
Adelina mengajakku masuk ke dalam rumah megah dan indah. Seperti istana raja. Tinggi dan luas. Baru kali ini aku menginjakkan kaki di rumah sebesar itu. Entah berapa luas tanah rumah megah milik Keluarga Ariendra. Segala fasilitas ada di rumah itu. Dari salon, bilyar, kolam renang, tempat fitness, lapangan golf, mini market, klinik, kebun binatang kecil, taman bunga, danau buatan, kebun, sawah, peternakan kecil, dan lainnya, aku sampai tak bisa menyebut semuanya. Benar-benar keluarga yang sangat kaya.
Aku duduk bersama anggota Keluarga Ariendra. Mereka memperkenalkan diri masing-masing. Dari Kakek Rehan, Nenek Cinta, Mama Alina, Papa Farel, Adelina, dan lelaki gemulai itu yang bernama Rangga Mirza. Dia terlihat masih kesal denganku karena menjatuhkan handphone-nya.
"Mas Rangga jangan cemberut," ujar Adelina.
"Lagi syok ketemu hantu nyasar," sahut Rangga.
"Kok Aaranya dibilang hantu sih Rangga, cantik juga," puji Alina.
"Makasih Tante," sahutku.
Rangga terlihat tak suka padaku. Dia cemberut memalingkan wajahnya dariku.
"Maaf ya Aara kakakku gak bisa diusik, jadi begitu," ucap Adelina.
"Gak papa," sahutku menahan kesal karena lelaki gemulai itu sombong sekali.
"Kau pindah ke kota A untuk apa?" tanya Farel.
"Untuk mencari kerja Om sekalian kuliah," jawabku.
"Kalau begitu kerjalah di kantorku, sabtu minggu kau bisa kuliah," ucap Farel.
"Iya Nak Aara, tinggalah di sini juga, kebetulan ada masih ada kamar yang kosong," ujar Alina.
Adelina yang duduk di sampingku menggengam tanganku. Dia memberi kode agar aku menerima tawaran dari kedua orangtuanya.
"Iya, terimakasih Om, Tante," sahutku.
"Alhamdulillah," ucap semua orang.
"Adelina antar Aara ke kamarnya!" pinta Alina.
"Iya Ma," sahut Adelina.
Segera Adelina mengantarku menuju lift naik ke lantai tiga. Benar-benar sangat bagus rumahnya. Semuanya modern, mengkilap dan lengkap. Rumah Albern tak sebesar rumah Keluarga Ariendra. Mungkin saja jika aku berjalan akan tersesat. Begitu banyak ruangan dan kamar. Aku sampai lupa lewat jalan mana tadi saat aku hendak masuk ke kamarku. Aku hanya tercengang, dari tadi jalan belum sampai kamarku.
"Adelina apa itu kamarku?" tanyaku menunjuk pintu berwarna pink dengan gantungan bunga-bunga di depannya.
"Itu kamar kakakku, Kak Rangga," jawab Adelina.
Aku terdiam. Benar-benar lelaki pinky boy sejati. Ada gitu spesies seperti dia di dunia ini. Atau dia spesies terakhir. Tak lama sampai juga di kamarku yang bersebelahan dengan kamar pinky boy itu. Kamar yang sangat luas menurutku. Warna krem mendominasi kamar tersebut. Dengan segala fasilitas klasik maupun modern yang ada di dalamnya. Apa yang ku butuhkan ada di kamar itu. Seperti televisi, kulkas, tempat bersantai, sofa, salon pribadi untuk berhias, toilet di dalam kamar, perpustakaan kecil, tempat belajar, dan sebuah balkon yang begitu nyaman dengan taman kecil yang indah. Sepertinya tak keluar kamar pun betah.
"Gimana? Apa kau suka Aara?" tanya Adelina.
"Alhamdulillah lebih dari cukup," jawabku.
"Kalau ada yang kurang atau kau tak suka bilanglah padaku," ujar Adelina.
__ADS_1
"Terimakasih ya Adelina, kau dan keluargamu sangat baik. Aku beruntung bertemu kalian," ucapku.
