Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Alvan Yang Berbeda Part 18


__ADS_3

"Oh, iya aku baru saja pulang." Alvan menjawab dengan sedikit terjeda tapi diakhiri dengan senyuman.


"Begitu ya, apa ada yang sakit dipipimu?." Tanya Alina.


Alvan memegang bergantian kedua pipinya. Tangannya memijat-mijat pipinya perlahan-lahan.


"Tadi sih iya, tapi sudah sembuh." Ucap Alvan santai.


"Bolehkah aku mengobatinya?." Tanya Alina.


"Gak usah Alina, oya aku lapar Alina, bisakah kau masak untukku?." Alvan mengalihkan pembicaraan.


"Oke." Alina hanya menjawab singkat.


Alina masuk ke dalam rumah itu. Dia masih merasa ada yang janggal. Dia ingat persis Alvan lebam dan ada sedikit luka dipipinya. Sedangkan Alvan yang dijumpainya sekarang mukanya bersih tanpa luka.


Alina masuk ke dapur untuk memasak. Dia membuat masakan yang simple soalnya Alvan sudah lapar. Alina memotong sawi, timun, wortel, sosis, baso, cabai, dan bawang. Tak lama dia menumis bumbu yang sudah diuleknya barulah memasukkan telor disusul sosis, wortel dan baso. Kemudian memasukkan nasi putih dan sawi. Alina memasukkan bumbu seperti garam, penyedap rasa dan kecap, jadilah sepiring nasi goreng spesial. Dia memang tak pandai memasak tapi memasak nasi goreng bisa walaupun rasanya tak seenak buatan kakaknya.


Alina membawa nasi goreng itu ke meja makan, disana Alvan sudah duduk menunggunya dengan senyuman manis yang terpancar.


"Nih nasi gorengnya, kalau kurang enak maaf ya." Ucap Alina meletakkan nasi goreng itu dimeja makan.


"Makasih Alina."


"Kau tidak mau makan bersamaku?." Tanya Alvan.


"Tidak, aku kenyang." Ucap Alina.


Alvan makan sendiri. Dia begitu lahap memakan nasi goreng buatan Alina. Dia terlihat ramah dan ceria. Tapi Alina merasa Alvan yang ini berbeda dengan Alvan yang dikenalnya.


"Alvan aku bersih-bersih rumah dulu." Ucap Alina.


Alvan mengeluarkan permen lolipop dari sakunya dan diberikan pada Alina. Permen lolipop yang sama yang diberikan Alvan saat di sekolah. Alina memegang permen lolipop itu dan memerhatikan dengan seksama.


"Permen yang sama, orang yang sama tapi kenapa sikapnya berbeda." Batin Alina.


"Makasih ya Alvan."


Alvan mengangguk. Dia terus melanjutkan makannya sementara Alina beranjak meninggalkankan ruang makan itu. Dia menyapu satu persatu ruangan di rumah itu. Sambil menyapu dia memikirkan Alvan.

__ADS_1


"Apa Alvan baik-baik saja?." Batin Alina bertanya, mengkhawatirkan seorang Alvan yang dikenalnya kasar itu.


Alina mengepel seluruh lantai diruangan itu. Setelah itu dia mencuci baju dan menjemur pakaian. Pakaian-pakain itu dijemur di dekat taman bunga.


"Alina biar ku bantu menjemur pakaiannya." Ucap Alvan menawarkan bantuan.


"Oke silahkan." Ucap Alina.


Alvan membantu Alina menjemur pakaian.


"Alina besok berangkat sekolah bareng ya, aku akan menjemputmu di gang dekat kontrakkanmu." Ucap Alvan.


Alina hanya mengangguk. Alvan menarik lengannya mengajaknya ke taman samping rumahnya. Disana terdapat berbagai macam bunga. Ada bunga mawar, bunga melati, bunga anggrek, bunga kertas, bunga tulip dan masih banyak lagi. Alvan mengajak Alina duduk disebuah kursi bambu yang ada di taman itu.


"Semua bunga disini aku yang menanamnya, indah tidak Alina?." Tanya Alvan.


"Indah, sama persis di rumah orangtuaku." Ucap Alina.


"Aku dengar kau hanya tinggal dengan kakakmu ya." Ucap Alvan.


"Iya, semenjak orangtua angkat kami meninggal. Kami hanya tinggal berdua." Ucap Alina.


"Apa dia kakak kandungmu?." Tanya Alvan.


"Apa kakakmu baik?." Tanya Alvan.


