
"Suara orang kesakitan," ucap Deena.
"Ditengah malam seperti ini siapa yang kesakitan?" Tanya Barra.
"Apa mungkin warga sekitar sini?" Ucap Deena.
"Kau disini dulu sayang, aku cek keluar dulu," kata Barra.
"Aku ikut Om," ucap Deena.
Barra mencium kening Deena dan memegang perutnya.
"Sayang, kau sedang hamil. Tidak baik ibu hamil keluyuran malam-malam. Apalagi daerah ini asing untuk kita," ujar Barra.
Deena mengangguk. Barra memakaikan Deena jaket miliknya. Dia tidak ingin istrinya sakit karena angin malam yang dingin. Kemudian Barra berjalan keluar tenda. Diluar ada Kaisar yang tidur ditemani kucing liar.
"Ya ampun ini bocah gak nyadar apa kucing liar tidur dikepalanya, kalau dipipisin gimana?" Ucap Barra.
Barra membangunkan Kaisar dengan menepuk-nepuk lengannya.
"Bangun...bangun...Kaisar," panggil Barra.
Kaisar terbangun, dia melihat kesekeliling. Didepannya ada Barra yang sedang menunggunya bangun.
"Ada apa Om? baru juga aku ketemu jodohku dimimpi," ujar Kaisar.
"Kita keliling nyari setan buat jodohmu," ledek Barra pada Kaisar.
"Dari pada setan, apa kunti lebih cantik Om?" Tanya Kaisar.
"Wewe gombel lebih seksi dan cantik, gimana kalau kita nyari dia," ucap Barra.
"Siap Om, asal gak ketemu hantu ya Om," ucap Kaisar.
"Gak jamin, malam gini mereka pesta biasanya," ucap Barra.
Kaisar langsung memetik rumput teki dan membawa ditangannya.
"Kaisar ngapain bawa rumput teki segala?" Tanya Barra heran melihat Kaisar bawa rumput teki.
"Ini buat ngasih makan hantunya Om biar gak ganggu kita," ucap Kaisar.
Barra tertawa terbahak-bahak. Dia tak menyangka anak muda didepannya itu lucu dan aneh.
"Sekalian bawain kue tar, duit segepok sama minyak goreng biar hantunya seneng," ucap Barra.
"Ada Om, telor sekalian gak? Kali aja hantunya mau irit, jadi makan telor ceplok setiap hari," ucap Kaisar.
"Bisulan dong hantunya," kata Barra.
Tak lama Farel dan Alvan juga keluar dari tenda. Mereka menghampiri Barra dan Kaisar yang masih berbincang.
"Om tadi denger suara orang kesakitan?" Tanya Farel.
"Iya, aku denger," ucap Barra.
"Apa kita mencari sumber suara itu? siapa tahu ada orang yang ingin minta tolong?" ucap Alvan.
"Iya, tapi salah satu dari kita harus tetap ada yang ditenda untuk menjaga para wanita," ucap Barra.
"Oke, biar aku saja yang menjaga para wanita," ucap Farel.
"Jadi aku, Alvan dan Kaisar mencari sumber suara itu," ucap Barra.
Semua setuju, Farel tetap ditenda, sedangkan Bara dan yang lainnya mencari sumber suara itu.
Barra, Alvan dan Kaisar terus berjalan sampai memasuki sebuah hutan dekat tepi pantai. Kaisar ingin pipis, dia tak tahan menahannya, akhirnya memutuskan untuk pergi mencari tempat yang pas untuk pipis. Dia segera pipis didekat pohon besar.
"Kaya gini jadi kebiasaan kalau malam mesti pipis bolak balik, tapi inikan dihutan. Gak mungkinkan ketemu setan," ucap Kaisar bicara sendirian.
"Mas tolong, sakit..." Seorang wanita berbaring dibawah pohon besar melambai ke arah Kaisar.
__ADS_1
"Astagfirullah, itu orang atau setan? Tolongin gak ya? Tapi klau setan gimana? Aku masih perjaka tak mau diperkosa kaya difilm horor," ucap Kaisar yang masih berpikir.
