Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Season 4 Part 9


__ADS_3

Lelaki tampan itu berdiri di depan mobil, terlihat menelpon seseorang. Tak lama Axel datang menghampirinya. Sungguh jiwa kepoku meronta, susah dipungkiri, aku ingin tahu apa yang terjadi. Udah nyungsep ke semak atau ngintip ke samping mobil, kemon.


Aku ingin mendengarkan percakapan dua tampan ini. Mana tahu mereka sedang memperebutkanku. Kebayang film drakor yang selalu ada satu cewek dua cowok, cewek sebagai female leader, cowok pertama sebagai main leader dan cowok kedua sebagai second leader. Dan kebanyakan penonton selalu condong ke second leader sebagai tokoh sad boy. Udah lupakan lamunanku yang tak mungkin tapi ...


"Aara aku cinta padamu."


"Aku juga cinta padamu."


"Pilih mana? kalian ganteng semua, gimana kalau ngeharem aja biar adil?" ucapku dalam lamunan indahku, tapi semua itu tak terjadi pada kenyataannya, paling jika mereka memperebutkanku, itu karena.


"Aara ambilkan aku minum!"


"Aara pijati kakiku pegal."


"Tuan muda dan paduka yang mana dulu yang harus ku lakukan?" tanyaku.


"Ikuti perintahku dulu!"


"Enak saja, lakukan dulu perintahku!"


Seperti itu kenyataan yang mungkin terjadi. Tak mungkin lah aku diperebutkan kedua tokoh utama dalam drakor ini. Paling juga mentok jadi babu mereka, sungguh nasib lemot selalu terpojok.


Sudah kembali ke laptop. Kebanyakan melamun ketinggalan berita utama. Fokus pada tujuanku nguping, cekidot.


"Untuk apa kau ke sini?" tanya Axel kesal. Sepertinya tak senang dengan kedatangan lelaki di depannya. Rasanya ingin segera kabur dan menjauh.


"Aku hanya ingin melihat perkembangan sekolah ini, sekalian bertemu denganmu, sudah lama kita tak bertemu," jawab lelaki tampan itu. Dia terlihat sopan. Mungkin dia memang orang yang baik.


"Tapi aku tidak ingin ada yang tahu, kau kakakku," sahut Axel.


Lelaki tampan itu kakak Axel pantas wajahnya sedikit mirip dengannya, adiknya saja tampan apalagi abangnya. Paling tidak kalau ditolak adiknya masih ada abangnya, ya kalau ditolak abangnya gak mungkin juga ma kakeknya. Aku malah membayangkan hal yang aneh-aneh bukannya aku seharusnya kepo dengan obrolan kedua abang ade ini.

__ADS_1


"Oke, aku harus meeting, see you," ucap lelaki tampan itu meninggalkan Axel begitu saja. Axel hanya diam tanpa kata. Sudah cukup untukku mendapat informasi yang tak penting ini, cabut sebelum bel masuk berbunyi tapi tiba-tiba kerah bajuku ditarik dari belakang. Aku menoleh ke belakang.


"Axel," ujarku. Bisa kena palu thor gara-gara nguping pembicaraan yang tak penting tadi. Bagaimana caraku menyelamatkan diri, Axel terlihat dingin.


"Kau menguping?" tanya Axel menatapku tajam. Ampun seharusnya aku kabur dari tadi. Malah nyari penyakit begini.


"Gak, aku sedang mencari belalang untuk praktik biologi," ujarku mencari alasan yang bisa ku jadikan dahlil.


"Kau bohong, hari ini tidak ada praktik biologi," elak Axel. Benar juga. Alasan yang bodoh. Seharusnya aku lebih pintar. Ketahuan dong aku nguping dari tadi. Habis aku sama Axel. Terancam deh projek belajar bersama.


"Oke aku ngaku, tadi gak sengaja nguping," jawabku. Udah ngaku aja. Toh sudah terlanjur basah kuyup kali aja kering lagi.


Axel melepas tangannya dari kerah bajuku. Dia berbisik di telingaku.


"Jangan sampai ada yang tahu kalau lelaki tadi kakakku, awas kalau kau berani buka mulut!" ancam Axel.


Sungguh menakutkan Axel saat seperti itu. Dia kaya psikopat yang cold. Berpura-pura dibalik ketampanannya.


Axel meninggalkanku setelah mengancamku. Lagi pula apa untungnya aku beritahu semua orang kalau kakak Axel si tampan yang tadi. Udah ah lebih baik aku pergi ke kantin. Untuk apa memikirkan masalah kedua kakak beradik yang tak ada hubungannya denganku.


"Dia siapa? kenapa kepala sekolah akrab dengannya?" tanyaku.


Entahlah jiwa kepoku merajalela mesti terpecahkan seketika. Aku terpaksa membuntuti mereka sampai masuk ke ruangan kepala sekolah. Untung saja ruangan kepala sekolah terpisah dari ruangan lainnya, berada di samping taman sekolah. Aku berdiri di bawah jendela ruangan kepala sekolah. Rasa penasaranku harus terjawab, siapa lelaki tampan itu dan apa hubungannya dengan sekolah ini.


"Aku ingin sekolah ini lebih maju dan modern," ucap lelaki tampan itu.


