
Farel dan Alina kembali ke penginapan. Mereka membuat meracik obat tradisional untuk Kaisar.
Obat itu diberikan pada Kaisar untuk diminum. Kaisar yang sudah kesakitan mau tak mau meminum jamu itu. Rasa pahit mendominasi jamu.
"Kaisar gimana? apa perutmu masih sakit?" tanya Alina.
"Masih, rasanya melilit, sakit banget," ucap Kaisar.
"Kau ingin makan? biar aku masak bubur," ucap Alina.
"Tidak usah Alina, perutku masih sakit, aku belum enak makan," ucap Kaisar.
Saat mereka sedang mengobrol diruang tengah, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari dalam.
"Biar aku yang buka," ucap Haura.
"Tunggu Haura," ucap Alvan.
"Kenapa?" tanya Haura.
"Biar aku saja yang buka pintu," ucap Alvan.
"Oke," ucap Haura.
Alvan berjalan menuju pintu. Segera dia membuka pintu. Ada seorang bapak tua yang membawa secarik kertas ditangannya.
"Selamat siang."
"Siang," sahut Alvan.
"Saya ketua RT setempat, ingin mendata orang-orang yang menginap disini untuk laporan."
"Oh gitu ya, silahkan Pak," ucap Alvan tanpa ragu.
Bapak tua masuk ke ruang depan. Duduk dikursi bersama Alvan. Dia mulai mendata satu persatu orang dipenginapan itu.
"Ada tujuh orang yang menginap disini, saya minta tanda tangan masing-masing orang untuk memastikan benar adanya."
"Begini Pak, sebagian orang sedang pergi keluar, gimana kalau saya paraf saja semuanya?" tanya Alvan.
"Tidak bisa, harus tanda tangan masing-masing anggota, saya akan menunggu karena ini tugas saya."
"Kalau gitu sebentar ya Pak, saya panggilkan mereka," ucap Alvan.
"Baik."
Alvan masuk keruang tengah. Disana Kaisar berbaring disofa ditemani Haura, Alina dan Farel.
Alvan menghampiri mereka, duduk disamping Haura.
"Gawat, kita harus tanda tangan sebagai data yang diminta Pak RT," ucap Alvan.
"Kau tak bilang, diparaf saja semuanya sama kamu?" tanya Farel.
"Sudah, tapi Pak RT tetap minta tanda tangan masing-masing orang yang menginap disini," jawab Alvan.
"Sayang, tadi kau bilang tidak, kalau sebagian dari kita sedang keluar?" tanya Haura.
"Sudah, Pak RT akan menunggu sampai semua tanda tangan," jawab Alvan.
__ADS_1
"Berarti kita semua harus tanda tangan," ucap Farel.
"Kaisar gimana dong?" tanya Alina.
"Kalau dia kedepan, otomatis Pak RT akan tahu dia sakit," ucap Alvan.
Mereka berempat berpikir. Tak ada cara berbohong karena Pak RT tetap akan menunggu. Mereka tetap harus tanda tangan.
"Gak papa, biar aku tanda tangan," ujar Kaisar.
"Terus perutmu gimana?" tanya Alina.
"Aku akan tahan selama tanda tangan," jawab Kaisar.
"Kau yakin?" tanya Farel.
"Yakin," jawab Kaisar.
"Oke," ucap semuanya.
Mereka berlima masuk ke ruang depan, duduk bersama Pak RT. Ternyata Barra dan Deena juga sudah ada diruang depan. Mereka semua mulai mengisi data dan tanda tangan. Kaisar mendapat urutan terakhir. Dia menahan rasa sakit diperutnya yang begitu hebat.
Pruuuut... pruuut... pruuut...
Kaisar buang angin cukup kencang dan bau. Sampai semua orang menutup hidungnya.
"Maaf, bom atom baru diluncurkan," ucap Kaisar.
Baru mau menulis Kaisar kembali kentut. Semua orang terus menutup hidung mereka.
"Saya gak bisa nafas nih, bau banget." Pak RT sudah tidak kuat menutup hidungnya.
"Maaf Pak, masih mau nambah nih," ucap Kaisar.
"Ampun pup dicelana nih," ucap Kaisar.
"Iiiih... " Semua orang kegelian.
