
Alina melihat ke arah Alvan yang terlihat bersungguh-sungguh minta maaf padanya. Dia terlihat menyesal dengan perbuatannya tadi.
Kepalanya terus menunduk, tangannya berada dipahanya. Air matanya menetes, untuk seorang lelaki kasar sepertinya menangis bukan perkara yang mudah.
"Alvan aku sudah memaafkanmu". Alina tersenyum melihat Alvan. Dia mengikhlaskan semua yang telah dilakukan Alvan padanya.
Alvan baru berani menaikkan kepala dan melihat senyuman tulus dari wajah Alina. Bagai melihat matahari di pagi hari, hangat dan terang menyinari bumi.
"Alina, ayo kembali ke kelas, aku akan mengantarmu". Alvan menawarkan diri untuk mengantar Alina. Dia ingin menebus kesalahannya pada Alina. Melihat Alina tersenyum ternyata membuatnya bahagia dari pada melihatnya kesal atau menangis.
Alina mengangguk. Alvan dan Alina berjalan, tak sengaja melihat Beby menangis dibawah pohon.
Alina dan Alvan menghampiri Beby yang duduk dibawah pohon. Matanya sembab, pipinya lebam dan bibirnya berdarah.
"Beby". Alina menyapa Beby.
Beby menoleh ke samping melihat Alina didekatnya.
"Alina hik hik hik". Beby langsung memeluk Alina.
Dia menangis sejadi-jadinya dipelukan Alina.
"Kau kenapa? ceritakan semuanya padaku mungkin aku bisa meringankan dukamu. Alina kasihan melihat Beby bersedih. Dia bisa merasakan kesedihan Beby.
Alvan berdiri dibelakang Alina. Dia melihat Alina begitu baik meskipun dia tahu Beby pernah mengejek Alina tapi Alina tetap baik padanya.
"Alina, aku hamil hik hik hik". Beby berterus terang dengan keadaannya.
"Aku sudah tahu, lalu apa yang membuatmu menangis?". Alina bertanya.
"Jordi tidak mau tanggungjawab, dia malah jalan dengan pacar barunya hik hik hik". Beby baru mengetahui kelakuan Jordi. Dia menyesal telah memberikan kehormatannya cuma-cuma padahal kehormatan itu milik suaminya nanti. Tapi lelaki muda yang masih labil itu tidak bisa memegang kata-kata dan tindakannya.
"Makanya jadi cewek jangan murahan". Alvan malah memarahi Beby. Dia tahu apa yang sudah dilakukan Beby dengan Jordi.
"Iya, aku memang murahan hik hik hik".Beby terus menangis. Dia takut dengan kehamilannya. Jika sekolah dan orangtuanya tahu bagaimana sekolahnya nanti.
__ADS_1
"Makanya sebelum berbuat pikirin dulu akibatnya". Alvan langsung ketus pada Beby. Dia kesal melihat Beby yang menangis karena perbuatan bodohnya.
"Beby kalau boleh aku memberi saran. Minta ampunlah pada Allah SWT. Orangtuamu harus tahu hal ini, mungkin dengan begitu masalahmu bisa selesai dengan baik". Alina memberi saran menurut pandangannya. Padahal sebelumnya Alina sudah mengingatkan Beby sebelumnya.
"Sudahlah tanggung semua kebodohanmu itu". Alvan terus nyeletuk pada Beby. Bagi Alvan perbuatan Beby sudah salah kaprah untuk anak sekolah. Dia pantas mendapatkan masalah yang dibuatnya sendiri.
"Ayo kembali ke kelas, biar ku antar". Alina menawarkan bantuan pada Beby.
"Makasih Alina, kau selalu baik. Maafkan aku hik hik hik". Beby malu selama ini selalu menyakiti Alina. Tapi justru Alina selalu baik padanya, tak pernah lelah mengingatkan pada kebenaran.
"Aku sudah memaafkanmu sejak dulu Beby". Alina selalu memaafkan siapa saja yang menyakitinya. Karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang mau memaafkan dengan tulus.
Alina dan Alvan kembali kelas bersama Beby. Baru masuk teman-teman Alina kembali membuli Alina. Tapi kali ini Alvan membela Alina.
