Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)

Belum Siap Menikah (Bad Boy VS Good Girl)
New Generation Part 74


__ADS_3

Flash Back


Dua Puluh lima Tahun Yang Lalu


Pak Theo begitu bahagia bersama istrinya Rahanti. Mereka sebentar lagi akan menantikan kelahiran buah hatinya. Pak Theo yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang sayuran dipasar selalu berusaha siaga karena istrinya sedang hamil tua. Dia begitu mencintai istrinya. Bahkan tak jarang dia sering membawakan bunga yang dipetiknya di taman untuk istri tercintanya.


"Sayang ini bunga untukmu, mungkin tak sebagus bunga ditoko bunga tapi aku ingin memberikan bunga ini untukmu"ucap Pak Theo.


"Makasih sayang, aku sangat menyukai bunganya, wangi"ucap Ibu Rahanti.


Ibu Rahanti mencium bunga yang diberikan suamimya itu. Dia begitu bahagia dengan setiap keromantisan suaminya, meskipun itu seadanya.


"Maaf tadi Ibu yang mengantarmu periksa ke Dokter, ada sayur yang harus ku ambil dari tengkulak"ucap Pak Theo.


"Gak Papa sayang, kau bekerjakan untuk kami semua, apalagi sebentar lagi aku melahirkan, tentu kita butuh biaya"ucap Ibu Rahanti.


"Oya gimana kata Dokter? aku penasaran sayang"ucap Pak Theo.


"Dokter bilang, kandunganku sehat, beberapa hari lagi aku akan melahirkan"ucap Ibu Rahanti.


"Syukurlah sayang, yang penting kau dan buah hati kita sehat itu yang aku inginkan"ucap Pak Theo.


"Sayang kata Dokter bayi kita laki-laki"ucap Ibu Rahanti.


"Benarkah? perasaan dari kemarin-kemarin belum kelihatan, eh udah mendekati lahiran malah kelihatan, seneng aku jadinya sayang"ucap Pak Theo.


"Semoga aku bisa melahirkan dengan selamat dan bayi kita sehat,amin"ucap Ibu Rahanti.


"Amin"ucap Pak Theo.


"Sayang perasaanku akhir-akhir ini tak enak, dan selalu bermimpi bunga ditaman berguguran"ucap Ibu Rahanti.


"Sayang mungkin karena kau kecapean dan aku sering membawakanmu bunga"ucap Pak Theo.


"Mungkin ya, kau benar"ucap Ibu Rahanti.


"Sekarang kau istirahat ya sayang"ucap Pak Theo.


"Iya sayang"ucap Ibu Rahanti.


Setelah tiga hari kemudian, Ibu Rahanti kontraksi. Saat itu pukul 12 malam. Pak Theo panik melihat istrinya kontraksi. Untung ada ibunya yang memberitahu padanya.


"Sakit.....sakit.....sayang....mules rasanya"ucap Ibu Rahanti.


"Apa aku beri minyak angin ya, mungkin kau maauk angin"ucap Pak Theo.


"Theo, Rahanti kenapa?"tanya Ibu Sekar.


"Ini Bu, Rahanti mules terus"ucap Pak Theo.


"Itu namanya mau melahirkan, cepetan bawa ke rumah sakit"ucap Ibu Sekar.


"Oh begitu ya Bu"ucap Pak Theo.

__ADS_1


"Yaudah cepetan bawa Rahanti ke rumah sakit sebelum melahirkan disini"ucap Ibu Sekar.


"Iya Bu"ucap Pak Theo.


Pak Theo segera mengeluarkan becak miliknya yang biasa untuk membawa sayur ke pasar. Kemudian dia membopong Rahanti ke becak itu.


"Sayang sabarlah ya, sebentar lagi kita sampai" ucap Pak Theo.


"Iya sayang"ucap Ibu Rahanti.


Pak Theo mengayuh becaknya ke jalan raya. Selama satu jam belum juga sampai rumah sakit, Ibu Rahanti semakin kesakitan.


"Sayang....perutku sakit banget....aduh....


mulesnya bertambah"ucap Ibu Rahanti.


"Iya sayang, sabar ya"ucap Pak Theo.


Pak Theo mengayuh becaknya sekuat tenaga. Dia tak peduli seberapa lelahnya. Tapi dia ingin segera sampai rumah sakit agar istrinya segera melahirkan.


Ngooooong...ngoooooong.....ngooooong.........


Suara motor yang begitu kencang menuju ke arah becak Pak Theo. Motor itu dengan kecepatan tinggi melaju dijalan raya. Lalu motor itu menyerempet becak Pak Theo hingga hilang kendali. Tapi motor itu terus melaju tanpa berhenti. Pak Theo hanya melihat no plat motornya sekilas.


Dug...........


Becak itu terjatuh ditepi jalan sampai Ibu Rahanti terjatuh dan kandungannya terbentur ke jalan.


"Aw..........sakit.......sakit......"ucap Ibu Rahanti.


"Perutku sakit sekali"ucap Ibu Rahanti sambil memegang perutnya.


