haus. Beli gih minuman sana keburu kering tuh tenggorokan. Bahaya loh kalau tenggorokan sampai kering, bisa terkena batuk, sariawan, dan dehidrasi he he he."
__ADS_1
Haura mengambil uang 50 ribu yang tergeletak dibawah. Dia memegang uang itu dan masih berpikir mau diapakan uang itu.
Setan Bu mengatakan "Udah beli tea boba seger loh panas-panas gini. Esnya yang banyak pasti tambah seger. 50 ribu lumayan loh, bisa buat beli makan, minuman, jepitan, pulsa, kuota, dan masih banyak lagi. Tenang aja kaukan tidak mencuri namanya. Apa salahnya kau gunakan uang itu, ini namanya rejeki nomplok he he he."
"Siapa tahu ini uang orang, lebih baik ku kembalikan" ucap Haura.
Setan Red mengatakan "Sepertinya setannya harus level tinggi, level ecek-ecek seperti kita udah gak mempan".
Setan Bul mengatakan "Cari klien yang tukang malas aja biar gampang, gak perlu usaha banyak toh dia juga dah malas ngapa-ngapain."
Haura pergi ke pusat pengumuman barang hilang. Dia memberikan uang 50 ribu itu pada petugas. Lalu dia pergi. Haura sudah berjanji akan berubah, saat kembali ke rumah nanti dia sudah jadi anak yang baik dan membanggakan orangtua.
Haura kembali berjalan. Dia kehausan, Haura keluar dari tempat jajanan itu. Dia berjalan hingga ke sebuah masjid besar. Di depan masjid ada seorang lelaki tampan yang membagikan air mineral dan kotak makanan. Haura menghampiri lelaki itu.
"Maaf kak, apa ini gratis?" tanya Haura.
"Iya gratis, ambilah" ucap lelaki tampan itu sambil memberikan air mineral dan kotak makanan pada Haura.
"Alhamdulilah, terimakasih kak" ucap Haura menerima air mineral dan kotak makanan itu.
"Sama-sama, nih ada hijab juga untukmu" ucap lelaki tampan itu memberikan sebuah hijab untuk Haura.
"Tapi aku belum siap berhijab, masih banyak dosa. Tidak pantas dihijab" ucap Haura.
"Berhijab itu kewajiban tidak ada hubungannya dengan perbuatanmu. Seperti halnya sholat, baik kau seorang ustad ataupun orang biasa asalkan kau seorang muslim, sholat wajib dilaksanakan" ucap lelaki muda itu.
Haura merasa malu, apa yang dikatakan lelaki tampan itu ada benarnya. Berhijab bukan ukuran perbuatan kita tapi kewajiban.
"Baiklah, aku ambil nih hijabnya, terimakasih" ucap Haura.
"Siapa namamu?" tanya lelaki tampan itu.
"Haura. Ingat Haura. Jangan panggil Hau atau Ura. Panggil Haura" ucap Haura menegaskan.
"Oke. Aku Hanan Mahesa" ucap Hanan.
Haura dan Hanan saling memperkenalkan diri dan berbincang seputar hidup mereka.
"Nama yang bagus, mari berteman" ucap Haura.
"Iya, aku duduk dikelas tiga SMA, kau?" tanya Hanan.
"Sama, aku juga duduk dikelas 3 SMA" ucap Haura.
"Kau tinggal dikota B?" tanya Hanan.
"Tidak, aku berasal dari kota A. Tapi aku sedang belajar hidup disini" ucap Haura.
"Aku berasal dari kota A juga" ucap Hanan.
"Siapa nama ayah dan ibumu?" tanya Haura.
__ADS_1
Haura kepo dia ingin tahu keluarga lelaki tampan didepannya itu. Mungkin saja keluarganya mengenal keluarga Hanan.