"Dia sangat baik dan penyayang pada siapapun. Terkadang dia selalu menomor duakan kepentingannya sendiri. Dia selalu ingin membantu siapapun. Pokoknya Kak Rafael the best." Ucap Alina sambil membayangkan semua hal tentang kakaknya.


"Apa kau menyayangi kakakmu?." Tanya Alvan.


"Aku sangat menyayanginya, dia satu-satunya keluarga yang ku punya." Ucap Alina sambil tersenyum.


"Kau beruntung memiliki kakak yang menyayangimu, aku tidak punya saudara hanya tinggal berdua dengan ibuku. Terkadang kalau ibu sibuk bekerja, aku sendirian." Ucap Alvan.


"Apapun keadaan kita, bersyukur akan membuat hidup kita jauh lebih baik. Diluar sana mungkin banyak yang tidak beruntung dan hidup dalam kekurangan, iyakan." Ucap Alina.


"Iya, kau benar." Alvan senang bisa bersama Alina. Gadis baik hati itu selalu menyejukkan hati saat bicara dengannya.


*************

__ADS_1


Alina berjalan di tepi jalan menuju arah pulang. Tak sengaja dia melihat Rafael sedang mengajar disebuah bangunan tak terpakai. Bangunan itu sudah ditinggalkan pemiliknya, jendelanya terbuka tanpa kaca ataupun jendela kayu. Ruangannya hanya berukuran 8 m x 8 m. Cat putih yang sudah ada coretan dimana-mana menjadi ciri khas bangunan tak terpakai itu. Alina menghampiri kakaknya. Dia berdiri di depan pintu menatap Rafael yang juga melihat ke arahnya.


"Kak Rafa." Alina memanggil.


"Adik kecil kemarilah." Ucap Rafael.


Alina berdiri disamping Rafael. Dia tersenyum pada anak-anak kecil yang sedang belajar.


"Adik-adik ini Kak Alina, adik Kak Rafa." Ucap Rafael memperkenalkan Alina pada anak-anak kecil itu.


"Hai adik-adik semua, selamat sore. Kakak senang bertemu kalian semua." Alina menyapa anak-anak itu dengan ceria.


"Sore kak." Sapa anak-anak kecil itu.


Rafael mengajar anak-anak itu dibantu Alina. Dia senang sekali Alina ada disisinya membantu mengajar anak-anak itu. Matanya sesekali memperhatikan Alina. Setelah selesai mengajar Rafael berjalan bersama Alina ditepi jalan menuju ke kontrakkan mereka.


"Kak Rafa, sejak kapan mengajar mereka?." Tanya Alina.


"Sudah lama sekitar satu tahun, saat itu kakak tak sengaja melihat mereka berkumpul dijalan raya pada pagi hari. Kakak mengobrol dengan mereka, ternyata mereka tidak bersekolah karena orangtuanya berada di bawah garis kemiskinan. Kakak dan teman-teman kuliah satu angkatan mengajar anak-anak itu bergilir. Siapapun berhak mendapatkan pendidikan. Dengan pendidikan mereka bisa tumbuh jadi anak yang pintar, bisa membedakan yang baik dan buruk dan lebih disiplin lagi." Ucap Rafael.


"Kakak benar, aku bangga punya Kak Rafa." Ucap Alina.


Rafael hanya mengelus kepala Alina. Dia sangat menyayangi Alina lebih dari dirinya sendiri. Sampai dikontrakkan Rafael dan Alina mandi lalu mereka duduk bersama.


"Alina, bagaimana hari pertamamu bekerja?." Tanya Rafael.


"Menyenangkan dan aku banyak belajar. Ternyata pekerjaan rumah tangga sangat melelahkan. Aku jadi inget kakak, selama ini kakak yang mengerjakan semuanya." Ucap Alina.


Rafael menyandarkan kepala Alina dibahunya.


"Kalau kau tidak sanggup berhentilah, ada kakak yang akan melakukan semuanya untukmu." Ucap Rafael.


"Gak, Alina ingin seperti kakak, pekerja keras dan mandiri." Alina begitu bangga pada Rafael.


"Oke adik kecil." Ucap Rafael.


Rafael mencium kepala Alina yang tertutup kerudung.


"Adik kecil ada surat dari orangtuamu yang dititipkan pada pengacaranya." Ucap Rafael.

__ADS_1


"Surat?".


Rafael mengambil surat itu dan memberikannya pada Alina. Dia meminta Alina untuk membaca surat itu.


__ADS_2