Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Adiku Part 41


__ADS_3

Rafael melihat ke arah suara yang terdengar ditelinganya. Seorang lelaki berpenampilan setelan jas rapi dengan beberapa anak buah dibelakangnya.


"Aku hanya mengunjungi rumah orangtuaku" ucap Rafael menjawab pertanyaan Barra.


"Orangtuamu? ini rumah orangtuaku" ucap Barra menegaskan.


"Rumah orang tuamu? tapi ini rumah orangtuaku" ucap Rafael menjelaskan.


"Kau berani sekali mengakui rumah orangtuaku, pengawal hajar dia" ucap Barra kesal mendengar ucapan Rafael.


"Baik Boss" ucap Pengawal Barra.


Pengawal Barra mengepung Rafael. Mereka mulai menghajar Rafael rapi Rafael berusaha melawan balik. Dia berusaha melumpuhkan pengawal Barra. Mereka babu hantam. Anak buah Barra tumbang semua. Tinggal Barra dan Rafael yang berdiri menatap wajah mereka masing-masing.


"Kau kuat juga, aku pikir hanya kecoak yang tak berguna" ucap Barra memuji kemampuan Rafael bertarung.


"Aku datang kesini bukan untuk bertarung atau mencari musuh. Aku hanya ingin mengenang kedua orangtuaku yang meninggal karena kebakaran dirumah ini" ucap Rafael menceritakan semuanya pada Barra.


"Orangtuamu meninggal karena kebakaran dirumah ini?" tanya Barra yang penasaran dengan ucapan Rafael.


"Iya, saat aku masih bayi, seluruh anggota keluargaku mati dalam kebakaran dirumah inj" ucap Rafael.


Barra langsung terdiam mencerna semua ucapan Rafael. Dia berusaha menyambungkan cerita hidupnya dengan Rafael. Tiba-tiba Barra langsung menyerang Rafael. Seketika Rafael berusaha bertahan dengan melawannya. Mereka berdua bertarung satu sama lain tak ada yang mau mengalah. Mereka terus bertarung hingga kelelahan. Barra berusaha menyudutkan Rafael tapi Rafael berusaha menghindar dan menyerangnya balik. Hingga Barra menarik kemeja putih bergaris yang dikenakan Rafael.


Kemeja itu sobek tertarik tangan Barra. Dia melihat ke arah Rafael lalu menyerangnya. Kemudian Barra menangkap tubuh Rafael dan melihat sebuah tanda dilengannya. Ada tanda harimau ditangan Rafael. Dulu saat masih bayi ayahnya sengaja membuat tanda harimau itu dengan jarum pada lengan Rafael.


Barra terkejut melihat tanda harimau dilengan Rafael. Dia menemukan adiknya yang selama ini dicarinya. Barra langsung melepas tubuh Rafael darinya. Dia berdiri tepat didepan Rafael.


"Aku kakakmu" ucap Barra memberitahu Rafael.


"Apa kakakku?" ucap Rafael terkejut.


"Ketika peristiwa kebakaran itu terjadi usiaku baru 14 tahun. Aku berusaha keluar dari peristiwa kebakaran itu bersama adik laki-lakiku yang masih bayi. Tapi saat kami berhasil lolos, aku langsung tak pingsan karena luka disekujur tubuhku. Sejak saat itu aku terpisah denganmu" ucap Barra menceritakan masa lalunya bersama adiknya.

__ADS_1


Rafael mendengarkan semua hal yang diceritakan Barra padanya. Dia masih menimbang-nimbang cerita itu untuk memastikan lekaki yang didepannya adalah kakaknya.


"Apa yang membuatmu yakin aku adikmu?" tanya Rafael.


"Tanda harimau dilenganmu, tanda itu sengaja dibuat ayah untuk semua anak lelakinya. Aku juga memiliki tanda yang sama denganmu" ucap Barra.


Barra melepas pakaiannya. Dia menunjukkan tanda harimau dilengan kanannya pada Rafael.


Melihat itu Rafael yakin kalau lelaki didepannya memang kakaknya.


"Aku senang bisa bertemu denganmu, karena hanya kita yang masih hidup dalam peristiwa pembantaian itu" ucap Barra.


"Pembantaian?" Rafael terkejut ketika Barra mengucapkan kata pembantaian.


