Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 33


__ADS_3

Turun dari taksi aku berjalan untuk mencari kontrakkan untukku. Aku pergi ke tempatku ngekos dulu. Untung saja saat aku ke sana ada satu kamar kos yang kosong. Aku bisa tinggal untuk sementara waktu. Aku masuk ke dalam kamar kosanku. Tempatnya sudah bersih, tak perlu bersih-bersih, mungkin penghuni sebelumnya sudah membersihkan sebelum pergi.


"Alhamdulillah aku bisa langsung beristirahat," ujarku.


Aku langsung berbaring di ranjang, setelah membereskan barang-barangku. Begitu pun dengan Bobo yang ku baringkan. Dia senang sekali sampai tertawa dan menggerakkan tangan dan kakinya ke atas ke bawah.


"Bobo kau senang ya, kita ngekos lagi?" ucapku.


Ku peluk Bobo, dia satu-satunya teman hidupku. Tempat terpercaya untukku. Aku sayang Bobo, semangat hidupku kembali setiap kali melihat Bobo. Jangan karena ada masalah, aku putus asa dan menyerah. Hidup harus diperjuangkan.


"Bobo jangan bobo dong, Mamy sendirian," ucapku sambil bermain bersama Bobo.


Lama kelamaan aku dan Bobo tidur juga. Mungkin karena rasa lelah dan penat.


***


Esok hari aku berangkat sekolah seperti biasa menggendong Bobo sambil berjualan keripik. Lumayan daganganku banyak yang beli, mungkin karena aku sudah lama tak jualan lewat jalan itu. Sekarang aku harus mandiri. Jangan bergantung pada siapapun lagi. Sekarang Bobo sudah bisa ditaruh di depan dengan posisi duduk di depan, gendongan dari Albern berguna juga.


"Aara," panggil Gerry.


Aku menoleh. Dari belakang Gerry menghampiriku. Aku hanya tersenyum melihatnya. Dia guru yang ramah dan baik.


"Pak Gerry," sapaku dengan sopan. Selayaknya guru pada muridnya.


"Kau baru berangkat?" tanyanya. Melihatku membawa barang dagangan dan Bobo.


"Iya Pak," jawabku.


"Bareng ya?" tanyanya.


"Boleh, bapak jalan kaki?" tanyaku.


"Tadi naik bus turun di halte," jawabnya.


Kami mengobrol di sepanjang tepi jalan. Pak Gerry juga membantuku membawa barang-barangku dan menjual keripikku. Benar-benar guru yang baik. Orangnya juga santun dan ramah.


"Setiap hari kau jualan keripik Aara?" tanya Gerry.


"Iya Pak, lumayan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari," jawabku. Kalau aku tidak dagang bagaimana aku membayar kosan dan memenuhi semua kebutuhanku. Aku tidak ingin meminta-minta. Bekerja keras jauh lebih terhormat meskipun hasilnya sedikit.


"Kau rajin, murid teladan," ujar Gerry. Dia memujiku. Tak banyak murid yang sepertiku. Zaman sekarang orang banyak gengsinya tapi ingin tampil gaya. Meski harus menjual diri ataupun melakukan pekerjaan haram lainnya. Mereka hanya ingin dapat uang banyak dengan instan.


"Tapi sayangnya nilai saya kurang Pak, gak tahu besok bisa menjawab soal UTS atau gak," ucapku. Meskipun aku pekerja keras, sayangnya otakku tak mendukungku. Aku masih saja sulit menghafal.


"Saya mengajar les, gimana kalau kau ikutan les juga," ujar Gerry. Dia menawarkan les padaku. Karena melihatku yang terlihat kasihan.


Les? apa aku punya uangnya untuk les. Sekarang aku harus bisa hidup tanpa Albern. Penghasilan jualan keripik tak mungkin cukup untuk les segala. Susu dan popok Bobo jauh lebih penting.


"Maaf Pak, saya tidak punya uangnya untuk ikut les," ucapku.


"Gimana kalau kamu masakkan saya usai les, sebagai gantinya bayar, kebetulan di rumah tidak ada yang memasak untuk saya," ujar Gerry.


Hanya memasak? aku bisa. Walaupun masakanku standar wartegan tapi bisalah. Lumayan bisa les gratis.


"Oke Pak, saya mau," sahutku.


Gerry mengangguk. Kami berjalan bersama hingga ke sekolah. Pak Gerry belok ke ruang guru sedangkan aku menuju ke kelasku.