Adelina hanya mengangguk. Dia tersenyum ramah. Meneduhkan. Wanita sholeha dan lembut tutur kata dan sikapnya. Membuat siapapun nyaman di dekatnya.
"Oya Adelina kenapa Rangga suka warna pink?" tanyaku.
"Kak Rangga memang suka warna pink dari kecil, dan sangat higenes," ucap Adelina.
"Dari kecil seperti itu?" tanyaku.
"Iya, itu karena dulu dia koma cukup lama saat bayi," jawab Adelina.
Aku terkejut dengan pernyataan Adelina.
"Koma?" ucapku.
"Kak Rangga bukan kakak kandungku, 20 tahun lalu terjadi tsunami di kota A, Papa dan Mamaku kehilangan anak pertamanya, kakakku. Begitupun dengan Kak Rangga yang kehilangan kedua orangtuanya," ujar Adelina.
"Bagaimana bisa koma? Apa Rangga terbawa arus tsunami?" tanyaku penasaran.
"Saat itu Papa dan Mama menemukan bayi yang terjebak kubangan lumpur sisa tsunami. Kondisinya parah, Papa dan Mama menolongnya, membawanya ke rumah sakit darurat. Untung saja nyawanya masih bisa tertolong tapi dia harus koma selama dua tahun. Papa dan Mama merawatnya hingga sadar. Dokter menyarankan untuk tetap higenis untuk menjaga kesehatannya yang masih rentan saat itu, dan berkelanjutan hingga sekarang," ujar Adelina.
"Jadi Rangga bukan kakakmu?" tanyaku.
"Iya, sejak dia sadar, Papa dan Mama mengangkatnya sebagai anak, menggantikan anak pertamanya," jawab Adelina.
"Kakak kandungmu laki-laki atau perempuan?" tanyaku.
"Aku turut berduka atas kepergiaan kakak kandungmu," ucapku.
Adelina memgangguk. Matanya terlihat berkaca-kaca usai menceritakan kepergian kakak kandungnya.
"Ternyata bukan hanya aku saja yang kehilangan orang tercinta, bahkan kemarin aku bilang padamu kalau kau tidak tahu apa yang ku rasakan," ujarku.
"Aku sudah ikhlas, hanya saja suka sedih melihat kalau Papa dan Mama menceritakan saat-saat kehilangan putri pertamanya dalam tsunami itu," ujar Adelina.
Aku terdiam. Kehilangan seseorang yang dicintai tiba-tiba dalam peristiwa menakutkan memang menyedihkan meskipun kita sudah ikhlas, tapi luka itu tetap membekas dan tak kan terlupakan.
Adelina membantuku membereskan semua bajuku ke lemari. Kami mengobrol dan bergurau. Dia seperti adikku. Ternyata dia baru kuliah semester dua. Tadinya ku pikir hidupku akan sendirian kesepian sepeninggal Albern tapi justru aku dikelilingi kehangatan Adelina dan keluarganya begitu baik. Memberiku pekerjaan dan tempat tinggal.
Siang itu aku ke luar dari kamarku. Tak sengaja bertemu Rangga yang mengenakan baju piyama pink dengan sandal tidur berbulu berwarna pink.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Tatapanmu penuh virus, aku harus mengamankan diriku," ujar Rangga.
"Baru kali ini ada orang yang bilang tatapan mata mengandung virus, kau belajar di mana?" Aku marah. Sebal sekali bertemu lelaki gerli dan sok bersih itu. Di rumah ini cuma dia yang seharusnya tiada. Kenapa juga dia harus jadi umat di Keluarga Ariendra.
"Dari pertama sakit paru-paruku kambuh itu karena bertemumu. Kau sudah menularkan virusmu padaku," ucap Rangga.
"Hei itu sudah lama sekali, kau sakit itu karena sok sterill," celetukku padanya.
__ADS_1
"Seharusnya Papa dan Mama menaruhmu di gudang bukan di samping kamarku, virus-virus yang kau bawa pasti mengudara sampai kamarku," ujar Rangga.
