Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Kelulusan Part 61


__ADS_3

"Jangan dekati anakku sampai dia dewasa nanti" ucap Rehan.


"Apa? tapi...." ucap Barra terkejut dengan ucapan Rehan.


"Deena masih sekolah, dia harus menyelesaikan pendidikannya. Jika kau bisa mempertahankan cintamu selama itu untuk anakku, aku akan merestui hubungan kalian" ucap Rehan.


Barra langsung terdiam. Dia harus meninggalkan Deena dalam waktu cukup lama.


"Apa aku bisa tanpa sayangku sampai selama itu?" batin Barra.


"Jika kau tak sanggup, tinggalkan anakku dari sekarang" ucap Rehan.


"Aku sanggup" ucap Barra tanpa ragu.


"Seorang lelaki akan memegang kata-katanya, ingat itu" ucap Rehan.


Rehan meninggalkan Barra ditepi danau itu. Dia berjalan menghampiri Deena. Rehan dan Deena bicara empat mata dibawah pohon.


"Papa a..ku minta ma...af" ucap Deena.


"Kau tak perlu bersandiwara lagi Deena, kau bicara dengan lancarkan nak" ucap Rehan.


Deena langsung menunduk. Selama ini dia berusaha bicara gagap karena ingin menutupi identitasnya yang sebagai Raynor. Sebelumnya Deena memang gagap karena trauma dimasa lalu. Tapi berjalannya waktu pulih, hanya saja Deena memutuskan untuk tetap gagap.


"Maaf Pa" ucap Deena.


"Papa tidak akan bertanya padamu kenapa kau harus gagap selama ini, tapi Papa ingin selama pendidikanmu belum selesai, jangan pernah bertemu lelaki itu, jika kau tetap melanggar, Papa tidak akan pernah merestui hubungan kalian" ucap Rehan.


"Baik Pa" ucap Deena.


Hari itu jadi pembicaraan penting untuk hidup Deena. Dia harus terpisah dari Barra dalam kurun waktu yang cukup lama.


************


Hari kelulusan sekolahpun datang, Alina, Haura dan Deena merayakan kelulusannya. Alina dan Deena terlihat menunggu seseorang datang ke sekolah. Sedangkan Haura asyik main basket dengan Alvan. Hanya Haura yang hubungannya tidak ditentang Rehan. Alina terpaksa terpisah dengan Rafael karena perbedaan keyakinan. Deena terpisah dari Barra karena perbedaan usia.


Semua siswa merayakan kelulusan dengan minta tanda tangan, berfoto dan bertukar kado. Alina dan Deena hanya duduk ditaman sekolah.


"Alina kau akan kuliah keluar negeri?" tanya Deena.


"Iya, Papa bilang kita harus sekolah diluar negeri" ucap Alina.


"Lalu Rafael gimana?" tanya Deena.


"Aku tidak tahu Kak Rafael sekarang ada dimana, sejak aku membaca surat dari Kak Rafael, sejak saat itu aku tidak tahu keberadaannya" ucap Alina.


"Nasibmu tidak jauh beda denganku Alina. Papa melarangku bertemu Om Barra sampai aku menyelesaikan pendidikanku" ucap Deena.


"Kalau begitu mari kita selesaikan pendidikan kita, siapa tahu suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali" ucap Alina.


"Iya, kau benar. Sepertinya aku akan ikut bersamamu kuliah diluar negeri" ucap Deena.


Ditempat lain Haura dan Alvan duduk ditepi lapangan basket karena kelelahan bermain basket berdua dari tadi.

__ADS_1


"Minum gadis cerewet" ucap Alvan memberi botol air mineral pada Haura.


Haura menerima botol air mineral itu. Dia langsung meminum botol air mineral itu sampai setengahnya.


"Nih kau juga harus minum tampan" ucap Haura memberi kembali botol air mineral itu pada Alvan.


Alvan langsung meminum air dari botol air meneral yang tadi diminum Haura.


"Rasanya ada manis-manisnya" ucap Alvan.


"Masa? memangnya pakai gula?" tanya Haura.


"Manisnya bekas bibirmu, cinta" ucap Alvan.


"Kau gombal sekarang Alvan" ucap Haura.


Alvan langsung tertawa melihat Haura terlihat kesal padanya.


"Oke, bukan gayaku menggombal, tapi kau suka?" tanya Alvan.


Haura mengangguk malu-malu. Alvan menulis sesuatu dipunggung Haura.