"Siapa yang berani mengatakan hal buruk pada Alina, berhadapan langsung denganku". Alvan mengancam semua teman dikelas Alina.
Teman sekelas Alina langsung diam, mereka mana berani melawan Alvan yang dikenal menakutkan dan psikopat itu.
"Alina tidak hamil, aku bisa membuktikannya jadi jangan asal ngomong, kalau tidak aku akan melaporkan kalian ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik". Alvan dengan tegas bicara di depan kelas. Dia tidak ingin gosip tidak jelas itu menjatuhkan nama baik Alina. Dia tahu semua itu tidak benar.
"Bisa saja siapapun menaruhnya. Itu perkara mudah. Kalau kalian masih ragu kita bisa meminta Alina untuk test pack atau test ke rumah sakit untuk membuktikan itu benar atau tidak. Ayo siapa lagi yang masih meragukan Alina". Alvan bertanya.
"Kalau begitu ini test pack punya siapa?" Zoya bertanya.
Beby terdiam menundukkan kepala. Dia malu, itu test pack miliknya. Kemarin dia menaruh test pack itu dikolong meja milik Alina karena marah pada Alina yang mengetahui kehamilannya.
"Punya Beby". Salah seorang siswa masuk ke kelas Alina.
"Huh......". Semua siwa dikelas itu berteriak.
"Cika kau". Beby menatap Cika yang masuk ke kelasnya.
Cika berdiri disamping Alina dan Beby. Dia menjelaskan semuanya pada teman-teman Alina.
Cika tahu persis saat Beby menaruh sesuatu dikolong meja Alina. Saat itu dia hendak ke kelas Alina saat pulang sekolah. Dia melihat Beby menaruh sesuatu dikolong bangku Alina hanya saja saat itu dia tidak tahu apa maksud Beby. Dia baru tahu setelah gosip dikelas Alina merebak.
__ADS_1
"Kalian semua puas dengan jawaban Cika atau masih belum puas? ayo kita ke rumah sakit sama-sama biar kalian semua puas dengan jawaban dari Dokter". Alvan terus menjelaskan. Dia benar-benar membela Alina kali ini.
Semua teman sekelasnya menundukkan kepala. Mereka malu sudah menuduh Alina padahal dia tidak hamil.
"Huh Beby gak punya malu, hamidun". Salah seorang siswa lelaki mengolok Beby.
"Malu-maluin kelas kita aja". Salah seorang suswa perempuan mengolok Beby.
Ting.....ting....ting.......
Bel sekolah berbunyi semua siswa masuk ke kelas masing-masing. Cika kembali ke kelasnya. Beby juga duduk kembali dibangkunya. Alvan mengantar Alina sampai mejanya.
"Alina aku kembali ke kelas, tapi ingat jika ada yang berani mengganggumu bilang padaku".
Alina mengangguk, Alvan yang sekarang peduli padanya. Dia tak menyangka lelaki itu mau berubah. Alvan mengambil sebuah permen lolipop disakunya lalu diberikan pada Alina.
"Untukmu".
"Makasih"
Alvan tersenyum pada Alina, senyuman tulus yang manis. Dia beranjak dari meja Alina, keluar dari kelas itu. Alina memegang permen lolipop
itu sambil tersipu malu.
**************
Panti Asuhan Mutiara Kasih
Rafael pergi ke panti asuhan tempat dia dan Alina dulu tinggal sebelum diadopsi. Ibu Sopiah penanggungjawab panti asuhan itu ingin bertemu Rafael untuk membicarakan hal penting. Rafael masuk ke ruangan Ibu Sopiah. Dia duduk bersama Ibu Sofiah di sofa.
"Rafael, ada kabar baik untuk Alina". Ibu Sopiah memberitahu.
"Kabar baik apa Bu?". Rafael bertanya. Rafael tidak tahu apa yang akan dibicarakan Ibu Sopiah padanya. Sudah lama dia tidak datang ke panti asuhan itu. Terakhir saat dia masih kelas 3 SMA itupun karena kegiatan sosial. Walaupun begitu Rafael tetap berhubungan baik dengan pihak panti asuhan. Begitupun dengan Alina, dia selalu pergi ke panti asuhan bersama Rafael.
"Ada seorang pengacara dari orangtua Alina datang ke panti asuhan ini".
__ADS_1