Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Ayah Zara di PHK


__ADS_3

Hari Minggu siang yang cerah, Zara pergi mengunjungi keluarganya. Zara berjalan menuju rumah orangtuanya didaerah Margasari. Sampai didepan rumah  orangtuanya, Zara terkejut warung sembako ibunya sudah ditutup. Zara segera menuju ke dalam rumahnya.Zara bertemu Ayah, Ibu, dan ketiga adiknya. Zara langsung memeluk ketiga adiknya. Ibunya mengajak Zara makan siang. Adik-adik Zara pergi ke luar main dengan teman-temannya. Mereka makan sambil berbicara masalah keluarga.


"Gimana kabarmu nak?"tanya Pak Iwan.


"Sehat pak"ucap Zara.


"Leo sehat juga?"tanya Ibu Sari.


"Iya Bu, Bu kok warung ditutup?"tanya Zara.


"Kita akan pindah ke kota B lagi"ucap Ibu Sari.


"Bapak di PHK Zara, maka dari itu kita akan pindah"


ucap Pak Iwan.


"Kita mau buka warung nasi di depan Kampus kakakmu, Yusuf"ucap Ibu Sari.


"Lalu rumah ini gimana Bu?"tanya Zara.


"Rumah ini mau dijual, kemarin sudah ada yang mau beli"ucap Pak Iwan.


"Zara mau ikut bapak dan ibu"ucap Zara dengan wajah yang sedih.


"Gak bisa nak, sekarang kamu sudah punya suami.kamu harus ikut suamimu"ucap Ibu Sari.


"Zara akan susah bertemu bapak dan Ibu"ucap Zara.


"Nanti kalau kami ada waktu akan mengunjungimu"


ucap Pak Iwan.


"Minggu depan kita akan berangkat"ucap Ibu Sari.


Orangtua Zara menjelaskan kepindahan mereka ke kota B. Selain karena Pak Iwan diPHK, biaya hidup dikota A juga mahal jika tetap tinggal disini. Zara mencoba memahami alasan orangtuanya pindah.


Tempat tinggal orangtuanya akan sangat jauh dari Zara. Memerlukan perjalanan 2 hari naik Bus dari Kota A ke Kota B. Zara sangat sedih mendengar berita itu. Selama ini Zara tidak pernah jauh dari orangtuanya. Walaupun hidup sederhana tapi mereka selalu bersama. Zara juga tidak bisa menceritakan keadaannya bersama Leo kepada orangtuanya. Zara tidak ingin mereka mencemaskanya.


Zara kembali ke kosannya. Raut wajah Zara yang terlihat murung dan bersedih membuat Leo penasaran. Leo menanyakan pada Zara penyebab dia murung. Zara menjelaskan pada Leo semua masalahnya. Leo segera menyemangati dan menghibur Zara. Zara sudah merasa tenang setelah mendengarkan kata-kata Leo. Leo mengajak Zara jalan-jalan sore menikmati suasana ramai disore hari.

__ADS_1


Leo dan Zara berada di Taman Kota.


Mereka duduk dekat air mancur. Udara disana sejuk dan pemandangannya indah. Banyak bunga-bunga tumbuh ditaman itu. Anak-anak kecil berlari-lari kesana-kemari. Banyak pasangan anggota keluarga yang bersantai sore di Taman Bunga. Setelah beberapa lama mereka memutuskan membeli makan dan kembali ke kosan.


Ibu Vivi sedang duduk diranjangnya. Pak Anton yang baru berganti pakaian selesai mandi menghampiri Ibu Vivi. Pak Anton melihat Ibu Vivi yang murung dan bersedih. Pak Anton tau apa yang sedang dipikirkan istrinya itu. Pak Anton coba mengajaknya bicara.


"Ma kenapa?"tanya Pak Anton.


"Kangen sama Leo"ucap Ibu Vivi.


"Sabar ya ma"ucap Pak Anton.


"Sampai kapan papa akan akan menghukum Leo"


ucap Ibu Vivi.