"Kau menulis apa Alvan?" tanya Haura.


"Tanda cinta untuk kita berdua" ucap Alvan.


"Nanti susah dicuci seragamku" ucap Haura.


Haura senang mendapatkan kenang-kenangan dari Alvan diseragamnya. Setelah itu Alvan mengeluarkan setangkai bunga mawar dan sebuah kalung berinisial AH dari ranselnya.


Dia memberikan bunga mawar itu pada Haura dan memakaikan kalung itu dileher Haura.


"Alvan kau membelinya untukku?" tanya Haura sambil memegang bunga mawar.


"Iya, aku ingin ada sesuatu yang akan selalu bersamamu selama diluar negeri nanti" ucap Alvan sambil memakaikan kalung dileher Haura.


Haura berbalik dan menatap Alvan.


"Alvan kau membuat aku spesial karena dicintai, makasih" ucap Haura.


Alvan mengelus kepala Haura dengan tangan kanannya.


"Aku akan menunggumu sampai kau kembali Haura" ucap Alvan.


Haura akan kuliah diluar negeri bersama kedua saudara kembarnya, sedangkan Alvan akan kuliah diluar kota bersama Alvin dan tinggal bersama lagi dengan ibunya.


Kaisar membawa sekandang ayam warna-warnindan kado untuk teman-temannya.


Semua temannya mengerumuni Kaisar mengantri mendapatkan ayam warna-warni bangsawan dan kado terindah.


"Bro lo dah dapet ayam piyik dan kado terindahnya?" tanya Cepi.


"Udah nih, tapi ayam bangsawan kok BAB nya sama aja kaya ayam piyik lainnya" ucap Wawan.

__ADS_1


"Mungkin darahnya yang beda bro, dia darah biru atau mungkin darah emas" ucap Cepi.


Siswa putri malah kebingungan ayam warna-warninya demen di dalam rok.


"Aduh memang tutorial memelihara ayam piyik harus masuk rok ya?" tanya Cika.


"Masih untung masuk rok, lah ayam piyikku bobo syantik diatas rambutku, mana tadi pup lagi" ucap Sisi.


"Katanya ayam bangsawan kok cabul gini ya" ucap Cika.


"Udah, yang penting kita dapet kado loh" ucap Sisi.


"Iya ya, lumayan dapat kado nih" ucap Cika.


Sisi dan Cika membuka kado dari Kaisar. Mereka antusias membuka kado itu sampai semua bungkusnya terlepas


"Lah kok seperangkat alat sholat" ucap Sisi.


"Aku malah seperangkat alat mandi" ucap Cika.


"Eh bagusan aku ya" ucap Eri.


"Emang kamu apa?" tanya Sisi dan Cika.


"Seperangkat alat menggosok WC" ucap Eri.


"Ha ha ha" mereka tertawa.


Kaisar berbaik hati membagi ayam warna warninya dan kado terindah yang sudah disiapkannya untuk kenang-kenangan.


***********


Empat Tahun Kemudian


Rehan dan Cinta menjemput ketiga putri mereka dibandara. Hari ini mereka kembali ke negara A setelah empat tahun menempuh pendidikan diluar negeri. Alina, Haura dan Deena berlari saat melihat kedua orangtuanya melambai ke arah mereka. Mereka berlari hingga memeluk kedua orangtuanya.


"Papa, Mama, kangen" ucap Alina, Haura, dan Deena.


"Papa dan Mama juga kangen sama kalian" ucap Rehan.


"Kami selalu menunggu kepulangan kalian" ucap Cinta.


Mereka berpelukan hingga puas. Lalu mereka keluar dari bandara untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan ketiga putri Rehan memikirkan orang-orang mereka cintai. Empat tahun sudah mereka tak bertemu. Rehan dan Cinta duduk didepan sedangkan ketiga putrinya duduk dibelakang.


"Alina pasti kau rindu Rafael" ucap Haura.


Alina hanya terdiam, dia tak bisa menjawab. Dia sendiri tidak tahu Rafael sekarang ada dimana.


Begitupun dengan Deena yang terlihat murung.


"Deena, Om Barra tak menjemputmu?" tanya Haura.


Deena hanya terdiam. Dia tidak berkomunikasi dengan Barra selama 4 tahun. Dia juga tak tahu bagaimana keadaan Barra sekarang. Haura tidak berani berbicara lagi. Dia tahu kedua saudaranya sedang galau. Dia memutuskan ikut diam.

__ADS_1


__ADS_2