Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Masa Lalu Rehan Part 82


__ADS_3

Alina memeluk Farel dan menangis. Dia coba menelpon Rehan. Alina meminta tolong agar Rehan mengantarnya ke rumah sakit. Tak lama Rehan datang. Dia mengantar Alina dan Farel ke rumah sakit. Farel mendapatkan penanganan dari Dokter diruang UGD. Alina menunggu dikursi tunggu diluar UGD bersama Rehan.


"Alina, apa yang terjadi? kenapa Farel babak belur?" tanya Rehan.


"Tadi kita ingin menolong seorang perempuan yang meminta tolong tapi ternyata perempuan itu malah berteriak kalau kami mau menodongnya, jadi warga mengeroyok kami Pa" jawab Alina.


"Kok aneh banget ada orang yang kaya gitu" kata Rehan.


"Iya Pa, Alina juga gak tahu kenapa dia begitu" tambah Alina.


Farel dibawa ke ruang rawat inap. Alina dan Rehan ikut ke ruang rawat inap. Untung saja Farel sudah siuman. Dia hanya mengalami luka dibeberapa muka, tangan dan kaki. Alina memeluk Farel yang sudah sadar.


"Kak Rafa aku khawatir banget" ucap Alina.


"Aku sudah sadar Alina, kau tak perlu khawatir" ucap Farel.


"Syukurlah kalau kau sudah sadar dan baik-baik saja nak Farel" ucap Rehan.


"Iya Pa, alhamdulillah" ucap Farel.


Setelah tahu kondisi Farel baik-baik saja, Rehan memutuskan pulang. Tinggal Alina yang menemani Farel diruang rawat inap itu. Kebetulang ruang VVIP, VIP dan kelas satu dirumah sakit itu penuh, jadi Farel berada diruang rawat inap kelas dua yang berisi tiga pasien. Setiap ruangan dibatasi gorden panjang berbentuk kotak memutari setiap ruangan berbentuk persegi. Alina tidur diranjang pasien dipeluk Farel.


"Kak Rafa nanti kalau suster liat gak enak, aku tidur dibawah saja ya" ucap Alina.


"Suster gak akan datang, kita bisa berduaan sampai pagi" ujar Farel.


"Kakak ada-ada saja" ucap Alina.


Farel mencium Alina dan mengelus perutnya.


"Kak Rafa semoga secepatnya aku hamil" ucap Alina.


"Sabar sayang, nanti juga Allah akan memberi kita amanah secepatnya, amim" ucap Farel.


"Amin" ucap Alina.


"Kak, Haura dibawa kemana ya sama penculiknya?" tanya Alina.


"Aku gak tahu sayang, tapi aku yakin ini bukan penculikan biasa, ada seseorang yang memang sudah merencanakan semua ini" ucap Farel.


"Semoga Haura baik-baik saja dan kita segera menemukannya" ucap Alina.


"Amin" ucap Farel.


Alina tidur dipelukan Farel sampai pagi. Diruang sebelah ada seorang kakek-kakek bernama Nurdin dan seorang remaja bernama Ahmad yang dirawat diruangan yang sama dengan Farel. Pagi itu kakek-kakek bosan hanya berbaring diranjang. Dia sudah lama dirawat karena sakit diabetes. Dia menghampiri seorang remaja yang biasanya sebagai temannya ngobrol. Remaja itu menderita sakit jantung. Saat Kakek Nurdin masuk ke ruangannya, Ahmad sedang sholat dhuha. Selesai sholat dia duduk diranjang sedangkan kakek duduk dikursi.


"Cu kau itu rajin sekali sholat, biasanya anak muda malas sholat tahu. Mereka biasanya asyik main handphone dan kumpul bersama teman-temannya" ucap Kakek Nurdin.


"Aku hanya ingin mendekatkan diri pada Allah, siapa tahu besok diambil, kalau seandainya aku mati semoga dalam keadaan sholat bukan dalam keadaan sedang main handphone atau kumpul-kumpul gak jelas" ujar Ahmad.


"Kamu masih muda paling juga kakek duluan yang mati, lihat kaki kakek dah pada mau busuk" kata Kakek Nurdin.


"Umur gak ada yang tahu, tua ataupun muda bahkan bayi saja bisa meninggal kapanpun" ujar Ahmad.


