Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Perawan Tua Part 86


__ADS_3

"Sayang, suara orang minta tolong diluar," ucap Haura yang coba menghentikan Alvan yang masih fokus pada kebersamaan mereka. Dia menahan dada bidang Alvan dengan tangannya.


"Nanggung sayang, biar lima putaran lagi," sahut Alvan. Dia belum ingin menyudahi kebersamaan mereka.


"Iiih...tolong...tolong..."


Suara dari luar kamar terdengar semakin keras dan ramai. Alvan dan Haura terpaksa menyudahi kebersamaan mereka. Segera keduanya mengenakan pakaian lalu keluar dari kamar. Ternyata pembantu rumah tangga yang sedang kemasukan tikus dibajunya, Alina dan Deena sedang membantu mengeluarkan tikusnya.


"Itu pasti tikus yang semalam," kata Alvan sambil menunjuk kearah pembantu rumah tangga yang kegeliaan gara-gara tikus masih nginep dibajunya.


Dia sampai berjoget mengikuti irama musik dangdut yang kebetulan diputar.


"Semalam kita juga ngejar-ngejar itu tikus," tambah Haura.


"Berarti ini tikus belum check out dong," seru Deena.


"Aduh Non, bibi masih perawan masa diperawanin tikus, tolong Non," ucap Bi Nono yang ketakutan merasakan tikus itu merayap ditubuhnya. Naik turun, kanan kiri, tikus itu kunjungan untuk mencari lahan yang sesuai untuk membuat sarang.


"Sabar Bi, kita lagi mencoba mengeluarkan tikusnya," sahut Deena.


"Loh ini tikusnya ngapain ke bawah segala," ucap Alina.


Deena dan Alina sibuk meraba sana sini ditubuh Bibi Nono. Tikusnya semakin dikejar semakin menjauh tak pernah letih. Ditangkap ke atas turun ke bawah, ditangkap ke bawah turun ke atas. Bi Nono udah gak tahan, tubuhnya dijajah secara paksa tanpa permisi apalagi izin polisi.


"Udah Non, timpuk aja kalau dia kepegang," saran Bi Nono yang sudah berbaring lemas sendari tadi berteriak 8 oktaf.


"Iya sih Bi, tapi jangan salahkan kami kalau salah timpuk," ucap Deena.


"Buruan Non gak tahan, hu...hu...hu..." Bi Nono malah seperti orang mau lahiran cuma gara-gara tikus.


"Bi saya bantu lahirannya," canda Haura yang mendekat dan duduk disamping Alina.


"Non, saya bukan mau ngelahirin tapi beranak tikus," sahut Bi Nono.


"Ha ha ha." Mereka bertiga tertawa dengan ucapan Bi Nono.


"Sayang ditunggu ya, tar kalau udah selesai, balik kamar," ucap Alvan.


"Oke, aku padamu," jawab Haura.


Alvan kembali masuk ke dalam kamarnya. Tinggal Haura, Deena, dan Alina yang berusaha membantu Bi Nono menghempaskan tikus yang terlanjur betah ditubuhnya.


"Widih yang pengantin baru lengket terus kaya lem," ujar Deena.


"Haura jangan diporsir pingsan loh," ucap Alina.


Padahal Alina sendiri juga sama. Maklum sama-sama pengantin baru.

__ADS_1


"Iya sih, kepalaku mulai pening. Apa kecapean ya?" Haura memegang pelipis kepalanya.


"Non udah ngerumpinya, nasib bibi gimana? bibi masih perawan, jangan sampai kawin sama tikus," sahut Bi Nono.


"Eh iya." Mereka bertiga kembali membantu Bi Nono menangkap tikus yang masuk ke tubuhnya.


"Kena, rasain loh," ucap Haura sambil memegang gundukan diperut Bi Nono.


"Non itu tangan bibi!" seru Bi Nono.


"Kirain tikusnya, lagian bibi ngapain tangannya ikut masuk?" Tanya Haura.


"Kali aja tikusnya lebih tertarik kawin sama tangan saya Non," jawab Bi Nono.


"Bibi...bibi," sahut Alina, Deena dan Haura.


Setelah proses panjang dan mengharukan akhirnya tikus bisa ditangkap karena kedatangan pawang yang sebenarnya, Kaisar datang membantu tanpa harus susah payah meraba sana sini.


"Tau gitu dari tadi tau Kaisar kau kesini," ucap Deena.


