Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Mengucapkan Syahadat Part 70


__ADS_3

Pagi itu seperti hari biasanya, Rafael berkeliling dari kota ke kota di Negara P. Kebetulan disore hatinya Rafael pergi ke kota dekat perbatasan untuk membawa stok makanan dan obat-obatan bersama relawan lainnya naik mobil distribusi.


Rafael membawa paket-paket obat-obatan ke rumah sakit darurat karena rumah sakit didaerah perbatasan hancur terkena bom. Rafael senang bisa membantu sesama. Melihat senyuman-senyuman mereka diantara duka yang datang. Tapi satu pemandangan yang selalu dilihatnya dan tak pernah berubah, mereka semua tetap sholat meski semua tempat hancur, bom dimana-mana dan tubuh mereka penuh luka ataupun hampir sekarat sekalipun. Rafael kagum melihat mereka, entah apa yang akan dilakukannya jika ada diposisi mereka. Mampukah dia tetap istiqomah dan tidak suudzon pada Allah SWT.


"Dengan segala penderitaan ini, bahkan mereka hampir mati sekalipun, iman dan ISLAM mereka tak pernah berubah. Tak pernah marah pada Allah bahkan senantiasa menyembah dan memujiNya" batin Rafael melihat semua orang yang sedang sholat, berdzikir dan mengaji dimana pun tempatnya karena rumah dan masjid hancur.


Rafael bertemu dengan anak kecil yang ditubuhnya penuh luka bahkan hanya bisa berbaring. Dia terus memanjatkan sholawat.


Rafael menangis saat tahu anak kecil itu tidak punya siapa-siapa lagi. Seluruh anggota keluarga meninggal saat pengeboman itu terjadi. Anak itu itu tertimpa reruntuhan bangunan. Dia bahkan tak menangis dan tetap sabar meskipun tak punya siapa-siapa lagi. Saat Rafael bertanya kenapa dia tak sedih padahal dia tak punya siapuapun lagi. Jawabannya simple, dia punya Allah yang memiliki segalanya. Rafael sampai mencium tangan anak kecil itu dan menangis.


"Malu...malu...aku seperti anak kecil yang tak mengetahui apapun didunia ini. Allah Yang Maha Besar tapi aku tak pernah bisa melihatnya. Tapi anak kecil ini dapat melihat Allah dengan begitu jelas tanpa keraguan dihatinya" batin Rafael.


Rafael berjalan hingga sampai disebuah masjid yang hancur. Dia melihat rumah Allah yang kini hancur. Bangunan mungkin hancur tapi keimanan padaNya tak pernah hancur. Bangunan hanya wujud yang akan hancur dan rusak tapi iman adalah bangunan yang tak akan mudah hancur dan rusak meskipun dihancurkan sekalipun.


Rafael duduk dimasjid yang rusak itu. Dia bersujud dan memasrahkan dirinya pada Allah SWT.


"Ya Allah, hatiku tersentuh. Apa ini yang dinamakan hidayah. Aku ingin mengenalMu, mencintaimu dan menyembahMu" ucap Rafael.


Tak lama datang seorang Iman masjid itu. Dia berbincang dengan Rafael. Kemudian Rafael mengutarakan isi hatinya. Dia ingin masuk ISLAM. Baru mau bersyahadat bom terdengar kembali.


Duaaar....


Imam masjid itu bersama Rafael keluar dari bangunan masjid yang rusak itu. Mereka berlari menuju tempat bom tadi dilemparkan. Sebuah perumahan penduduk didekat masjid itu hancur berantakan terkena bom. Orang berlari kesana kemari menyelamatkan diri dan keluarga. Rafael bukan lari menjauh tapi justru pergi ke pusat bom itu. Semua rumah roboh. Rafael membantu penduduk yang luka dan mau mengungsi. Rafael terus berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Hingga dia menemukan sebuah rumah yang hancur setengah bagian. Semua orang dirumah itu meninggal. Rafael sedih melihat mayat tergeletak sembarang.


"Ya Allah ketika mati jasad ini seperti sebuah benda mati yang tak ada harganya. Bahkan seperti sampai berserakan. Hanya amal yang akan membuat setiap hambamu istimewa karena tubuh ini fana" batin Rafael.


Rafael berjalan didalam bangunan rumah yang hancur setengah bagian itu. Rafael mendengar suara balita merintih kesakitan. Dia mencari anak balita itu. Ternyata anak balita itu tertimpa bangunan yang runtuh. Rafael menolong anak balita itu dengan menyingkirkan reruntuhan dari tubuhnya.


"Syukurlah dia baik-baik saja" ucap Rafael.


Rafael mengangkat balita itu, menggendongnya. Saat hendak keluar dari dalam rumah, bangunan rumah setengah bagian itu menjatuhi Rafael. Seketika Rafael tak sadarkan diri dalam posisi memeluk balita itu.

__ADS_1


"Ya Allah bila aku akan mati, izinkanlah aku membaca syahadat dan selamatkan balita ini" batin Rafael dalam ketidaksadarannya.


Mata Rafael mulai terbuka, dia merasakan tubuhnya berat dan hanya ada sedikit cahaya yang bisa dilihatnya. Beberapa orang dan alat digunakan untuk menyelamatkan Rafael dan balita itu. Kebetulan salah satu relawan yang seorang ustad dari negara A sama seperti Rafael, dia ikut membantu menyingkirkan reruntuhan dari tubuh Rafael yang masih memeluk balita. Kepala Rafael mulai terlihat.