Kaisar berkeringat, tubuhnya panas dingin. Perutnya mulai melilit lagi. Dia coba menahan tapi sudah tak kuat lagi. Tiba-tiba dia pingsan.
Bluuug...
"Kaisar...," ucap Teman-temannya.
Semua teman-teman Kaisar menghampirinya. Barra dan Farel menggotongnya dan mrmbaringkannya dikursi. Alina dan Deena memberinya minyak angin.
"Teman kalian sakit ya?"
"Gak kok Pak, mungkin kurang tidur semalam bergadang," ucap Barra.
"Coba saya periksa dulu, gini-gini saya dukun yang membantu sapi dan kerbau yang akan melahirkan."
"Apa hubungannya dukun melahirkan sapi dan kerbau, sama memeriksa teman saya?" tanya Alvan.
"Intinya sama-sama perlu diperiksa."
"Gak perlu repot-repot Pak, teman saya hanya tidur," ucap Farel.
"Betul Pak, dia biasa seperti ini kalau kurang tidur," ucap Alvan.
__ADS_1
"Siapa tahu teman kalian mau melahirkan."
"Teman saja masuk dalam jenis sapi jantan, jadi tidak mungkin melahirkan," ucap Alvan.
"Paling mengawini itu pasti, apa sapi bapak betina? teman saya ini biasa mengawini sapi betina," ucap Haura.
"Oh gitu, kalau gitu temanmu saya bawa. Kebetulan sapi tetangga belum pada hamil."
"Kamu sih Alvan, Haura, ngarang aja. Gimana kalau Kaisar suruh ngawini sapi betina beneran?" tanya Deena pelan.
Pak RT mendekati Kaisar tapi dihadang Barra dan Farel yang berdiri didepannya.
"Maaf Pak, teman saya harus istirahat, nanti bapak kesini lagi saja," ucap Barra.
"Tidak bisa, saya harus memastikan tamu dipulau ini baik-baik saja."
"Bapak tahu sendiri, tadi teman saya baik-baik saja, dia hanya mengantuk butuh tidur," ucap Farel.
Pak RT memaksa, dia berusaha melewati Barra dan Farel tapi tidak bisa. Mereka berdua berusaha memegangi Pak RT. Lalu mengikat Pak RT, menutup mulutnya dengan perekat dan memasukkannya ke dalam kamar kosong.
"Gimana nih? kita terpaksa menyekap Pak RT," ucap Farel.
"Kalau Pak RT lapor ke ketua suku bisa jadi masalah besar," ucap Barra.
"Benar juga, Kaisar pasti diikat dibawah pohon besar," ucap Alvan.
Baru mereka sedang berbincang. Beberapa orang suruhan ketua suku datang ke penginapan mereka. Mereka semua mengepung penginapan itu. Emak Inem ditangkap salah satu anggota suku, dia orang yang pertama dimintai kesaksian oleh ketua suku.
"Keluar, atau kami akan memaksa kalian keluar!"
Mereka berenam kebingungan didalam ruang depan.
"Gimana ini? mereka mengepung kita," ucap Haura mengintip dari gorden.
"Kita harus keluar, kalau tidak mereka bisa saja anarkis," ucap Barra.
Semuanya mengangguk. Mereka berenam keluar penginapan. Didepan warga sudah ramai bersama anggota suku.
"Huh sakit kok diam-diam, bikin wabah saja disini."
"Singkirkan mereka, wabah bisa menyebar lagi."
"Kita semua bisa mati."
"Lebih baik satu orang mati daripada semua orang mati."
Anggota suku berusaha menenangkan warga. Lalu mereka mengepung Bara dan yang lainnya.
"Bawa mereka." Perintah salah satu anggota suku.
"Baik."
Barra dan Deena diposisi bersiap begitupun dengan Farel dan Alvan.
"Apa kita harus melawan?" tanya Farel pada yang lainnya.
"Harus, kita tidak salah," ucap Barra.
Mereka berempat melawan orang yang akan menangkap mereka. Alina dan Haura juga membantu sebisa mereka. Terjadi babu hantam didepan penginapan. Barra dan yang lainnya berhasil melumpuhkan anggota suku tapi tiba-tiba sebuah panah berukuran kecil mengenai lengan mereka. Seketika mereka pingsan.
__ADS_1
Bluuug....
"Bawa mereka ke kandang singa."