Makhluk dari planet mana dia? Kenapa aku begitu kesal cuma menatapnya. Ingin rasanya ku sobek pakain pinky-nya. Ku buang sandal pink-nya, ku oles lumpur tubuhnya.
Tiba-tiba dia menyemprot tubuhku dengan disinfektan.
Sruuut ... sruuut ...
"Kau apa-apaan?" ucapku kesal.
"Biar sterill, virusnya mati, mulutmu juga gak bau," ujar Rangga.
Aku sudah kehilangan akal sehatku sejak bertemu manusia pink ini. Saatnya ku balas.
"Rasain nih!" ucapku mengoleskan tanganku ke piyamanya.
"Ei ... ei ... singkirkan tanganmu belum sterill," ujar Rangga ketakutan. Dia berlari menghindariku. Namun aku tak kan menyerah, sekali-kali harus ku lawan biar kapok.
"Sini! Kenapa kau takut?" ujarku mengejar Rangga hingga masuk ke dalam kamarnya. Dan dia menutup pintu kamarnya.
Aku berdiri di depan pintu kamar Rangga dengan puas akhirnya aku berhasil mengandangkan pinky boy.
"Lain kali aku harus membawa kotoran ayam biar dia jauh-jauh dari radarku," ujarku. Manusia pinky itu harus dihempaskan dari muka bumi. Biar tak ada lagi makhluk sok sterill sepertinya.
Ku turunkan emosiku yang sempat meledak karena makhluk pinky itu. Perutku mulai lapar, suaranya terdengar nyari. Sepertinya cacing-cacing mulai protes meminta jatah antrian. Mungkin lebih baik aku turun ke bawah. Di rumah sebesar ini pasti banyak makanan. Lagi pula sebentar lagi makan siang. Aku turun ke bawah menggunakan tangga. Benar-benar melelahkan. Mau ke dapur saja sejauh ini. Seperti mengelilingi lapangan. Dari lantai tiga ke lantai satu. Seharusnya aku naik lift.
"Huh ...." Nafasku tersengal-sengal.
"Aara," panggil Alina.
"Iya Tante," sahutku.
"Kau mau ikut Tante masak?" tanya Alina.
"Boleh," sahutku.
Aku mengikuti Tante Alina masuk ke dapur. Oh ..., itu dapur atau aula. Luas banget. Sepertinya aku bisa main badminton atau sepak bola di sini.
"Kemarilah!" panggil Alina. Seorang wanita yang kuperkirakan usianya sudah kepala empat. Tapi terlihat cantik dan awet muda sama seperti Nenek Cinta yang juga cantik untuk ukuran nenek-nenek. Keluarga ini memang the best. Selain kaya, baik dan dermawan. Sungguh beruntung jika menjadi anggota keluarganya.
"Iya Tante," sahutku sambil berjalan menghampiri Tante Alina yang sedang menyiangi sayuran bersama para pembantu rumahnya. Beliau memperkenalkanku pada semua pembantu yang memasak dan kepala koki rumah itu. Jika dihitung banyak juga karyawan yang bekerja di rumah ini. Dari pembantu, koki, penata rias, guru ngaji, sopir, satpam, tukang kebun, bodyguard, maintenance, dan orang-orang yang terlibat lainnya. Sungguh ini lebih seperti istana bukan rumah.
"Aara kau mau makan apa?" tanya Alina yang berpindah tempat di depan sebuah mesin yang ada layarnya.
Aku terkejut ketika ada sebuah mesin dengan layar yang mirip mesin pendaftaran di rumah sakit atau bank.
"Pilihlah! Biar koki memasaknya," ucap Alina.
"Ini sangat berbeda dengan kehidupanku, mereka benar-benar kaya," batinku.
__ADS_1
Aku menghampiri Tante Alina. Berdiri di depan mesin canggih itu. Memilih berbagai menu dalam negeri atau luar negeri. Setelah ku pilih. Otomatis kepala koki memberi arahan pada koki untuk memasak.
Aku bingung. Sepertinya tak perlu membantu. Pasukannya lebih banyak. Aku hanya diam seperti mandor dan mengobrol bersama Tante Alina yang begitu ramah padaku. Jadi teringat ibuku.