
Barra langsung menghampiri Deena. Dia menatap wanita yang dicintainya.
"Aku sangat merindukanmu. Kau tahu aku menunggu saat ini dari beberapa tahun lalu. Rasanya sulit sekali ketika aku rindu tapi tak bisa bertemu. Menahan rasa cinta dan berharap kau segera kembali. Secerca harapan itu terus ku jaga walau terkadang putus asa tapi aku yakin kita akan bertemu dan bersama pada akhirnya" ucap Barra.
"Kau puitis sekali Om cabul" ucap Deena.
"Aku menyontek kata-kata diatas spanduk sinetron dibelakangmu" ucap Barra.
Deena menengok ke belakang. Spanduk sinetron terpampang besar dan lebar dengan tulisan-tulisan puitis.
"Haaaaaa...., pantas tiba-tiba kau puitis. Ku pikir itu muncul diotak cabulmu begitu saja" ucap Deena.
"Sayang tentu diotak cabulku ini dipenuhi bodi mulusmu yang pernah ku lihat sebelumnya" ucap Barra.
Dug...
Deena menonjok pipi Barrra.
"Aw.....sakit sayang" ucap Barra.
"Otakmu itu selalu cabul ya, aku pikir setelah empat tahun kau sudah tobat dan hijrah ke jalan yang benar tapi ternyata semakin cabul" ucap Deena.
"Sayang bukannya kau tahu, kalau dekat dengamu aku akan cabul begini" ucap Barra.
Deena hanya tersenyum melihat Barra. Dia tahu Barra memang hanya bersikap cabul padanya. Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Kini dia bisa bertemu lelaki yang dicintainya lagi. Deena menarik lengan Barra.
"Mau kemana sayang? apa mau ke hotel belah duren?" tanya Barra.
Deena langsung mencubit lengannya
"Aw......sakit nih sayang, kau lebih dari semut mengigit dengan kejamnya" ucap Barra.
"Habis otakmu itu jorok banget" ucap Deena.
Barra gantian menarik lengan Deena berjalan mengikutinya.
"Mau kemana?" tanya Deena.
"Aku mau melamarmu" ucap Barra.
"Aku mau" ucap Deena.
Malam itu Barra dan Deena pulang ke rumah besar Rehan. Kebetulan Rehan baru pulang dari perusahaannya. Dia lembur hingga malam. Saat Rehan turun dari mobilnya, dia melihat Barra dan Deena duduk diteras rumahnya. Rehan menghampiri keduanya.
"Malam calon mertua" ucap Barra.
"Malam" ucap Rehan.
"Pa, biar ku bawakan tasnya" ucap Deena.
"Papa tahu kenapa kalian berdua semalam ini masih saja berduaan" ucap Rehan.
Deena langsung menundukkan kepalanya, Papanya pasti marah lagi. Dia ragu akan mendapatkan restu dari Papanya.
"Maafkan saya calon mertua, tujuan saya kesini untuk menikahi putri Anda" ucap Barra.
"Ini sudah malam, penghulu tidur, besok pagi saja dimasjid dekat sini kalian menikah" ucap Rehan.
"Apa? Papa merestui kita?" tanya Deena.
"Bukankah itu yang kalian inginkan" ucap Rehan.
Barra dan Deena langsung senang bukan main. Barra langsung memeluk Deena tapi Rehan menggantikannya.
"Alhamdulillah ya sayang kita direstui Papamu" ucap Barra yang terbayang-bayang malam pertama sampai gak sadar Rehan yang dipeluknya.
"Iiii....ya sayang, jangan senang dulu" ucap Deena.
"Memangnya kenapa, kita akan menikah ini" ucap Barra.
"Iya sih, kamu bangun deh dari alam mimpi, aku ada ada dimana?" ucap Deena.
Barra langsung menengok orang yang dipeluknya.
__ADS_1
"Ampun, camer yang gue peluk dari tadi, pantes keras gak empuk" batin Barra.
"Belum mahrom, jangan berani menyentuh putriku, kalau tidak, izin menikah dicabut" ucap Rehan.
"Siap Komandan" ucap Barra.
Barra langsung melepas pelukannya dari Rehan. Lalu Rehan masuk ke dalam rumah. Barra langsung mau memeluk Deena tapi Deena memberinya tonjokan.
Dug..........
"Aw.......sakit sayang" ucap Barra.
"Sabarlah sedikit Om cabul, besok kau bisa sepuasnya. Ingat kata Papa, mau dicabut surat izinnya?" tanya Deena.
"Gak mau, tapi besok setelah akad belah duren ya sayang, gak sabar nih" ucap Barra.
Deena langsung mendekati Barra dan meraba dadanya.
"Gak sabar ya, mau sekarang aja?" tanya Deena.
"Gak sayang, paling sama siput lagi" ucap Barra.
"Tuh tahu" ucap Deena.
Barra gantian menyudutkan Deena ke tiang rumah besar itu.
"Lihat saja, besok, kau tidak akan beranjak dari ranjang seharian" ucap Barra.
Barra langsung berjalan meninggalkan tempat itu. Deena tersenyum melihat Barra yang akhirnya pergi juga.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi hari Deena sudah dirias dikamarnya. Cinta, Haura, Zara, Azkia, Carisa menemaninya dirias dikamarnya. Hari ini Deena akan melakukan akad nikah di masjid dekat rumah Rehan. Dia terlihat gugup. Cinta menghampirinya dan memeluknya.