"Itu dia, tadi pagi mau kesini, eh kuda nyunsep digot, ya bantuin dulu," ujar Kaisar.


"Pantes, mukamu item gitu maskeran comberan ya," kata Haura.


"Ini hanya sedikit mencretnya kuda gara-gara panik diselamatkan," ucap Kaisar.


"Iya, kurang lebih seperti itu. Tapi ini belum parah, malah ada bapak-bapak yang lagi mangap kemasukan kencingnya kuda," ujar Kaisar.


"Ha ha ha." Alina, Haura, dan Deena tertawa.


"Den Kaisar makasih ya, untung ada aden, kalau gak? keperawanan bibi ditangguhkan," ucap Bi Nono.


"Bibi tua gini masih perawan?" Kaisar heran melihat Bi Nono yang sudah kepala empat masih perawan.


"Masihlah Den, tiap mau nikah gagal maning, yang terakhir ma kakek-kakek eh mati duluan baru mau salaman ma penghulu," ucap Bi Nono.


"Kalau gitu nikah sama yang seumuran aja Bi," kata Deena.


"Udah juga Non, baru mau nyium saya kena serangan jantung, mati deh," ujar Bi Nono.


"Berarti nyari yang berondong Bi," ucap Kaisar.


"Dapet yang berondong gak tahunya belum disunat gara-gara takut dipotong sijuniornya," ujar Bi Nono.


"Tragis juga Bi," ucap Haura.


"Pantes perawan abadi," sahut Deena.

__ADS_1


"Kalau kelamaan alot gak ya Bi?" Kaisar bertanya hal yang aneh. Dia menyamakan dengan kerupuk yang dianggurin kena angin tanpa kawan dan pacar jadi alot.


"Apa Den Kaisar mau sama bibi, biar tau alot atau masih krenyes," jawab Bi Nono.


"Nah lo Kaisar tanggungjawab, Bi Nono butuh teman hidup yang sehat sepertimu." Haura meledek Kaisar.


"Jangan Bi, Kaisar baru disunat belum maksimal, cari yang udah senior aja, lebih krispi," sahut Kaisar.


"Ha ha ha." Semuanya tertawa.


Dilantai bawah Rehan, Barra dan Farel sedang berdiskusi bersama. Mereka duduk diruang keluarga.


"Apa orangnya Sarah sudah ditangkap semua?" Tanya Rehan.


"Sepertinya sudah semua, tapi..." Barra ragu mengatakan soal Dinda pada Rehan.


"Tapi apa?" Rehan penasaran. Dia ingin tahu apa yang dipikirkan Barra.


"Aku tidak tahu pasti apakah Dinda masih orangnya Sarah atau bukan," ujar Barra.


"Dinda? siapa?" Rehan bertanya.


"Dinda mantan istriku," jawab Barra.


"Mantan istrimu? bukannya dia sudah meninggal?" Tanya Rehan. Sebelumnya Deena pernah cerita kalau Barra pernah menikah dan istrinya meninggal.


"Dia memang dinyatakan meninggal saat perusahaanku terbakar, tapi beberapa hari yang lalu dia datang menemuiku dan Deena," ujar Barra. Dia harus memberi tahu Rehan tentang Dinda.


"Apa mungkin ini kebakaran itu rencana Dinda? atau Dinda hanya menjalankan perintah?" Ujar Farel.


Rehan dan Barra langsung memikirkan ucapan Farel.


"Ada benarnya ucapanmu Farel, bisa saja Dinda hanya menjalankan perintah," sahut Rehan.


"Tapi selama menjadi istriku tak ada yang mencurigakan ataupun sikap Dinda yang aneh. Dia istri yang baik dan perhatian saat itu," ujar Barra.


"Intinya kita harus tetap berhati-hati, apapun maksud kedatamgannya kita harus lebih siap," ucap Rehan.


"Benar Pa."


"Oya kapan kalian bulan madu?" tanya Rehan.


"Minggu ini boleh juga Pa, mumpung kehamilan Deena masih kecil, gak berat kalau buat jalan dan bergerak," ucap Barra.


"Aku setuju, Alina juga sudah nanyain soal bulan madu bersama," sahut Farel.


"Tinggal nunggu Alvan, apa dia setuju atau tidak kalau kalian bulan madu bersama," kata Rehan.

__ADS_1


"Bulan madu kemana Pa?" Tanya Barra.


__ADS_2