
Barra dan Deena masuk ke Markas Orion. Mereka berdua masuk ke ruangan kerja Barra. Deena melihat ruangan kerja Barra yang terlihat penuh buku yang terpajang dilaci. Terkesan simple tak ada hiasan yang berwarna mencolok. Semuanya berwarna biru tua dan hitam yang memberi kesan sang pemilik tertutup.
"Sayang inilah ruangan kerjaku" ucap Barra.
"Kau tidak suka pajangan seperti lukisan atau vas bunga, mungkin lebih indah" ucap Deena.
"Dulu saat istriku masih hidup, ruangan ini juga hidup. Tapi dia pergi membuat ruangan ini ikut berduka" ucap Barra.
"Istrimu mati kenapa?" tanya Deena.
"Perusahaanku meledak, dulu aku masih baru merintis, terjadi kesalahan SOP dibagian produksi" ucap Barra.
"Kau sangat mencintainya?" tanya Deena.
Tiba-tiba Barra menyudutkan Deena ke dinding ruangan kerjanya.
"Sayang itu dulu, sekarang ada kamu" ucap Barra.
"Om cabul, aku tidak suka gayamu yang ini" ucap Deena.
"Baiklah, ayo ikuti aku" ucap Barra.
Barra membawa Deena memasuki ruangan rahasia dibalik tembok dekat toilet diruangan kerjanya.
"Pakailah kostum yang sama denganku" ucap Barra.
"Aku sudah bawa kostumku sendiri yang pemberian darimu" ucap Deena.
"Tempat yang kita tuju berada disebuah pulau yang jauh dari daratan, jadi pakailah kostum yang sama denganku biar aku mudah melacakmu dan mengenalimu saat bertarung" ucap Barra.
"Oke" ucap Deena.
"Kenapa?" tanya Deena.
"Kapan kau akan membuka pakaianmu, aku ingin melihatnya lagi" ucap Barra.
Dug.........
Deena langsung memberikan satu pukulan yang mendarat dipipi Barra.
"Aw....kau galak sekali sayang" ucap Barra.
"Kau cabul sekali, bisakah serius?" ucap Deena.
"Oke sayang" ucap Barra.
"Keluar!!" ucap Deena memerintah.
"Aku pernah melihatnya, memangnya kenapa kalau aku disini?" ucap Barra.
Deena langsung mengacungkan kepal.
__ADS_1
"Oke...oke....aku keluar" ucap Barra.
Barra keluar dari ruangan itu. Kemudian Deena memakai kostumnya. Begitupun Barra bergantian dengan Deena memakai kostumnya.
Mereka berdua berangkat ke tempat Haura disekap. Sebuah helikopter disiapkan Barra untuk pergi ke pulau yang dimaksud.
Sampai Pulau Malina mereka turun dari helikopter tanpa mendarat. Helikopter tetap mengudara, mereka turun dengan tangga darurat.
Bluuuug.......
Barra dan Deena sampai dibawah. Mereka berdiri melihat hamparan pohon rindang terbentang luas.
"Kau siap sayang?" tanya Barra.
"Oke" ucap Deena.
Merekapun masuk ke dalam hutan belantara itu. Kali ini Deena tidak akan beraksi sendirian, ada Barra yang menemaninya.
**************
Sore itu Haura melihat Alvan kembali disiksa. Dia tak tega melihat Alvan seperti itu. Dia menutup matanya sampai semuanya selesai. Haura ke samping sel yang berdempetan dengan sel Alvan.
"Apa sakit?" tanya Haura.
Alvan tidak menjawab hanya menundukkan kepala seperti biasa. Haura berpikir untuk keluar dari tempat itu dan membantu Alvan. Haura memanggil petugas keamanan sel.
"Pak...Pak...." ucap Haura.
"Aku mau ke toilet sakit perut nih" ucap Haura.
Petugas keamanan membuka selnya. Dia mengantar Haura berjalan ke toilet. Haura memperhatikan sepanjang jalan. Lorong menuju ke toilet cukup panjang dan disamping kanan ada pintu terlihat bercahaya. Haura berpikir mungkin itu pintu keluar.
Haura masuk ke dalam toilet. Dia berusaha berpikir untuk kabur bersama Alvan. Dia melihat ada kelabang yang merayap ditoilet.
"Aku punya ide" ucap Haura.
Haura keluar dari toilet. Dia menghampiri petugas keamanan sel.
"Pak itu apa dibaju bapak?" tanya Haura.
"Apa sih?"