Kaisar terus berpikir sampai nyamuk pada ngisep tangan dan kakinya mumpung gratis dan suka rela. Apalagi si pemilik darah suci lagi bengong, kesempatan untuk si nyamuk tampil maksimal.
Plaaak...plaaak...plaaak...
"Otakku gak bisa mikir, nyamuknya kok ganas gini," ucap Kaisar.
Akhirnya Kaisar memberanikan diri mendekati pohon besar itu. Dia menghampiri orang yang berbaring dibawah pohon besar.
Kreeeek....kreeek...kreeek...
"Aduh yang gue injak apaan?" Ucap Kaisar penasaran.
Kaisar melihat ke bawah, dikakinya tumpukan tengkorak berserakan. Tengkorak itu sudah terpotong-potong.
"Ini kok kaya dirumah hantu, paling tengkorak bohongan, positif thingking." Kaisar berusaha menyemangati diri. Dia berjalan ke depan. Kakinya kembali menginjak sesuatu yang becek seperti lumpur. Kaisar berjongkok dan meraba sesuatu yang becek itu.
"Kok bau ya, kaya bangkai," ucap Kaisar.
Kaisar mengambil sesuatu yang becek itu. Dia angkat dan ternyata itu bagian potongan tubuh manusia yang sudah membusuk.
"Ini...ini...ini...kaya difilm alien ya, aku...aku...harus...baca doa wudhu, bukan tapi kabuur," ucap Kaisar langsung berdiri dan berlari dari tempat itu.
"Aaaaaaa...hantu...hantu...Kaisar masih ingin hidup," ucap Kaisar berlari sambil berteriak.
Bluuuug...
Kaisar terjatuh didekat pohon besar lainnya. Dia melihat banyak jasad berserakan dibawah pohon besar.
"Ya Allah, bangunkan Kaisar dari mimpi buruk ini hik hik hik emak tarzan mau pulang," ucap Kaisar.
Kaisar kembali berlari sampai dia kelelahan. Tiba-tiba dia tak ingat apapun lagi.
"Kaisar...Kaisar...Kaisar...bangun...bangun...." Ucap Haura.
"Gimana? dia belum sadar juga?" Tanya Alvan.
"Siram air aja pasti bangun," seru Barra.
"Jangan, kasihan," ucap Alina.
Kaisar masih pingsan setelah peristiwa semalam yang dilaluinya. Barra dan yang lainnya belum tahu penyebab Kaisar pingsan, mereka masih menunggu Kaisar sadar.
"Apa mungkin semalam dia bertemu setan atau ular besar?" Ucap Farel.
"Mungkin digondol wewe gombel, udah diperkosa dibalikin lagi," ucap Alvan.
"Sayang jangan dong, masa Kaisar diperkosa wewe gombel, paling juga dikawin sama ular piton," ucap Haura.
"Atau mungkin dia bertemu penunggu hutan yang lagi makan ubi bakar," ucap Deena.
"Gak mungkin, paling juga nih bocah kesamber petir," ucap Farel.
"Tapi rambutnya utuh, badannya gak gosong, cuma keteknya aja yang asem," ucap Haura.
Mereka berenam terus mencari kemungkinan yang terjadi pada Kaisar. Tiba-tiba mata Kaisar mulai terbuka, dia melihat kesekeliling. Semua temannya ada ditenda menunggunya.
"Teman-teman, apa ada roti bakar? laper nih," ucap Kaisar.
Mereka semua terkejut saat Kaisar malah minta roti bakar.
"Kaisar lo semalem kenapa? kesambet setan atau kesamber petir?" Tanya Barra.
"Makan dulu, nanti ceritanya, takut gak ***** makan kalau cerita duluan," ucap Kaisar.
"Yaudah makan dulu," ucap Alina.
Kaisar bangun langsung makan. Roti bakar, susu, buah, nasi goreng, ikan bakar, mie rebus, telor rebus, semua disantap seperti orang habis kelaparan berhari-hari.
"Kaisar pelan-pelan makannya tar kesedak," ucap Deena.