__ADS_1


Aku melihat teman-teman sibuk membicarakan piknik usai UTS. Piknik yang diadakan oleh wali kelas supaya kedekatan antar siswa dan wali kelas terjalin. Aku menghampiri Ami dan Dodo yang sedang menghitung keuangan mereka.


"Dodo, Ami," sapaku.


"Aara, kau sampai juga. Kita lagi bicarain piknik nih," ujar Ami.


Aku langsung duduk menaruh tas dan Bobo di meja.


"Gue kalau piknik mesti jalan kaki memutari ibu kota dulu," ucap Dodo.


"Buat apa?" tanyaku.


"Nyari recehan jatuh di jalan, lumayan kaum dhuafa sepertiku sudah biasa mulung duit tergeletak tak bertuan," ujar Dodo.


"Tinggal ngamen apa susahnya dari pada mulung duit muterin ibu kota, setahun loh baru bisa bayar, itu pun kalau lo masih idup, kalau kelindes kereta api gara-gara mulung recehan di rel kereta api gimana coba? udang ciking, gepeng lo," kata Ami.


"Habis mau melihara tuyul mesti nyusuin, susu gue kempot, emang gue mengi, boro-boro mau nyusuin tuyul," ujar Dodo.


"Udah ngutang aja sama rentenir sana, paling nyawa lo melayang kalau gak bisa bayar," ujar Ami.


"Kalau gue mati, siapa yang bakal bantuin bapak gue nyebokin kambing kalau BAB? terus siapa yang ngawinin kambing kalau musim kawin?" tanya Dodo.


"Ajarin kambing cebok sendiri dari sekarang, misal lo mati dia dah mandiri. Cariin sekalian engkong-engkong yang mau ngawinin kambing lo," sahut Ami.


Aku tertawa mendengar celotehan kedua teman dekatku. Mereka memang gokil. Bikin suasana hatiku yang duka jadi bahagia.


"Lo sendiri Ami, punya duit emang? tiap hari aja makan pake kepala ikan asin, bisa lo bayar buat piknik?" tanya Dodo.


"Gue sih mau ikut casting jadi model iklan, kali aja dapet, lumayan buat bayar," ujar Ami.


"Paling juga buat model iklan kesetrum, kesamber petir, tenggelem di sungai sama kepentok pintu, yang ngenes-ngenes deh bagian lo," ujar Dodo.


"Aku mau ikut dong Ami, siapa tahu aku bisa," ujarku.


"Ada sih iklan dikejar anjing, lumayan," ucap Ami.


"Lumayan bayarannya?" tanyaku dan Dodo penasaran.


"Lumayan kalau bokong lo digigit tuh anjing, gak ada asuransi kehidupan kedua, pastiin nyawa lo ada serepnya," jawab Ami.


"Ha ha ha." Kami tertawa. Lumayang komedi pagi penambah semangat, embos yang membuat hari-hariku menyenangkan. Merekalah temanku yang selalu membuat mood-ku kembali.


***


Selama beberapa hari aku ikut les di rumah Gerry. Aku memasak usai les. Untung masakanku enak. Gerry selalu lahap memakan masakanku. Selain dapat les gratis aku juga bisa ikut makan. Bahkan Gerry membantuku menjual keripik-keripikku ke teman sesama guru dan murid lesnya. Senangnya dapat keuntungan trippel. Sore itu les terakhirku di hari Minggu, besok sudah ujian. Gerry mengantarku sampai kosanku.


"Aara gimana? sudah faham semua materinya?" tanya Gerry. Dia selalu menanyakan hal itu setiap selesai mengajariku.


"Sudah, terimakasih ya Pak atas bantuannya," ucapku. Pak Gerry sangat pintar, dia tahu di mana kelemahanku. Dan yang aku tidak bisa.


"Iya sayang," jawabnya.


"Pak tadi bilang apa?" tanyaku. Mungkin aku salah denger atau Pak Gerry yang salah bicara.


"Bukan, saya pamit dulu, jangan lupa istirahat, semangat besok ujian!" ujar Gerry. Dia terlihat canggung setelah mengatakan kata sayang. Aku tak tahu kenapa.


Aku mengangguk. Gerry langsung buru-buru pergi meninggalkanku. Setelah itu aku masuk kamar kosanku. Membaringkan Bobo. Malam itu cuacanya dingin sekali. Mungkin karena kelelahan akhir-akhir ini, aku demam. Tubuhku mengigil, padahal besok ujian. Aku coba menejamkan mataku. Menyelimuti tubuhku. Beberapa menit kemudian. Dahiku rasanya dingin, ada sesuatu menempel di dahiku, semacam obat tempel untuk demam. Aku mengigau, mungkin karena tubuhku yang kurang sehat, tak ku sangka Albern ada di ranjang bersamaku,dia memelukku. Aku terbangun.

