Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 62


__ADS_3

Setelah Albern bicara dengan Dokter, dia keluar dari dalam ruangan. Memghampiri kami yang terlihat cemas dengan kondisi Bobo. Albern terlihat sedih, membuatku berpikir yang tidak-tidak. Apalagi aku melihat sendiri seperti apa Bobo saat terluka karena pecahan kaca itu. Tanganku sangat dingin, jantungku tak hentinya berdebar, takut Albern akan mengeluarkan kata-kata yang tak ingin ku dengarkan. Mataku sudah berkaca-kaca, siap menangis sekuat tenaga, namun.


"Alhamdulillah Bobo bisa diselamatkan, operasinya berhasil," ujar Albern.


"Alhamdulillah," ucap kami bertiga mendengar kabar yang dibawa Albern. Setengah nyawaku kembali pulih. Kekhawatiranku sekarang mereda. Senyumanku bisa kembali mekar seperti sedia kala. Begitupun dengan yang lainnya. Raina, Axel, mereka terlihat gembira. Air mata yang tadi terus mengalir surut juga.


"Terus gimana kondisi Bobo?" tanya Axel.


"Baik-baik saja sekarang sedang observasi pasca operasi selama 1 jam," ujar Albern.


"Syukurlah, semoga Bobo cepat pulih dan sehat kembali, amin," ucap Axel.


"Amin," sahut kami bertiga.


Satu jam berlalu. Bobo dibawa ke ruang perawatan di ruang rawat inap Bromelia kelas VVIP. Kami berempat masuk ke dalam menemani Bobo. Dia sudah mulai sadar. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengoceh tersenyum membuat kami bahagia melihatnya. Demamnya juga sudah turun. Bobo kembali bermain dengan tangannya.


"Bobo sayang, Momy seneng banget Bobo udah sehat lagi," ucapku.


"Tante juga seneng Bobo udah ngoceh lagi," kata Raina.


Bobo mulai mengoceh dan tersenyum. Aku memegangi pipinya yang cabi. Dia terlihat lucu dan menggemaskan seperti biasanya. Albern merangkulku. Dia ikut senang. Tinggal menunggu hasil tes DNA. Untuk sementara ini kami tidak memberitahu pada Axel dan Raina. Kami akan memberitahu setelah hasil itu ke luar.


Dua jam berlalu. Aku duduk di sofa setelah Bobo tidur. Axel dan Raina juga sudah pulang. Albern meminta mereka pulang karena kebijakan rumah sakit yang tidak memperbolehkan ditunggu banyak orang. Tinggal aku dan Albern di ruangan itu. Albern duduk di sampingku. Memelukku.


"Sayang kau mau tidur?" tanya Albern.


"Aku gak bisa tidur," jawabku.


"Mau melakukan yang lain gak?" tanya Albern.


"Jangan berpikir mesum, ini rumah sakit," jawabku.


"Aku gak berpikir mesum sayang, atau jangan-jangan kamu yang mesum?" ledek Albern.


"Gak, gak mungkin aku mesum," elakku.


"Masa? Tanganmu dari tadi pegang dadaku," ujar Albern.

__ADS_1


"Iih ...," ucapku sambil melepas pelukan dari Albern. Dan memalingkan badanku membelakanginya.


"Sayang marah?" tanya Albern sambil memelukku dari belakang.


Aku diam saja. Biarin ku kerjain suamiku buaya ini.


"Sayang maaf ya, aku gak akan bicara seperti itu lagi," ucap Albern.


Aku menahan tawa. Mendengar permintamaafan Albern yang terlihat sangat bersalah. Aku tetap diam, ingin tahu seperti apa kalau aku tetap mendiamkannya.


"Sayang, aku harus melakukan apa biar kau memaafkanmu?" tanya Albern.


Aku masih diam. Walau perutku ini geli karena menahan tawa.


"Sayang katakan sesuatu, aku akan melakukan apapun," ujar Albern.


"Beneran apa aja?" tanyaku.


"Iya, suer deh!" ujar Albern.


Akhirnya aku bisa mengerjai Albern. Dia terpaksa menari India dengan selimut rumah sakit ala-ala baju india.


"Suamiku terus aja gulung-gulung, masuk angin tar," ucapku.


Albern tersenyum mendengar ucapanku. Dia tetap menari menghiburku. Bahagianya meskipun itu sederhana. Setelah itu kami tidur di sofa. Albern memelukku karena kelelahan.


***


Satu minggu berlalu. Bobo sudah sehat kembali. Dia sudah bisa merangkak, sepertinya gara-gara sakit Bobo jadi lincah. Dia lagi gak mau diem, merangkak ke mana pun, Albern terlihat lelah menemaninya bermain di ruang keluarga.


"Sayang pegel nih," keluh Albern.


"Baru satu, belum dua tiga," sahutku.


Albern langsung semangat. Dia menghampiriku yang sedang berdiri merapikan pajangan di atas lemari. Dia memelukku dari belakang.


"Kalau gitu kita bikin satu lagi, gak papa capek juga," ujar Albern.

__ADS_1


"Iya, tapi nanti malam. Bukannya hari ini kita mau ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA?" ujarku.


"Oke, kita ke rumah sakit sekarang tapi nanti malam ya?" tanya Albern.


Aku mengangguk. Albern langsung mencium pipiku. Sekarang kami memiliki keluarga kecil yang bahagia. Aku, Bobo dan Albern.


Kami berangkat ke rumah sakit. Langkah kaki Albern lebih kencang dariku. Dia tak sabar ingin tahu hasil tes DNA. Kami ke laboratorium. Berdiri di depan adminustrasi, mengambil hasil tes DNA-nya.


"Ini Tuan," ucap staf administrasi di laboratorium memberikan sebuah amplop putih pada Albern.


"Terimakasih," sahut Albern sambil mengambil amplop putih itu.


Aku dan Albern berdiri tak jauh dari laboratorium. Tak sabar ingin membuka amplop.


"Buka suamiku," pintaku.


Albern mengangguk. Dia membuka amplop putih itu. Dan mengeluarkan kertas di dalamnya. Kami terkejut saat melihat hasilnya. 99,9 % Bobo dan Albern adalah ayah dan anak.


"Jadi Bobo, benar-benar anakmu suamiku," ujarku.


"Iya, alhamdulillah," sahut Albern.


"Alhamdulillah," ucapku juga.


Albern langsung mengambil Bobo dari gendonganku. Menggendongnya, menciuminya, dan memeluknya.


"Ini Papa Bobo, Papa," ucap Albern.


"Pa-Pa," ucapku mengajari Bobo bicara.


"Pa .. Pa ..," sahut Bobo yang mulai bisa bicara akhir-akhir ini. Dia sudah mulai menirukan suara apapun.


"Iya anak Papa," ujar Albern begitu bahagia menggendong Bobo. Begitupun denganku yang juga sangat bahagia. Ternyata bayi yang kutemukan adalah anak Albern, dan aku jadi istrinya. Takdir memang sudah mempertemukan kita dalam satu titik temu. Menjadi satu keluarga kecil yang bahagia.


"Suamiku, kita harus memberitahu Raina dan Axel. Raina pasti senang sekali kalau tahu Bobo anaknya masih hidup," ucapku.


"Kau benar, mereka harus tahu, khususnya Raina," sahut Albern.

__ADS_1


Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke rumah Axel dan Raina. Semoga kabar ini bisa membuat mereka ikut bahagia.


__ADS_2