"Deena kau gugup" ucap Cinta.
"Iya Ma" ucap Deena.
"Hari ini hari bahagiamu, jadi kau harus tersenyum. Bukankah hari ini sudah lama kau nantikan" ucap Cinta.
"Aduh cantiknya kamu Deena" ucap Haura memuji Deena saudara kembarnya.
"Iya cucu nenek cantik banget" ucap Zara.
"Sepupuku ini cantik banget" ucap Carisa.
"Ini baru keponakan tante yang cantik" ucap Azkia.
"Makasih semuanya" ucap Deena.
Dipagi itu hanya Alina yang tidak ada. Deena mengambil handphonenya untuk menelpon Alina.
Dia menyalakan layar handphonenya lalu menelpon nomor telpon Alina.
"Hallo Alina" ucap Deena.
"Hallo Deena" ucap Alina.
"Kau jadi pulangkan?" tanya Deena.
"Iya jadi, ini juga lagi dijalan" ucap Alina.
"Yaudah, hati-hati dijalan" ucap Deena.
"Iya Deena" ucap Alina.
Alina menutup telponnya setelah bicara dengan Deena. Dia langsung berlari dijalanan gang kosannya. Alina berlari ke arah halte. Dia mencari taksi yang lewat. Sebuah taksi berhenti didekatnya. Alina masuk ke dalam taksi. Taksi itu melaju menuju bandara. Baru setengah perjalanan sudah macet total.
"Aduh macet lagi, gimana ini?" ucap Alina.
"Aku turun saja deh" ucap Alina.
Alina membayar taksi itu. Lalu berlari ditepi jalan. Dia berlari hingga ke jalan yang sudah tidak macet lagi. Alina naik taksi lain untuk ke bandara. Taksi itu melaju ke bandara. Sampai dibandara, Alina berlari ke loket pembayaran tiket pesawat tak sengaja dia bertubrukan dengan seseorang.
__ADS_1
Dug....
Orang itu menangkap Alina dengan memegang kedua lengannya. Mereka saling menatap. Jantung Alina berdetak kencang saat menatap orang itu.
"Bos tidak apa-apa?" tanya Beni, seorang sekretaris dari orang itu.
Orang itu langsung melepas tangannya dari lengan Alina.
"Tidak" ucap orang itu singkat.
"Maaf saya tidak sengaja" ucap Alina.
"Ayo Beni" ucap orang itu.
"Baik Bos" ucap Beni.
Orang itu berjalan meninggalkan Alina begitu saja. Dia bahkan tak membalas kata maaf Alina.
"Siapa dia? kenapa jantungku berdetak saat melihat matanya" ucap Alina.
"Eh, aku kan harus segera pergi" ucap Alina.
Alina kembali berlari menuju tempat pembayaran tiket pesawat. Saat dia mau membayar. Alina baru ingat dompetnya ketinggalan dikamar kosannya. Dari tadi dia membayar taksi dari saldo top up nya yang ada diaplikasi taksi onlinenya.
"Aduh dompetku ketinggalan lagi, gimana ini?" ucap Alina.
"Nona....Nona...jadi beli tiketnya tidak?" tanya Admin.
Alina terdiam kebingungan dia bolak-balik mengecek tas miliknya. Wajahnya terlihat kalut.
"Kalau tidak jadi, silahkan mundur, orang lain sudah mengantri dibelakang Anda" ucap Admin.
"Iya" ucap Alina.
Alina berbalik, baru berjalan beberapa langkah, dia dipanggil admin lagi.
"Nona...Nona...tunggu" ucap Adim memanggil Alina.
"Iya ada apa?" ucap Alina kembali berdiri didepan loket pembayaran tiket pesawat.
"Ini tiket untuk Anda" ucap Admin.
"Loh sayakan belum bayar" ucap Alina.
Alina terkejut, dia merasa belum membayar tiket pesawat terbang itu.
"Ini sudah dibayar seseorang" ucap Admin.
"Siapa?" tanya Alina heran.
"Orang itu tidak memberitahu namanya, tapi tiket ini sudah dibayar untuk Nona" ucap Admin.
"Oh begitu ya" ucap Alina.
Admin memberikan tiket itu pada Alina. Kemudian Alina menulis pesan di kertas memo miliknya.
"Mba saya nitip pesan ya, tolong berikan pesan ini pada orangnya" ucap Alina memberikan secarik kertas kecil pada Admin
"Iya Nona" ucap Admin.
Alina berjalan meninggalkan loket pembayaran tiket pesawat terbang. Dia naik pesawat terbang menuju kota A.
Beni memberikan secarik kertas itu pada Bosnya.
"Bos ini pesan dari Nona yang tadi" ucap Beni.
Orang itu menerima pesan dari Alina dan membacanya.
Untuk Tuan Yang Baik Hati
Terimakasih atas bantuannya. Ini nomor telpon saya xxxxxxxxx, lain waktu saya akan mengganti uang Anda.
Alina
__ADS_1
Orang itu hanya tersenyum tipis dibibirnya saat membaca pesan dari Alina.