"Pak Ustad, selamatkan balitanya dulu" ucap Rafael.


"Iya...iya nak Rafael" ucap Ustad Musa.


Tim penyelamat menolong balita itu terlebih dahulu lalu dibawa langsung ke ambulan. Ustad Musa menghampiri Rafael yang berbaring dengan setengah tubuhnya masih tertimpa reruntuhan.


"Pak Ustad tolong tuntun saya mengucapkan syahadat, saya ingin mengucapkan syahadat sebelum maut menjemput" ucap Rafael pelan.


"Baik nak Rafael" ucap Ustad Musa.


"ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMAR RASUULULLAH" ucap Ustad Musa.


"ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMAR RASUULULLAH" ucap Rafael.


Baru selesai membaca syahadat bom kembali diluncurkan. Semua orang berlari. Beberapa orang meneriaki Ustad Musa untuk meninggalkan tempat itu. Tapi Ustad Musa tidak tega meninggalkan Rafael yang setengah tubuhnya masih tertimpa reruntuhan.


"Pak Ustaaad...." teriak seseorang memanggil Ustad Musa untuk segera pergi.


Dengan berat hati Ustad Musa meninggalkan Rafael. Ledakan bom itu mengenai perumahan penduduk ditempat Rafael terjebak reruntuhan.


"Ya Allah, hamba senang jika memang sekarang Engkau memanggilku karena aku telah bersyahadat, terimalah iman dan islamku Ya Allah, amin" batin Rafael dalam ketidaksadarannya.


Tubuh Rafael tertimpa semua reruntuhan dari ledakan yang cukup besar. Semua bagian tubuhnya penuh luka terutama bagian mukanya hancur sampai tak dapat dikenali lagi. Rafael tidak ingat apapun lagi, kesadarannya sepenuhnya menghilang. Hanya gelap dan sunyi yang dirasakannya.


Rafael berada disebuah tempat yang bercahaya dan begitu indah. Seseorang tinggi besar mengajaknya menuju titik cahaya itu. Tapi langkah Rafael terhenti mendengar seseorang berteriak.


"Kak Rafa...Kak Rafa...jangan tinggalkan Alina" ucap Alina.

__ADS_1


Rafael menoleh kebelakang, dia melihat Alina melihat ke arahnya dan mengajaknya kembali padanya.


"Aku ingin kembali bersama Alina" ucap Rafael.


Seseorang tinggi besar itu memperbolehkan Rafael kembali, segera Rafael berlari ke arah Alina. Dia langsung memeluk Alina dengan erat.


Tiba-tiba semua menghilang dan Rafael membuka matanya. Dia berada disebuah ruangan rumah sakit. Rafael melihat seorang lekaki tua yang mengenakan pakaian putih dan bersorban dikepalanya. Lelaki itu tersenyum melihat Rafael. Disampingnya ada beberapa anak buahnya. Dia seorang konglomerat dari negara R, salah seorang anak buahnya menemukan Rafael yang tertimpa reruntuhan. Kebetulan lelaki tua itu sudah beberapa kali memperhatikan Rafael saat dia mengunjungi Negara P untuk memberi bantuan. Dia senang melihat Rafael yang rajin dan jadi sukarelawan yang berani. Lelaki tua itu membawa Rafael ke rumah sakit miliknya. Dia diobati hingga sembuh.


Satu bulan kemudian


Rafael pulih total. Dia bisa bergerak seperti semula. Luka disekujur tubuhnya sudah mengering dan tinggal bekasnya. Hanya saja wajah Rafael terpaksa dioperasi plastik. Rafael berdiri didepan cermin ditoilet. Dia memperhatikan wajah barunya.


"Apa Alina akan mengenaliku dengan wajah ini? gimana kalau dia merasa aku orang lain? apa dia akan tetap mencintaiku meskipun aku bukan Rafael yang dulu" batin Rafael.


Setelah sembuh total, Rafael diberi nama Muhammad Farel Ibrahim karena dia sekarang seorang muslim, nama itu diberikan Imam masjid besar di Negara R. Rafael mulai bekerja diperusahaan milik konglomerat itu. Dia mendonasikan gajinya untuk Negara P. Dia tetap bisa berkontribusi dengan menyalurkan dana dari gaji miliknya. Kebetulan Rafael dipercaya memegang perusahaan milik konglomerat itu. Ditangan Rafael perusahaan itu semakin maju pesat.


Rafael tinggal dinegara R selama dua tahun membantu konglomerat itu memajukan bisnisnya. Setelah itu dia ingin kembali ke Negara A. Rafael mendapatkan sebuah hadiah dari konglomerat itu karena sudah memajukan perusahaan miliknya, dia memberikan perusahaan cabangnya yang dinegara A untuk Rafael. Sejak saat itu Rafael memimpin perusahaan yang ada dinegara A.


Flash Back Off


Rafael masih duduk dikursi kerjanya mengingat kejadian dimasa lalu. Tiba-tiba Alina masuk ke ruangan kerjanya membawa secangkir kopi untuknya.


"Apa kau mau kopi Bos?" tanya Alina.


"Boleh" ucap Farel.


Alina menghampiri Farel, dan meletakkan kopi dimejanya. Farel menarik Alina kepangkuannya.


Mereka saling menatap, Farel mendekati wajah Alina.


Deg

__ADS_1


Deg


Jantung Alina berdetak tak karuan saat Farel mendekati wajahnya.


__ADS_2