Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
Musim 3 : Penyelamatan Part 83


__ADS_3

"Aku tahu. Benar kata Papa, kau wanita murahan, selain murahan kau pengecut. Beraninya bersembunyi dibalik kekuatan anak buahmu" ujar Haura.


"Kau" teriak Sarah.


Sarah hendak menampar Haura tapi tangannya ditahan tangan Haura.


"Kau mau menamparku?" ucap Haura.


Sarah menarik tangannya. Dia berjalan keluar sel.


"Lihat apa yang akan ku lakukan pada seluruh anggota keluargamu nantinya" ancam Sarah saat keluar sel.


Haura khawatir dengan sikap Sarah yang ingin balas dendam pada keluarganya. Dengan kekuatannya sekarang tidak menutup kemungkinan dia bisa membahayakan keluarganya.


Disisi lain, Marsya hanya menunduk. Tubuhnya sakit semua. Dia hanya diam tak berdaya. Seseorang berusaha membuka sel dan masuk ke dalam. Marsya berpikir itu mungkin Sarah. Tapi saat orang itu berdiri tepat didepannya. Marsya tahu orang itu siapa.


"Aksa" ucap Marsya mulai menaikkan pandangannya ke atas, menatap lelaki didepannya.


"Aku akan berusaha melepaskan rantainya dulu" ucap Aksa.


"Bagaimana caranya kau bisa kesini?" tanya Marsya.


"Nanti aku jelaskan, sekarang aku harus membuka rantainya dulu" ucap Aksa.


Marsya mengangguk. Aksa berusaha membuka rantai yang merantai tangan Marsya dengan kunci yang sudah dibawanya tadi. Dia membantu Marsya berjalan dengan memapahnya.


"Aksa bukan hanya aku yang ada disini, tapi adikmu Haura juga ada disini" ucap Marsya.


"Haura ada disini?" ucap Aksa terkejut dengan ucapan Marsya.


"Iya" ucap Marsya.


Marsya melepaskan tangannya dari bahu Aksa.


"Aksa sebenarnya akulah dan teman-temanku yang menculik adikmu" ucap Marsya.


Aksa terdiam sesaat memikirkan ucapan Marsya.


"Maaf, aku ini bukan orang yang baik" kata Marsya.


"Kenapa kau menculik Haura?" tanya Aksa.


"Aku hanya menjalankan tugas dari Bosku" ucap Marsya.


"Nanti kita bicarakan lagi, sekarang kita harus keluar dari tempat ini dulu" ucap Aksa.


Marsya mengangguk. Bukan saatnya membicarakan masalah pribadi. Tapi bagaimana mereka keluar dari tempat itu dengan selamat.


Aksa melewati sel Haura, dia dan Marsya membantu keluar dari dalam sel. Mereka bertiga berjalan naik ke lantai atas. Disana sudah ada banyak anak buah Sarah. Marsya dan Aksa bertarung dengan anak buah Sarah. Setelah mereka semua berhasil mengalahkan anak buah Sarah, mereka bergerak maju menuju pintu keluar. Mereka bertiga baru melangkah, Sarah dan anak buahnya sudah ada dan mengepung mereka.


"Bala bantuan sudah ada, hebat!" ucap Sarah.


"Bukan urusanmu" ucap Marsya.

__ADS_1


"Tidak ada satupun yang boleh keluar tanpa izinku" tegas Sarah.


"Orang sepertimu lah yang harus ditumpas duluan" ucap Aksa.


"Hajar mereka!" perintah Sarah.


"Baik Bos" sahut anak buah Sarah.


Aksa dan Marsya bertarung melawan anak buah Sarah. Mereka babu hantam. Tak ada yang mau kalah. Hingga akhirnya anak buah berhasil menjatuhkan mereka. Aksa dan Marsya terjatuh dilantai.


"Ha ha ha, hanya segitu kemampuan kalian" ucap Sarah.


"Tangkap mereka!" Perintah Sarah.


Anak buah Sarah hendak menangkap mereka berdua tapi muncul dua orang bertopeng membantu mereka. Anak buah Sarah melawan orang bertopeng itu yang salah satunya Raynor. Mereka semua babu hantam. Begitupun dengan Aksa dan Marsya. Anak buah sarah tumbang. Tinggal Sarah sendirian.


"Lawan mereka, jangan mau kalah" ucap Sarah.


"Kau hanya bisa bersembunyi diketiak anak buahmu" ucap Deena.


"Maklum pengecut memang selalu begitu" tambah Barra.


"Harus diberi pelajaran biar jera" ucap Aksa.


"Memanfaatkan kami semua demi kepentinganmu sendiri" ucap Marsya.