"Kamu itu takut banget mati sih, santai saja. Lihat kakek aja yang udah tua santai. Ngapain mikirin mati. Mending gunakan waktumu untuk bersenang-senang, mumpung masih muda" ujar Kakek Nurdin.


Selesai mengobrol Kakek Nurdin kembali ke ranjangnya, dia berbaring. Dua jam dia tidur. Dia mulai bosan, dia beranjak dari ranjang untuk menghampiri Ahmad lagi. Saat dia masuk ke ruangan tempat Ahmad berada, dia melihat Ahmat sedang sholat, posisinya sujud.


"Sholat kok lama banget, sujud terus lagi" batin Kakek Nurdin.


Kakek Nurdin terus menunggu hingga 15 menit tapi Ahmad tetap bersujud. Dia mulai curiga dan mendekati Ahmad. Kakek menepuk punggungnya.

__ADS_1


"Ahmad...Ahmad..., masa sujud aja kamu lama banget" ucap Kakek Nurdin.


Karena Ahmad tidak menyahut, kakek coba memeriksa nadi dilehernya, ternyata Ahmad sudah meninggal.


"Innalilahi waina ilahi roj'iun" ucap Kakek Nurdin.


"Kamu benar Ahmad, umur gak ada yang tahu. Dan Allah sudah mengijabah doamu, kau meninggal dalam keadaan sholat. Semoga husnul khotimah, amin" ucap Kakek Nurdin.


Kakek Nurdin sadar, umur tidak ada yang tahu. Siapapun bisa mati kapanpun dimanapun. Tapi cara dia kembali itulah yang harus kita persiapkan. Alangkah baiknya Ahmad yang senantiasa menjalankan sholat wajib begitupun dengan sholat sunnah. Dia terus istiqomah dijalan yang benar. Saat dia kembalipun dalam keadaan terbaik, keadaan melaksanakan sholat.


************


Haura duduk dilantai sel. Dia masih mengenakan gaun pengantin lengkap. Haura tidak tahu kenapa dia diculik. Wanita berwajah cacat masuk ke dalam sel tempat Haura ditawan. Dia berdiri didepan Haura yang sedang duduk.


"Gimana? apa kau bahagia?" tanya Wanita berwajah cacat.


"Siapa kau? kenapa aku ditawan?" tanya Haura balik.


"Ha ha ha, kau ingin tahu sekali sepertinya" ucap Wanita berwajah cacat.


Haura hanya memandang wanita yang berdiri didepannya itu dengan kekesalan.


"Oke, aku akan memberi tahumu" jawab Wanita berwajah cacat.


"Tidak usah basa basi, katakan cepat!" bentak Haura.


"Dengarkan!" perintah wanita berwajah cacat.


Flash Back On


Hari itu Eden membawa pulang Sarah ke rumahnya. Dia ingin mengenalkan Sarah pada keluarganya. Mereka berdua masuk ke ruang keluarga. Disana Rehan yang masih remaja duduk disofa sedang asyik main game. Mereka berdua menghampiri Rehan.


"Kak baru pulang, siapa?" tanya Rehan.


"Sarah, pacarku" jawab Eden.


"Pinter lo milih pacar" ucap Rehan.


"Iya dong, Eden" Eden membanggakan dirinya.


Sarah duduk disofa bersama Rehan. Sedangkan Eden berdiri.


"Sayang aku ke atas dulu nyari Mama ya" ucap Eden.


"Iya sayang" ucap Sarah.


Eden meninggalkan Sarah menuju ke lantai atas. Tinggal Sarah dan Rehan yang ada diruang keluarga.


"Kamu mau minum cantik?" tanya Rehan.


"Boleh" ucap Sarah.


Sarah memperhatikan Rehan yang begitu tampan. Dia sampai tak berkedip melihatnya.


"Cantik kenapa? aku ganteng ya?" tanya Rehan.


Sarah hanya tersenyum malu-malu. Rehan yang kala itu playboy mendekati Sarah dan menciumnya. Gadis itu tidak menolak justru hanyut dalam ciuman yang diberikan Rehan.


"Enak?" tanya Rehan.


Sarah hanya tersenyum malu.

__ADS_1


"Tukeran no handphone dong" ucap Rehan.


"Boleh" ucap Sarah.


Sarah mengambil handphone ditas miliknya. Dia memberikan handphonenya pada Rehan. Segera Rehan menulis no handphonenya dihandphone Sarah.