"Saya setuju," ucap Pak Hasan kepala sekolah di SMA Kejora. Beliau sudah 15 tahun jadi kepala sekolah, seluk beluk dan sejarah sekolah ini beliau hafal betul. Termasuk nunggaknya aku sampai dua kali.


"Dari catatan yang ada di kesiswaan, ada siswa dari SMA Kejora yang tidak lulus sampai dua kali, ini sangat mencoreng nama baik sekolah kita," ujar lelaki tampan itu.


"Maaf Bos," kata Pak Hasan.

__ADS_1


SMA Kejora ini ternyata milik lelaki tampan itu, pantas saja dia datang ke sekolah menemui kepala sekolah.


"Aku tidak ingin sekolah ini mendapat image yang buruk. Sebelum kelulusan anak yang tidak lulus itu harus dikeluarkan!" perintah lelaki tampan itu.


Astaga dia lebih kejam dari ibu tiri, repot juga kalau aku dikeluarkan. Sekolah mana yang akan menerimaku. Lagi pula aku harus mengeluarkan uang lagi kalau pindah sekolah, orang tampan ini harus ku bikin dadar gulung biar dia tahu rasa hidup ini tak mudah, dia sih enak karena kaya, lah aku miskin, buat makan aja masih berupa harap-harap cemas.


"Tapi Bos, anak itu yatim piatu, tak tega rasanya mengeluarkannya, dia anak yang ceria dan baik, walaupun nilainya kurang," ujar Pak Hasan. Beliau tahu bagaimana kondisi ku yang sebenarnya. Karena beliau juga aku diterima dan dipertahankan di sekolah ini.


"Nilainya bukan kurang tapi setiap hari nol, siswa terbodoh yang tidak bisa diharapkan dan mencoreng akreditasi sekolah ini," ungkap lelaki tampan itu. Seenaknya mengeluarkan kata-kata kasarnya padaku. Seolah cuma aku yang terbodoh di dunia ini.


"Apa tidak bisa diberi kesempatan, agar tahun ini dia berusaha untuk belajar lebih keras lagi, siapa tahu nilainya akan lebih baik," saran Pak Hasan. Beliau kasihan padaku. Berharap aku bisa diberi kesempatan kedua agar bisa lulus paling tidak.


"Kalau gagal, ini ketiga kalinya dia tidak lulus, mau dibawa kemana harga diri sekolah ini, di majalah, koran bahkan media sosial terpampang namanya yang menjadi siswa satu-satunya yang tidak lulus dan itu berasal dari sekolah kita," ujar lelaki tampan itu. Dia tak rela nama baik sekolahnya tercoreng cuma karena satu murid sepertiku.


Pak Hasan hanya menunduk. Dia tahu aku memang tidak bisa diharapkan. Kalau sampai kelulusan tahun ini, aku tidak lulus, nama baik sekolah akan tercoreng. Aku mengerti yang sekarang dirasakan olehnya, dia tak mungkin bisa membelaku lagi di depan lelaki tampan itu.


"Keluarkan dia atau anda yang keluar dari sekolah!" ancam lelaki tampan itu. Sekarang posisinya semakin sulit. Pak Hasan tak mungkin mengorbankan pekerjaannya tapi dia juga kasihan padaku.


Lelaki tampan itu berdiri, dia keluar dari ruangan kepala sekolah. Hatiku hancur seketika. Kalau benar aku dikeluarkan, bagaimana ini. Aku tidak punya uang untuk mencari sekolah baru. Susu Bobo aja boros banget dari mana aku punya uang lebih. Menjual semua keripik pun aku tak bisa mengumpukan yang untuk pindah sekolah dalam waktu dekat.


"Ya Allah, apa yang harus ku lakukan?" keluhku padaNya.


Aku kembali ke kelas dengan muka yang lesu. Ami dan Dodo terlihat kepo. Mereka langsung bertanya-tanya padaku. Aku hanya diam. Tak biasanya aku menyimpan kesedihanku sendiri, mereka tempatku berbagi rasa sedih tapi kali ini aku tidak ingin mereka tahu. Tak lama seorang guru memanggilku. Aku dipanggil ke ruang kepala sekolah.


Deg


Jantungku berdebar kencang. Aku sudah tahu apa tujuan kepala sekolah memanggilku. Perlahan dengan langkah yang berat aku berjalan ke ruangan kepala sekolah. Padahal dekat tapi rasanya jauh, puluhan kilometer, tak ingin rasanya sampai di ruangan kepala sekolah. Langkahku terhenti saat melewati kantin sekolah. Ku lihat Bobo digendongan Bi Siti terlihat anteng.


"Aku punya Bobo sekarang, jangan cengeng, bukankah Aara tak pernah cengeng, semangat hari esok lebih baik!" ucapku menyemangati diriku sendiri. Aku harus kuat. Ini tak seberapa dari kesulitanku selama ini.


Aku berjalan dengan penuh semangat kepahlawanan yang rela mati di medan perang. Tak peduli badai menghadang, atau tsunami datang, langkahku takkan terhenti, pintu kepala sekolah ku buka dengan semangat 45.

__ADS_1


Krek


"Yah gagang pintunya rusak," ucapku sambil memegang gagang pintu. Belum ketemu kepala sekolah kenapa sudah bikin ulah, habis aku kena omel berlapis kaya wafer coklat yang sering diiklankan dengan kata coklat berlapis atas bawah.


__ADS_2