Petugas keamanan sel itu memeriksa bajunya. Haura pura-pura ikut membantunya padahal meletakkan kelabang itu ke dalam baju petugas keamanan sel. Petugas itu semakin geli dan kesakitan digigit kelabang.
Haura meninggalkan petugas itu. Dia sudah berhasil mengambil kunci sel saat tadi pura-pura membantu. Dia berjalan kembali ke sel. Dia masuk ke dalam selnya Alvan. Lalu membuka borgol ditangan dan kali Alvan dengan kunci yang tadi diambilnya dari petugas keamanan sel itu.
"Ayo kita pergi dari sini" ucap Haura.
"Pergilah, tinggalkan aku" ucap Alvan.
"Jangan bodoh, bukankah kau ingin bertemu Alina?" ucap Haura menyemangati Alvan.
__ADS_1
Akhirnya Alvan mau, Haura memapah Alvan. Mereka mengendap-endap keluar dari sel. Letak sel itu berada dibawah tanah. Haura dan Alvan sampai dilantai atas. Haura mencari kearah keluar. Dia melihat ada sebuah jendela disudut ruangan itu tapi ada beberapa penjaga.
"Alvan kau duduk disini dulu ya" ucap Haura.
Haura menghampiri penjaga dilantai atas.
"Kebakaran....kebakaran....kebakaran...." ucap Haura berteriak.
"Kebakaran?" Penjaga itu terkejut.
"Iya, seluruh sel terbakar" ucap Haura.
Penjaga-penjaga itu langsung menuju sel. Kemudian Haura kembali memapah Alvan keluar lewat jendela. Mereka berdua sampai dipekarangan markas. Penjagaan ketat, tak mungkin keluar lewat depan. Haura berusaha berpikir hingga melihat sebuah penutup saluran pembuangan yang cukup besar.
"Alvan kita harus keluar lewat saluran pembuangan" ucap Haura.
Alvan mengangguk. Haura dan Alvan masuk ke saluran pembuangan. Mereka berjalan dilorong-lorong saluran pembuangan. Hingga mereka bertemu dengan ular besar.
"Haura awas" ucap Alvan.
Alvan berada didepan Haura. Ular itu jenis ular piton. Alvan melihat sebuah batu runcing ujungnya. Dia mengambil batu runcing itu untuk berjaga. Tak lama ular itu menyerang Alvan dan Haura. Mereka menghindar tapi ular itu membelit Haura. Tubuh Haura mulai di belit hingga ke atas.
Saat ular itu membuka mulutnya hendak memakan Haura. Alvan menyerang ular itu dengan batu runcing hingga tubuhnya sobek.
Ulat piton itu kesakitan dan melonggarkan belitannya. Haura ditarik lengannya oleh Alvan. Mereka berlari keluar dari saluran pembuangan. Mereka mencari dan mencari ujung saluran pembuangan yang mengarah ke laut. Sampai pada ujungnya, saluran pembuangan itu terjun ke bawah laut.
"Haura kau bisa berenang?" tanya Alvan.
"Iya" ucap Haura.
Alvan memegang tangan Haura lalu melompat ke dalam laut.
Byuuuur.......
Mereka berada dipermukaan laut. Berenang mencari sebuah daratan. Tapi belum juga menemukan daratan. Mereka berdua sudah kedinginan. Jika lebih lama lagi maka terkena hipotermia.
"Alvan aku tak sanggup lagi berenang, tubuhku kedinginan dan lemas" ucap Haura.
Alvan menghampiri Haura dan memeluknya. Dia berenang sambil membawa Haura. Ombak besar datang menerjang mereka berdua. Hingga mereka kehilangan keseimbangan dan terbawa arus. Alvan dan Haura hilang kesadaran.
Alvan dan Haura terdampar ditepi pantai. Alvan terbangun terlebih dahulu. Dia melihat Haura berada beberapa meter darinya. Alvan bangun dan berjalan menghampiri Haura. Dia berusaha membangunkannya. Haura tetap belum bangun juga. Tangannya menekan-nekan perut Haura, berusaha mengeluarkan air dari dalam perut. Mulut Haura mengeluarkan air. Lalu Alvan memberinya nafas buatan. Haura terbangun melihat Alvan seperti menciumnya. Dia langsung mendorong tubuh Alvan.
"Kau mau memperkosaku ya?" tanya Haura yang salahfaham.
"Tidak, aku hanya memberimu nafas buatan" ucap Alvan.
"Oh, kirain" ucap Haura.
Alvan dan Haura melihat ke sekeliling.
"Kita dimana?" ucap Alvan dan Haura.
__ADS_1