"Telpon aku kalau kangen" ucap Rehan.


Sarah mengangguk. Sejak saat itu Rehan dan Sarah sering jalan berdua dibelakang Eden. Sarah tidak tahu kalau Rehan playboy. Dia sudah termakan kata-kata manisnya. Hampir setiap hari ngapel dengan alasan bertemu Eden padahal tujuannya ingin bertemu Rehan. Ketika Rehan pindah ke apartemen, hampir setiap hari Sarah datang ke apartemen Rehan. Malam itu dia ingin memberikan dirinya pada Rehan. Dikamar apartemen itu dia bermesraan dengan Rehan. Sarah berdiri dan menanggalkan pakaiannya didepan Rehan.


"Kau yakin?" tanya Rehan.


"Aku ingin jadi milikmu Rehan" jawab Sarah.


Rehan mendekati Sarah, menciumnya.


"Sarah kau gadis murahan seperti gadis-gadis yang sering ku kencani, asal kau tau selama ini aku hanya ingin mempermainkanmu yang murahan. Kau tidak setia pada kakakku" ujar Rehan seusai mencium Sarah.


"Apa? jadi kebersamaan kita selama ini?" ucap Sarah.


"Kau hanya bermimpi, ingin memilikiku dan Eden secara bersamaan. Kau pikir aku bodoh. Gadis sepertimu lebih rendah dari gadis yang biasa ku kencani" ucap Rehan.


"Kau" teriak Sarah hendak menampar Rehan tapi ditahan tangan Rehan.


"Gadis murahan sepertimu tidak berhak menyentuhku sedikitpun, justru aku jijik padamu" ucap Rehan.


"Kau jahat Rehan hik hik hik" Sarah menangis.


"Yang jahat itu kau, teganya kau berselingkuh dengan adik kekasihmu sendiri dan bahkan ingin menyerahkan harga dirimu. Padahal kau akan menikahi kakaknya" ucap Rehan.


Sarah menangis dan berteriak. Dia kesal pada Rehan tapi Rehan hanya tertawa.


"Rehan ingat, suatu saat aku akan membalas penghinaan ini padamu hik hik hik" ucap Sarah.


Sarah keluar dari apartemen Rehan. Sejak saat itu hubungan Sarah dan Eden merenggang. Sarah juga memutuskan hubungannya dengan Eden. Semua itu membuat Eden sangat sedih. Dia yang sangat mencintai Sarah begitu terpukul dengan keputusan Sarah. Eden sampai mengemis-ngemis dan memohon pada Sarah tapi Sarah tetap meninggalkannya. Hingga pada suatu hari Sarah kecelakaan. Wajahnya cacat. Dia semakin terpuruk dan membenci Rehan. Dia memutuskan pergi ke luar negeri. Dibandara Eden mengejarnya berusaha menghentikannya.


"Sarah jangan tinggalkan aku, ku mohon" pinta Eden.


"Aku tidak mencintaimu Eden, aku mencintai Rehan, kalau Rehan tidak mau membalas cintaku lebih baik aku mati" ucap Sarah.


"Tapi aku sangat mencintaimu, ku mohon kembalilah padaku" ucap Eden.


"Aku tidak mau hidup denganmu, aku hanya ingin hidup bersama Rehan. Kau tidak sekeren dan setampan Rehan. Aku hanya ingin dia" ucap Sarah.


"Rehan? kenapa harus Rehan? aku bisa mencintaimu apa adanya, Rehan itu playboy" ucap Eden.


"Aku tidak peduli, aku hanya ingin dia" ucap Sarah.


Eden sampai berlutut didepan Sarah. Dia menangis.


"Ku mohon Sarah, kembalilah padaku jangan pergi. Aku sangat mencintaimu" ucap Eden.


Sarah tidak peduli dan tetap melangkah meninggalkan Eden.


"Saraaah" teriak Eden.


Sejak saat itu, Eden sangat membenci Rehan. Dia merasa Rehanlah yang membuat Sarah pergi. Segala cara dilakukan untuk menjatuhkan dan membalas rasa sakitnya pada Rehan. Tapi Rehan pintar, dia selalu mengagalkan rencana Eden.


Flash Back Off


"Sekarang kau tau kenapa aku menawanmu?" ucap Sarah.

__ADS_1


__ADS_2