"Ayo bangun, kita harus segera ke rumah sakit"


ucap Pak Theo.


"Iya"ucap Ibu Rahanti.


Pak Theo membantu Ibu Rahanti bangun, tak sengaja dia melihat dikedua kaki Ibu Rahanti terdapat darah yang mengalir ke dari atas ke kakinya.


"Sayang kau pendarahan"ucap Pak Theo.


"Iya sayang, aku sudah tak kuat lagi, cepat antarkan aku ke rumah sakit"ucap Ibu Rahanti.


"Baik sayang"ucap Pak Theo.


Secepatnya Pak Theo mengayuh becaknya menuju rumah sakit. Sampai dirumah sakit Ibu Rahanti ditangani, karena pendarahan dan kondisinya yang tak memungkinkan melahirkan normal, akhirnya Ibu Rahanti di caesar. Dua jam penuh Pak Theo menunggu diruangan tunggu. Dia begitu mencemaskan istrinya. Tak lama Doker yang mengoperasi istrinya keluar dan berbicara pada Pak Theo.


"Selamat ya Pak, anak Anda laki-laki"ucap Dokter Sita.


"Alhamdulillah"ucap Pak Theo.


"Tapi maaf, istri Anda tidak bisa diselamatkan, beliau mengalami pendarahan hebat, kami turut berduka cita"ucap Dokter Sita.

__ADS_1


"Tidak mungkin Dok, Anda pasti sedang berbohong"ucap Pak Theo.


"Saya tidak berbohong, sabar ya Pak"ucap Dokter Sita lalu meninggalkan Pak Theo.


"Tidak....tidak......ak.....ak......"Pak Theo berteriak.


Pak Theo begitu terpukul dengan kematian istrinya. Wanita yang begitu dia cintai kini harus meninggalkannya mendadak disaat seharusnya ini menjadi kebahagiaan untuknya karena kelahiran sang buah hati.


Pemakaman Mawar Hitam


Pak Theo sambil menggendong bayi Rehan duduk didepan nisan Ibu Rahanti. Dia terus menangis tak henti. Hatinya begitu terluka seakan hatinya ikut mati bersama istrinya. Dia begitu terpukul dan sangat terluka.


"Theo, ayo pulang, kasihan Rehan dia pasti haus nak"ucap Ibu Sekar.


"Bu tolong bawa Rehan pulang dulu, aku masih mau disini"ucap Pak Theo.


"Baiklah nak"ucap Ibu Sekar.


Ibu Sekar membawa Rehan meninggalkan tanah pemakaman itu. Tapi Pak Theo masih ditanah pemakaman itu.


"Rahanti kenapa kau harus meninggalkanku secepat ini, kau tau aku tidak bisa hidup tanpamu"ucap Pak Theo.


"Bagaimana aku menjalani hariku ke depannya tanpamu, ini semua menyakitkan untukku"ucap Pak Theo.


"Kenapa kita tidak mati bersama saja, biar aku tak terpisah darimu"ucap Pak Theo.


Pak Theo mengingat kejadian malam itu saat becaknya ditabrak motor itu.


"Ya....ini semua motor itulah yang membuat istriku meninggal. Gara-gara dia istriku terbentur dan mengalami pendarahan. Aku akan mencarimu dan membalas rasa sakitku"ucap Pak Theo.


Tujuh Tahun Kemudian


Pak Theo berdiri didepan jendela kaca ruangan kerjanya. Dia masih ingat betul peristiwa menyakitkan tujuh tahun lalu. Dia meminta seorang agen rahasia untuk mencari pemilik motor tujuh tahun lalu itu. Dulu saat dia miskin sulit sekali untuk menemukan pemilik motor itu karena keterbatasannya. Dia juga coba lapor polisi tapi karena tak ada saksi dan bukti makanya kasusnya dihentikan.


"Bos besar saya sudah menemukan siapa pemilik motor tujuh tahun silam itu"ucap Agen rahasia itu saat menghadap padanya.


"Siapa? cepat katakan!"ucap Pak Theo.


"Leo Ariendra"ucap Agen rahasia itu.


"Leo Ariendra, sepertinya aku kenal. Dia pengusaha muda yang baru naik daun"ucap Pak Theo.


"Betul Bos besar"ucap Agen rahasia itu.


"Oke tugasmu selesai"ucap Pak Theo.


"Saya undur diri"ucap Agen rahasia itu.


Pak Theo hanya mengangguk, kemudian agen rahasia itu keluar dari ruangan Pak Theo.


"Leo Ariendra, nyawa dibalas nyawa, sakit dibalas sakit. Kau harus merasakan apa yang kurasakan"ucap Pak Theo.


Mulai saat itu Pak Theo sangat membenci Leo. Dia sudah beberapa kali berusaha mencelakai Leo dan bisnisnya tapi gagal. Dan puncaknya dia mengambil anak Leo dan melenyapkannya melalui Vincent anak buahnya.

__ADS_1


Flash Back Off


__ADS_2