
Alvan turun dari mobil. Dia menghampiri Alina yang berdiri ditepi jalan. Alina masih terdiam memikirkan Alvan yang dilihatnya. Alvan berusaha memanggil Alina yang masih terdiam.
"Alina...Alina...Alina..." Alvan memanggil.
"Ah...iya" ucap Alina.
"Ada apa Alina? dari tadi kau terdiam seperti melihat sesuatu" ucap Alvan.
Alina melihat wajah Alvan. Tidak ada bekas luka yang tadi sudah diobati Alina. Bahkan ditangannya juga tak bekas lukanya yang sudah diperban. Begitupun baju yang dikenakan berbeda. Tadi Alvan mengenakan kaos yang sedikit sobek karena ada bekas goresan didadanya. Bajunya juga ada bekas darahnya. Sementara Alvan yang didepannya mengenakan kemeja.
"Apa kau bukan Alvan?" tanya Alina.
"Alina kau berkata apa? mungkin kau lelah. Ayo ku antar pulang" tanya Alvan.
"Tidak, jawab aku. Siapa kau?" tanya Alina.
Alina ingin tahu siapa lelaki yang mirip Alvan. Atau siapa Alvan yang selama ini bersamanya.
Apa mereka orang yang sama atau justru mereka orang yang berbeda.
"Alina, kita masuk mobil dulu ya" ucap Alvan.
Alvan menarik lengan Alina mengajaknya masuk ke dalam mobil. Alina duduk dikursi belakang mobil sementara Alvan duduk didepan bersama Ibu Lesti. Mobil itu melaju meninggalkan tempat tersebut. Alvan mengantar Alina sampai ke kontrakkannya.
"Tadi kau belum menjawab pertanyaanku, siapa kau? kau bukan Alvan kan?" tanya Alina.
"Kau benar aku bukan Alvan" ucap Alvan.
"Jadi dugaanku benar kau bukan Alvan" ucap Alina.
Tebakan Alina selama ini benar. Lelaki yang selama ini bersamanya Alvan dan lelaki yang ada didepannya sekarang itu bukan Alvan.
"Aku Alvin saudara kembar Alvan" ucap Alvin.
Alina terkejut dengan ucapan Alvin. Selama ini dia bersama dua Alvan. Dan ternyata kecurigaannya membuahkan jawaban.
"Dua orang yang berbeda. Kau baik dan ramah sementara Alvan kasar dan sulit ditebak" ucap Alina.
"Kau salah. Alvan sangat baik. Kau hanya belum mengenalnya" ucap Alvan.
"Mungkin kau benar, aku belum mengenalnya, bahkan aku tidak tahu kalau kalian kembar dan menemaniku silih berganti" ucap Alina.
"Alina mungkin besok dan seterusnya kau tidak akan bertemu Alvan lagi" ucap Alvin.
"Kenapa? tadi Alvan juga bicara seperti itu" ucap Alina.
"Aku tidak bisa menjawab kenapanya, tapi yang jelas dia menitipkanmu padaku" ucap Alvin.
Alvin tidak bisa menjawab pertanyaan Alina. Dia sudah berjanji pada Alvan. Alina mengkhawatirkan Alvan. Meskipun dia kasar, sulit ditebak dan suka memerintah tapi dia menemani Alina selama ini.
"Alvan mau pergi kemana?" tanya Alina.
__ADS_1
"Maaf Alina aku tidak bisa menjawab, dan aku minta kau rahasiakan tentang aku dan Alvan didepan ibuku, karena beliau tidak tahu" ucap Alvin.
"Alvin aku ingin bertemu Alvan sekali lagi, bisakah?" tanya Alina.
"Tidak, dia sudah pergi jauh Alina" ucap Alvin.
"Hik hik hik, kenapa dia tidak cerita padaku semua masalahnya? kenapa dia harus pergi?" ucap Alina.
"Dia melakukan semua ini demi kebaikanmu, dia juga menitipkan sesuatu untukmu, tunggu ya aku ambil dulu" ucap Alvin.
Alvin berjalan menuju ke mobil Ibunya yang terparkir ditepi jalan raya. Dia mengambil ranselnya lalu kembali ke kontrakkan Alina. Alvin mengeluarkan kado dari ranselnya kemudian diberikan pada Alina.
"Ini apa?" tanya Alina sambil menerima kado itu.
"Itu sesuatu yang ingin diberikan Alvan selama ini untukmu, nanti kau bisa membukanya setelah aku pergi" ucap Alvin.
