
Ibu Jonita sedang asyik main handphone sambil makan. Bahkan dia siaran langsung. Pak Hans hanya menggeleng, melihat kelakuaan istrinya. Di matanya Ibu Jonita hanya peduli pada uang dan kekuasaan. Dia tak benar-benar mencintai suaminya. Uang dan uang yang selalu ada dalam setiap pembicaraannya.
"Ma, kalau lagi makan matikan dulu handphone nya," saran Pak Hans.
"Papa gak asyik, zaman sekarang hal seperti ini menyenangkan," jawab Ibu Jonita protes ketika suaminya memintanya mematikan handphone-nya.
Pak Hans menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya melihat kelakuan istrinya. Sebenarnya dia sudah bosan hidup bersama istrinya tapi demi Axel, dia bertahan. Pak Hans tidak ingin membuat Axel kecewa dan bersedih karena kedua orangtuanya terpisah.
"Bukannya cari Axel Ma, sudah satu bulan pergi dari rumah," ucap Pak Hans.
Ibu Jonita langsung kesal. Mematikan handphone miliknya. Dia menatap Pak Hans dengan amarah.
"Pa, Axel sendiri yang lebih memilih tinggal di luaran. Aku sudah membujuknya untuk meninggalkan Raina," sahut Ibu Jonita.
"Ma, kitakan sudah tahu Axel sudah menikah, kenapa harus memisahkan mereka?" tanya Pak Hans. Dia tidak sependapat dengan istrinya. Baginya yang penting Axel bahagia itu sudah cukup.
"Pa, kita ini keluarga terpandang, masa punya menantu yang gak jelas," ujat Ibu Jonita. Dia tidak setuju dengan pernikahan Axel dan Raina. Apalagi Raina miskin, tak selevel dengan keluarganya.
"Jonita, siapa kau dulu? Aku yang mengambilmu dari panti asuhan, kalau aku tak menikahimu siapa kau sekarang?" tanya Pak Hans. Teringat masa lalunya saat pertama melihat Ibu Jonita. Dulu istrinya hanya yatim piatu miskin. Karena dinikahi oleh Hans hidupnya bahagia.
"Oh kau membawa masa laluku?" Ibu Jonita kesal. Menganggap suaminya membandingkan dengannya.
"Aku hanya tidak ingin kau memperlakukan anakmu seperti ini, Axel masih sekolah, bagaimana dia hidup di luar sana?" tanya Pak Hans.
"Kenapa kau peduli? Bukankah kau hanya peduli pada Albern putra mahkota kebanggaan ibu?" tanya Ibu Jonita. Dia merasa suami dan keluarganya lebih menyukai Albern dari pada Axel putranya.
"Ini masalah keluarga kita tak ada sangkut pautnya dengan Albern," ujar Pak Hans.
"Aku seperti ini karena aku tidak ingin anakku lebih rendah dari anak pelakor itu," ujar Ibu Jonita. Dia masih belum bisa menerima pernikahan kedua Pak Hans. Di matanya Nirmala ibu kandung Albern adalah perebut suaminya. Dia tak terima Hans memiliki anak bersama Nirmala sedangkan dia sudah bertahun-tahun belum dikaruniai anak.
"Stop! Jangan sebut Nirmala pelakor!" Pak Hans emosi. Dia tak ingin istri keduanya dihina. Karena di matanya Nirmala tak pernah merebutnya dari Ibu Jonita.
"Kenapa? Dia memang merebut suamiku," ujar Ibu Jonita.
Pak Hans berdiri. Meninggalkan ruang makan. Dia malas berdebat dengan Ibu Jonita yang tak ada habisnya. Selalu membalas dengan hal itu terus.
Malam itu aku membuat kopi hangat untuk Albern yang sedang bekerja di ruang kerjanya. Mungkin banyak pekerjaan kantor yang harus dikerjakannya jadi semalam ini dia belum tidur. Ku letakkan kopi di meja. Baru aku mau beranjak ke luar tanganku ditarik Albern.
"Sayang duduklah di sini!" pinta Albern.
"Bukannya kau sibuk?" tanyaku.
__ADS_1
Albern menggeleng dan tersenyum padaku.
"Oke," sahutku.
Aku duduk dipangkuan Albern. Wanginya, dia lelaki yang selalu keren, wangi dan tampan. Terkadang aku merasa tak pede disampingnya.
"Kangen seharian tak menggodamu," ujar Albern.
"Aku juga kangen, tapi aku tahu kau sibuk," ujarku.
"Bagaimana sekolahmu? aku dengar besok ujian nasional?" tanya Albern.
"Iya, aku belajar bersama Axel, Dodo, Ami, dan Raina," sahutku.