__ADS_1
"Pokoknya kalian gak kan percaya apa yang ku lihat semalam," ucap Kaisar.
"Melihat apa?" Tanya semuanya.
"Semalam aku melihat banyak tengkorak dan jasad dibawah pohon besar, aku sampai lari ketakutan, ini bener-bener horor," ucap Kaisar.
"Kaisar paling lo mimpi, mana ada yang kaya gitu sih," ucap Alvan.
"Mungkin saja halusinasi," ucap Farel berpikir logis.
"Masa? semalam kita gak menemukan apapun," ucap Barra.
"Beneran, nih celanaku aja belum ku seletingin dari semalem," ucap Kaisar.
"Iiih...." Para wanita malu.
"Bau pesing, kamu ngompol dicelana?" Tanya Farel.
"Iya, semalem pipis dicelana soalnya takut beneran," ucap Kaisar.
"Pantes bau pesing dari tadi," ucao Deena.
Mereka semua memikirkan ucapan Kaisar. Suara orang kesakitan itu juga aneh. Jadi mereka harus menyelidikinya lagi.
"Kita balik ke penginapan aja ya," ucap Barra.
"Iya," sahut semuanya.
Mereka semua memutuskan untuk kembali ke penginapan.
**********
Aksa mengendarai mobilnya ke sebuah lapangan bola. Sore itu dia cukup lelah, butuh mengyegarkab kembali pikirannya. Dia turun dari mobil masuk ke sebuah stadiun sepak bola ditepi jalan. Sudah lama dia tak melihat pertandingan sepak bola. Tak sengaja Aksa melihat Farhan dan Kiara duduk dibarisan depan tempat duduk. Mereka terlihat serasi.
"Apa aku harus melupakan Kiara? Farhan begitu mencintainya," ucap Aksa.
Kiara menoleh ke belakang melihat Aksa berdiri dibarisan tempat duduk belakang, dia minta izin ke toilet pada Farhan. Kiara datang menghampiri Aksa.
"Aksa kau disini juga?" Tanya Kiara.
"Iya, kebetulan suntuk," ucap Aksa.
"Laper, mau gak temenin aku jajan? diluar banyak tukang jualan," ucap Kiara.
"Oke," jawab Aksa.
Sekali lagi Aksa tidak bisa membohongi perasaannya. Dia memang mencintai Kiara. Permintaan Kiara membuatnya sulit menolak. Dia hanya bisa mengikuti perasaannya saat ini. Aksa dan Kiara keluar dari stadiun. Mereka jajan somay ditukang jualan somay gerobak. Sambil lesehan ditepi jalan, mereka makan berdua.
"Em, enak. Kau suka?" Tanya Kiara.
"Lumayan," ucap Aksa.
"Aku sering makan dipinggiran, maklum aku hanya orang biasa tidak sepertimu yang keturunan konglomerat," ucap Kiara.
"Justru aku lebih suka kesederhanaan sepertimu Kiara," ucap Aksa.
"Kau hanya suka kesederhanaanku, lalu suka akunya tidak?" Tanya Kiara.
"Ugh...ugh...ugh...." Aksa tersedak mendengar ucapan Kiara.
"Minum." Kiara memberi botol air mineral pada Aksa.
"Makasih," ucap Aksa sambil menerima botol air mineral itu. Dia langsung meminumnya beberapa teguk. Aksa terlihat grogi mendapat pertanyaan yang cukup menantang dari Kiara.
"Kiara, bukannya aku tak suka, tapi kau dan Farhan," Ucap Aksa.
"Aku sebenarnya tidak suka Farhan, tapi karena aku tidak enak terpaksa menerimanya. Dia sudah banyak membantu keluargaku, aku tidak enak menolak perasaannya," ucap Kiara dengan wajah sendu.
"Benarkah? kau tidak suka Farhan?" Tanya Aksa.
"Iya, aku sebenarnya suka padamu Aksa," ucap Kiara.
__ADS_1
Aksa terkejut dengan penuturan Kiara. Dia merasa senang Kiara juga mencintainya. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.