Alina memandangi kado berbentuk kotak berukuran sedang itu. Dia tidak tahu apa isinya.
"Alina, besok aku akan pergi keluar kota untuk berobat, ada yang ingin kau tanyakan lagi padaku?" tanya Alvin.
"Apa Alvan akan kembali lagi?" tanya Alina.
"Aku tidak bisa menjawab. Dia berpesan agar kau melupakan semua hal tentangnya" ucap Alvin.
"Alvin kau saudara kembarnya, apa kau tak merasa kehilangan saat dia pergi jauh hik hik hik?" tanya Alina.
Alina meneteskan air matanya. Dia merasa kehilangan Alvan. Lekaki kasar itu sudah membuat Alina merasakan rasanya memiliki seorang teman.
Mata Alvin berkaca-kaca saat bercerita. Dia merasa kehilangan Alvan sama dengan Alina. Tapi dia tidak bisa menghentikan semuanya.
"Alina, aku pamit pulang dulu ya" ucap Alvin.
"Iya, terimakasih Alvin" ucap Alina.
"Sama-sama" ucap Alvin.
Alvin meninggalkan kontrakkan Alina. Melihat Alvin sudah pergi, Alina masuk ke dalam kontrakkannya. Dia duduk dilantai kontrakkannya sambil membuka kado yang diberikan Alvan untuknya.
**************
Deena masih mengacungkan pedang itu kedepan muka Barra. Dia kesal Barra sudah seenaknya menciumnya tanpa sepengetahuannya. Ujung pedang itu terletak persis dibawah dagu Barra.
"Aku bisa saja membunuhmu sekarang Om cabul" ucap Deena.
"Aku hanya ingin merasakan bibir seorang pemberani sepertimu, lagi pula itu balasan atas pertolonganku padamu" ucap Barra.
"Aku benar-benar harus memotong sesuatu" ucap Deena.
Barra meraih pedang Deena dengan tangannya.
Deena berusaha menarik pedang miliknya. Tapi justru membuat tangan Barra berdarah hingga menetes ke bawah.
__ADS_1
"Kau gila, kau ingin tanganmu terpotong" ucap Deena.
"Aku akan melepasnya asal kau juga melepas pedangnya" ucap Barra.
Deena tak punya pilihan. Dia tak mungkin membuat tangan lelaki itu terpotong, Deena melepas pedang miliknya.
Praaang........
Pedang itu terjatuh. Telapak tangan Barra berdarah.
"Obati lukamu, jangan menyalahkanku" ucap Deena.
"Tenang aku tidak akan menyalahkanmu" ucap Barra.
Deena mengambil kostumnya kembali lalu dia berjalan ke toilet.
"Kau mau kemana?" tanya Barra.
"Aku mau pulanglah, capek" ucap Deena.
"Siapa yang mengizinkanmu pulang" ucap Barra.
"Raynor tak perlu izin pulang padamu" ucap Deena.
Deena masuk ke dalam toilet, kembali mengenakan kostum miliknya. Kemudian dia keluar dari toilet. Barra sudah menunggunya tepat didepan pintu toilet.
"Kau mau ke toilet?" tanya Deena.
"Aku menunggumu" ucap Barra.
"Aku mau pulang jadi tak perlu menungguku" ucap Deena.
Barra menyudutkan Deena ke dinding.
"Jangan berurusan lagi dengan Gengter Harimau, mereka berbahaya" ucap Barra.
"Bukan urusanmu" ucap Deena.
"Mereka sadis dan licik. Jika mereka sudah menargetkanmu hidupmu tak akan tenang bersama keluargamu" ucap Barra.
"Terimakasih atas nasehatnya, tapi kau tidak usah repot-repot mengingatkanku, karena aku juga akan menjaga diriku dan keluargaku" ucap Deena.
Tiba-tiba Barra terjatuh ke tubuh Deena. Dia langsung pingsan. Deena menangkap tubuh Barra yang bersandar ditubuhnya.
"Hei, kau tidak usah berusaha cabul lagi aku sudah tahu trikmu" ucap Deena.
Barra tidak menyahut dengan ucapan Deena. Seketika Deena menepuk-nepuk pipinya tapi tetap saja tidak memberi respon.
"Om cabul gak usah bohong, dasar cabur bisa aja kau berakting seperti ini. Gak lucu tahu" ucap Deena.
Deena meraba leher lelaki itu. Tubuhnya panas, Deena langsung membaringkannya diranjang.
__ADS_1