"Semoga kau lulus ya tahun ini, mulai besok aku cuti untuk memberi dukungan dan support untukmu," ujar Albern.
"Makasih suamiku," ucapku kegirangan. Namun dibalik kebahagiaanku. Aku teringat Axel dan Raina. Aku ingin mereka bahagia juga.
"Suamiku, bisakah kau bantu Axel?" tanyaku.
"Axel? Memangnya kenapa dia?" tanya Albern.
"Dia dan Raina sekarang tinggal di kosan. Mereka kerja serabutan, sekarang mau ujian nasional, kasihan mereka sulit punya waktu untuk belajar," jawabku.
"Sebenarnya sudah satu bulan lalu mereka tinggal di kosan tapi mereka melarangku memberitahumu," ujarku.
"Kenapa Axel bisa tinggal di luaran?" tanya Albern.
"Ibunya Axel tidak setuju Axel rujuk dengan Raina," jawabku.
"Baiklah, aku akan membantu Axel demi sayangku," ucap Albern.
Spontan aku memeluk Albern. Aku senang dia mau membantu Axel. Albern memang yang terbaik. Semua masalah pasti selesai dengan baik.
"Kau cuma dipeluk, ciumnya mana?" tanya Albern.
Ku cium Albern sesuai permintaannya. Dia membalas ciumanku. Indahnya jatuh cinta, untungnya kami sudah halal. Jatuh cinta setelah menikah memang indah, tak ada drama yang berkepanjangan atau harus menjaga jodoh orang kelamaan sampai sakit hati, meriang dan sakit gigi. Kadang-kadang sampai depresi. Terkena kanker lagi tiap gajian demi nyeningin sang pujaan hati.
***
Esok harinya aku diantar Albern ke sekolah. Ini hari pertamaku ujian nasional. Albern sengaja cuti satu minggu penuh untuk menungguku ujian. Dia membawa pekerjaan kantor ke rumah demi ada di sisiku. Suamiku memang suami siaga. Tak ku sangka Albern menjadi anggota pengawas. Dia ke bagian mengawasi ruang kelas tempat aku berada. Padahal diakan pemilik sekolah. Semangat jadinya mau ujian. Namun siswa putri jadi gagal fokus.
__ADS_1
"Rin bagi jawaban jangan bengong."
"Serasa nonton drakor, otakku lumer."
"Jantungku juga berdebar, apa ini yang dinamakan cinta pandangan pertama?"
Siswa putri malah asyik memandang suamiku yang tampannya maksimal. Secara mantan buaya mana mungkin tak tampan.
"Do kenapa kau berdoa tak selesai, udah turunkan tanganmu," ujarku pada Dodo yang ada di meja samping.
"Aku menunggu Allah mengambulkan doaku, siapa tahu aku dapet ilham secepatnya," ujar Dodo.
"Ada tuh Ilham di depanmu, berarti doamu dah dikabulkan," ujarku.
"Dodo-Dodo, ngitung kancing aja, mana tahu bener," ujar Ami.
"Bukannya kalian sudah belajar dan perbaikan gizi?" tanyaku.
"Sudah, tapi otakku masih burem aja, apa perlu ganti otak LED?" tanya Dodo.
"Sikat aja pakai sikat WC, bersih tuh, otakmu gak burem," sahut Ami.
Aku hanya tertawa. Semoga saja Dodo dan Ami bisa mengerjakan ujiannya kali ini.
Aku mulai mengerjakan soal-soalnya. Alhamdulillah soalnya mudah. Tak sia-sia belajar bersama Axel dan kawan-kawan. Apalagi belajar privat bersama si tampan suamiku. Selain dapet ilmu, tambah semangat memandang wajah tampannya yang bikin hati adem banget.
"Semangat sayang!" bisik Albern melewatiku.
Aku tersenyum melihat suamiku. Dia memang terbaik. Selalu ada untukku.
***
Pulang sekolah Albern mengantarku pulang kemudian dia pergi untuk bertemu Axel di sebuah kafe tongkrongan anak muda. Albern sengaja bertemu dengan Axel untuk membicarakan masalah Axel dan Raina.
Sampai di kafe, Albern duduk bersama Axel yang sudah lebih duluan datang.
"Apa yang ingin Abang bicarakan denganku?" tanya Axel.
"Aku sudah tahu apa yang kau alami selama satu bulan ini," jawab Albern.
"Abang ingin mengasihaniku?" tanya Axel.
__ADS_1
"Kau memang tengil dari dulu, bisakah kau turunkan gengsimu sedikit?" tanya Albern.
"Oke, apa yang ingin kau bicarakan?"