__ADS_1


"Kenapa Tuan ada di sini?" tanyaku. Aku malas bertemu dengannya. Aku masih belum bisa melupakan kejadian itu.


"Kau sakit Aara, biarkan sekali ini saja aku ada di sampingmu," ujar Albern.


Aku tidak bisa berkata-kata, tubuhku sakit.


"Minum obat ya?" tanya Albern.


Aku mengangguk. Albern segera bangun mengambil obat yang dibawanya. Dia memberiku obat kemudian kembali memelukku dari belakang.


"Tidurlah! aku di sini!" ujarnya.


Aku kesal dan marah padanya tapi diposisi seperti ini, aku rindu padanya, pelukannya membuatku tenang. Rasa sakitku jadi berkurang. Aku memang membutuhkannya.


"Aku rindu," ucapku. Entahlah mungkin karena aku sakit, lebih sensitif tentang perasaanku. Aku memang benar-benar merindukannya. Apa ini boleh?


"Aku juga rindu padamu Aara," sahut Albern. Dia bisa merasakan apa yang ku rasakan. Dia juga merasakan hal yang sama denganku.


Aku berbalik memeluk Albern erat. Dia mencium keningku.


"Cepat sembuh sayang, besok ujiankan?" ujar Albern.


Aku mengangguk. Menyandarkan kepalaku di dadanya. Lama-kelamaan aku tertidur. Waktu terus berputar. Saat bangun Albern sudah tak ada.


"Apa aku mimpi?" tanyaku. Namun saat ku raba dahiku obat tempel dikepakaku masih ada, bahkan obat yang semalam ku minum ada di meja. Aku jadi teringat buaya itu. Jujur aku rindu.


"Semangat Aara! ujian hari ini," ujarku. Aku harus bisa meski tanpa Albern. Dulu tanpa dia aku bisa masa sekarang aku lemah. Meskipun begitu aku memang mencintai, aku tidak bisa membohongi perasaanku.


Aku bangun dari ranjang. Memandikan Bobo, menyiapkan semua perlengkapanku dan Bobo lalu aku mandi, berganti pakaian. Hari ini mukaku segar, sudah tak sakit lagi seperti semalam. Waktunya sekolah. Senyum di bibirku merekah.


Selama satu minggu aku ikut ujian. Tanpa menyontek apalagi hitung kancing, aku benar-benar menggunakan otak kosongku yang udah tobat kembali ke jalan yang benar untuk berpikir, jangan cuma ngandelin jawaban Ami dan Dodo yang copy paste jawaban orang. Si Siti sang juara kelas memberi jawab contekan C sampai di telinga Dodo dan Ami jadi E, ya sudahlah mereka hanya mengandalkan nasib.


Akhirnya hasi UTS dibagikan setelah seminggu usai ujiannya digelar. Aku dan teman-teman tak sabar menunggu wali kelas masuk ke kelas.


"Do, lo kemarin nyontek di meja bener gak?" tanya Ami.


"Mejanya di tuker sama Boby, jadi jawabannya patah-patah, bahasa sansekerta lagi, gak tahu deh," ucap Dodo.


"Lagian kalian ngapain masih menggunakan cara manusia purba mencontek," ujarku.


"Iya ya, zaman dah canggih mencontek juga harus sudah modern," ujar Ami.


"Gaya-gayaan modern, dari zaman manusia purba sampai sekarang nenek moyang lo sampai keluarga lo masih makan ikan asinkan?" tanya Dodo.


"Iya sih, keluarga gue emang udah turun temurun miskinnya, gak tahu mesti nikah ma bule kali baru berubah nasib," ujar Ami.


"Gue juga dari zaman nenek moyang sampai sekarang gigi kuning terus, bedanya kalau nenek moyang gue melihara mamut lah gue melihara kambing, adik gue melihara tikus," ujar Dodo.


"Ha ha ha." Kami tertawa.


Tak lama wali kelas masuk. Beliau membagikan hasil UTS. Aku penasaran hasil UTS ku. Belum berani membuka kertas milikku.


"Aara buka!" perintah Ami.


"Iya loh, siapa tahu nasib lo sama kaya kita-kita di remedial, kitakan satu server," ujar Dodo.


Kali ini aku takut membuka kertas laporan hasil UTS-ku. Jangan-jangan benar yang dikatakan Ami dan Dodo.

__ADS_1


.


__ADS_2