"Sampai dia merubah kebiasaan buruknya ma"


ucap Pak Anton.


"Apa mama gak bisa bertemu Leo pa?"tanya Ibu Vivi.


"Pah kasian Leo diluar, apa sudah makan ya?"tanya Ibu Vivi.


"Ma,dulu waktu sesusia Leo papa sudah jadi tulang


punggung keluarga"jawab Pak Anton.


"Tapi Zaman sudah beda pah"ucap Ibu Vivi.


"Justru karena Zaman sudah beda, hidup semakin sulit persaingan diluar semakin keras, Leo harus mampu melewatinya kalau mau tetap hidup"ucap


Pak Anton.


"Tapi Leo kan punya orangtua pah"ucap Ibu Vivi.


"Kita gak tahu umur kita sampai kapan ma, klau Leo


masih begitu gimana dia bisa mandiri"ucap Pak Anton.

__ADS_1


"Bener sih pah"ucap Ibu Vivi.


"Papa yakin Leo bisa melewatinya dia kan laki-laki"


ucap Pak Anton.


"Ya Pa"ucap Ibu Vivi.


Mereka berbincang seputar kehidupan Leo. Pak Anton ingin Leo bisa mandiri dan bertanggungjawab atas semua kesalahan dan tindakannya. Mereka sangat menyayangi Leo. Semua yang mereka lakukan sekarang ini demi kebaikan Leo kedepannya. Mereka tidak ingin Leo terus-terusan melakukan kebiasaan buruknya. Mereka ingin mengajarkan pada Leo bahwa hidup itu keras tidak mudah mendapatkan uang. Apapun harus kerja keras dan berusaha dengan sekuat tenaga. Mereka ingin Leo bisa mensyukuri segala sesuatu yang dia punya dan yang dia dapatkan. Agar kelak dia menjadi orang yang sukses dalam hidupnya.


Leo dan Zara sedang belajar seperti biasa. Zara sedang mengerjakan tugas Bahasa Inggris dan Leo mengerjakan tugas Sosiologi. Leo selalu menanyakan soal-soal yang sulit pada Zara.Zara selalu berusaha membantu dan mengajari Leo cara menyelesaikannya. Leo mulai memahami setiap materi yang ada diMapelnya. Setelah selesai belajar mereka mulai berbaring ditempat tidurnya masing-masing. Mereka menyempatkan mengobrol sebentar.


"Zara kamu masih sedih?"tanya Leo.


"Sedikit"jawab Zara.


"Kalau kamu mau ikut orangtuamu aku gak papa"


ucap Leo.


"Tapi kamu gimana Leo?"tanya Zara.


"Gak papa aku bisa kok sendiri"jawab Leo.


"Tapi akukan istri kamu"ucap Zara.


"Aku sudah mengizinkanmu"ucap Leo.


"Kenapa kamu mengizinkan?"tanya Zara.


"Karena aku belum bisa memberikan hidup yang layak untukmu, aku ingin kamu bahagia"ucap Leo.


"Awalnya aku ingin ikut bersama orangtuaku tapi...ibuku benar sebagai istri aku akan bersamamu dalam suka dan duka"ucap Zara.


"Kamu yakin Zara?"tanya Leo.


"Yakin"jawab Zara.


Leo tersentuh dengan ucapan Zara.

__ADS_1


Mungkin Leo akan kesepian kalau gak ada Zara. Melewati kesulitan hidup yang baru dia jalani.Leo yang terbiasa hidup senang dan bermewah-mewahan tiba-tiba harus menjalani hidup yang sulit. Ini merubah hidup Leo 180 derajat. Dengan adanya Zara, Leo merasa memiliki teman senasib dengannya. Zara secara tidak langsung jadi penyemangat hidup Leo. Leo yang sedikit demi sedikit mulai berubah semua ini karena kesulitan yang dia hadapi bersama Zara. Walaupun terkadang masih labil karena usia mudanya. Leo akan berusaha bersama Zara.


__ADS_2