"Ayah anggota Gengster Harimau. Karena dia keluar, mereka membantai keluarga kita. Lalu membakar rumah kita disaat keluarga kita dalam keadaan terluka. Saat itu aku berusaha menyelamatkan ayah tapi ayah menyuruhku membawamu duluan, tapi ternyata aku hanya bisa menyelamatkanmu dan bahkan aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Beberapa tahun kemudian saat aku kembali ke tempat ini, hanya tinggal tembok hitam yang terbengkalai tanpa atap" ucap Barra.


"Gengster Harimau itu kejam sekali, mereka tidak berperikemanusiaan" ucap Rafael.


"Pulang? pulang kemana?" tanya Rafael.


"Pulang ke rumahku, banyak hal yang ingin ku bicarakan padamu" ucap Barra.


Rafael berpikir sejenak. Tak ada salahnya dia menerima tawaran kakaknya. Sudah lama juga dia tak bertemu dengannya.


"Oke, tapi aku harus pergi ke suatu tempat dulu" ucap Rafael.


"Aku akan mengantarmu" ucap Barra.


Rafael mengangguk, dia ikut bersama Barra naik ke dalam mobil pribadinya. Mereka meninggalkan tempat itu menuju tempat yang ingin dituju Rafael. Mobil Barra berhenti ditepi jembatan. Rafael turun dari mobil Barra, dia berjalan ke diantaran rumah kumuh yang berderet ditepi sungai. Rafael menuju masjid yang ada didaerah itu. Dia bertemu Ustad Abdul dan berbicara padanya.


"Pak Ustad ini Cek untuk pembangunan masjid ini" ucap Rafael menyerahkan sebuah Cek pada Ustad Abdul.


Seketika Ustad Abdul langsung bersujud. Dia menangis dan mengucapkan syukur. Rumah Allah yang hampir roboh ini akan segera dibangun. Setelah bersujud, Ustad Abdul berbicara pada Rafael.

__ADS_1


"Terimakasih banyak nak Rafael. Karena kebaikanmu masjid ini akan direnovasi" ucap Ustad Abdul.


"Sama-sama Pak Ustad, ini kartu nama donatur yang membiayai pembangunan masjid ini. Beliau berpesan agar tidak ada satu orang pun yang tahu kalau beliau donatur pembangunan masjid ini. Kartu nama ini untuk menghubungi beliau jika membutuhkan biaya untuk perbaikan kedepannya" ucap Rafael menyerahkan kartu nama Leo pada Ustad Abdul.


"Alhamdulillah, masih banyak orang baik seperti nak Rafael dan Pak Leo ini" ucap Ustad Abdul sambil melihat menerima kartu nama yang diberikan Rafael.


"Semoga masjid ini lebih bagus dan kokoh biar yang beribadah disini merasa nyaman" ucap Rafael.


"Iya nak, terimakasih sekali lagi" ucap Ustad Abdul.


"Sama-sama, saya pamit pulang dulu Ustad" ucap Rafael.


"Silahkan nak" ucap Ustad Abdul.


Rafael keluar dari dalam masjid. Dia kembali menuju mobil yang mewah yang terparkir di tepi jembatan. Rafael duduk bersama Barra dikursi belakang mobil. Mobil itu melaju menuju rumah besar milik Barra.


*************


Rehan mengantar ketiga putrinya bersekolah. Mereka bertiga turun dari dalam mobil menuju ke kelas mereka. Kebetulan Haura, Deena dan Alina satu kelas. Mereka sampai diteras kelas 3 IPA 1. Diteras sedang ada kerumunan siswa yang mengerumuni seorang siswa lelaki yang asyik memamerkan kucing dan ayam warna warni miliknya. Haura dan Deena mengajak Alina ikut melihat pertunjukkan dadakan itu.


"Wah barang yang digunakan Si Bolo lebih mahal dari gue yang manusia, jiwa misqueen gue meronta" ucap Cepi.


Bolo adalah kucing menggemaskan milik siswa lelaki yang berada ditengah kerumunan.


"Bandoku aja abal-abal, lah dia yang kucing bandonya ori, sedih berasa istimewa kucing dari pada gue" ucap Lila.


"Masih mending tuh CD Si Bolo lebih cute dari punya gue yang 10 ribu tiga" ucap Dina.


"Dunia ini terbalik manusia gembel lah ini binatang peliharaan berasa sultan" ucap Riko.


"Makanya minta dikutuk jadi ayam warna-warni aja biar pakai barang brended bahkan kalung emas limited edition tuh" ucap Yuri.


Semua siswa membicarakan peliharaan siswa lelaki yang sedang memamerkan kucing dan anak ayamnya.

__ADS_1


__ADS_2