Mereka berempat melangkah mendekati Sarah. Segera Sarah memencet tombol dari remot ditangannya.


Sebuah kurungan seperti berbentuk kotak kaca terjatuh dari atas mengurung mereka berempat.


"Sekarang keadaan berbalik, memohon ampunlah padaku" ucap Sarah.


"Sampai aku matipun tak sudi memohon ampun" ucap Marsya.


"Hanya orang bodoh yang memohon ampun padamu" ucap Aksa.


"Untuk apa minta maaf pada pengecut" ucap Barra.


"Cara licikmu ini membuatku ingin meludah dimukamu" ucap Deena.


"Ha ha ha, kata-kata keputusasaan memang terdengar menggebu, aku suka" ucap Sarah.


Sarah tertawa bahagia melihat mereka berempat marah.


"Kalian akan mati kedinginan saat aku menaikkan suhu dingin pada kurungan itu" ucap Sarah.


"Silahkan!" perintah mereka berempat.


Sarah hendak memencet tombol suhu pada remot ditangannya tapi Haura berusaha merebutnya. Hanya saja anak buah Sarah menangkap Haura. Sarah kembali memencet tombol suhu pada remot itu. Suhu diruangan kaca itu mulai dingin. Awalnya tidak begitu dingin. Mereka masih bisa bertahan. Lama-kelamaan suhu semakin dingin hingga mereka menggigil. Barra langsung memeluk Deena seerat mungkin. Dia tak mau terjadi sesuatu pada Deena apalagi dia sedang mengandung. Sedangkan Aksa hanya melihat ke arah Marsya. Dia ragu untuk memeluknya.


"Marsya apa kau kedinginan?" tanya Aksa.


"Aku masih bisa bertahan" kata Marsya.

__ADS_1


Semakin lama suhu semakin dingin. Barra terus memeluk Deena. Aksa memberanikan dirinya memeluk Marsya yang sudah mengigil.


"Kau" ucap Marsya.


"Diamlah, kau bisa mati kedinginan. Hanya dengan saling menghangatkan seperti ini akan membuat kita hangat" ucap Aksa.


Aksa memeluk Marsya erat. Begitupun Marsya memeluk Aksa erat. Mereka berempat mengigil kedinginan, bibir membiru, dan gigi saling bergesek.


"Sayang, kau kuat?" tanya Barra.


"Harus, demi bayi kita" ucap Deena.


Sarah tertawa senang melihat mereka menderita.


"Kalian masih sanggup? kematian kalian tinggal hitungan menit" ucap Sarah.


Mereka berempat tetap diam dan terus berusaha saling menghangatkan. Sarah hendak menaikkan kembali suhu ditombol remot, tiba-tiba dari belakang rempotnya diambil Rehan.


"Kau" teriak Sarah.


Sarah membalikkan badannya dan melihat Rehan dibelakangnya.


"Bukankah kau mau balas dendam padaku? kenapa anak-anakku yang jadi korbannya?" ucap Rehan.


"Itu mudah menjawabnya, kalau anak-anakmu menderita, kau akan lebih menderita" ucap Sarah.


"Pengecut" ucap Rehan.


"Dari dulu mulutmu selalu menghinaku Rehan" ucap Sarah.


Sementara Rehan sedang berdebat dengan Sarah. Alvan melawan anak buah Sarah untuk membebaskan Haura. Dia babu hantam dengan anak buah Sarah hingga mereka tumbang. Haura berlari memeluk Alvan.


"Alvan kau datang juga" ucap Haura.


"Tentu, aku harus mencari pengantinku, bukankah malam ini seharusnya jadi malam pertama untuk kita" ucap Alvan.


"Alvan jangan genit dulu, kita tolong yang lain" ucap Haura.


"Iya sayang" ucap Alvan.


Melihat Alvan dan Haura sudah aman, Rehan melempar remot itu ke arah Alvan. Segera Alvan menangkapnya. Sarah berusaha berusaha berlari ke arah Alvan tapi Rehan menangkapnya.


"Lepas!" ucap Sarah.


"Tak akan ku biarkan kau menyakiti anak-anakku" ucap Rehan.


Saat Rehan sudah menangkap Sarah, Alvan langsung memencet tombol untuk mematikan suhu dinginnya dan membuka kurungan itu dengan tombol buka yang ada diremot itu juga.


Mereka berempat keluar dari dalam kurungan, hampir saja mereka mati kedinginan kalau harus bertahan beberapa menit kedepan.


Disisi lain Sarah berusaha lepas dari tangan Rehan. Dia mengeluarkan pisau dan menusuk perut Rehan.


"Aaa..." Rehan kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2